CITY LITE: ALFA & OMEGA

CITY LITE: ALFA & OMEGA
Episode 5


__ADS_3

Barry: Sampai kapan kamu nggak mau ketemu aku? Ini udh seminggu Megs. Kita perlu ketemu.



Omega nanar memandangi layar ponsel yang sekarang menampilkan pesan dari Barry. Sudah seminggu pasca kejadian ‘Barry digosipkan dengan Gracia langsung di radio’. Bukannya Omega tidak rindu atau tidak ingin menyelesaikan masalah ini dengan Barry, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi ini semua.



Satu hal yang dia camkan dalam hidupnya adalah untuk mengetahui bagaimana mengakhiri sesuatu ketika memulainya. Keputusan memulai bersama Barry dia pilih hanya dengan satu jalan penyelesaian. Tentu saja pernikahan. Sayangnya, Barry sepertinya tidak berpikiran yang sama dengannya.



Omega benci mengetahui bahwa dia harus bersiap diri untuk penyelesaian yang berbeda dalam hubungannya dengan Barry. Perempuan mana yang akan kuat menjalin hubungan yang isinya hanya rasa tidak aman, tidak percaya diri, bahkan tidak ada kepercayaan pada pasangannya? Tidak terkecuali



Omega. Butuh waktu tiga tahun untuknya menyadari bahwa dia bukan wanita kuat yang bisa dibanting, diinjak, dipeluk, lalu dihempaskan lagi.



Tapi ini Barry.



Barry yang selama lima tahun ini selalu ada di sampingnya. He is the first boy-best-friend she has ever had in her life. Sewaktu mereka masih di New York, Barry adalah sosok yang selalu menghiburnya. Omega memang tak pernah bercerita pada siapa pun, namun keputusan kuliah ke New York sebetulnya adalah sebuah pelarian baginya. Pelarian dari sebuah bayang-bayang gelap.



Pernah ada satu waktu dalam hidup Omega ketika dia masuk ke dalam sebuah kondisi bernama cinta pertama. Dirinya masih terlalu muda dan naif saat itu. Lupa bahwa dia harus selalu tahu cara mengakhiri sesuatu saat memulainya. Omega tidak bersiap diri. Dia lupa cara mengakhiri cinta pertamanya sehingga terpaksa terjebak dalam sebuah mimpi buruk tanpa henti saat itu.



Lari.



Dan Barry membuatnya berhenti.



Ironinya, saat ini Barry justru membuatnya ingin lari. Dan Omega tidak bisa berhenti.



Satu-satunya hal yang menghalanginya lari dari Barry adalah keberadaan laki-laki itu dalam kehidupannya. Barry adalah telaga dalam fatamorgana bagi Omega. Seperti ketika kamu berjalan dalam salju dingin kemudian menemukan pakaian hangat teronggok tanpa pemilik di ujung jalan. Juga seperti ketika hari hujan lebat sementara kamu ingin segera pulang. Barry adalah payung yang kamu temukan tidak jauh dari tempatmu berteduh.



Dia bukan rumah. Dia hanya payung.



Payung yang kamu simpan di rumah. Atau payung yang akhirnya akan kamu bawa ke mana saja.



Barry bukan rumahnya, bukan tujuannya untuk pulang. Sayangnya dia butuh Barry untuk bisa pulang. Omega tidak bisa tanpa Barry. Kehujanan, kedinginan, apa dia kuat? Setidaknya dengan Barry, dia hanya akan diterpa angin dan sedikit terkejut oleh petir.



Kejadian radio seminggu lalu memberinya pencerahan akan hal ini. Pencerahan baru mengenai analogi payung dan rumah. Belum sampai pada konklusi bagaimana dia harus memilih antara payung dan rumah.



The answer is obvious. It’s home. Omega tahu itu, maka dirinya takut menjawab Barry. Dia takut bertemu Barry. Omega takut mengakhiri semuanya dengan Barry. Sangat takut payung tersebut akan diambil daripadanya kemudian dia harus bertarung dengan deras hujan, hawa dingin, angin, serta petir seorang diri.



Apa dia siap?



Ponsel Omega bergetar.



Barry calling.



