
Perkenalan Tokoh.
Kiara Alianwi ( Kiara)
Gadis sederhana yang hidup dalam kemiskinan. Ia hanya hidup berdua dengan ibunya di rumah sederhana peninggalan ayahnya yang sudah lama tiada. Usianya tahun ini berumur 20 tahun, ia hanya tamat SMA. Ibunya sudah tidak memiliki uang untuk bisa melanjutkan anaknya menjadi seorang mahasiswa.
Erlangga Pratama ( Angga)
Pria tampan yang kaya raya. Orang tuanya hanya seorang pegawai negeri biasa yang gajinya tidak seberapa namun di usia yang masih sangat mudah yakni berumur 25 tahun, Ia sudah bisa memperoleh penghasilan yang fantastis lewat bisnis online yang di gelutinya sejak SMA dan mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor. Selain itu orang orang menghargai dan menghormati keluarganya karena menurut cerita ia masih memiliki keturunan kerajaan dari masa lalu.
Naila Widya ( Naila)
Gadis yang memiliki ekonomi yang setara dengan Angga. Dia adalah seorang pengusaha 21 tahun, usahanya bergerak di bidang kecantikan membuatnya bisa meraup uang ratusan juta setiap bulannya.
" Kiara, waktunya makan siang" teriak ibunya dari arah dapur.
Mendengar panggilan ibunya, gadis itu meletakkan bukunya dengan rapi di atas mejanya yang sudah usang dan lapuk lalu melangkah di mana ibunya berada.
" Ayo makan " ajak Ibunya. Tubuh dan wajah ibunya kecokelatan tak terawat karena ia tidak memiliki uang untuk merawat kulitnya.
Kiara duduk di atas tikar berhadapan dengan sepiring nasi dan sayur singkong masakan ibunya.
Siang itu anak dan ibu itu memakan lahap menu sedehana siang itu.
Selesai makan.
" Nak, belikan ibu minyak kayu putih yah. Perut ibu sakit" kata ibunya lalu memberikan uang sebesar 10 ribu rupiah yang bentuknya sudah usang dan kotor.
" Baik Ma" dengan patuh ia pergi membeli apa yang di katakan ibunya.
Sesampainya di kedai yang jauhnya satu kilometer dari rumahnya.
" Bu, ada minyak kayu putih" tanyanya.
" Ada. 7000 " Jawab pemilik kedai.
" Kasih satu ibu yah"
Kiara meraih sebotol kecil minyak kayu putih lalu memberikan selembar uang.
Setelah memperoleh kembaliannya. Ia pulang ke rumah tapi di tengah perjalanan ia bertemu dengan seorang gadis.
" Hai, tolong aku " kata gadis itu.
Kiara menganga di tempatnya melihat seorang wanita yang menyapanya. Badannya tinggi semampai, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung dan outfitnya bagus bagus.
" Apa yang bisa saya bantu nyonya" balas Kiara sopan.
" Hahahahahaha. Kenapa kau memanggilku nyonya aku ini masih muda loh, sebutan nyonya di berikan kepada orang yang sudah tua" kata gadis itu sambil tertawa.
__ADS_1
Kiara tersenyum malu. Mana mungkin ia tahu hal itu, ia hanya sekali setahun keluar kota. Ia hanya mendengarnya dari sinetron sinetron yang sekali ia tonton dalam seminggu di rumah tetangganya.
" Bisa bantu aku. Aku baru datang di desa ini tadi pagi, aku lupa di mana rumahnya kades" kata wanita itu.
" Tentu saja dengan senang hati" Kiara menuntun wanita itu ke rumah kepala desa.
" Perkenalkan namaku Naila, panggil saja Naila. Siapa namamu?"
" Namaku Kiara, panggil saja Kiara"
" Untuk apa kakak datang ke sini?" tanya Kiara penasaran.
" Kau belum tahu yah. Kami mendonasikan uang kami untuk pembangunan jalan di desa ini" jawab Naila.
" Waaaahhh" Kiara tersenyum. Ia kagum pada wanita ini.
" Berbanggalah sebentar lagi jalanan kalian akan bagus" kata Naila.
