
Kedua keluarga akhirnya sepakat untuk mengadakan pernikahan Brey dan Bella di Jakarta.
Namun ada syarat yang harus dipenuhi oleh kedua mempelai tersebut. Bang Billi lah yang mengajukan syaratnya. Bella tidak diperkenankan untuk hamil sampai keduanya lulus kuliah.
Bang Billi ingin keduanya kembali ke Inggris untuk menyelesaikan kuliah mereka, pria itu ingin mereka fokus pada kuliahnya sebelum akhirnya memiliki anak.
Baik keluarga Atdmaja maupun keluarga Mahardika sangat menyetujui ide tersebut. Walaupun mereka tentu saja ingin segera menimang cucu, namun apa yang dikatakan bang Billi juga ada benarnya.
Kedua mempelai juga menyetujui persyaratan itu, tentu saja keduanya harus menyelesaikan kuliah mereka yang tertunda.
*****
Dan hari pernikahan itu pun tiba. Mereka melakukan acara sakral tersebut di Gereja Katedral Jakarta.
Di ruangan pengantin, Bella masih mempersiapkan diri. Gaun cantik berwarna putih sudah dikenakan oleh Bella, wanita itu bahkan sudah menggunakan tudung kepala dan mahkotanya. Bella benar benar terlihat sangat cantik saat ini.
Ketiga sahabat Bella akhirnya datang dan menemuinya di dalam ruangan pengantin.
"Oh My God Bell... You're beautifull..." kata Mili.
"Sumpah Bell, kamu adalah pengantin tercantik yang pernah aku lihat," sahut Anyelir.
"Dan bidadari adalah kata yang pantas buatmu," kata Tika.
Bella terkejut mendengar suara ketiga sahabatnya, "kalian bertiga sangat berlebihan."
Bella pun memeluk sahabatnya satu per satu.
"Maaf karena aku tak sempat menemui kalian, aku langsung disibukkan dengan acara pernikahan ini," ujar Bella lagi.
"Santai saja Bell, kami sangat mengerti. Kau memang harus segera menyelesaikannya sebelum bang Billi berubah pikiran," jawab Mili.
Yang lain terkekeh geli.
"Aku baru pertama melihat bang Billi, ia terlihat sangat galak tapi ya Tuhan... wajahnya seperti oppa Korea, Bell. Bolehkah aku mendekati abangmu?" tanya Anyelir.
Bella terkekeh, "coba saja jika kau bisa, tapi merinding sekali jika aku harus memanggilmu kakak ipar."
Anyelir tergelak.
"Menyerah saja Anye, tadi aku lihat wanita bule terus menempel padanya," kata Tika.
"Iya aku juga melihatnya," sahut Mili.
Bella tersenyum, "itu kak Stephanie, ia memang kekasih abangku. Tapi kalian jangan salah, mereka sama sekali tidak berniat untuk menikah."
"Hah? apa maksudmu?" tanya ketiganya bersamaan.
"Bang Billi tidak ingin menikah. Ia tidak ingin terikat dengan sebuah ikatan seperti itu," jawab Bella.
"Oh ya Tuhan... jika aku pacaran dengan bang Billi, maka aku akan disebut perawan tua," ucap Anyelir.
Sontak mereka semua tertawa lagi.
"Terima kasih teman teman, kedatangan kalian membuat kegugupanku hilang."
__ADS_1
"Jangan gugup Bell, ini hari bahagiamu. Pangeran tampanmu juga sudah menunggu di altar," kata Mili.
"Benar, Brey terlihat semakin tampan setelah sekian lama tidak melihatnya. SMA Idola pasti akan mencatat sejarah ini, siswa tampan dan siswi cantik di sekolah bersatu dengan sebuah pernikahan," kata Tika.
"Jika ingat saat kau ketakutan karena ulah Brey, aku ingin tertawa Bell. Ternyata kalian ditakdirkan bersama," sahut Anyelir.
"Aku juga tak tahu, mengapa justru aku menyukainya saat bertemu kembali di Inggris. Aku benar-benar nyaman saat berada di dekatnya, padahal sebelumnya aku sengaja kabur ke Inggris karena ketakutan."
"Itulah yang dibilang jodoh," ujar Mili seraya terkekeh.
Seorang panitia menjemput mereka dan memberitahukan bahwa sudah waktunya tiba untuk masuk ke altar. Tubuh Bella kembali menegang, namun ketiga sahabatnya berusaha menenangkannya hingga Bella pun melangkahkan kakinya dengan yakin menuju altar.
*****
Di Altar, Brey sangat gugup menanti kedatangan pengantinnya. Tangannya terasa sangat dingin dan tubuhnya terasa lemas saat ini.
"Ya Tuhan, aku lebih baik mengahadapi kemarahan bang Billi. Ini menegangkan sekali," pikir Brey.
Bryan Mahardika terlihat begitu tampan, dengan setelan toksedonya. Kedua sahabat Brey terus menggodanya di tempat duduk. Membuat Brey ingin sekali memukul mereka. Saat acara benar benar diumumkan telah dimulai. Brey kembali gugup, namun saat pintu terbuka dan pengantin cantiknya berada disana. Seketika ketegangan itu pun menghilang.
