
Hari Sabtu yang rasanya jauh sekali bagi Alfa akhirnya tiba juga. Hingga pagi ini, Alfa masih belum bisa menghubungi Omega. Pesan LINE tidak dibalas, telepon ke ponselnya tidak dijawab, dan ketika Alfa mencoba menemui Omega di lantai 8 kantor Golden Greek, dia tidak bisa menemukan Omega di sana.
Tidak ada yang bisa menggambarkan bagaimana frustrasinya Alfa beberapa hari belakangan ini. Well, Alfa sudah mencoba mencari penjelasan mengapa dia sampai seingin itu untuk ketemu dengan Omega. Alfa awalnya hanya menduga bahwa dia butuh teman bicara. Selama ini dia tidak bisa mengobrol dengan Zeta mengenai masalah perusahaan karena adiknya itu sama sekali tidak paham urusan bisnis. Mau bicara dengan orangtuanya pun, Alfa malas. Masa pulang ke rumah yang dibicarakan urusan kantor lagi?
Omega memang jarang bicara, tapi gadis itu sedikit banyak bisa mengimbangi pembicaraan mengenai kesehatan keuangan Golden Greek. Pernah suatu waktu Alfa menghabiskan waktu seharian penuh berbalas email dengan Omega membicarakan mengenai pelaporan investasi perusahaannya yang tadinya dia klasifikasikan sebagai held-to-maturity padahal baru-baru ini dia aktif menggandakan investasi itu di pasar sekunder.
Ada konsekuensi akuntansi yang harus Alfa terima dari memindahkan klasifikasi investasi tersebut ke available-for-sale securities. Beberapa pertimbangan dan penghitungan yang dia lakukan masih tidak bisa membuatnya memutuskan apakah harus me-reklasifikasi investasi tersebut atau tidak.
Omega adalah nama yang langsung muncul begitu otak Alfa sudah mentok. Ketika kemudian Omega membalas email tersebut dan memberi advis sebagai auditor Golden Greek, mereka justru langsung terjebak pada email-email tidak berujung. Alfa kagum. Dia masih tidak percaya remaja kecil yang dikenalnya dulu sekarang sudah berubah menjadi wanita cerdas yang hebat.
Banyak hal yang mengagetkan bagi Alfa. Tidak hanya perubahan cara berpakaian Omega, pemikirannya, namun juga sikapnya. Alfa ingat dulu Omega tidak pernah melihat langsung ke arahnya. Omega juga lebih banyak membisu atau seperti canggung bicara dengan Alfa. Baru beberapa tahun terakhir Alfa melihat Omega sudah lebih lancar berbicara, meskipun beberapa tahun terakhir ini mereka jarang bertemu.
Sekarang? Omega begitu lancar dan percaya dirinya mengobrol dengan Alfa seolah Alfa memang teman sepermainannya. Memang Omega masih terlihat hormat dan segan dengannya karena dia kakak Zeta, tapi ada yang berubah. Gadis remaja yang dulu tidak pernah berani memperlihatkan mata birunya kepada Alfa, bertransformasi menjadi wanita yang dengan seenak jidat mengunci pandangan Alfa di mata biru itu.
Alfa berspekulasi bahwa dia hanya ingin mencari tahu bagaimana Omega Dianbiru yang dia kenal bisa berubah. Yah, untungnya berubah ke arah yang lebih positif. Tidak biasanya Alfa sulit mendapatkan keinginannya dan tidak mampu menyelesaikan persoalan yang dia hadapi. Kesulitan menghadapi Omega inilah yang Alfa rasa sudah mempengaruhinya beberapa hari ini.
Itulah alasan dia frustrasi.
Setidaknya menurut Alfa.
Hari Sabtu yang dinanti tiba. Semalam ketika Zeta mengundang kakak kesayangannya ke rumah, Alfa sudah menanyakan siapa saja yang akan datang. Cukup bertanya pada Zeta dan Alfa sudah bisa mengonfirmasikan kedatangan Omega.
“Ada Omega aja kok besok. Siapa lagi emang yang bisa aku ajak masak-masak bareng?” begitu kata Zeta pada Alfa semalam.
