
Peraturan pertama bersosialisasi di era penuh ketidakpastian seperti sekarang ini adalah dilarang bawa perasaan alias BAPER. Alfa tahu hal itu, tapi tidak bisa menghindar darinya. Sudah berapa kali dia membawa perasaannya saat bekerja?
Tidak terhitung lagi. Parahnya semua itu karena satu orang yang sebetulnya sudah dia kenal lama.
Omega Dianbiru.
Alfa ingat ketika pertama kali melihat Omega datang ke rumahnya bersama Zeta, gadis itu masih lucu dan imut. Berbanding terbalik dengan adiknya, Omega lebih pendiam. Hal itu mungkin yang membuat keduanya masih bisa tetap dekat bahkan sampai sekarang—lama setelah menamatkan bangku sekolah menengah atas.
Tanpa melihat matanya, orang akan tahu Omega orang Indonesia. Kulitnya khas perempuan Jawa, kuning langsat cerah. Badannya tidak terlalu tinggi. Proporsional adalah cara Alfa mendeskripsikan perbandingan tinggi dan berat badan Omega. Rambutnya hitam panjang sepunggung dan selalu dikucir. Sehabis keramas, dia pasti akan membungkus rambutnya dengan handuk. Alfa tahu kebiasaan itu karena dulu Omega sering menginap di rumah orangtuanya bersama Zeta tentu saja.
Beberapa bulan lalu mereka bertemu lagi setelah lama tidak berjumpa. Omega, dalam ingatan Alfa yang biasanya memakai seragam putih abu-abu atau pakaian santai khas anak muda, mendadak dihadirkan dalam balutan rok span hitam dan kemeja biru salem yang membentuk tubuhnya pas. Nuansa yang muncul sejak saat itu bukan lagi Omega si adik kecil. Entah mengapa Alfa seakan disadarkan bahwa Omega bukanlah anak remaja lagi.
Sialan.
Alfa mengutuki pikirannya.
Sejak pertemuan bisnis mereka untuk pertama kalinya hari itu, Alfa tidak bisa lagi mengingat Omega Dianbiru sebagai teman SMA Zeta. Segalanya mendadak berubah. Alfa jadi menyadari bahwa hidup terus berjalan dan lingkungannya turut berubah. Sebagai contoh bahkan Zeta, adiknya sudah menikah mendahuluinya. Mungkin sebentar lagi Omega juga akan menyusul Zeta menikah.
Sialan.
Alfa mengutuk lagi jalan pikirannya.
Bukannya tidak rela memikirkan Mega akan menikah dengan pacarnya, tapi Alfa hanya berpikir bahwa waktunya masih belum tepat. Alfa bisa merelakan Zeta menikah lebih dulu karena dia melihat sendiri bagaimana Zeta dan Leo sudah head over heels satu sama lain. Sementara Mega?
Dia bisa mengingat bagaimana Omega menangis di dalam mobilnya saat Barry mengumumkan ke satu dunia lewat radio bahwa dia masih single. Laki-laki brengsek mana yang tega melakukan hal itu terhadap Omega? Saat itu rasanya Alfa ingin segera mencari Barry dan memberikan tinjunya yang keras langsung di kepala laki-laki itu supaya dia sadar wanita sebaik apa yang sudah dia sakiti.
Kalau Alfa ada di posisi Barry, Alfa akan mengumumkan dengan bangga pada siapa pun yang dia jumpai bahwa Omega adalah kekasihnya.
Kalau. Hanya kalau.
Tidak ada salahnya berandai-andai.
KALAU Alfa ada di posisi Barry, Alfa akan mencintai Omega dengan sepenuh hatinya dan dengan penuh sukacita menunjukkan rasa cinta itu hingga semua orang akan ikut merasakan kebahagiaan yang dia rasakan.
KALAU Alfa ada di posisi Barry, Alfa ingin agar tidak ada seorang pun yang membuat Omega menangis. Termasuk juga dirinya sendiri. Alfa akan selalu menjaga diri supaya tidak membuat Omega menangis.
KALAU Alfa ada di posisi Barry, Alfa ingin selalu menjadi alasan dari setiap senyum dan tawa Omega. Karena senyum dan tawa Omega adalah hal langka yang begitu kalian melihatnya, kalian akan merasa bahwa bidadari yang dikirim turun dari khayangan itu memang benar ada.
