
Hujan mengguyur tanah sore itu. Alfa bersungut-sungut melihat alam seolah bersekutu menertawakan dirinya. Memori kejadian hari Sabtu kemarin di rumah Zeta masih lekat dalam ingatannya. Omega dan Barry, mereka memang seperti mengerti satu sama lain. Alfa tidak yakin sebetulnya bahwa hubungan seperti itu memang ada. Zeta tampaknya memang ada betulnya; they’re best friend for each other.
Huh.
Alfa menarik napas panjang. Omega yang dulu dia kenal adalah remaja yang tampaknya masih belum terlalu peduli dengan urusan remeh-temeh seperti cinta. Yang dia tahu, Omega gadis pintar. Usai lulus dari universitas di Indonesia dan bekerja sebentar di Jakarta, Omega langsung mengambil pendidikan masternya di New York. Ketika perempuan-perempuan lain seusia Omega sedang sibuk menjalin hubungan dengan senior di kampus, Omega sudah tahu akan bekerja di mana, akan melanjutkan studi ke mana, dan akan melakukan apa setelah studi masternya selesai.
Dari dulu Alfa melihat Omega seperti itu. Kadang dia merasa sepertinya enak punya adik yang mudah diurus seperti Omega. Berkebalikan dengan Omega, Zeta lebih suka berhubungan dengan banyak pria. Tak jarang adik kecilnya itu meminta bantuan Alfa untuk membereskan urusan dengan banyak laki-laki yang tidak lagi disukainya.
Omega … melihat Omega sekarang harus berurusan juga dengan remeh-temeh urusan patah hati mau tak mau membuat Alfa terbengong-bengong sendiri. Kalau itu Zeta, Alfa pasti sudah memukul habis Barry dengan ilmu taekwondonya. Sayang, Omega memang hanya Omega.
Huh.
Lagi, Alfa menarik napas dalam-dalam.
Hujan di luar sana masih tidak mau berhenti padahal sudah hampir lima belas menit Alfa berdiri di lobi pabrik. Berkali-kali dia melirik jam di tangan kanannya. Waktu terus berjalan dan pekerjaannya masih menumpuk.
Hari ini dia memutuskan untuk meninjau pembukuan operasi di salah satu anak perusahan Golden Greek. Terbang pagi tadi dari Soekarno-Hatta ke Adisucipto, Alfa harus kembali lagi ke Jakarta malam ini. Pesawat untuk penerbangan pukul tujuh malam sudah dipesan. Sekarang sudah jam lima, dan hujan belum reda. Maskapai penerbangan mengiriminya pesan beberapa jam lalu kalau penerbangan akan delayed sampai pukul delapan malam ini.
“Mas Alfa?” Sebuah suara familier menyapa Alfa dengan ragu.
Pria itu menoleh dan mendapati orang yang sedari tadi mengusik pikirannya dihadirkan langsung di depan matanya.
Tidak seperti biasanya rambut perempuan itu terurai panjang membingkai wajah kecilnya. Alfa tersenyum sopan, “Mega, kamu habis inspeksi ke sini juga?”
Omega mengangguk. “Baru selesai benerin beberapa akun. Mas Alfa lagi ngapain di sini?”
“Tadi habis ngurusin beberapa masalah operasi sama keuangan. Maklum … kan baru diakuisisi perusahaannya, jadi harus disesuaikan lagi biar sistemnya sama dengan yang ada di Jakarta.”
“Ah, I see. Ngomong-ngomong kok kita bisa nggak ketemu ya? Ini pabrik nggak sebesar kantor di Jakarta, lho. Aneh banget.” Omega melempar logikanya keluar.
Alfa menggeleng pelan, “Takdirnya disuruh ketemu di lobi kali, Meg.”
Mereka tertawa bersama. Lepas. Saling melepas kecanggungan masing-masing. Tampaknya rintik hujan sudah membuat percik ketidaknyamanan keduanya lenyap sesap bersama air yang jatuh ke tanah.
Omega melihat sekelilingnya yang sudah sepi lalu bertanya pada Alfa, “Terus ini Mas lagi nungguin hujan juga?”
“Iya, Mas nggak bawa payung dan nggak bawa baju ganti juga. Hujannya deras banget,” Alfa mengeluh.
Omega menyodorkan payung merah lipatnya. “Ini Mas pakai aja. Mau ambil mobil doang, kan? Parkirannya lumayan jauh.”