Baguslah. Setidaknya Sabtu ini akan mengobati rasa frustrasi Alfa. Yah, semoga.
***
Alfa masuk ke rumah Zeta tanpa mengetuk pintu. Dia tidak menemukan siapa pun di ruang tamu dan keluarga. Baru ketika sudah berjalan ke dapur, Alfa bisa melihat adiknya sedang berkutat dengan microwave yang sepertinya baru dinyalakan itu.
“Hi, Ze!” sapa Alfa pada adiknya.
Zeta langsung berbalik dan melihat Alfa menaruh beberapa kantong kertas cokelat hasil belanjaan. Tak pelak perempuan itu langsung menggelengkan kepalanya. “Ini belanja di mana, sih? Banyak banget belinya.”
“Itu titipan Mama. Katanya bumil harus makan dari bahan-bahan organik. Mama udah pesan kalau belanja jangan lupa beli yang organik. Biar mahal sedikit yang penting sehat.” Alfa angkat bicara tidak ingin dianggap bahwa dia yang repot-repot berbelanja untuk sang adik.
“Apa kata Mama aja deh,” Zeta membalas dengan malas. “Eh, mana yang lain?” Alfa sok bertanya. Yang lain siapa sih? Yang lain kan ya tentu saja cuma Omega. Memang ada lagi?
Zeta menjawab sambil masih berkutat dengan microwave-nya, “Leo biasa masih ngorok di atas, dia pasti baru turun kalau makanan udah jadi. Mega lagi ada di kebun belakang sama Barry.”
Zeta yang posisinya membelakangi Alfa tidak bisa melihat bahwa jawabannya itu langsung membuat rahang kakaknya mengeras. “Oh, lagi pacaran mereka?” Alfa mencoba berkelakar santai.
Cepat Zeta berbalik dan melompat ke arah Alfa. Tangannya mencoba meraih dan menutupi mulut Alfa. Agak sulit memang karena mereka berdiri dengan dibatasi meja bar yang lumayan tinggi.
“Psst!” Zeta berbisik. Alfa melempar pandangan ‘apa-sih-Ze’ namun Zeta tidak peduli.
“Barry sama Mega habis putus. Belum lama, sih.”
WHAT?
Alfa kaget. Zeta tahu.
“Iya, Mas. Mereka habis putus dan aku sama Leo nggak tahu sama sekali. Semalam Barry nginap di sini karena mereka habis manggung sampai pagi. Leo kira Mega masih sama Barry, jadi Leo nggak bilang ke Barry kalau pagi ini Mega mau ke sini,” Zeta menjelaskan.
Alfa menganggukkan kepalanya saja sambil mendengarkan dengan saksama.
“Sumpah aku masih Skype-an sama Mega dua mingguan ini dan dia nggak bilang apa-apa. Mega cuma cerita lagi banyak banget kerjaan mulai dari ngaudit kantor Mas sampai ketemu klien-klien di luar kota.” Zeta melempar pandangannya ke arah kebun yang dibatasi pintu kaca dari arah ruang makan.
“Mega nggak cerita apa pun sama aku. Aku ngerasa kayak nggak guna banget jadi temannya.” Air mata hampir turun dari sudut mata Zeta.
“Mungkin Mega memang belum siap cerita? Lagian kan suami kamu itu rekan kerja mantannya, pasti awkward kalau harus cerita sama kamu.” Alfa mencoba memberi alasan logis. Memang kerjaan Alfa selalu melogiskan sesuatu.
Zeta mengangkat bahunya seolah tak mengerti. “Aku masih berharap sih, Mas. Semoga mereka bisa balikan lagi. They’re too good to be true. They’re best friend for each other and I know it. Mega pasti merasa kehilangan banget.”
Alfa rasanya ingin membungkam mulut adiknya. Kadang Alfa rasanya ingin mengajarkan Zeta caranya untuk berhenti bicara. Adiknya ini suka lupa kalau kita kebanyakan perkataan bisa saja melukai orang lain. No harm, tapi rasanya kata-kata Zeta barusan sudah menggores-gores ego Alfa.