Wanita itu terkejut. Langsung dilemparnya ponsel itu ke tempat tidur di sampingya. Air mata turun dari sudut mata Omega. Kepalanya pening. Jangan sekarang Barry, tolong. Kalau dia memang ingin menyelamatkan hubungan kami, tolong jangan biarkan dia datang padaku sekarang. Sudut hati Omega berdoa penuh harap. Dia terduduk di sisi ranjang dan mulai menangis lagi.



Menangis sudah seperti menjadi aktivitas rutin baginya seminggu ini. Bekerja seperti robot di kantor dari pagi sampai malam, kemudian pulang seperti zombie hanya tahu satu arah dan begitu sampai di apartemen pekerjaan pertama yang dilakukannya adalah duduk di belakang pintu lalu menangis. Menangisi dirinya sendiri. Menangisi Barry-nya. Menangisi hubungannya dan Omega masih menangis sekarang. Setelah berkutat dengan pekerjaan kantor seharian. Masih sama, Omega pulang dan menangis lagi. Air mata turun seolah tidak ada habisnya.



***

__ADS_1



Usai menangis, Omega memutuskan untuk mandi. Yah walaupun di kamar mandi nanti dia pasti akan menangis lagi, tapi setidaknya ada guyuran air yang bisa melarutkan tangis itu bersamanya. Setidaknya dia tidak terlalu terlihat pathetic. Bahkan melihat bayangan dirinya sendiri saja dia tidak berani. Rasanya mereka bahkan akan menertawakan sosoknya yang begitu pengecut dan hanya bisa menangis.



Satu jam lebih Omega menghabiskan waktu menghujani diri sendiri dengan air, berharap dinginnya air akan membuat otak cemerlangnya menjadi waras lagi. Dia mengeringkan badan dan mulai memakai pakaian. Kemudian tangannya terulur mengambil handuk lagi untuk membungkus rambutnya yang basah. Dia tidak pernah suka mengeringkan rambut dengan hair dryer.



Menangis. Ya, semua aktivitas ini masih dikerjakan Omega sambil sesenggukan. Bodoh sekali.



Setelah selesai dengan kegiatan di kamar mandi Omega membuka pintu dan melangkah keluar. Begitu pintu kamar mandi terbuka dia melihat pemandangan yang membuatnya ingin mati saja. Sosok Barry ada di dekat meja kerja yang bisa langsung terlihat dari depan kamar mandi. Barry duduk di kursi kerja menghadap satu poros dengan Omega. Matanya sendu menatap ke arah Omega.



“I miss you,” ujar Barry penuh kepedihan.



Aku sama pedihnya, Barry. Hati Omega berbisik, namun bibirnya kelu. Dia hanya membeku. Air mata turun lagi dari mata biru lautnya.



Barry hanya melihat kekasihnya penuh luka. Dia cukup tahu diri untuk tidak menyentuh perempuan yang meremukkan hatinya itu sekarang. Mereka sama-sama tahu bahwa Omega akan sangat membenci Barry kalau pria itu sampai berani memeluknya tidak peduli sebesar apa Omega merasa membutuhkan pelukan itu.



“Maaf aku masuk tanpa permisi, tapi kita benar-benar harus bicara,” Barry berujar lagi. Ah, Omega sadar Barry tidak salah. Seharusnya memang Omega tidak membiarkannya tahu password untuk membuka kunci pintu apartemen ini. Omega semestinya juga tidak memberikan Barry kartu akses untuk masuk ke apartemen yang liftnya hanya bisa dimasuki oleh penghuni dengan kartu akses tersebut. Lagi. Omega selalu menyalahkan dirinya sendiri.



Perlahan Omega berjalan ke arah Barry, tapi bukan untuk menghampirinya. Dia berjalan menuju meja kerja. Dia menarik laci di ujung kiri. Barry yang duduk di sebelah kanan gadis itu kini sudah memutar kursinya ke arah Omega.



Tangan Omega dengan berat mengambil sebuah benda di dalam laci itu. Kunci rumah Barry. Gantungan apel merah dengan simbol NY menghiasi kunci itu. Simbol yang selalu mengingatkan keduanya tentang kota tempat mereka pertama bertemu. Omega tersenyum pahit mengelus apel merah itu.



Setelah puas menyimpan semua memori di dalamnya, Omega menatap Barry. Barry berdiri dari duduknya. Dia menarik Omega untuk duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki. Kini Barry berlutut di hadapan perempuan yang dicintainya dengan sangat.



“Meg….” Barry sepertinya mulai mengerti akan ke mana arah pembicaraan ini.




