Cinta Sejati Bella

Cinta Sejati Bella
Kejutan Untuk Bella


__ADS_3

Bella yang masih merajuk di dalam kamarnya terus membuat mbok Darmi kebingungan. Makanan apapun tak disentuh oleh Bella, wajahnya yang terlihat semakin kurus dan pucat membuat mbok Darmi makin khawatir.


"Non Bella, ayo makan... nanti sakit..." kata mbok Darmi.


Bella menggeleng, "Bella tidak lapar mbok."


"Tapi non... dari kemarin non Bella tidak mau makan, kalau sakit mbok juga sedih."


"Bella tidak akan sakit mbok, sudah sana bawa lagi makanannya keluar."


"Non... mbok tahu non sedang marah pada tuan dan tuan muda. Tapi bukan seperti ini cara non Bella menyelesaikan masalah. Non harus tetap makan, non butuh tenaga untuk bicara dengan mereka."


Bella menatap mbok Darmi, "sebenarnya salah Bella itu apa? Bella hanya ingin menikah dengan pria yang Bella cintai, apa itu salah?"


Mbok Darmi meletakkan nampan makannya di meja kamar tersebut. Ia mendekati Bella di ranjangnya, seketika Bella memeluknya dan kembali terisak.


"Seandainya mami masih ada, mami pasti akan mendukungku," ujar Bella di sela tangisannya.


Mbok Darmi menepuk punggungnya dengan lembut, "non jangan bicara seperti itu, disini ada mbok Darmi. Tuan besar dan tuan muda sangat menyayangi non Bella. Mbok sangat tahu kekhawatiran mereka non. Mereka hanya ingin yang terbaik untuk non."


"Brey itu pria yang sangat baik, ia juga sangat mencintai Bella. Kami saling mencintai mbok. Setiap manusia bukankah akan berubah seiringnya kedewasaan mereka. Bang Billi bukankah saat sekolah juga ia seorang playboy? Tapi ia sekarang juga hanya mencintai kak Stephanie. Apakah Brey juga tidak boleh seperti itu?"


"Non harus lebih sabar, menghadapi tuan muda itu dengan tenang. Semakin non melawan, ia akan semakin tidak menyukai tuan muda Brey. Semakin non tidak mau makan, tuan muda pasti akan semakin kesal dan marah. Dengarkan mbok ya, sekarang non makan yang banyak. Setelah kenyang, non pasti bisa memikirkan cara untuk menghadapi tuan muda."


"Mbok Darmi benar, aku harus menghadapi bang Billi dan papi dengan tenang. Aku tidak boleh sakit, jika aku sakit bagaimana aku memiliki tenaga untuk berdebat dengan mereka," pikir Bella.


Bella melepaskan pelukannya, ia menganggukkan kepalanya membuat mbok Darmi lega. Mbok Darmi mengambil nampan makannya lalu menyerahkannya pada Bella.


"Habiskan makanannya, mbok tinggal ya."


Bella menganggukkan kepalanya lagi dan membiarkan mbok Darmi keluar dari kamarnya.


*****


Mbok Darmi menuruni anak tangga, ia ingin melanjutkan pekerjaannya di dapur tapi tiba tiba suara telepon di rumah berdering. Mbok Darmi segera menuju meja telepon dan mengangkat teleponnya.


"Halo... rumah Atdmaja disini," ujar mbok Darmi.


"Halo mbok, bagaimana kondisi Bella sekarang?" tanya Harry.


"Oh ini tuan besar, non Bella sekarang sudah mau makan tuan."


"Syukurlah jika seperti itu. Aku menghubungi mbok Darmi karena aku ingin menyampaikan sesuatu..."


Harry Atdmaja pun segera menceritakan pada mbok Darmi membuat pelayan tua tersebut terbelalak.


"Alhamdulillah kalau begitu tuan, mbok ikut senang mendengarnya. Non Bella pasti senang jika tahu."


"Jangan beritahu Bella terlebih dahulu, biarkan kedatangan Brey menjadi kejutan untuknya."


"Tuan besar benar juga. Ya sudah tuan, nanti mbok Darmi sampaikan pada penjaga rumah agar membiarkan tuan muda Brey masuk ke dalam."


"Baiklah, terima kasih mbok," ujar Harry seraya menutup teleponnya.


Mbok Darmi tersenyum lebar, "kalau jodoh memang tidak kemana, non Bella," gumamnya seraya segera keluar rumah untuk memberitahu penjaga rumah perihal kedatangan Brey nanti.

__ADS_1


*****


Kemacetan ibukota Jakarta membuat Brey semakin tidak sabaran. Ia ingin cepat bertemu kekasihnya, ia ingin segera memeluk wanita yang ia cintai dan rindukan itu. Berkali-kali Brey menekan klakson mobilnya karena tidak tahan lagi.


Dan akhirnya ia pun berhasil keluar dari kemacetan itu dan memasuki perumahan elit tempat Bella berada. Brey baru saja sampai di depan pintu gerbang rumah itu, namun ia terkejut saat pintu gerbangnya terbuka lebar dan membiarkan Brey membawa masuk mobilnya ke dalam.


"Sepertinya penjaga rumah sudah diberitahu tentang kedatanganku, ia juga masih ingat mobil yang aku kendarai," pikir Brey seraya tersenyum.


Brey segera keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah itu. Seorang wanita paruh baya membukakan pintunya. Wanita itu tersenyum pada Brey.


"Tuan muda Brey ya?" tanya mbok Darmi.


Brey menganggukkan kepalanya, "anda siapa?"


