Clan Online

Clan Online
Chapter 0.1 : Start-Up


__ADS_3

KesatriaㅡMahluk mitosㅡSihirㅡPahlawan dan tuan putri, dunia yang dulu hanya bisa kita bayangkan! Sering kita impiㅡimpikan! Sekarang, bukanlah sebatas mimpi!"


"Abad ini! Akhirnya manusia berhasil! Menyempurnakan dunia maya tak terbatas!"


"Gerbang antara duniaㅡmimpi dan duniaㅡnyata! Menunggu datangnya para kesatria pemberani!"


"Hari iniㅡdetik ini! Dunia itu akan segera dibuka!"


"Bergabunglah ... menjadi bagian dari era kebangkitan macan asia, negara indonesia!"


Melalui sebuah Drone yang melayang-layang di atas pusat kota, tampak hologram seseorang mengenakan setelan jas hitam tengah mempromosikan sesuatu produk baru.


Seorang remaja laki-laki bermata biru dengan wajah malas menonton iklan tersebut. Ia berdiri tidak jauh dari sana, dekat dengan penyeberangan sambil menunggu lampu rambu lalu lintas menunjukan warna merah.


Pemuda yang mengenakan jaket berwarna biru dongker ini, tinggi badannya di kisaran 180 cm.


Rambutnya hitam pekat, dengan style ala boyband korea yang masih acak-acakan, karena dia sendiri memang belum sempat mandi.


Berjalan santai sambil menenteng sebungkus makanan yang tadi dia beli, Si malas berwajah tampan ini heran memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang ramai mengantre.


Apa yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh mereka?


1 Oktober 2050, pukul 08.00 pagi. Merupakan hari kesaktian pancasila yang bertepatan juga dengan di rilisnya sebuah game virtual reality viral bernama clan online.


Sebentar lagi launcing perdana, setelah satu bulan lebih mengadakan pengujian tahap awal atau beta tester.


Sepuluh ribu paket Drifters dan data chips-game, bahkan ludes terjual secara online-global pada gelombang pertama beberapa menit lalu.


Kini, seluruh warga jakarta ramai-ramai sedang mengantre gelombang kedua di depan toko waralaba perusahaan D.G.C (Driver gears corporation) selaku penyedia utama Drifters, bahkan hampir disetiap cabang milik D.G.C yang tersebar di berbagai kota keadaannya juga sama saja, para pegawai kualahan melayani para pembeli yang jumlahnya melebihi perkiraan kuota ketersediaan barang yang sebelumnya mereka persiapkan.


Bahkan diantara para pembeli itu, ada juga yang sudah menunggu sejak tiga hari lalu sebelum diluncurkan, begitulah animo masyarakat.


Tidak terbatas di sektor game online semata, pihak DGC dan Minerva berencana memperluas pemanfaatan teknologi full-dive ini untuk kebutuhan lain, ambil contoh seperti peralatan electronic, robot android, dan lain sebagainya.


Kembali lagi ke Si malas bernama Ariel Van wangsatrya atau yang kerap disapa 'EL' oleh rekan-rekan sebayanya.


Dia ini salah seorang mahasiswa jurusan IT semester akhir di salah satu institut terkemuka UNIPER atau universitas Pertiwi.


Perangainya bandel minta ampun, bersama kedua rekan se-angkatannya yang juga sama-sama pembuat onar yakni Ezra Mahardika dan Raditya wijaya, mereka terkenal di kampus sampai di juluki trio berandalan.


Kendati demikian, Ariel, Ezra, dan Raditya mereka itu casanovanya kampus karena sejalan dengan wajah tampan bak di ukir langsung oleh tangan malaikat yang mereka miliki.


Sebagian mahasiswi disana bahkan menambah embel-embel kata 'Prince' atau pangeran di depan nama masing-masing.


Terutama EL, selain jenius sifatnya juga ceria dan sangat ramah kepada sesiapa saja yang dia temui.


Walau terkadang suka bercanda dan terkesan kurang serius, tetapi dia sebenarnya adalah pendengar yang baik. Dia bisa merangkul dan menghidupkan suasana yang mana membuatnya disukai oleh temen-temannya.