Mata Barry mulai meredup dengan banyak kepahitan seiring dengan suara Omega yang terus terdengar, “Aku menikmati menggunakan payung itu. Pertanyaannya, kalau payung itu kalah sama air hujan dan hujan deras membuat beberapa sisinya berlubang, apa aku masih harus memegang payung itu? Saat bentuk cinta yang aku rasakan dari kamu justru berubah menjadi sesuatu yang sama dengan hal yang menghantui aku dulu, apa itu masih bisa disebut cinta?”



“Segalanya berubah, Megs,” Barry menjawab tanpa kepastian. Dia sendiri bingung. Bingung dengan kondisi mereka detik ini. Bagaimana bisa mereka yang begitu bahagia dulu bisa sampai ke titik ini? Tidak ada satu orang dari pasangan ini yang mengerti.



“Aku butuh kamu, Barry. Kamu satu dari sekian alasan aku masih bisa bernapas sampai hari ini. Rasa sakit di dada yang selama ini aku alami, semua bisa langsung hilang cukup dengan kamu ada di sampingku. Cuma kamu, Barry.”



“Kalau gitu aku akan terus di samping kamu, Megs.”



“Tapi aku merusak diriku sendiri, Barry. Bertahan sama kamu membuat aku jadi orang yang selalu merasa kecil. Dunia kamu terlalu luas sementara aku terlalu lemah untuk berlari terus bersama ritme kamu memutari dunia kamu itu. Ada satu titik di mana aku mau beristirahat, tapi kamu terus berlari”



Pandangan Barry mulai kabur karena air mata sudah menggenang di pelupuk matanya,



“Kalau gitu kita akan sama-sama istirahat, Mega.”



“Kalau begitu kamu yang akan merusak diri kamu sendiri, Barry.” Omega memejamkan matanya.



“Apa kamu pikir cuma kamu yang butuh aku? Aku juga butuh kamu, Mega. Duniaku nggak pernah sama lagi sejak kenal sama kamu. Duniaku juga nggak akan pernah sama lagi kalau kamu pergi.” Barry angkat bicara. Suaranya bergetar. Dirinya ketakutan. Takut kehilangan cintanya.



“Aku nggak akan pernah pergi Barry, karena aku selalu di sini. Kamu yang pergi selama ini.”

__ADS_1



Barry menggelengkan kepalanya. Omega pasti sedang berpikir rumit dengan caranya sendiri—seperti biasanya. Selalu begini. Omega selalu menjebak dirinya sendiri dalam pikiran-pikiran anehnya dan Barry tertinggal sendiri. Maka Barry akhirnya bicara, “Masalahnya apa? Kamu mau aku umumkan kalau kita pacaran? Fine. Aku akan bilang itu ke media, ke penggemarku, kalau perlu ke seluruh dunia. Jangan pergi, Megs.”



Omega tersenyum kecut. Barry ini tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti? “Bukan itu masalahnya, Barry. Kamu harusnya tahu itu.”



“Terus apa? Soal Gracia? Oke, dia memang selalu menggodaku, dia suka sama aku, tapi aku nggak suka sama dia dan nggak pernah melakukan apa pun sama dia. Semua berita di media itu bohong. Kamu boleh tanya sama Leo, Iwan, Awan, Ian, atau siapa pun. Aku nggak pernah selingkuh.” Barry terus berbicara.



Sayangnya bagi Omega bukan itu inti masalah mereka. Omega mengelus kepala Barry. Membiarkan rambut Barry yang kaku tapi selalu dingin itu menyentuh kulitnya. Sensasi yang muncul sama, tetap Barry. Pelan Omega bicara, “Kamu tahu bukan itu masalah yang sedang kita omongin.”



Barry mengerjap. Mata hitamnya memerah.



“Kita nggak pernah berubah Barry. Kamu tetap Barry yang baik, jujur, apa adanya, dan penuh kehangatan. Aku juga masih Mega yang begini-begini aja. Mega yang selalu butuh kehangatan Barry, butuh kejujuran Barry. Sayangnya dunia kita berputar dan terus berubah. Situasinya udah nggak sama lagi kayak dulu,” Omega masih lanjut bertutur lemah.



“Jadi apa yang kamu mau sekarang?” Suara Barry sudah terdengar serak.



Omega menarik tangan kanan Barry. Dia buka telapak tangann Barry dan meletakkan kunci rumah pria itu di sana.