***
Di sudut lain rumah itu Omega dan Barry duduk berdampingan. Jangan tanya bagaimana rasanya. Omega merasa dia ingin masuk ke belahan bumi saja kalau memang bisa. Datang ke rumah Zeta dan menemukan Barry keluar dari kamar mandi tamu dengan rambut basah bekas keramas rasanya membuat Omega langsung jantungan.
Keduanya terlonjak kaget tentu saja. Canggung sudah pasti. Barry langsung melarikan diri ke kamar tamu di lantai dua. Sementara Omega langsung menemui Zeta yang masih menyiapkan ocha di dapur.
“Kenapa Barry ada di sini, Ze?” tanyanya langsung pada si pemilik rumah.
Zeta bingung, “Lah, Barry nggak ngabarin lo? Zero semalem manggung sampai pagi. Barry nggak kuat kalau harus pulang ke rumahnya, jadi dia nginap di sini.”
__ADS_1
Huft.
Omega menghela napas panjang. Salahnya sendiri memang karena tidak memberi tahu Zeta bahwa dia sudah putus dengan Barry. Kalau saja dia memberi tahu Zeta, pasti dia tidak akan bertemu Barry pagi-pagi begini. Tapi bagaimana mau memberi tahu? Harus mulai cerita dari mana? Omega bahkan masih tidak percaya dia memutuskan hubungannya dengan Barry begitu saja.
“Kalian berantem, ya?” Zeta bertanya sambil menyodorkan ocha kepada Omega.
Omega menggeleng tak bersemangat. “Gue putus sama Barry, Ze,” ujarnya lirih.
Mata Zeta langsung membesar seolah akan lepas dari wajah bundarnya. “MEGA! KOK BISA?”
“Apa sih, Ze? Jangan teriak-teriak, ah.”
Zeta langsung memegang bahu Omega dan menyelaraskan pandangan mata mereka. Teliti Zeta memandangi kedua mata biru Omega. “Kapan? Kenapa lo nggak cerita sama gue?”
Omega tidak yakin harus mulai dari mana. Dia akhirnya bicara apa adanya, “Udah hampir dua minggu. Gue nggak cerita sama lo karena gue juga bingung kenapa putus, gimana bisa putus, apa alasan putus, gue juga nggak ngerti, Zeta.”
Memang gadis itu tidak lagi menangis mengingat hubungannya yang kandas, tapi tetap saja bekas luka itu masih terasa. Lima tahun mengenal Barry, tiga tahun berpacaran, bagaimana bisa kenangan itu dibuang begitu saja seolah tidak pernah ada?
Zeta membawa Omega dalam pelukannya. “Ya udah kalau belum mau cerita juga nggak apa-apa. Terus sekarang gimana?
Dia udah telanjur di sini, masa gue usir pulang?”
Omega menghela napas lagi. “Ya janganlah, Ze. No problemo, kok. Gue butuh ngomong sama dia juga.”
Ya. Untuk itulah dia dan Barry ada di sini sekarang. Duduk di bangku kayu yang sengaja diletakkan di kebun belakang untuk kepentingan menikmati surga dunia bernama keindahan alam meski cuma sebentar. Barry dan dia di sini. Sangat absurd dan tidak akan bisa lebih aneh lagi. Takdir memang lucu. Mereka suka bermain-main dengan kehidupan manusia.
“Kamu gimana sejauh ini, Megs?” Suara Barry memecah kebisuan mereka.
Omega berusaha tersenyum walau kaku. “Mana ada yang okay setelah putus sih, Bar?”
Barry mengangguk. “Good then. Aku kira aku aja yang hancur.”
Omega merasa tertohok. Barry juga hancur? Dia mulai mempertanyakan kebijaksanaan keputusan yang sudah mereka ambil—koreksi, sudah dia ambil. Apa kehancuran ini akan terbayar nanti di masa yang akan datang?
“Kamu hancur tapi nggak cerita apa pun ke Leo?” Omega ganti bertanya.
Barry tersenyum pahit memandang Omega, “Kalau aku cerita, nanti aku tambah hancur, Megs. It’s better to pretend being fine sometimes, so that you will eventually believe that you’re fine.”