Kalau soal prestasi, tidak perlu diragukan lagi. Ia pernah mengoleksi berbagai macam piala penghargaan di bidang akademik saat dirinya masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah menengah akhir.


Bahkan, beberapa tahun lalu namanya sempat tercatat sebagai satu-satunya Maba atau mahasiswa baru yang ikut mewakili dan berhasil menjuarai olimpiade matematika tingkat nasional.


Namun, semuanya berubah drastis semenjak adik laki-lakinya yang berusia 12 tahun meninggal dunia beberapa bulan lalu akibat kangker otak stadium akhir yang di deritanya.


Keluarga El bukanlah keluarga yang kekurangan dari segi harta. Bahkan sejak Kecil, ia terbiasa memegang sendok emas ㅡdibesarkan dalam kemewahanㅡTetapi tidak dengan kasih sayang.


Lahir dan di besarkan di dalam keluarga kaya raya, belum tentu menjamin kebahagiaan. Begitulah keadaan keluarga EL yang kurang harmonis.


Ayahnya yang seorang konglomerat terlalu sibuk mengurus bisnis dan perusahaannya, tidak berbeda jauh dengan ibu yang seorang sosialita sekaligus designer-fashion, pemegang merek baju mahal dan juga toko butik ternama.


Momen mereka semua lengkap berkumpul dirumah, bahkan bisa dihitung lewat jari.


Kematian Arian Wangsatrya, mendiang adiknya inilah yang banyak mempengaruhi perubahan sikap EL.


Namun, Justru sebaliknya ayah dan ibunya tidak demikian. Mereka bersikap seolah-olah tidak perna terjadi apapun, kematian anaknya itu tidak berarti banyak. Keduanya bahkan tidak terlihat meneteskan air matanya selama prosesi pemakaman.


Kini, hubungan EL dengan kedua orang tuanya makin merenggang. El yang tertekan secara psikis itu sering melampiaskan emosinya lewat berkelahi dan membuat ke-onaran di luar maupun di dalam kampus.


Akan tetapi, bahkan hal itu tidak cukup membuat kedua orang tuanya menaruh perhatian lebih. Apalagi, pihak kampus tentunya tidak cukup gila untuk berani mengusik anak sulung sekaligus pewaris dari keluarga Wangsatrya yang merupakan donatur utama bagi universitas.


Dosen dan rektor hanya bisa menutup mata atas segala perangai buruk yang EL lakukan.


**************************************


"Konyol!" EL tersenyum tipis, menatap sinis antrian panjang calon pembeli itu. Dia membayangkan kalau dia sedang melihat gerombolan sapi.


Tidak mau berlama-lama lagi ada disana, ia segera melenggang pergi menjauh dari kerumunan yang membuatnya sesak.


Setelah cukup jauh, dia kebetulan melintasi sebuah gang kecil dan tak sengaja bertemu beberapa teman seangkatan disana.


"EL! Mari sini gabung."


Kau mau rokok?" Ajak salah satu remaja yang sedang berkumpul disana, sambil menyodorkan kotak kecil berisi rokok.


Memanfaatkan masa senggang dari kosongnya mata kuliah di jurusan masing-masing, otomatis mereka terbebas dari penjara yang mereka sebut kampus.


"Tidak, terimakasih!" Jawab EL, lugas  menolak ajakan mengiurkan tersebut dan melanjutkan langkahnya sembari menenteng seplastik bubur ayam hangat, menu sarapannya pagi hari ini.


Ia berjalan santai menuju rumah dari salah seorang sahabat karibnya dan sudah beberapa hari ini dia menginap disana.


Sesampainya El di sebuah rumah yang cukup mewah bergaya klasik.


"EL?"


"Ini sudah genap lima hari sejak kamu tidak pulang kerumah. Tetapi bahkan orang tuamu tidak sedikit pun merasa khawatir!? Menelpon saja tidak!"


"Benar-benar keterlaluan! Mereka masih saja sama seperti dulu."


"Tanah di kuburan Arian saja masih belum kering, sepertinya mereka tak mempermasalahkan jika harus kehilangan satu anaknya lagi."