KALAU Alfa ada di posisi Barry, Alfa akan memastikan bahwa bola mata biru Omega akan selalu cerah dan menatap ke arahnya tanpa henti. Mata biru Omega adalah relung paling dalam dari seluruh bagian dalam diri Omega.
__ADS_1
Shit. Semua itu hanya mengandai-andai. Alfa merasa dia hanya merefleksikan keinginannya tentang seorang wanita ke dalam diri Omega. Tapi, apa ada wanita lain yang akan dia perlakukan seperti itu selain Omega? Bulu kuduk Alfa bergidik ngeri membayangkannya. Jawaban yang terlintas di otaknya hanya satu. Tidak ada.
Pagi-pagi dan dirinya sudah baper. Mungkin ini pertanda kalau sebenarnya dia hanya lapar hingga tidak bisa berpikir jernih. Melihat jam yang masih menunjukkan pukul sebelas, Alfa memutuskan untuk keluar saja mencari makan. Dia memang lebih suka brunch karena waktu lunch biasanya dia gunakan untuk memeriksa hasil pekerjaan bawahan-bawahannya dan juga untuk bersiap-siap sebelum meeting yang akan diadakan sehabis lunch.
Alfa masuk ke dalam lift dan langsung memencet tombol B1, tempat di mana dia memarkir mobilnya. Lift dengan cepat turun dan berhenti di lantai delapan, bagian keuangan. Alfa hanya seorang diri di dalam lift jadi dia membantu orang yang akan masuk dengan memastikan tombol pembuka pintu lift masih menyala. Begitu orang itu sudah masuk, Alfa meninggalkan konsentrasinya dari tombol lift.
Alfa bisa melihat sepatu hak tinggi menjejaki lantai. Seharusnya Alfa tidak kaget karena saat masuk tadi, orang itu menebarkan wangi yang asalnya seperti campuran antara sampo, sabun, dan air yang segar. Begitu khas.
“Mas Alfa?” Orang tadi menyapa Alfa membuat pria itu melepaskan pandangan dari sepatu wanita itu. Alfa terlonjak mendengar suara itu.
“Mega! Lagi ngapain di sini?” Alfa memandang takjub ke arah Omega yang hari ini masih seperti hari-hari yang lalu, selalu mengikat rambutnya ke belakang. Dress batik dengan potongan shift dress berbahan lemas dipadukan dengan legging hitam membuat Omega terlihat sangat fresh.
Omega tersenyum ke arah Alfa seolah dengan sengaja menebarkan pesonanya yang jarang-jarang dia biarkan orang lain tahu itu. “Lagi mulai nge-check akun-akun nih, Mas. Udah pada mulai masuk work-sheet. Kayaknya bakal sampai malem bongkarin arsip-arsip. Makanya mau mulai beliin doping kopi buat anak-anak. Mas Alfa sendiri mau ke mana?”
“Mau brunch. Laper, nih. Kamu udah sarapan belum?” Omega menggeleng. Alfa tahu ini kesempatan baik baginya. Kapan lagi?
“Ya udah makan dulu, yuk, temenin Mas. Kamu waktu itu janji beliin sushi belum kesampaian, kan?”
“Emang susah ngomong sama Pak Bos. Suka nggak inget ini anak buah lagi kerja, nggak bisa seenak jidat izin kantor cuma buat makan.” Omega dan komentar pedasnya keluar lagi. Hal yang selalu bisa membuat Alfa takjub sejak dulu.
Alfa meringis, “Yee, bukan gitu kali. Ini kan Mas ambil jam brunch karena nanti pas lunch, Mas masih kerja. Biar saat yang lain pada istirahat, Mas mah tancap gas terus buat kerja.”
Ini dia! Sikap seperti ini yang beberapa bulan terakhir membuat Alfa tidak tahan untuk tidak senang sendiri. Mendengar langsung Omega memikirkan kesehatannya membuat Alfa tidak bisa berhenti bahagia.
“Perhatian banget sih, Mega. Segitunya mikirin Mas.” Alfa tidak tahan untuk tidak menggoda Omega. Karena tidak terhalang sehelai rambut pun, Alfa bisa melihat pipi gadis itu bersemu kemerahan. Ah, ternyata kena juga dia digoda.
Lift sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Ternyata Omega juga memarkir mobilnya di basement. Alfa menikmati beberapa langkah mereka lagi sebelum harus berpisah. Baru mengingat kata berpisah Alfa tidak rela dan langsung mengambil tindakan.
