Cinta Tuan Muda Gerland

Cinta Tuan Muda Gerland
Vian Mau Bunda


__ADS_3

Mario turun dari mobilnya dengan perasaan kesal atas apa yang telah dia dengar tadi ia tak mengira ternyata diluar sana ada yang menjelek-jelekkannya apalagi sekarang harus menghadapi orang yang ada di dalam rumah besar itu sudah lengkap kekesalannya hari ini.


Sesampai di dalam rumah ia disambut dengan Mamanya yang penuh antusias itu karena kedatangan anak tersayangnya.


MUACH MUACH


Di ciumnya pipi Mario dengan penuh kebahagian terpancar dari matanya. Namun tidak dengan Mario ia merasa jijik dengan perilaku Mamanya yang selalu memperlakukannya seperti anak kecil.


"Anak Mama tersayang pulang Mama kangen banget sama kamu sayang." Ucap Mirna Mama Mario.


"Iya iya Ma gak usah gini dong aku gak suka aku bukan anak kecil lagi Ma." Jawab Mario sambil menjauhkan diri dari Mamanya dan menuju sofa untuk duduk.


"Masih ingat pulang?" Tanya seorang pria yang duduk di seberang sofa.


"Kenapa? Memang salah saya pulang kerumah sendiri? Semua orang disini menyambut saya dengan senang kecuali anda. Apa anda tak menginginkan saya disini?" Jelas Mario sambil menyeruput secangkir kopi yang ada didepannya.


"Jangan kurang ajar kamu!" Timpal Burhan mengerutkan alisnya.


"HEI KALIAN BERDUA." Teriak Mirna menatap Burhan dan Mario


"Kalian berudua bisa gak gak usah debat? Gak anaknya gak Papanya sama aja pake debat segala akur dikit dong biar kaya keluarga harmonis." Tutur Mirna lalu ia duduk di sebelah Mario.


"Sayang jangan gitu dong ke Papa itu kan orang tua kamu juga kamu sayang Mama jadi sayang Papa juga ya." Ucap Mirna.


"Orang dianya sendiri yang ngajak aku debat kok Ma." Jawab Mario.


"Mana ada saya cuma tanya ke kamu! Kamu aja yang jawabnya ngelantur kemana-mana." Timpal Burhan.


"MARIO... KAMU PULANG AKU KANGEN SAMA KAMU." Teriak seorang Anak kecil yang berlari menuju ke arah Mario.


"Hey gak usah teriak aku juga dengar." Jawab Mario dan seketika wajah masamnya berubah menjadi ceria.


"Hehehe maaf Mario aku kangen sama kamu– Kamu juga udah gak pulang lama... Kamu mau ninggalin aku ya disini sendirian." Anak kecil itu mengangkat tangannya meminta untuk duduk dipangkuan Mario.


"Aish mana bisa aku tinggalin pangeran kecil yang ganteng ini." Ucap Mario "Lagian disini kamu juga ada Omah sama Opah terus ada Tante Kiran juga." Lanjut Mario sambil mengacak rambut anak itu.


"Tapi maunya sama Mario... Vian kira Mario gak bakal pulang lagi kesini Vian sedih." Ucap anak itu dengan wajah yang memelas membuat keadaan ruangan menjadi sunyi.


"Mario kan udah disini jadi pangeran kecilku gak boleh sedih lagi dong." Mario mengelus lembut pipi anaknya.

__ADS_1


"Ehekm— Perasaan saya tak dianggap dari tadi sedih rasanya... Saya mau pamit balik ke kantor sajalah semua ada urusan yang harus diurus." Ucap Andi memcahkan kesunyian ruangan itu.


"Sana pergilah urus urusanmu." Ucap Mario.


"Eleh kau mengusirku hah– Dasar teman kok gitu. Semuanya bye Andi Gans mau pergi." Ucap Andi.


"Dasar gak ada sopan santun." Ucap Mario.


"Eleh banyak omong kau Mar lagian kau sendiri juga gak punya sopan santun." Ejek Andi.


"Heh apa katamu tadi sini kau kurang ajar kau." Mario hendak berdiri namun ditahan oleh Vian.


"Mario gak boleh marah nanti Mario tua terus nanti jadi jelek." Ucap Vian.


