Cinta Tulus Gadis Desa

Cinta Tulus Gadis Desa
Kiriman Uang Untuk Mama Tercinta.


__ADS_3

Tiga jam kemudian, mereka sampai di ibukota.


Kiara deg deg an. Ia berdoa dalam hati semoga bagasi mobilnya tidak cepat di buka.


Benar dugaannya turun dari mobil, sepasang kekasih itu langsun masuk ke dalam rumah sedangkan sopirnya menuju toilet.


Berapa lama kemudian saat Kiara merasa kalau mereka benar benar tidak ada di sana. Gadis itu membuka bagasi mobil dengan mata yang tajam ia keluar dari halaman rumah itu.


" Huuh huuh huuh" katanya capek. Ia menahan napas saat berlari dari halaman rumah Angga yang luas itu.


" Halamannya luas sekali, untung tidak ketahuan"


" Wah bagus sekali" pujinya saat ia melihat bangunan pencakar langit.


" Indah sekali, ini pertama kalinya aku datang ke kota ini"


Kiara berjalan dan terus berjalan. Ia sudah ada di kota sekarang, ia tidak boleh putus asa. Langkah pertama yang harus ia lakukan berjalan mencari pekerjaan.


Dua hari berada di kota itu ia baru mendapatkan pekerjaan bekerja di warung bakso untung majikannya adalah orang yang baik hati sehingga bersedia memberikan tempat untuk bernaung dari hujan dan sinar matahari. Kamarnya sangat kecil memang tapi ia sudah sangat bersyukur di sediakan tempat tinggal. Dua hari sebelum ia mendapatkan pekerjaan jika malam hari ia makan dan tidur di stasiun kereta api dan taman kota untung Tuhan selalu melindunginya hingga ia terlepas dari preman preman jalanan. Tuhan memang selalu punya rencana yang terbaik untuknya.


Di warung itu Kiara bekerja sangat rajin dan giat, dengan cepat ia bisa mengerti apa yang di ajarkan oleh majikanya.


Kini jam berganti jam, hari berganti hari dan Minggu berganti Minggu. Tak terasa ia sudah satu bulan bekerja dan ia sudah bisa mengirim stengah gajinya kepada ibunya. Gajinya ia kirim bukan lewat ATM yah tapi lewat orang sekampungnya yang ia kenal kebetulan datang ke kota dan makan di warung yang ia tempati bekerja, tidak hanya uang tapi Kiara memberikan ponsel jadul kepada ibunya agar memudahkan komunikasi mereka.


" Uangnya sudah sampai Ma" kata Kiara saat ibunya lebih dulu menghubunginya.


" Iya nak. Siti sangat baik, ia juga mengajarkan ibu memakai ponsel" kata ibunya dengan menyebut nama orang di kampungnya yang bertemu Kiara di ibukota.


" Baik baik di sana yah nak"


" Iya Ma doakan Kiara mudah mudahan pekerjaannya di lancarkan" ucapnya.


" Iya nak. Jangan lupa berdoa yah" peringat ibunya.


Setelah lama berbincang bincang melepas rindu dengan ibunya akhirnya sambungan telepon mereka di akhiri. Bagaimana tidak rindu, setelah satu bulan merantau ke tanah orang ini pertama kalinya ia berbicara dengan ibunya bukan tanpa sebab tapi karena pada saat itu ia belum memiliki ponsel hingga ia harus menunggu waktunya gajian untuk membeli ponsel.


Sementara di tempat lain, mamanya yang tinggal seorang diri membuka amplop yang di kirim oleh anaknya lalu matanya terbuka lebar melihat uang yang ada di sana semuanya berwarna merah . Ini pertama kalinya ia memegang uang sebanyak itu, jika di hitung hitung maka total uang yang ada di dalamnya senilai satu juta delapan ratus Kiara lebih banyak mengirim gajinya kepada ibunya daripada yang ia tinggalkan di saku sendiri. Ia ingin ibunya menikmati hasil jerih payahnya setelah sebulan ia bekerja.

__ADS_1


Ibunya memperhatikan ponsel yang di belikan anaknya untuknya, ponsel inilah yang sering di pakai oleh orang orang yang ada di kampungnya.


