
Barry sudah pulang dari apartemen Omega sejak beberapa jam yang lalu, tapi gadis itu masih bisa merasakan wangi cologne yang ditinggalkan kekasihnya di setiap sudut ruangan ini. Omega semakin sedih mencium wangi ini. Wangi Barry.
Dirinya teringat lagi dengan pertengkaran mereka beberapa jam yang lalu. Pertengkaran atas dasar permasalahan yang sangat konyol. Hanya karena masalah radio. Damn the radio! Harusnya mereka memang tidak mendengarkan radio atau menonton televisi ketika sedang bersama. Barry ada di sana, dimana-mana dan semua itu mengganggu Omega.
“Malam, Listeners, malam ini di sesi hot news kami punya berita paling hot hot hot dan fresh from the oven!” Suara ringan penyiar wanita radio memenuhi mobil yang dikendarai Barry dengan Omega sebagai penumpangnya. Saat itu Omega sedang sibuk menatap wajah Barry yang sudah menunjukkan rambut tipis di sekitar dagu. Semakin membuatnya bertambah tampan.
“Jangan lihatin aku terus gitu, nanti gantengnya hilang kamu mau tanggung jawab?” Barry bicara sambil masih melihat jalan di depan. Omega cuma bisa tersenyum kecil.
Suara penyiar radio tidak terdengar lagi karena Omega sudah tenggelam di dalam wajah keras Barry. Ya, setidaknya Omega tidak mendengarkan siaran itu sampai sang penyiar tiba-tiba menyebut nama Barry. BARRY-NYA.
“Iya, Listeners! Barry gitaris jazz terkenal dari band fenomenal Zero kemarin ditemukan keluar dari kamar hotel yang sama dengan model cantik, Gracia, di Singapura. You know kan Zero sedang mengadakan tur keliling Asia-nya dan kemarin mereka menutup gelaran Asia Tour-nya di Singapura. Wah, ada apa ya kira-kira antara Gracia dan Barry?”
Omega terkejut. Wajahnya pucat pasi seketika.
Barry? Dia tidak bisa mempercayai berita itu.
“Don’t overthink it. Itu cuma gosip nggak jelas. Jangan dipikirin, please.” Barry menatap singkat dan melirik ke arah Omega. Omega tahu itu.
“Kamu memang jalan sama Gracia kemarin?” tanya Omega dingin.
“Astaga, Mega! Aku sama Gracia cuma bicarain kerjaan kemarin. Kami nggak melakukan apa pun seperti yang dikira para wartawan nggak jelas itu.” Barry membela diri. Konsentrasinya pecah antara ingin menatap kekasihnya atau menatap jalanan yang sedang mereka lewati.
Tangan Omega terulur mematikan radio yang sekarang sedang memutar salah satu lagu Zero. “Barry, kalau kamu mau berita nggak jelas itu berhenti, kamu bisa bilang ke media kalau kamu sudah punya pacar dan pacar kamu ini sangat terganggu dengan berita-berita yang mereka buat.”
“Jangan bercanda deh, Megs….”
“WHAT?”
“Aku nggak akan mengumumkan apa pun soal kita pada media. Sekarang bukan waktunya, Megs. Jadi kamu nggak usah bercanda nggak penting kayak gini.”
Omega memutar matanya. Dia memperjelas apa yang ada di pikirannya sekarang, “Kamu kira aku bercanda?”
Barry bungkam.
“I’m tired, Barry. Don’t overtired me because you will regret everything.” Mengancam seperti ini adalah cara paling pengecut yang bisa Omega lakukan. Sedihnya, Barry tetap bungkam.
Ketika sampai di apartemen tadi, Barry hanya masuk sebentar untuk mengambil gitar kesayangannya yang tertinggal di dalam apartemen itu. Barry juga minum air dingin sebentar lalu melesat pergi keluar tanpa pamit.
Tolong ingatkan Omega untuk tidak mendengarkan radio atau menyetel televisi lagi kalau Barry ada di dekatnya. Dia merasa benda itu selalu menjadi sumber masalah mereka. Sumber masalah paling besar, bahkan setelah tiga tahun keduanya menjalin hubungan bersama.