Ezra Mahardika, sahabatnya sedari sekolah dasar itu ikutan merasa jengkel atas sikap tidak bertanggung jawab kedua orang tua EL.


"Oh... Ayolah, jangan merusak suasana tuan pangeran kita yang satu ini. Apa gunanya orang tua? Bahkan ayahku saja lebih mencintai pekerjaanya dibandingkan istri dan anaknya."


Celetuk Raditya, pemuda yang juga ikut menginap di rumah Ezra semalam.


El hanya terkekeh, sambil mengunyah bubur ayam kesukaannya.


Ezra dan Raditya, mereka berdua memang sudah lama bersahabat dengan EL, bahkan sedari masih sekolah dasar.

__ADS_1


Tentunya, baik Ezra maupun Raditya sudah hapal betul tentang seluk beluk kehidupan EL yang kurang kasih sayang.


EL cenderung lebih suka menghabiskan waktunya diluar rumah bersama sahabatnya, ketimbang di rumahnya sendiri.


Meski begitu, EL terkadang rindu rumah dan sedikit meng-khayal soal kehangatan keluarga.


Tak terasa hari pun cepat berlalu...


***


"Yah... Ini dia, my sweet home!"


Malam ini EL akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya yang mewah bak istana, kediaman keluarga konglomerat kaya raya sekaligus pembisnis ulung yang menjadi panutan banyak orang diluar sana, Ardan Wangsatrya. walaupun, EL merasa muak dengan motivasi bisnis dan hidup yang di ucapkan oleh ayahnya itu ketika menontonya di salah satu siaran wawancara stasiun televisi.


Meski dalamnya rumah ini amat sangat luas bak sebuah kastil mewah, tetapi hanya ada kesunyian yang tercipta disana.


EL menaiki anak tangga yang membawanya ke lantai dua tempat kamarnya berada. dia masuk ke dalam dan berbaring diatas kasur ranjang empuk yang isinya bulu angsa.


Tatapnya kosong memandang langit-langit kamarnya yang transparan karena di sana dipasangi kaca yang langsung tembus ke pemandangan langit malam.


Setitik air mata jatuh begitu saja saat ia kembali mengingat semua kenangannya bersama Arian ketika adiknya itu masih hidup.


Ada beberapa hal yang ia sesalkan, yang salah satunya adalah terlambat menyadari gejala awal dari penyakit yang di derita Arian.


Kalau dirinya saat itu lebih memperhatikan Arian, maka mungkin saja penyakit adiknya ini bisa di deteksi dan di tangani lebih dini yang mana mungkin saja nyawa adiknya masih terselamatkan.


Tetapi, nasi sudah menjadi bubur, menyesal pun sudah tidak ada gunanya lagi. EL hanya bisa menangis menyesalinya sampai dia tertidur.


***


Pagi harinya...


EL baru bangun dan hidungnya sudah mencium aroma masakan yang familiar dan sangat ia gemari.


Buru-buru ia membasuh mukanya dengan air untuk kemudian berjalan menuju meja makan yang di atasnya sudah tersaji bermacam-macam menu makanan.


Rumah sebesar istana itu makin tampak suram, suara sekecil apapun bakal menggema ke setiap sudut-sudut ruangan.


Hari ini, kedua orang tuanya lagi-lagi tidak pulang. El bahkan mulai terbiasa dengan semua kehampaan ini.


Hanya ada satu orang pembantu rumah tangga bernama Darsih saja.


Wanita paruh baya yang sudah bekerja untuk keluarga Wangsatrya dari dirinya masih muda.


Dialah sosok yang selalu setia menemani dan mengurusi Ariel dan Arian sejak keduanya masih kecil.


"Loh... Den Ariel?"


"Aden dari mana saja? Sudah berhari-hari tidak pulang?"


"Tetapi syukurlah, sekarang aden sudah pulang. Beberapa hari ini bibik sangat khawatir dengan keadaan aden."


"Ayo kemari, cepat duduk disana. Bibik sudah siapkan makanan kesukaan den Ariel."


"Ayo den, dimakan. Nanti keburu dingin."


