
" Sayang. Ayo kita makan?" panggil Naila
" Baik" Angga keluar dari kamar yang di siapkan kades untuknya.
Masuk ke area dapur, pria itu melihat banyak aneka macam makanan khas desa yang tentunya lezat dan menggugah selera di tata rapi di atas tikar.
" Silahkan duduk dan makan" tawar pak kades.
Angga menunduk sopan walau ia adalah pria yang kaya raya tapi ia sangat berlaku sopan pada orang yang lebih tua.
Angga duduk berhadapan dengan pak kades diikuti oleh Naila di sampingnya.
" Silahkan makan. Ini adalah makanan khas desa kami , mudah mudahan kalian menyukainya" kata pak kades.
" Kami tidak pernah pilih pilih makanan pak" ucap Angga.
Naila tertawa dalam hati mendengar kebohongan Angga, setahunya Angga adalah orang yang sangat ketat dalam makanan. Pria itu tidak sembarangan menyantap makanan. Tapi mau bagaimana lagi demi menjaga perasaan pak kades terpaksa Angga harus membuang kebiasaan itu untuk sementara waktu, ini bukan kota dan ini bukan restoran yang menyediakan menu makanan bervariasi dan ia dengan semau maunya pilih pilih makanan.
Angga mengambil piring yang terbuat dari plastik, sangat ringan berbanding terbalik dengan piringnya di rumah kemudian ia menyendok nasi ke atas piringnya. Angga memperhatikan warna nasi itu sangat bersih dan menggugah selera belum terkontaminasi oleh pengawet yang bisa membahayakan tubuh manusia kemudian pria itu mengambil lauk pauk khas desa yang ada di sana. Ia mencoba menyuap ke dalam mulut mencicipi rasanya dan matanya membulat kemudian.
" Enak sekali" pujinya dalam hati, lebih enak dari masakan di restoran langganannya lalu pria itu menyantapnya dengan lahap tak bersisa sedikit pun.
Selesai makan, Angga mengelus perutnya yang membuncit kekenyangan. Malam ini ia sangat kenyang sempurna.
" Enak" kata pak kades.
" Yah sangat enak, ini pertama kalinya aku menyantap makanan desa sangat enak ternyata lebih enak dari makanan makanan yang ada di kota" ucap Angga.
" Tentu saja karena lauk pauknya masih segar tidak ada campuran bahan kimia di sini lalu di tambah rempah rempah pilihan sudah pasti enak dan menggugah" kata pak kades.
Mereka yang makan di situ berbincang bincang untuk sementara waktu kemudian masuk ke dalam kamar masing masing untuk tidur.
__ADS_1
" Pak, apa mereka sudah menikah?" tanya istri kades kepada suaminya.
" Belum, mereka masih pacaran"
" Kok mereka tidur sama?" istri kepala desa bingung mengapa Angga dan Naila satu kamar sementara mereka belum menikah.
" Ah biarkan saja jangan diurus dan di pikirkan" kata pak kades.
Sebelum masuk ke dalam kamar, istri pak kades masih menatap pintu kamar di mana Angga dan Naila tidur lalu masuk ke dalam kamarnya untuk istirahat.
**
Jam menunjukkan pukul 10 malam tapi Kiara belum tidur, ia masih sibuk di dalam kamarnya mencoret kata demi kata di diary kesayangannya.
Kiara sebenarnya adalah gadis muda yang mempunyai mimpi yang sangat tinggi namun karena keterbatasan ekonomi membuatnya pasrah pada keadaan.
Sekarang ia sudah bertemu dengan Naila, entah kenapa mimpinya kembali muncul di benaknya. Ia baru sekali bertemu dengan Naila namun ia sangat mengidolakan gadis itu, bukan karena Kiara mengidolakan Naila karena berpacaran dengan sosok pria ganteng mapan hingga hidupnya begitu sempurna tapi ia mengidolakan Naila karena wanita itu bisa membeli semua keinginannya di usia yang masih begitu muda dengan uang hasil kerja sendirinya.
" Ah" Kiara menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia berandai terlalu jauh dan untuk apa ia berandai andai. Hal itu tidak akan terjadi jika tidak di barengi dengan usaha dan kerja keras.