***
“Why are you so blue today?” Pertanyaan itu keluar dari seorang wanita dengan penampilan serba ungu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“And why are you so purple today, Ze?” Omega menatap Zeta di hadapannya yang berpenampilan serba ungu dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Lo nggak jawab pertanyaan gue, Megs.” Zeta langsung sadar Omega sedang mengalihkan topik pembicaraan.
“Tanyain sama suami lo, gih!” Omega menjawab malas sambil menyesap ocha yang sudah disiapkan Zeta di meja makan.
“Nanti kalo laki gue bangun gue pasti tanyain sama dia. Sekarang gue mau dengar dari tersangka utamanya dulu.” Zeta tidak mau kalah dan juga menyesap ocha-nya sambil mengambil tempat di kursi bar tinggi di samping sahabatnya.
Mereka sedang ada di rumah Zeta, menikmati Sabtu pagi bersama. Begitu Omega mengatakan mau bertemu semalam, Zeta langsung mengundangnya datang pagi ini untuk minum ocha. Zeta memang paling tahu kalau ocha buatannya itu sudah menjadi obat ketika Omega sedang merasa bad mood atau ada masalah.
Suami Zeta adalah vokalis Zero dan secara otomatis menjadi rekan kerja Barry. Omega-lah yang mempertemukan mereka berdua—Zeta dan suaminya. Barry dan Omega dekat sejak lima tahun yang lalu saat Barry sedang mengambil pendidikan pascasarjana-nya di fte Juliard School sementara Omega mengambil gelar magister di St. John University.
Setelah mengenal Barry lewat acara kampus saat itu, Omega merasa langsung klop. Sama-sama menjadi orang Indonesia di The Big Apple, apalagi sama-sama menyukai jazz, tidak ada alasan lagi untuk membuat keduanya tidak langsung dekat dari detik pertama.
Setelah dekat dengan Barry, Omega juga langsung dekat dengan rekan band-nya—Zero. Ada Leo sebagai vokalis yang suaranya hot swing banget, lalu si kembar Iwan dan Awan yang masing-masing memegang piano dan bass, lalu terakhir ada Ian sebagai penggebuk drum.
Omega masih ingat pertanyaan Leo setelah Barry memperkenalkannya pada teman-teman nge-bandnya, “Mega, lo punya temen cewek nggak? Kalau ada, lo harus kenalin ke gue. Kali aja jodoh gue bisa secantik lo nanti.”
Pertanyaan itu membuat tawa Omega meledak bahkan dia langsung membuat mental note untuk mengenalkan Leo pada Zeta. Mereka akan jadi pasangan pas karena sama-sama gila dan blak-blakan. Well, pendapat itu tidak salah karena begitu Natal tahun yang sama, saat Zeta mampir ke New York untuk liburan dan menemui Omega, dia memperkenalkan Leo pada Zeta, mereka langsung saling jatuh cinta. Sungguh, kisah cinta mereka terlalu cheesy sampai-sampai selalu membuat bulu kuduk Omega merinding.
“Eh, ngelamun aja! Lagi diinterogasi juga.” Suara Zeta memecah lamunan Omega.
“Tadi lo nanya apa?” Omega balik bertanya sambil mengedik dengan malas. Lari pada Zeta adalah pilihan terakhirnya karena wanita itu satu-satunya teman Omega yang tahu mengenai hubungannya dengan Barry.
“Gue tadi tanya, lo sama Barry kenapa lagi?” Zeta sekarang sudah meletakkan gelas keramik yang tadi berisi ocha itu ke meja bar di dapurnya.
__ADS_1
Omega mengedikkan bahu dan Zeta lantas meringis. “Masalah trust issue dan pengakuan lagi?” tanya Zeta.
Sekali lagi Omega mengedikkan bahu.
Zeta betul-betul gemas melihatnya, “Oh, come on! Kalian sudah pacaran tiga tahun dan masih stuck di masalah cemen macem itu?”
“Ze, itu bukan masalah cemen. Bayangin pacar lo seorang gitaris band fenomenal dan jadi incaran setiap wanita, tapi nggak ada seorang pun yang tahu lo pacar dia.” Omega memutar bola matanya.