"Terima-kasih bik darsih."


"Apa pak tua dan nenek lampir itu tidak pulang lagi bik?"


Menuangkan susu kedalam gelas sambil menyantap roti selai cokelat, meski sangat membencinya El masih bertanya kabar  orang tuanya.


"Hush... Tidak baik memangil orang tua dengan sebutan seperti itu den."


"Aden tau sendiri 'kan? Bagaimana kesibukan tuan dan nyonya besar."


"Tuan besar saat ini berada diluar kota. Kalau nyonya menginap dikantor lagi, membahas produk baru katanya."


"Den Ariel tetap harus menghormati mereka berdua sebagai mana mustinya. Bibik yakin, kalau sebenarnya mereka juga sangat sayang kepada aden."


Jawab bik darsih lembut, penuh perhatian sembari meletakan piring dari porslen yang berisi beberapa macam potongan buah-buahan segar untuk Ariel yang sangat dia sayangi sama seperti anak kandungnya sendiri.


Selagi lahap-lahapnya menyantap opor ayam favoritnya, Bik darsih memberanikan diri menyampaikan sesuatu.


"Den Ariel, kemarin sewaktu aden tidak pulang."


"Bibik menerima sebuah kiriman paket."


"Bibik tidak berani bertanya darimana dan apa isinya."


"Kurirnya kemarin hanya mengatakan kalau paket itu ditujukan untuk...."


"Emm, me-mendiang den Arian."


"Ja-jadi, bibik letakan saja paket itu ke dalam kamar den Arian."


EL berhenti memakan makanannya, dia hanya diam dan membatin.


'Emm... lebih cepat dari perkiraanku. Harta karun milik Arian.'


***


Arian Van Wangsatrya, adik Ariel ini adalah salah satu dari ke-200 orang beruntung yang terpilih mencoba uji beta tester game clan online.


Dari sekian banyak partisipan yang ada, tidak ada satupun dari mereka yang sanggup mematahkan rekor luar biasa yang Arian cetak.


Setelah resmi rilis, Minerva selaku pihak pengembang dan juga D.G.C sepakat, meng-hadiahkan secara cuma-cuma satu set lengkap mesin Drifters beserta Data-Chips kepada masing-masing peserta sebagai bentuk ucapan terima-kasih dan penghargaan atas partisipasi para peserta.


Paket itu berisi akun lama masing-masing dan khusus untuk Arian, blessingnya memang sengaja tidak di reset.


Selesai mengisi perut, EL tadinya hendak langsung menuju ke kamarnya. Tetapi dia mengurungkan niatnya itu karena penasaran dengan paket yang bik Daraih ceritakan tadi.


Dia bebalik melangkah menuju kamar milik Arian.


Di dalam kamar Arian, El duduk termenung memandangi sebuah paket besar di depannya yang kemudian ia buka dan keluarkan isinya.


Dari dalam kardus berukuran besar itu, ia mengeluarkan seperangkat alat mirip helmet berwarna putih dengan list berwarna perak mengkilap yang membentuk sebuah kalimat 'Drifters,' dibagian kiri dan kanan.


Kemudian, ada juga kartu berbentuk mirip memori yang disebut 'Data-chips.'

__ADS_1


Namun, dari kesemua barang yang ada, yang paling menarik perhatian bagi EL adalah sebuah buku yang sampulnya berwarna cokelat.


Ia mengambil buku itu, membuka halaman demi halaman yang tiap halamannya membuat hatinya bergetar, buku lusuh ini ternyata adalah sebuah jurnal buatan Arian.


Jurnal itu berisi catatan yang mengandung segala macam informasi detil seputar dunia game Clan-online yang berhasil ia rangkum selama berpetualang, mulai dari panduan bagaimana menemukan dungeon tersembunyi, sampai ke tutorial membangun strategi perang yang meta dan tak-tik tempur yang efektif.


Semua point-point penting itu Arian jabarkan dengan sangat teliti dengan penjelasan simpel yang mudah di pahami, maka tidak berlebihan jika menyebut buku ini adalah karya seorang maniac game sejati sekaligus warisannya yang terakhir.