“Kamu?” Alfa bertanya bingung.
“Aku mah gampang. Nanti abis Mas Alfa ambil mobil kan aku bisa numpang sampai hotelku,” jawab Omega dengan ringan.
Alfa tergelak. “Iya deh, iya. Kalau gitu Mas pinjam dulu ya payungnya buat ambil mobil.”
__ADS_1
***
Hujan di luar sana semakin mengguyur dengan semena-mena. Untungnya dari dalam mobil, Alfa dan Omega terlindungi dari guyuran dahsyat itu. Sedari tadi Omega memandang ke luar. Menatap hujan yang turun. Alfa memutuskan untuk diam dan menikmati keberadaan Omega di dekatnya.
“Eh, Mas. Makan dulu, yuk. Aku belum jadi traktir Mas, kan? Kita ke Raminten aja. Mas terbang jam berapa?”
Alfa hanya mengangguk, “Boleh deh makan dulu, yuk. Mas terbang jam delapan, sih. Tapi kayaknya bakal diundur lagi. Cuacanya parah begini, gimana bisa terbang?”
“Kalau gitu kita ke Raminten aja. Nanti di lampu merah sana mutar ke kanan ya, Mas.”
“Siap, Bu Bos.” Kelakar Alfa sukses membuat Omega lagi-lagi melepaskan tawanya.
Begitu ban mobil berdecit, Alfa menemukan bahwa rumah makan yang dimaksud Omega tidak memiliki halaman parkir. Alhasil mereka harus berhimpit-himpitan menggunakan satu payung untuk berdua karena jarak dari tempat Alfa memarkir mobilnya sampai ke Raminten cukup jauh.
“Nih ya gara-gara ide kamu, sampai kita harus rela sepayung berdua,” Alfa pura-pura memarahi Omega sementara yang dimarahi hanya tertawa. Dari tadi wanita di sampingnya ini mudah sekali tertawa. Sangat bukan Omega.
“Kapan lagi sih, Mas? Jarang-jarang, kan?” Omega kini menepuk-nepuk bahu dan roknya yang terkena cipratan air hujan. Sedikit sekali memang sehingga dia berharap dengan tepukan ringan titik-titik basah itu bisa kering.
“Iya. Kapan lagi sepayung berdua sama cewek cantik?”
Kata-kata Alfa sukses memerahkan pipi Omega. Untungnya kini tidak akan terlalu terlihat oleh Alfa karena rambut hitamnya tergerai menutupi kedua pipinya. Jahil memang kadang mulut laki-laki ini.
“Iya, mau ditraktir aja langsung muji-muji cantik terus.” Omega bicara seolah tak peduli dengan ledekan Alfa.
“Duduk situ dulu yuk, Mas. Nunggu waiting list nih.”
“Oh, pakai waiting list di sini?” Alfa mengikuti Omega menuju sederetan bangku biru tempat pengunjung menunggu waiting list. Pandangannya mengedar ke seisi ruangan yang merupakan percampuran unsur mistis dengan berbagai pernak-pernik budaya Jawa.
“Belum pernah ke sini, Mas?” tanya Omega dan Alfa menjawab dengan gelengannya. Melihat gerakan itu Omega lantas melanjutkan, “Makanannya enak-enak, lho.”
“Kamu udah sering ke sini?” Alfa bertanya sembari melemparkan pandangan ke kiri dan kanan.
“Dari zaman masih kuliah. Dulu kan aku sama teman-teman kuliahku sering backpacking, nah paling sering itu ke Jogja. Tiap ke Jogja pasti ke sini.”
“Unik sih tempatnya.”
“Emang. Tahu nggak sih, Mas? Itu tuh foto mbok-mbok yang dipajang di sana itu pemiliknya.” Omega menunjuk sebuah figura besar dengan dagunya.
Alfa tampak kaget, “I ... itu pemiliknya?”
Omega mengangguk, “Dia hebat banget menurutku. Nama aslinya Pak Hamzah. Dari kecil udah suka nari dan nembang, terus ikutan lakon ketoprak jadi perempuan. Sampai sekarang mempertahankan tokoh Raminten buatannya. Dia betul-betul revolusioner.”
Alfa bingung harus ikut kagum atau justru mempertanyakan di mana letak kerevolusionerannya. Omega menyadari kebingungan laki-laki di sampingnya, “Nyonya Raminten itu hebat, dia bisa mewujudkan kebahagiaan versinya tanpa perlu takut tidak bisa membahagiakan orang lain. Dia bahagia dan orang-orang lain ikut tertawa bersama dia.”