“Uhm, laki gue vokalis band fenomenal sih, tapi gue nggak merasa related dengan permasalahan lo.”
Omega menatapnya tajam, “Leo itu suami lo, bukan pacar lo.”
“Apa bedanya?”
Seriously, are we having this conversation now? Omega mengeluh dalam benaknya, terlalu lelah dengan percakapan ini.
“Bedalah, Ze.” Omega mulai gemas juga, “Lo udah jadi istrinya, seluruh dunia juga tahu Leo vokalis Zero udah taken dan nggak akan ada yang akan berani ngerebut dia.”
Zeta menatap sosok Omega yang terduduk lemas sekarang dengan matanya yang hitam gelap menembus ke pori-pori kulit Omega, ke setiap milimeter bagian tubuh Omega. “Stop being so insecure, Megs. Lo tuh pintar, manis, cantik, baik, supel, dan yang pasti worth all the things in this universe. Barry beruntung memiliki lo, jadi jangan insecure lagi, okay?”
Omega? Insecure? Nggak mungkin. Kata itu tidak menjelaskan permasalahan yang dia hadapi dengan Barry sekarang.
“Yes, you are Meg.” Suara Zeta menusuk ke jantung Omega. Kata-kata itu seolah menjadi bom yang menghancurkan ritme kerja otak Omega. Mungkin kata-kata itu ada benarnya.
Ini pil pahit pertama yang ditelan Omega hari ini. Kenyataan bahwa sumber permasalahannya dan Barry bukanlah radio, televisi, media, atau bahkan pekerjaan Barry. Permasalahan ada pada dirinya sendiri. Rasa tidak aman menggerogoti kepercayaan dirinya berikut dengan kepercayaannya pada Barry.
Samudra di mana samudra? Rasanya Omega mau nyemplung di samudra lalu dimakan ikan ganas saja.
***
Tak lama setelah Omega dan Zeta selesai memasak makanan untuk makan siang, Leo terlihat turun dari tangga dan langsung berjalan menuju dapur. Dia tidak terkejut melihat Omega dan malah justru langsung memarahi perempuan itu, “Tolong ya, Mega sayang, kalau mau marahan sama Barry, please tunggu setelah kami selesai rekaman materi album, dong. Sumpah dia udah hampir seminggu bad mood banget sampai senar gitar aja putus semua.”
Omega meringis. “Ih, ngapain juga berantem aja harus ngikutin jadwal band lo. Emang gue pikirin kalian mau recording, kek, mastering, kek. Berantem mah berantem aja, Leo.”
Leo sebal mendengar jawaban itu memelototi Omega. Untungnya Zeta membela, “Iya, Leo! Mega bener! Udah cukup kita cewek-cewek ngalah masalah nge-date dengan jadwal kalian. Jangan bikin jadwal berantem juga harus ngikutin jadwal kalian, dong.”
Leo terlihat masih tidak terima, tapi dia mengalah. Leo mengikuti Omega dan Zeta berjalan ke meja makan untuk menyantap makan siang. “Jadi Mega ke sini mau ngunjungin bumil?” Leo sudah mengubah topik pembicaraan sambil mengambil beberapa udang asam manis.
Omega menggeleng. EH! Bumil? Ibu hamil?
“Lo hamil, Ze?” Omega menatap Zeta di seberangnya meminta jawaban.
Zeta hanya tertawa nggak jelas. “Ze….” Omega menahan rasa kesal.
“Iya, Zeta hamil, udah dua bulan. Kami udah periksa ke dokter, langsung setelah gue touch down Jakarta dari Singapura.” Leo yang membantu Zeta memberi jawaban.
“KOK NGGAK BILANG-BILANG DARI TADI?!?!?!?!” Kini Omega terlonjak histeris.
“Duh, jangan teriak-teriak kali,” Zeta masih tertawa, “kan, tadi lo lagi blue banget, gue nggak enak mau ngasih tahu.”