“Aku mau berhenti berlari, Barry. Tapi kamu nggak boleh berhenti berlari. Kamu harus terus berlari sampai kamu nemuin rumah untuk pulang dan beristirahat. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku selalu ada di titik ini, titik perpisahan kita. Kamu bisa cari aku di situ kapan pun kamu butuh aku.”



Barry menggeleng dan air mata sudah mengalir keluar dari matanya. “How am I supposed to live?”



Itu seharusnya jadi pertanyaanku, Barry, bukan pertanyaan kamu. Omega tetap melanjutkan merintih sendiri dalam hatinya. “Kamu pelari andal, Barry. Aku pikir selama ini kamu membuat aku berhenti berlari, tapi aku salah. Kamu menemani aku berlari dan aku sudah menyerah. Kita mungkin berlari bersama, tapi kita nggak pernah akan sampai garis finish bersama karena sejak awal garis start kita nggak sama.” Pada akhirnya kalimat itulah yang keluar dari mulut kecilnya.



Tangan Barry sudah menyentuh wajah Omega. Gadis itu membiarkannya karena dia tahu Barry sedang mencoba memotret kenangan terakhir sebanyak yang dia butuhkan untuk persediaan sampai Barry menemukan pengganti Omega. Tanpa perlu menyentuh sosok di depannya, Omega sudah menginventori semua yang ada pada Barry. Rambutnya, mata hitamnya, telinganya, alis tebalnya, hidungnya, bibir kecilnya, bahkan hingga satu anting di telinga kanannya. M. Inisial nama panggilan Omega.



“Kamu nggak perlu mengembalikan kartu akses apartemenku dan aku juga nggak akan mengganti password-ku. Aku tahu kamu gentleman yang nggak akan menggunakan barang dengan tidak bertanggung jawab. Kalau kamu butuh aku, kamu boleh datang kapan pun. Selama kamu kabarin aku dulu dan aku memang sudah siap ketemu kamu.”



Barry hanya mampu mengangguk. Semua memang sudah selesai, kan? Wanita yang dicintainya sudah tidak lagi mau memperjuangkan kisah mereka. Apa lagi yang tersisa? Maka Barry meletakkan kunci rumah di tangan kanannya kembali ke tangan Omega lalu berkata, “Kamu juga boleh simpan ini. You’re always welcomed in my home and my world, Mega. Aku akan terus berlari dan semoga nanti di titik ini lagi aku bisa ketemu kamu dengan kondisi baru yang nggak akan melukai siapa pun di antara kita.”



Omega memaksakan senyumnya.



“May I?” Barry bertanya dengan suara tertahan. Omega mengangguk sebelum Barry menghantarnya dalam pelukan paling menyedihkan sepanjang sejarah kisah mereka. Begitu erat seolah Barry tidak pernah rela Omega berhenti sementara dirinya harus terus berlari.



Malam ini semua berakhir. Tiga tahun Omega dan Barry yang tidak akan pernah menjadi empat. Tiga tahun Omega dan Barry yang seharusnya menjadi selamanya sudah selesai. Bukan karena mereka berdua kalah, namun karena mereka berdua tahu bahwa untuk menang mereka tidak bisa terus bersama.



Karena kemenangan bukan tentang dengan siapa kamu menang. Kemenangan adalah tentang bagaimana kamu menang tanpa perlu melukai orang lain. Karena kemenangan dalam hubungan ini berarti tidak ada seorang pun dari mereka yang harus terluka sendirian.



Barry mungkin akan terus berlari dan Omega hanya bisa menatapnya dari sini. Namun



Omega yakin, dengan berlari, Barry akan menemukan bahwa selama ini dia sudah menurunkan kecepatannya hanya demi mengimbangi Omega. Berlari sendiri akan membuat Barry sadar bahwa dia bukan rumah bagi Omega dan Omega bukan rumah bagi Barry.



Empat tahun mereka yang tidak akan pernah ada justru akan menjadi keberadaan yang selamanya. Pada empat tahun yang tidak akan pernah ada ini mereka berdua akan selalu mengingat bahwa keputusan paling dewasa pernah dibuat dalam satu waktu di kehidupan mereka.



Omega menangis. Iya. Dia bersedih. Iya. Tapi satu hal tidak akan Omega lupa. Dia lega. Iya.


__ADS_1


***


__ADS_2