Alfa masih diam mendengarkan Omega yang terus bicara, “Nah, aku mau begitu. Masih dalam proses sih, tapi suatu saat nanti pasti bisa. Bahagia untuk diri sendiri dulu sebelum membahagiakan orang lain.”
__ADS_1
Kini mata Alfa berhenti pada birunya mata Omega, “Semoga cepat bisa terwujud ya, Meg,” Alfa mendoakan Omega dengan tulus. Hanya senyum yang bisa Omega berikan. “Terima kasih, Mas. Amin, amin. Mas juga, bahagia dulu untuk diri sendiri sebelum berusaha membuat orang lain bahagia.”
***
Makanan mereka datang. Omega memesan sate hati sementara Alfa lebih memilih nasi bakar. Minuman yang mereka pilih adalah es kelapa muda dalam porsi besar. Satu berdua adalah usulan Omega. Menurut dia yang sudah sering ke sini, porsinya besar sekali, jadi satu es kelapa untuk berdua akan menjadi pilihan yang paling tepat.
“Gila, ini sih bukan gede lagi, Meg. Ini gede banget. Gimana caranya kita ngabisin ini?” Alfa berdecak kagum melihat gelas kaca yang lebih mirip akuarium oval ditaruh di atas meja mereka.
Omega hanya bisa tertawa, “Kan tadi aku udah bilang, Mas. Aku aja biasanya bisa pesan satu untuk berlima.”
Alfa melempar pandangan tidak percayanya. Sambil makan mereka terus bicara tentang apa saja. Tentang Golden Greek yang baru saja mengambil alih pabrik di Solo dan Yogyakarta. Lalu juga membicarakan Zeta yang akhirnya hamil juga setelah tiga tahun menikah.
“Tuh, Zeta aja butuh tiga tahun buat hamil. Kamu nggak mau nikah cepat-cepat? Nanti mau punya anak umur berapa kalau udah umur segini kamu belum menikah?” Alfa bertanya.
“Baru juga putus, Mas. Tega, ih, udah nyuruh-nyuruh nikah. Dapet dari mana juga calonnya?”
Alfa terkekeh, “Ya, kan cuma ingetin kamu aja.”
“Mas itu tuh. Udah kepala tiga, calon istri aja belum punya,” Omega membalas kelakaran Alfa.
“Lho, jadi bawa-bawa Mas. Kalo Mas kan lain cerita. Anak cowok memang lebih lama menikah dibanding anak cewek.”
Mendengar jawaban itu, Omega memutar bola matanya. “Apa sih, Mas?”
“Anyway kamu sama Barry gimana?” tembak Alfa dengan halus.
Senyum di bibir Omega hilang mendadak. Alfa menyesal menanyakan hal itu.
“Yah gitu, Mas. Kita berdua udah sama-sama tahu kok kalo memang nggak ada yang bisa dipertahankan lagi.” Jawaban Omega terdengar datar tanpa ada jiwa.
“Kamu kenapa nggak cerita sama siapa-siapa, sih? Apa karena putus itu juga kamu jadi nggak bales LINE dan telepon Mas minggu-minggu kemarin?”
Omega memandang tidak mengerti, “Nggak bales LINE, Mas? Bentar deh.” Omega mengambil ponsel dari tasnya. “Astaga, aku belum simpan nomor Mas, ya?” Dia menepuk jidatnya.
“Hp-ku jatuh pas lagi tugas di Cikarang, Mas. Jadi aku terpaksa ganti hp baru, deh. Semua akun di aplikasi chat-nya juga terpaksa ganti baru soalnya aku kan ganti nomor juga.”
Alfa memandang tidak percaya. Jadi rasa frustrasi dan amarahnya waktu itu sudah sia-sia? Jadi Omega bukannya tidak suka pada Alfa? Ini semua hanya salah paham? Alfa tidak tahu lagi harus berbuat apa.
“AWH!” Omega memegang dahinya yang baru saja disentil oleh Alfa. “Apaan sih, Mas? Sakit tahu.”
“Nggak apa-apa, Mas geregetan aja,” ujar Alfa asal.
Perempuan di depannya ini sudah membuat perasaannya jungkir balik.
***
__ADS_1