
Sudah dua minggu berlalu sejak anak Mario–Vian–Meminta seorang bunda padanya. Dan itu sangat membuat Mario bimbang entah menyetujuinya atau malah menolaknya.
"Anak Mama sayang, sini bentar dong Mama mau bicara hal penting sama kamu." Ucap Mirna pada Mario yang sedang menuruni tangga.
"Hal apaan sih Ma? Penting banget ya?" Mario langsung duduk di sebelah mamanya.
"Menurut Mama sih banget ini. Jadi gini, em... Mama mau minta maaf dulu. Kan kemarin Mama gak sengaja denger percakapan kamu sayang sama anak kamu." Ucap Mirna pelan.
"Hah, kok Mama lancang sih nguping pembicaraan Mario sama Vian!" Mario sedikit kesal atas ulah Mamanya yang tak sopan itu.
"Tenang dulu dong! Mama juga gak sengaja dengernya." Mirna berusaha menenangkan Mario.
"Ya terus? Sekarang Mama mau ngomong apa lagi?" Tanya Mario dengan kesal.
"Jadi gini, karena Mama udah denger percakapan kalian berdua Mama setuju dengan kemauan Vian." Ucap Mirna.
"Maksudnya? Emm... Mama setuju kalo Mario nikah gitu? Iya?" Tanya lagi Mario.
"Lah, anak Mama pintar, bener banget sayang." Mirna begitu senang anaknya sangat peka.
"Tapi Ma, Mario ini masih mau sendiri dulu. Lagian kalo soal nikah Mario juga belum ada calon kok, jadi Mario masih mau gini aja dulu." Jelas Mario.
__ADS_1
"Sayang gini, kamu ngakak iri apa sama anaknya Bu Rima itu udah punya istri sekarang kalo butuh apa-apa istrinya ada buat dia. Coba kamu punya istri kaya gitu kan enak, nanti ada yang ngurusin kamu ngak kayak gini amburadul. Terus Vian, kamu nggak kasihan sama Vian? Dia itu juga butuh kasih sayang ibu! Kamu aja nggak becus ngurus dia, sering kamu tinggal dia." Kata Mirna yang selama ini tidak mengurusi kehidupan anaknya itu, sekarang dia malah menjadi antusias agar anaknya terbuka pikirannya.
"Mama Mario juga bisa urus diri sendiri, udah lah mah gak usah urusi urusan pribadi Mario!"
"Bukan maksud Mam ikut campur. Mam tuh juga mau punya mantu biar ada yang nemenin Mam kesana kesini kaya temen-temen Mama kan enak jadinya biar gak sendiri lagi!" Kata Mirna dengan sedikit memelas.
"Iya terus sekarang harus gimana?"
"Sekarang itu harusnya...."
...****************...
"Ayah udah ngak tau lagi Yol tentang kamu. Udah ada empat lelaki loh Yol yang meminang kamu kan itu? Tapi ya tetap saja kamu nolak mereka, kamu nggak takut kualat apa hah? Andai saja kamu mau nerima salah satu dari mereka pasti Ayah sama Mama mu ini udah gendong cucu kaya orang tua lainnya." Kata Wardana, ayah Yolanda yang baru saja kembali dari desa bersama Diyana adik Yolanda.
"Nggak ada yang mengaruhi Ayah Yol, Ayah itu cuma mau kamu pengen cepet nikah di umur mu yang dibilang cukup ini!" Kata Wardana.
"Ayah Yol kan masih kuliah, lagian soal jodoh juga nanti pasti datang pada waktunya Ayah." Jelas Yolanda.
"Kan kamu juga bisa itu nikah sambil kuliah siapa tahu nanti ditengah-tengah kamu hamil terus Ayah sama Mama punya cucu. Ya kali nunggu kamu sampai siap terus Ayah sama Mama udah tua gitu? Kalo jodohmu ada sih gak papa kalo belum ada Ayah sama Mama gak bisa gendong cucu dong." Wardana mulai kesal dengan sikap anaknya yang masih menolak itu.
"Ayah jangan ngomong gitu dong, Yolanda juga mau bahagian Ayah sama Mama, Yolanda nggak bermaksud bikin Ayah sama Mama sedih kaya gini. Yolanda janji deh setelah ini kalo ada yang melamar Yolanda pasti Yolanda terima. Yang penting lelaki itu di percaya sama Ayah buat jagain Yolanda di masa depan." Kata Yolanda berderai air mata duduk di lantai dengan memegang kedua paha Ayahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba ada sekeluarga yang datang ke rumah mereka dengan maksdunya tertentu dan sangat mengejutkan mereka.
"Selamat malam Keluarga Tuan Wardana, maaf saya datang kesini sekeluarga pastinya mengagetkan tuan sekeluarga ini ya, aduh merasa bersalah nih. " Ucap Burhan basa-basi agar tidak canggung.
"Hahaha ngak usah formal lah kita udah kenal lama loh, justru saya yang takut ini nggak bisa melayani Tuan Burhan seorang pengusaha besar di kota dengan baik." Wardana menyauti basa-basi Burhan.
"Aduh tuan kita sama-sama pengusaha lah cuma beda bidang dan tempatnya saja."--Burhan.
"Hahaha iya juga. Oh ya, ada apa ini sekeluarga datang semua kesini?" Tanya Wardana.
"Jadi soal ini biar nanti anak saya yang akan jelaskan. Sebentar lagi mungkin dia akan datang." Jawab Burhan.
Beberapa menit kemudian seorang lelaki berjas hitam dengan gagah memasuki ruang tamu rumah itu.
"Maaf semuanya saya terlambat tadi ada sedikit urusan." Kata Mario dengan sopan.
"Oh ini anakmu? Tidak apa nak, yang lainnya juga baru saja datang. Ayo-ayo duduk bersama kami." Kata Wardana mempersilahkan Mario untuk bergabung bersama kedua keluarga.
"Jadi-jadi ini ada apa ini? Kok saya semakin di buat bingung oleh keluarga mu nih?" Kata Wardana penasaran.
"Untuk itu biar anak saya saja lah yang jelaskan."--Burhan
__ADS_1
"Ekhem, maaf sekali lagi Tuan Wardana jika ini mengagetkan anda sekeluarga. Namun niat saya di sini baik dan tidak ada maksud yang jahat. Jadi saya Mario anak dari Tuan Burhan datang kesini bersama keluarga mau melamar anak Anda, Yolanda sebagai istri saya." Kata Mario dengan tegas yang membuat Wardana sekeluarga kaget kepalang apalagi Yolanda. Dirinya masih tidak menduga bahwa yang melamarnya adalah orang yang tak dikenal terlebih lagi dia harus rela menerima lamaran itu karna dia juga sudah berjanji kepada sang Ayah.
Wardana dan Burhan mereka adalah teman dahulunya. Mereka juga sudah seperti keluarga. Namun, seiring waktu bahkan setelah Burhan menikah hubungan mereka mulai renggang. Mulai sibuk dengan urusan sendiri-sendiri, sampai pada saat itu mereka bertemu pada suatu pertemuan bisnis. Setelah itu mereka mulai berkomunikasi lagi walau tak selalu.