***


" Sayang, bagaimana pembangunan jalan di desa?" tanya Naila yang baru pulang dari klinik kecantikan miliknya.


" sementara di kerjakan, angkutan aspal sudah di bawah ke sana" jawab Angga.


" Dimana ayah?" tanya Naila lagi.


" Ia sedang keluar bersama dengan ibu" jawab Angga.


" Sayang, rencanaku hari ini datang menemui ayah dan ibu untuk membicarakan pernikahan kita" kata Naila.


Muka Angga cemberut ia belum mau menikah.


" Kau kenapa? jangan bilang kalau kau tidak ingin menikah denganku" ucap Naila saat ia melihat perubahan wajah Angga saat ia membicarakan tentang pernikahan.


" Bukan tidak ingin tapi belum ingin. Aku belum siap untuk menikah" kata Angga.


" Tapi umur kita sudah waktunya untuk menikah. Lagian apa lagi yang akan di tunggu hidup kita sudah mapan secara mandiri" ujar Naila.


" Huh apa maksudnya itu, katanya ia sangat mencintaiku tapi berbicara saja tentang pernikahan ia marah marah. Aku sering bertanya tanya apa dia mencintaiku atau tidak sih" kata Naila kesal.


" Ciiihh"


" Aku pulang saja deh" dengan perasaan yang marah Naila meninggalkan rumah Angga.


Di dalam kamarnya Angga hanya sibuk bermain dengan ponsel kesayangannya.


" Mengapa dia sering membicarakan tentang pernikahan. Dia tidak tahu apa kalau aku belum mau membangun rumah tangga" kata Angga gusar.


Dengan senyum yang nakal hari ini pria yang tak mengerti perasaan perempuan itu menonton situs dewasa favoritnya. Dasar laki laki sampah.


Setelah selesai dari aktivitasnya.


" Ke mana yah nanti malam. Aku ke klub saja deh, Naila pasti tidak akan mencariku karena ia marah padaku" kemudian pria itu membuka grup whatssapnya lalu menulis pesan kepada teman temannya untuk datang klub langganannya.

__ADS_1


" Kau yang traktir yah" balas temannya.


" Tentu saja" tulis Angga.


" Tidak hanya minuman tapi perempuan juga kau semua yang bayar. Oke bos" tulis pesan teman yang lain.


" Oke deh nggak papa karena aku yang mengajak jadi aku yang tanggung semuanya" tulis Angga lagi.


Angga membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Ia lumayan capek hari ini selain mengurus keperluan bisnisnya yang semakin hari semakin merambah ke luar negeri ia juga harus mengurus keperluan politik ayahnya yang memiliki lawan politik yang kuat. Jadi malam ini ia harus merefresh dirinya agar semangat bekerja untuk besoknya.


Ia teringat Naila, semakin hari gadis itu semakin merepotkan. Ia sudah pusing tujuh keliling mengurus politik ayahnya di tambah keinginan Naila lagi yang ingin membuka bisnis baru dengan modal yang cukup besar.


" Ah merepotkan" Angga memijit keningnya.


Tak lama kemudian ia tertidur.


Ia bangun saat jam menunjukkan pukul stengah tujuh malam. Ia turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Kemudian ia turun ke bawah lantai satu, rupanya orang tuanya belum jua pulang.


" Sebenarnya ke mana mereka?" kata Angga dalam hati.


Saat sampai di dapur, pembantu rumah tangganya sedang sibuk membuat makan malam.


" Ayah dan ibu belum pulang yah?" tanya Angga.


" Iya Tuan. Tuan besar dan Nyonya besar belum pulang" jawab bibinya.


" Kemana mereka?" tanya Angga lagi.


" Aku tidak tahu Tuan mereka kemana. Mereka tadi hanya bilang kalau punya urusan" jawab pembantunya lagi.


" Tuan ingin makan apa?" tanya pembantunya.


" Ayam kecap" jawab Angga singkat.


" Yah tunggu sebentar akan ku buat"

__ADS_1


Hanya lima belas menit. Makan malam yang diinginkan Angga sudah tersedia di atas meja lalu pria itu melahapnya, ia harus punya tenaga malam ini.


__ADS_2