Di perjalanan, Kiara tak henti hentinya tersenyum. Selain ia sangat bangga karena jalanan di desanya akan bagus ia juga kagum terhadap gadis yang ada di sampingnya ini.
Sesampainya di rumah Kepala desa.
" Aku pulang" tutur Naila.
Seorang pria bertubuh atletis menghampiri Naila.
" Kau ke mana saja. Daritadi aku mencarimu?" tanya pria itu.
Sang pria memeluknya.
" Jangan begitu lagi. Aku takut loh kau menghilang"
Kiara memandang mereka berdua dengan perasaan yang melayang layang.
" Beruntung sekali" gumamnya.
" Perkenalkan Kiara. Ini pacarku namanya Angga, ini Kiara An" ucap Kiara.
Pria yang bernama Angga itu mengangkat tangannya hendak bersalaman.
Kiara menatap tangan pria itu. Mulus sekali tidak ada noda di sana, dengan perasaan yang ragu ragu ia hendak membalasnya namun sesaat kemudian ia mengurungkan niatnya.
Secepat kilat ia berlari dari sana.
" Heeeh, kenapa ia?" kata Angga bingung.
Tidak hanya Angga, Naila juga bingung atas kelakuan Kiara.
Saat ia sudah jauh dari rumah kepala desa. Kiara berhenti di tengah jalan, ia menopang tubuhnya dengan kedua lututnya. Ia bernafas tersengal sengal.
__ADS_1
" Kenapa denganku?" tanyanya bingung.
Kiara melangkah lunglai pulang ke rumahnya. Ia berlari karena ia malu pada dirinya sendiri, seorang gadis desa yang miskin dan bodoh tidak pantas bersalaman dengan pria macam Angga. Pria kaya raya dari kota bahkan kulit wajahnya tidak bisa menandingi kebersihan telapak kaki Angga. Jadi ia merasa tidak pantas menyambut uluran tangan pria itu.
" Naila sangat beruntung, memiliki segalanya. Mengapa aku terlahir dengan keadaan yang seperti ini miskin jelek pula" Kiara mengeluh dalam hati, tapi sesaat kemudian ia memohon ampun pada Tuhan. Ia tidak boleh mengeluh, Tuhan punya rencana baik dan indah untuknya. Menegeluh kepada Tuhan sama saja ia meragukan kuasa Tuhan dalam hidupnya.
Sesampainya di rumahnya. Wajah cantik Naila dan wajah tampan Angga masih terbayang bayang di kepalanya, sangat dan sangat beruntung.
Kiara melangkah ke dalam kamarnya yang hanya di lengkapi meja usang dan kursi yang sudah usang juga. Kasurnya yang kecil sudah ada beberapa tambalan di sana menandakan kalau kasur itu seumuran dengan neneknya yang hanya di tutupi oleh tikar berwarna cokelat.
Kiara ingin juga jadi cantik. Punya uang banyak, kulit yang bersih dan glowing, bertubuh semampai. Tapi ia tidak tahu cara mendapatkan itu semua, jadi ia hanya pasrah pada keadaan.
" Di mana minyak kayu putih mama, kenapa lama sekali?" tanya ibunya.
" Maafkan aku. Tadi aku menolong gadis kota yang tersesat, aku mengantarnya ke rumah pak kades" jelas Kiara.
" Ini minyak kayu putihnya ma" sambungnya.
" Siapa gadis kota itu?" tanya ibunya lagi sambil mengambil minyak kayu putih pemberian Kiara.
" Namanya Naila Ma. Dia sangat cantik, kulitnya bersih" jawab Kiara tak henti hentinya memuja wanita itu.
" Apa yang kau maksud orang yang akan menyumbangkan uangnya untuk memperbaiki jalan kita" kata ibunya.
" Iya ma, dia orangnya. Selain cantik, kaya ia juga orang yang baik hati"
" Orang kota itu sudah beberapa hari ini di bicarakan penduduk desa di manapun penduduk berada, di sawah, di kebun, di ladang, di pasar. Orang orang membicarakannya, katanya pasangan kekasih kaya yang baik hati" terang ibunya.
Kiara tidak menimpali perkataan ibunya, di otaknya masih terbayang bayang wajah Angga dan Naila.
Visual:
Naila Widya
Erlangga Pratama
Kiara Alianwi
__ADS_1