"Tuh dengerin kata anakmu gak boleh marah nanti tua terus jelek." Ucap Andy lalu pergi keluar rumah.


"Iya pangeran kecilku Mario gak marah kok." Ucap Mario mencubit gemas pipi Vian.


"Awh Mario jangan gitu Vian gak suka." Vian menurunkan tangan Mario dari pipinya. "Mario ikut Vian kekamar yuk." Lanjut Vian lalu ia turun dari pangkuan Mario dan menggeret Mario pergi.


"Iya sayang bentar gak sabaran– Mama Papa Mario ke atas dulu." Ucap Mario.


Vian Andrasta Gerland anak kecil yang manis umurnya baru menginjak 5 tahun masih sangat unyu dia adalah anak dari Mario. Vian adalah kesayangan Mario, Mario membesarkan Vian penuh dengan kasih sayang dan penuh cinta Vian adalah harta berharga Mario begitu pun Vian sangat menyayangi Mario. Walau masih unyu namun ia juga sudah cukup pintar seperti Mario dulu sewaktu kecil.


Kamar Vian


Vian membawa Mario ke kamarnya kamar yang cukup besar dengan hiasan berbagai mainan entah robot-robotan mobil-mobilan dan lainya tak lupa terpasang foto Mario dan Vian yang dipajang di dinding atas tempat tidurnya.


"Mario duduk sini." Ucap Vian mengajak Mario naik ke atas kasur.


"Hem pangeranku ini kenapa penuh teka teki deh." Ucap Mario dengan menatap lembut Vian. Tiba-tiba Vian menyodorkan tangannya didepan Mario mengisyaratkan bahwa ia menginginkan sesuatu.


"Hem apa ini maksudnya?" Tanya Mario bingung.


"Mario lupa...." Ucap Vian dengan wajahnya memelas penuh keimutan.


"Heh kenapa kamu memasang wajah itu hah? Kau tau itu imut sekali– Kau mau apa sih." Mario masih saja bingung dengan perilaku anaknya itu.


"Mario lupa kemarin kan Vian ulang tahun yang ke 5 tahun, tapi Mario gak pulang Vian sedih tapi Vian tau pasti Mario masih sibuk dan juga Mario janji nanti kalo Vian udah umur 5 tahun Mario mau ngasih hadiah spesial katanya. Jadi Vian mau nagih hadiahnya mana."Jelas Vian dengan wajahnya yang mengemaskan.

__ADS_1


"What ulang tahun astaga gimana ini bisa-bisanya aku lupa dan janji itu juga dia masih ingat tapi aku sudah lupa dasar pelupa kamu Mario."


"Eh itu apa– Hadiahnya masih proses Vian sayang iya." Ucap Mario gugup.


"Mario bohong bilang aja Mario lupa sama ulang tahun Vian terus hadiahnya juga lupa." Ucap Vian kesal sambil berdiri di hadapan Mario dan menaruh kedua tangannya di pinggangnya.


"Eh engak kok Mario gak lupa beneran masih proses." Mario terus membujuk Vian.


"Bohong Vian marah sama Mario... Mario keluar dari kamar Vian." Ucap Vian dengan wajah mewek.


"Eh jangan marah sama Mario dong." Mario merangkul Vian namun Vian terus brontak.


"Lepasin Vian marah sama Mario... Mario gak nepatin janjinya."


"Iya iya sayang Mario ngaku Mario lupa maafin Mario ya...." Ucap Mario.


"Tuh kan Mario lupa Mario udah gak sayang ya sama Vian." Kata Vian dengan memasang wajah sedih namun juga kesal.


"Gak kok Mario sayang sama Vian... Pliss Maafin Mario ya." Ucap Mario dengan wajah melas.


"Boleh sih dimaafin tapi ada syaratnya." Ucap Vian menatap kesal mata Mario.


"Apa syaratnya bilang sama Mario pasti Mario turutin."


"Mario Harus kasih Vian—" Ucapan Vian terpotong ia sebenarnya tak berani mengatakannya.


"Apa ayo bilang sama Mario."


"Vian mau– mau– mau Bunda." Ucap Vian dengan suaranya yang kecil.


"Apa? Mario gak dengar ucapin lagi."


"Vian mau Bunda." Ucap Vian dengan memasang ekspresi puppy eyes nya.


"WHAT—"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


TBC

__ADS_1


__ADS_2