“Alasannya nggak validdd!” Omega langsung bangkit dari duduknya dan memeluk Zeta. Zeta berteriak meronta namun Omega tidak ingin melepaskannya. Omega ikut bahagia mendengar kabar gembira ini. “Congrats! Congrats! Congrats, ya, Zeta Sayang, calon ibu masa depan.”
Zeta terus tertawa. Mereka bertiga tertawa bersama.
***
Kebahagiaan Zeta sepertinya makin lengkap ketika menjelang sore kakak kesayangannya datang. Alfa sebetulnya sudah diundang sejak pagi ketika kedua wanita itu masih memasak makan siang. Sayang, Alfa bilang baru bisa datang agak sore karena wajib memastikan persiapan rapat umum pemegang saham—RUPS—berjalan baik.
Zeta sempat ngambek karena menurutnya ini hari Sabtu tapi si mas kesayangan masih lebih milih pekerjaan ketimbang mengunjungi adiknya. Namun, Zeta tetap Zeta, yang begitu melihat kakaknya di ambang pintu langsung melupakan kalau dia sedang merajuk.
“Meg, tuh lihat, tuh! Begitu ada Mas Alfa, gue mah langsung dilupain, Meg.” Leo berkelakar pura-pura marah melihat Zeta langsung jadi seperti emak-emak kelebihan perhatian sejak Alfa datang.
Yang disindir cuma bisa nyinyir, “Kalau marah pergi aja biar nanti Junior bisa aku monopoli sendirian.”
“Tuh kan, Meg. Denger sendiri kan? Baby kami belum lahir aja sudah mau dimonopoli sama dia!”
“Udah, ah! Ngadu ke gue mulu, emang gue emak lo?” Omega menepis tangan Leo dari pundaknya.
Alfa dan Zeta yang duduk di sofa seberang tertawa mendengar kelakar Omega dan Leo. Zeta kemudian berdiri dan berpindah tempat duduk ke samping Leo membuat Omega hanya mendapat tempat sedikit di sofa untuk dua orang itu.
__ADS_1
“Iya, deh iya, ini pindah biar Leo nggak kesel lagi.” Zeta bicara dan menunjuk sofa di samping Alfa dengan dagunya mengisyaratkan Omega untuk pindah. Omega menurut dan pindah tempat duduk ke sofa yang diduduki Alfa.
“Kalian udah mikirin nama?” Alfa membuka pembicaraan yang agak serius begitu Omega mendaratkan pantat di sofa.
Leo menggeleng, “Belum, Mas. Kami rasa itu nanti aja kalau kandungan Zeta udah lebih besar. Lagian apalah arti sebuah nama.”
“Ih nama itu penting, lho! Semacam doa!” Omega menyambar dengan menggebu-gebu. “Dulu orangtua gue kasih nama gue Omega Dianbiru jauh sebelum gue lahir. Katanya Omega berarti terakhir dan Dianbiru karena mereka berharap gue dapat gen mata biru dari nenek buyut gue yang bule, namanya Dian. Kalau dari lukisan keluarga yang pernah gue lihat, warna mata nenek buyut gue itu emang bikin iri. Bam! Benar aja! Gue jadi anak mereka yang pertama dan terakhir. Plus mata gue juga biru.”
“Oh ya?” Leo langsung tertarik.
“Kan aku udah bilang sama kamu, Le. Nggak percaya sih kamu,” Zeta menimpali.
“Mas baru pertama kali dengar cerita tentang nama kamu.” Alfa ikutan tertarik.
“Kalau bisa, gue mau banget ngulang waktu ketika orangtua gue ngasih gue nama itu. Coba lo bayangin, kan kasihan gue sekarang nggak punya adek nggak punya kakak. Terus juga mata gue biru tapi kulit gue ini Indonesia banget. You know kuning langsat menjurus sawo busuk.”
Semua kontan tertawa.
“Lah, kok pada ngetawain gue? Setiap gue nggak pakai contact lens item pasti orang kantor pada nanya Mbak Mega tumben pakai contact lens? Biru lagi! Lucu, ih! Suer gue merasa terhina. Semacem gue dibilangin jadi bule aspal gitu.”
Lagi, mereka tertawa tambah keras.