"Aku pelayan disini, tuan muda bisa memanggilku mbok Darmi. Non Bella belum tahu jika tuan muda datang, jadi langsung saja temui non di kamarnya. Di lantai dua, kamar paling ujung tuan muda."


"Aku boleh langsung ke kamarnya, mbok?"


Mbok Darmi menganggukkan kepalanya, "silahkan tuan muda."


Brey tersenyum, ia segera menaiki anak tangga. Ia bahkan nyaris melompati dua anak tangga sekaligus karena semakin tidak sabaran. Sesampainya di depan pintu kamar yang ia yakini itu adalah kamar Bella. Brey pun langsung mengetuk pintunya.


"Masuk mbok," suara Bella terdengar dari dalam kamarnya.


Jantung Brey berdebar dengan keras, wanita yang ia rindukan itu benar benar ada di dalam. Dengan tangan gemetar, Brey membuka pintunya. Ia melihat wanita yang ia cintai ternyata sedang menatap keluar jendela kamarnya.


Brey melangkahkan kakinya perlahan, ia mendekati Bella tanpa disadari wanita itu. Seketika Brey memeluknya dari belakang membuat Bella terkesiap.


"Ada apa mbok?" tanya Bella.


Bella terkejut mendengar suara Brey, wanita itu langsung membalikkan tubuhnya dan menatap Brey.


"Apa aku sedang bermimpi? Kau Brey kan?" tanya Bella sambil mengangkat tangannya untuk memegang wajah kekasihnya.


Brey tersenyum, "ini bukan mimpi sayang, peganglah wajahku."


Bella mengelus wajah pria itu masih tak percaya, "Brey... bagaimana kau bisa..."


Seketika Brey membungkam mulutnya dengan sebuah ciu man. Keduanya saling memanggut melepaskan kerinduan mereka. Brey terus melakukannya hingga keduanya nyaris kehabisan nafas mereka.


Setelah keduanya puas, Brey pun melepaskan Bella. Ia menge cup kening wanita itu seraya memeluknya.


"Ya Tuhan... aku merindukanmu sayang," ucap Brey.


Bella pun terisak seraya memeluk Brey dengan erat, "aku juga sangat merindukanmu, tapi bagaimana kau bisa masuk kesini? Kau tidak manjat dinding kan?"


Sontak Brey melepaskan tawanya, ia segera menghapus air mata Bella lalu tersenyum lebar.


"Jangan menangis nona cantik, ini sudah berakhir. Aku datang sebagai calon suamimu."


"Tapi bagaimana kau bisa..."


"Ceritanya sangat panjang, tapi kenapa kau terlihat sangat kurus? Kau tidak makan? Kau kurang tidur?"


"Bagaimana aku bisa makan dan tidur dengan baik. Kau juga terlihat sama Brey."

__ADS_1


"Karena aku sangat merindukanmu sayang."


"Aku juga Brey."


Brey kembali menarik kepala Bella, dan keduanya pun kembali berciu man.


*****


Bella berkali-kali terkejut saat Brey menceritakan semuanya. Wanita itu masih tidak percaya jika takdir bisa menyatukan cinta sejatinya kembali.


"Kita sudah ditakdirkan oleh Tuhan, Bell. Kau benar benar jodohku," ucap Brey.


Bella merebahkan kepalanya di pundak Brey, "kau adalah cinta sejati Bella. Tentu saja Tuhan menyatukan kita dengan caranya sendiri, Brey."


"Kau benar sayang. Oh ya sayang, saat aku datang kemari, bang Billi bilang kau sudah dijodohkan, apa itu benar?" tanya Brey.


"Bang Billi memang keterlaluan, tentu saja itu semua bohong. Tapi sekarang anggap saja benar."


"Apa maksudmu?"


"Bukankah kau putra dari sahabat papi, jadi apa bedanya. Kita memang sudah dijodohkan."


Brey terkekeh, "kau benar juga. Tapi jujur saja, saat mendengar bang Billi mengatakan itu, aku berniat menculikmu dan ingin mengajakmu kawin lari saja."


Bella tertawa mendengarnya, "aku lebih baik mati daripada harus dipisahkan denganmu.'


"Ssstttt... kau tidak boleh bicara seperti itu sayang. Aku akan terus berusaha menyatukan cinta kita."


"Aku sangat percaya itu, hanya saja kekerasan hati bang Billi membuatku sedikit goyah. Aku takut kita tak bisa bersatu kembali."


"Karena itulah kau mogok makan?"


"Tadi aku makan kok."


Brey menatap nampan makanan yang ada disana, ia menautkan kedua alisnya.


"Satu sendok itu tidak cukup. Sekarang menurutlah," ucap Brey seraya mengambil nampan makanannya.


Brey pun mulai menyuapi kekasihnya sedikit demi sedikit. Dan Bella akhirnya mampu menghabiskan makanan itu.


"Ini baru calon istriku yang pintar," ujar Brey seraya meletakkan nampan makanannya lagi.


"Brey... apa kau akan menginap disini?" tanya Bella.


"Jika aku melakukannya, aku tidak akan bisa menahan diri sayang. Aku harus pulang untuk membicarakan pernikahan kita dengan orang tuaku."


Bella mengerucutkan bibirnya.


"Aku tahu kita saling merindukan, tapi bersabarlah... kita tidak akan pernah terpisah lagi," ujar Brey seraya memeluk Bella lagi.


Bella menganggukkan kepalanya. Malam semakin larut, keduanya terpaksa berpisah kembali. Dengan berat hati Bella melepaskan Brey, dan membiarkan kekasihnya itu untuk pulang ke rumahnya.


*****


Happy Reading All...

__ADS_1


__ADS_2