“Mas antar aja, yuk. Sekalian jalan. Nanti pulangnya biar Mas turunin di depan kantor aja, baru abis itu Mas cari makan.” Sumpah ide ini terdengar tidak logis dan pasti Omega akan menolaknya. Ya iyalah, capek aja keluar kantor muter dulu ke Starbucks balik lagi ke kantor baru nanti keluar lagi cari makanan. Lupa kali Alfa kalau Jakarta itu tingkat kemacetannya sudah di luar akal sehat.
Mata Omega menyipit. “Ribet banget, Mas. Ngerepotin pula. Nggak apa-apa kok, ada sopir dari mobil kantor yang bisa anterin.”
“Nggak ngerepotin kok, Mega. Atau Mas beli drive-thru aja deh biar nggak repot juga. Jadi kita kan sama-sama untung.” “Beneran nggak apa-apa nih, Mas?” Omega mulai menimbang-nimbang.
Alfa langsung dengan semangat mengangguk. Omega hanya bisa ikut mengangguk dan mengikuti langkah kaki Alfa menuju Wrangler biru milik laki-laki itu. Alfa membukakan pintu untuk Omega baru kemudian dia masuk dari sisi pengemudi.
Masa bodoh dengan baper. Alfa hanya tahu bahwa dia senang bisa menjadi berguna untuk Omega meski hanya sebatas jadi sopir. Masa bodoh dengan pacar Omega yang mungkin marah nanti. Alfa hanya tahu bahwa dia ingin mewujudkan
‘KALAU-KALAU’ yang dia pikirkan tadi meskipun hanya dalam bentuk semu.
__ADS_1
***
Alfa lembur malam ini. Beberapa proyek investasi dan penanaman modal belum kelar ia selesaikan. Ada juga bahan-bahan untuk meeting dengan investor besok pagi yang belum dia periksa.
Sebetulnya dia agak menyesal lembur karena kalau tidak, dia bisa mengantar Omega pulang hari ini. Yah, itu juga kalau Omega tidak pulang ke kantor dengan teman-temannya yang lain. Atau juga kalau Barry tidak menjemput Omega seperti yang biasa dilakukannya.
Alfa tidak tahan untuk tidak menghubungi Omega. Maka dia mulai menulis pesan LINE untuk Omega.
Alfa Bintara: Sudah di rumah belum? Mau konsultasi ten tang akun investasi sama mbak auditor kita.
Alasanmu basi banget Alfa. Berlindung di balik kepentingan pekerjaan.
Omega Db: Masih di kantor, Mas. Tahu! Parah banget sih pembukuannya. Pinter tuh jangan untuk diri sendiri Mas, bawahannya diajarin bisa kali.
Alfa tersenyum sendiri membaca jawaban Omega. Dia tersenyum karena Omega masih berada di kantor Golden Greek, ditambah lagi Omega menyebutnya pintar. Yang semakin membuat Alfa senang adalah Omega membalas LINE darinya meskipun sekarang dia pasti masih bergumul dengan banyak tab excel di laptop.
Alfa Bintara: Masih di Golden Greek sampai jam berapa? Udh jam 9 nih. Makan dulu yuk.
Omega Db: Ini smp jam 11an mgkn. Emang Mas masih di kantor juga?
Alfa Bintara: Masih lembur ini, yah sampai jam 11an jg kali. Omega Db: Oh ya udh. Happy lembur, Mas.
Sekarang Alfa mengernyit bingung. Omega belum menjawab ajakannya untuk makan bersama.
Alfa Bintara: Jadi abis kerja mau makan sama Mas?
Alfa memutuskan untuk memastikan jawabannya.
Omega Db: Kapankapan aja ya, Mas, jangan skrg. Sabtu ini aja mkn di rumah Zeta.
Makan di rumah Zeta? Aduh, itu sih beda namanya. Alfa ingin mengenal Omega lebih jauh lagi. Omega sebagai Omega secara pribadi dan bukannya Omega sebagai teman Zeta. Kalau makan di rumah Zeta mana bisa keinginannya itu terwujud.
Alfa memutuskan membiarkan pesan terakhir Omega terbaca tanpa dibalas. Nafsu makannya hilang lenyap tak berbekas secara tiba-tiba. Dia tidak suka diacuhkan apalagi oleh Omega. Apa mungkin karena Omega tidak suka berada didekatnya maka Omega menolak ajakan itu? Alfa berkutat dengan seribu satu alasan buatannya sendiri.
Dia lupa aturan pertama hidup bersosialisasi di zaman sekarang.
DILARANG BAPER.
***
__ADS_1