Brey tersenyum lebar saat melihat pengantin wanita dibawa masuk oleh Harry Atdmaja. Langkahnya yang begitu pelan, membuat Brey ingin sekali menghampirinya dan mengangkat pengantinnya agar cepat sampai di tempatnya.
Namun itu hanya pemikiran bodoh Brey saja, tentu saja pengantinnya akan segera sampai di tempatnya. Dan saat keduanya semakin dekat, Harry Atdmaja pun menyerahkan putrinya ke tangan Brey.
"Kau cantik sekali sayang," bisik Brey membuat Bella tersenyum.
"Kau juga terlihat sangat tampan, suamiku," balas Bella.
Brey terbelalak mendengar panggilan itu, "katakan sekali lagi."
"Ya Tuhan... terima kasih istriku."
Keduanya sama sama tersenyum. Dan acara sakral itu pun akhirnya dimulai. Keduanya saling mengucapkan janji dan sumpah mereka di hadapan Tuhan. Air mata haru tak tertahan lagi. Bella terisak karena mengingat ibunya yang tidak bisa menyaksikan pernikahannya.
Brey berusaha menenangkan istrinya, Bella semakin sulit mengucapkan janjinya karena suaranya bergetar.
"Tenangkan dirimu sayang, aku ada dan akan selalu mencintaimu. Aku bersamamu sampai maut memisahkan kita," ucap Brey.
Bella menganggukkan kepalanya, ia berusaha menguatkan hatinya hingga berhasil mengucapkan janjinya.
Keduanya saling menyematkan cincin pernikahan itu. Setelah itu, Brey langsung membuka tudung kepala Bella. Pria itu menarik kepala Bella dengan lembut seraya menci*um pengantinnya.
Suara tepuk tangan terdengar bergemuruh tatkala mereka akhirnya resmi menjadi suami istri yang sah.
Acara resepsi pernikahan dilanjutkan di hotel J milik keluarga Bella. Mereka melakukan resepsi dengan tema outdoor. Begitu banyak tamu undangan yang hadir dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
"Selamat ya, BB..." kata Mili, Anyelir dan Tika bersamaan.
"BB?" tanya Bella bingung.
"Iya BB, Bella dan Brey..." jawab mereka.
Brey dan Bella tertawa mendengar kejahilan sahabatnya.
"Terima kasih teman teman, aku doakan kalian menyusul," jawab Brey.
__ADS_1
"Amien...!" jawab mereka lagi.
"Selamat ya bro, akhirnya kau mendapatkan cinta pertamamu," kata Amir dan Rafa.
Bella terkejut begitu juga dengan ketiga sahabatnya.
"Cinta pertama?" tanya Bella.
"Mengapa kau begitu terkejut sayang?"
"Kau seorang playboy, mana mungkin aku cinta pertamamu."
"Nyonya muda Mahardika, walaupun Brey playboy dulu, tapi ia tak pernah mencintai wanitanya. Hanya kau lah yang membuat hatinya berdebar-debar," goda Amir.
"Dan kami berani menjadi saksinya," sahut Rafa.
Bella menatap suaminya lagi, dan mendapat anggukan dari Brey.
"Jika kau bukan cinta pertamaku, mana mungkin aku terus mencarimu saat kau menghilang, mana mungkin aku terus memperjuangkanmu saat keluargamu memisahkan kita. Aku takut kehilanganmu karena aku benar benar mencintaimu, istriku."
"Dan kau juga beruntung Brey, aku rasa kau juga cinta pertama untuk Bella," goda Mili.
"Dan aku tahu itu," jawab Brey.
"Kau percaya diri sekali, tapi kau bukan hanya cinta pertamaku, kau adalah cinta sejati Bella," ujar Bella seraya tersenyum.
Brey tersenyum lebar seraya menge cup keningnya.
"Ikh... kalian membuat kami iri saja," ucap Anyelir.
"Kalau begitu, pacaran saja denganku," jawab Rafa.
"Ciiiih... tidak akan."
"Hati hati benci itu beda tipis dengan cinta," ucap Amir, "dan sudah saatnya aku mengumumkan sesuatu," imbuhnya seraya menarik tangan Mili.
Mereka semua menatap keduanya.
"Kalian...?" tanya Brey.
Amir menganggukkan kepalanya sedangkan Mili malu malu di samping Amir.
"Gila loe ya, bisa bisanya merahasiakannya dari kami," ujar Rafa kesal.
"Aku minta maaf teman teman, aku merahasiakan karena aku..." Mili menghentikan ucapannya.
"Jangan salahkan pacarku, aku yang memintanya karena masalah Brey dan Bella sebelumnya," sahut Amir.
Mereka semua justru melepaskan tawanya membuat Amir dan Mili kebingungan. Tentu saja mereka tidak akan marah karena kabar bahagia itu.
Mereka saling berbicara dan bersenda gurau layaknya saat masih bersekolah dulu. Acara yang cukup melelahkan bagi Brey dan Bella karena tamu undangan tak kunjung habis. Para kolega bisnis hotel dan restoran kedua orang tuanya sangat banyak. Dan akhirnya mereka bisa bernafas lega, saat para tamu undangan mulai satu per satu meninggalkan tempat hingga acara resepsi itu pun selesai.
*****
Happy Reading All...
__ADS_1