“Lain kali bilang sama orang kantor kamu, Meg! Mata saya emang biru kok, kalau iri bilang aja! Gituin merekalah, Mega. Kamu kan badass,” Alfa menasihati Omega di sela tawanya.
Omega mengerucutkan bibir, “Badass dari Hongkong. Nanti kalau dikatain bule aspal bisa matilah aku. Mending mereka kira aku pakai contact lens aja deh, makasih.”
“Gila, Megs. Setelah sekian lama kenal sama lo, akhirnya lo menginspirasi gue juga!” Leo berdecak kagum. Sialan.
“Kampret lo!” semprot Omega begitu saja.
“Leo, kamu tuh ngomong dijaga deh. Ngegodain Mega mulu sih senengannya,” Zeta membela. “Kasihan tahu dia udah di-bully sebagai bule aspal di kantor masih di-bully sama kamu. Nanti dibom pakai laporan keuangan sama dia, baru tahu rasa kamu.”
Sialan. Ini Zeta ngebela apa ikutan ngatain? “Sama aja lo, Ze!” Omega berkata ketus.
HAHAHA. Leo dan Zeta lalu tertawa. Pasangan sialan memang.
“Udah jangan digodain mulu. Kasihan, masa cewek cantik digodain terus,” Alfa bicara. Dia barusan membelaku, kan? Dia bilang apa tadi? Cewek cantik? Astaga, ini matahari habis terbit dari barat tadi pagi? Omega sontak jadi panas dingin tanpa tahu mengapa.
“Wah, terima kasih banyak, Mas Alfa, mau belain aku dari curut-curut ini. Emang nggak tahu terima kasih mereka. Lupa sama yang udah makcomblangin mereka.” Untung saja bibirnya masih bisa mengeluarkan kata-kata menanggapi candaan Alfa.
“Iya sama-sama, Cantik.” Alfa menatap gadis itu lekat. Membius. Tatapannya membius. Bagaimana caranya lepas dari tatapan ini. BAGAIMANA? Omega kelabakan sendiri.
“Mas Alfa manggil cantik-cantik mulu dari tadi.” Zeta! Terima kasih, Zeta. Kata-katanya berhasil melepaskan Omega dari hipnotis garis keras yang dipancarkan mata Alfa.
“Lah, emang cantik.” Alfa tersenyum sambil bicara. Omega bisa merasakannya namun dia tidak berani melihat ke arah Alfa lagi. Tidak pasca kejadian super aneh tadi.
“Iya sih, Mega Cantik, tapi kan udah ada yang punya. Mana boleh Mas Alfa sama dia. Nanti Barry nangis, kan Leo juga yang repot.” Zeta lanjut bicara.
Alfa menanggapi santai meski senyumnya kini mulai tenggelam tak lagi berujung di matanya, “Lah kan aku sayang sama dia kayak aku sayang kamu. Kalian adik-adik Mas paling cantik-cantik pokoknya.”
Omega mendadak sesak napas. Dadanya sakit. Sakit sekali. Tadi Alfa bilang apa? Adiknya? Ah.
“Aw.” Omega memegang dadanya dan meremas t-shirt yang dipakainya.
Zeta langsung panik menuju ke samping Omega. “Kenapa, Meg?”
“Nggak tahu, Ze, dada gue tiba-tiba sakit. Sakit banget. Sesak napas. Sakit banget, Ze.”
“Easy, easy. Take a breath.” Zeta mencoba menenangkan temannya itu.
Omega menurut. Diambilnya napas dalam-dalam lalu dikeluarkan pelan-pelan.
“Mega mau pulang aja? Biar Mas antar.” Alfa yang terduduk di samping Omega tak urung juga langsung ikut panik. Tangannya sudah menggenggam lengan kanan Omega meski tak yakin apa itu bisa meredakan serangan yang Omega alami.
Dada Omega bertambah sakit. Dia hanya mengangguk.
Apa pun. Apa pun saja supaya sakit ini hilang. Sakit sekali. Ini seperti menjadi pil pahit kedua yang ditelannya hari ini. Oh, Tuhan.
***
__ADS_1