That’s so pathetic, pikir Omega dalam hatinya. Kemudian dia memikirkan dirinya sendiri. Dia juga tidak bercerita pada siapa pun tentang keadaannya sekarang. Mungkin memang dia ingin berpura-pura segalanya baik-baik saja dengan harapan semua memang akan menjadi baik-baik saja pada akhirnya nanti.
“Meg, kamu dicariin Zeta, tuh. Katanya dia nggak tahu harus diapain lagi pie-nya kalau udah dikeluarin dari microwave.” Suara bariton Alfa menyampaikan pesan dari Zeta, membuat Omega kemudian langsung bangkit berdiri dan pamit untuk menemui Zeta pada kedua pria di dekatnya.
Begitu Omega berjalan keluar dari kebun, senyum di wajah Alfa menghilang. Hanya keganasan matanya yang tertinggal, menatap tajam ke arah Barry. “Berhenti nyakitin Mega,” ujar Alfa dingin.
Barry memandang pria di depannya dengan tatapan tidak mengerti. “Sori, Bro, tapi urusan gue sama Megs bukan urusan lo. Just keep your business yours and stay away from mine. Lagian emang lo siapanya Mega, sih? Zeta itu yang harusnya merasa beruntung Mega masih mau temenan sama dia. Mending urusin adik lo dulu.”
Tak kalah garang Barry menghabisi tatapan Alfa dan kemudian meninggalkannya sendiri di kebun belakang. Alfa menahan amarahnya. Amarah karena tiga hal. Satu; Alfa jelas lebih lama mengenal Omega dan Omega sudah seperti adiknya sendiri. Jadi Barry tidak punya hak berkata seperti kemarahan Alfa sudah salah alamat. Dua; urusan Omega akan menjadi urusannya juga karena Omega adalah teman baik adiknya. Tiga; memangnya Barry siapa dengan mudahnya menghakimi siapa lebih beruntung dari siapa dalam hubungan pertemanan Zeta dengan Omega? Tangan Alfa terkepal penuh kekesalan. Jelas dia harus menjauhkan Barry dari Zeta dan Omega. Secepatnya.
***
Makan siang baru saja selesai dan seluruh peserta acara ‘makan-bersama-di-rumah-Zeta’ sekarang pindah tempat duduk ke ruang keluarga. Omega membagikan pada semuanya puding buah yang dia buat semalam. Spesial untuk hari ini.
“Say, puterin lagu dari iPod-ku dong, tolong. Enak nih kayaknya makan puding sambil dengerin lagu.” Leo yang sedang sibuk memilah pudingnya meminta tolong pada sang istri.
Zeta menurut saja dan menaruh iPod Leo di speaker. “Mau lagu apa?” tanyanya. Leo mengibaskan tangan mengisyaratkan apa saja terserah Zeta.
“Ini aja deh. Baru ditaruh di iPod kamu kayaknya,” jawab Zeta sekenanya dan lagu itu mengalun sebelum siapa pun bisa mencegahnya.
When the sun shines so bright
My heart goes into deep fight
Then I try to walk on the flowery path
But our memories torturing me hard
Tell me how to bear it? Must I just got killed?
Would you release me and just disappear?
Suara Leo mengalun dari speaker. Rupanya ini lagu baru Zero. Gerakan tangan Barry mendadak membeku. Ini lagunya. Baru dia tulis usai putus dari Omega. Leo memergokinya sedang memainkan kunci lagu ini saat mereka rekaman. Seluruh teman band-nya mendadak sepakat untuk memasukkan lagu ini menjadi materi album baru mereka nanti.
Kurang ajar.
Barry memaki dalam hati.
__ADS_1
Omega mendengarnya. Sebelum dia sempat mengedit apa pun yang dia tulis di sana. Omega mendengarnya dan Barry menyaksikannya langsung dengan mata kepalanya. Sudah disebutkan bukan tadi kalau takdir itu memang suka mengada-ada.
Though I have tried so hard
to love more than you’ve ever asked
Then I collecting the will that I got
to protect more than you’ve ever wanted
If I did so will your heart ever be mine though?
If I did so will it be different, oh?