" Apa yang harus aku lakukan yah?" Gumamnya.
" Apa aku harus ke kota untuk mengadu nasib"
" Tapi aku jarang ke kota, aku tidak tahu bagaimana kehidupan di sana dan aku juga tidak memiliki kerabat di sana. Aduh bagaimana ini?"
Tidak tahu harus melakukan apa untuk menggapai mimpinya akhirnya ia tertidur lagi. Jadilah ia hanya bermimpi dan bermimpi.
Tiga hari kemudian waktunya Angga dan Naila pulang ke kota setelah perjanjian membangun jalan sudah di tanda tangani di atas materai.
" Kami sangat berterimah kasih kalian bisa membangun jalan di desa yang tertinggal ini. Pembangunan jalan sudah di nantikan selama berpuluh puluh tahun oleh warga desa dan ternyata Tuhan mengabulkan doa kami ada orang muda yang baik hati bersedia memenuhi harapan warga" tutur pak Kades.
__ADS_1
Angga dan Naila tersenyum.
" Tentu saja pak. Anda dan warga adalah orang yang baik mana mungkin harapan kalian tidak di kabulkan oleh Tuhan" kata Angga.
Sebuah mobil mewah akan membawa Angga dan Naila keluar dari desa ini. Semua warga desa berkumpul di rumah pak kades mengiringi kepulangan sepasang kekasih muda itu yang sudah memenuhi harapan mereka.
Tak terkecuali dengan Kiara, setelah selesai mandi ia datang ke rumah pak kades untuk melihat kepulangan orang yang sempurna di matanya. Tidak hanya datang melihat saja ia punya rencana yang gila.
Sepasang kekasih itu belum naik ke atas mobil, mereka masih sibuk di bersalam salaman dengan warga dan menerima hadiah dari warga. Dari kemarin malam Kiara memiliki rencana yang gila untuk menggapai mimpinya, pernah suatu waktu ia datang menonton TV di rumah pak kades dan ia melihat adegan seorang gadis yang menyusup ke dalam bagasi mobil. Kiara ingat adegan itu dan adegan itulah yang akan di pakainya untuk pergi ke kota mengadu nasib.
Kiara celingak celinguk sana sini mirip tingkah seorang pencuri, ia akan menyusup ke dalam bagasi mobil Angga dan Naila, tas yang berukuran sedang sudah di siapkan dari kemarin malam. Saat ia sadar kalau perhatian semua orang tertuju pada sepasang kekasih itu, secepat kilat Kiara meleset membuka bagasi mobil Angga.
" Untung tidak terkunci" gumamnya.
Di dalam bagasi mobil banyak sekali barang barang Angga dan Naila mulai dari koper dll tapi karena Kiara bertubuh semampai ia masih bisa bersembunyi di dalamnya.
Setelah selesai bersalam salaman dengan warga akhirnya waktunya bagi Angga dan Naila untuk naik ke atas mobil. Mereka memiliki sopir pribadi untuk mengantar kepulangan mereka.
Mereka berdua dan sopirnya sudah ada di atas mobil. Angga membuka kaca mobil untuk melambai kepada warga yang ada di sana.
" Dada dada dada dada dada dada" begitulah sahut sahutan warga sambil mengangkat telapak tangan mereka.
Ketiga orang itu tidak sadar kalau ternyata ada tamu tak di undang meringkuk di dalam bagasi mobilnya.
Di tengah perjalanan.
" Jujur saja kau melakukan hal ini untuk mendukung ayahmu di pemilihan wali kota kan?" tanya Naila.
" Yah. Kau pikir aku mau membuang buang uangku begitu saja, aku mengincar desa itu sejak lama. Selain tidak di perhatikan oleh pemerintah daerah tapi desa itu juga memiliki banyak penduduk yang masih produktif. Jika aku yang notabene anak ayahku yang membangun jalan di desa itu tentu saja semua mereka yang ada di desa itu pasti memilih ayahku" kata Angga dengan senyuman.
Kiara yang mendengar percakapan sepasang kekasih itu tersentak.
__ADS_1
" Jadi untuk kepentingan politik toh" pikir Kiara"