I hate how my world is still staying
I’m still waking up in the morning
and find out nothing
of your belonging
Kini ganti Omega yang membeku. Tanpa perlu penjelasan, Omega langsung tahu ini lagu ciptaan Barry. Sebuah lagu untuknya, untuk hubungan mereka yang entah sudah kandas karena apa. Beberapa waktu lalu, Omega diam-diam mengambil beberapa barangnya yang tertinggal di rumah Barry. Dia pikir Barry tidak menyadarinya, tapi ternyata laki-laki itu tahu? Astaga. Marahkah Barry pada Omega?
It kills me to look up for the moonlight
It kills me to portray the skies full of starlight
I stand here try to forget that you’re the light
I ain’t got it right
I ain’t thinking straight
It kills
Alfa menikmatinya saja. Dia bisa merasakan kesakitan dan amarah yang sama dengan yang dia rasakan saat Gema mencampakkannya dulu dalam lagu ini. Betapa jujurnya lirik lagu ini. Penulisnya pasti sedang benar-benar jatuh dalam lubang yang sama dengannya lima tahun lalu.
I always tried to count my runaways
with the stupid ticking time
But love keeps making me go back
running back to you
only you….
Tangis Zeta pecah secara tiba-tiba membuat satu isi ruangan terlonjak kaget. Perasaannya tidak bisa tertahan lagi. Satu per satu orang terpenting dalam hidupnya terluka karena cinta. Orang-orang yang mengajarinya tentang cinta justru hancur oleh cinta. Pertama Alfa dengan Gema. Sekarang? Mega dengan Barry. Zeta begitu terbawa perasaan sedihnya.
“Kenapa, Say?” Leo langsung merengkuh istrinya.
Zeta masih tersedak dan menangis pelan dalam pelukan Leo. Barry memutuskan untuk berdiri dan mematikan musik itu. Tidak ada yang siap untuk mendengarkannya sekarang. “Mega, kenapa elo sama Barry putus, sih? Kalian yang ngebuat gue yakin untuk nikah sama Leo. Kalian … kalian yang selalu jadi gambaran gue bahwa soulmate memang realita.”
Omega menatap temannya masih dalam kekosongan. “Karena nggak ada sesuatu yang sempurna, Ze. Gue dan Barry nggak sesempurna yang lo lihat.”
“Apa kalian nggak bisa balik lagi? Mas Alfa juga! Apa Mas Alfa dan Kak Gema nggak bisa jalan bareng lagi? Kenapa kalian yang gue yakin sudah nemuin pasangan terbaik harus berakhir kayak sekarang?” Zeta terus saja berbicara di tengah isakannya.
Alfa tidak mampu bicara. Tangan dinginnya kini terkepal. Jadi lagu ini untuk Omega? Pikirannya melayang berkeliaran memikirkan betapa jauh hubungan Omega dan Barry sudah berjalan hingga lagu semenyayat ini bisa tercipta.
Omega merasa sesak napasnya kambuh lagi. Sakit di dada itu keluar lagi. Dia menyerah kalah dan membiarkan pedih itu menggerogoti dadanya. Berteman dengan rasa sakit ini sepertinya menjadi pilihan terakhir baginya.
Barry tertawa getir. “Ze, jangan terlalu naif. Hanya orang itu sendiri yang bisa tahu apa memang mereka sudah nemuin pasangan terbaiknya atau belum.”
Zeta tambah menangis. Omega tidak kuat lagi.
Tangannya menepuki dadanya yang sesak. Alfa melihat itu dan langsung panik. “Kamu nggak apa-apa, Meg?” Alfa sudah bangkit dari duduknya dan menghampiri sofa tempat Omega duduk.
Omega hanya mampu menggelengkan kepalanya. Kemudian tangan itu mengelus kepalanya. Tangan yang bisa menenangkannya dengan mudah. Tangan Barry. Omega sudah tidak lagi menepuki dadanya. Sakitnya mereda.
Alfa hanya menonton pemandangan itu dalam bisu. Pertama kali dalam hidupnya Alfa merasa menjadi orang yang paling tidak berguna. Ada perasaan aneh menyelip dalam kebisuannya. Cemas? Kesal pada diri sendiri? Takut? Tapi yang paling mendominasi adalah cemburu.
Memangnya kamu siapa, Alfa?
Shit.
__ADS_1
Alfa benci dengan kenyataan yang disuguhkan di depan kedua matanya.