Ada juga beberapa bait catatan di halaman belakang yang ia tulis dengan tinta merah.


Dari rangkayan kalimat yang sederhana itu, El bisa merasakan bagaimana kesedihan, rasa sakit, dan kesepian yang adiknya rasakan selama ini.


Sebuah pesan sekaligus isi hati adiknya yang tidak pernah terungkap.


Arian adalah sosok yang tidak pernah mengucapkan kata selamat tinggal kepada Ariel, bahkan sampai saat dimana kematian menjemputnya.


*** 


Beberapa hari telah berlalu semenjak Ariel menghabiskan waktunya untuk membaca dan memuat segala info yang dia butuhkan dari dalam buku cacatan itu.


Bahkan sekarang, dia benar-benar hapal semua isi tiap halaman di luar kepala.


Dirasa cukup dengan segala persiapannya, Ariel bergegas memasang chips game ke slot Drifters yang kini sudah ia kenakan di kepala sambil memberbaringkan dirinya, mencoba santai di atas kasur dalam kamarnya.


Drifters sendiri berbentuk mirip helmet tanpa kabel yang ditenagai teknologi baterai L.I.N.S atau (Liquid ionaizer Nano System) dengan sokongan kapasitas cadangan daya yang cukup, bahkan untuk satu tahun kedepan sekalipun tanpa melalui proses pengecasan.


Lalu, tersemat pula teknologi pendingin mutahir LICOS (Liquid Cooling Oxygen System) yang bertanggung jawab mengatur suhu panas mesin agar tidak sampai naik ke tingkat panas ekstrim yang dapat memanggang otak penggunanya hidup-hidup.


Data-Chips yang berisi data digital game clan online itu, di pasang ke slot bagian sebelah kiri Drifters.


Sedangkan di bagian depan Drifters, terdapat semacam kaca simetris berwarna biru gelap yang di bagian atasnya tersemat masing-masing tiga buah lampu kedip L.E.D kecil berwarna hijau, biru, dan merah yang menandakan bahwa system server N.O.V.A berfungsi secara normal.


"Start-up!"


EL menyerukan sebuah mantra iconic bagi setiap player yang ingin memulai memasuki dunia clan online.


Sebenarnya itu bukanlah apa-apa, melainkan hanya sistem pengenalan suara atau Voice recognations saja.


"Selamat datang di altar pahlawan, wahai player."


Suara merdu dari Artificial-intelegence, salah satu kecerdasan buatan dalam game yang sedang menyapa ramah.


Saat ini El tengah berada di ruang lobby game atau disni disebutnya altar pahlawan yang semuanya serba putih. Kecuali panel-panel hologram yang muncul dihapannya.


"Pilih Bahasa Anda." El memilih bahasa indonesia sesuai dengan server negaranya.


"Apakah Anda sudah pernah log-in sebelumnya wahai kesatria?"


Ariel, dia ditanyai oleh A.i seputar ID, password akun, dan lain sebagainya yang semua pertanyaan itu ia jawab dengan lancar, semua informasi yang dibutuhkan untuk meng-akses avatar milik Arian ini, semuanya sudah tertulis jelas dalam buku catatan adiknya itu.


"Apakah Anda ingin mengganti penampilan dari Avatar, wahai kesatria?"


ㅡPeringatan : Semua pencapaian Anda sebelumnya akan di ekstrak ke Avatar baru. Kemungkiman terkena pinalti meningkat 30%


A.i menawarkan pilihan apakah Ariel tetap ingin menggunakan Avatar sebelumnya, atau ingin mencoba menggunakan sistem Scanning.


Proses pembuatan Avatar di clan online terbagi menjadi dua bagian.


Opsi pertama, player bisa menggunakan sistem bawaan atau default dari data game yang sudah ada. Atau, ingin menggunakan fitur Scanning System yang membuat avatar berdasarkan data diri dan anatomi tubuh asli.


El tidak langsung memutuskan, melainkan ia memandangi sejenak keseluruhan rupa Avatar dihadapnnya.


Seorang kesatria pedang yang mengenakan setelan baju dan jubah berwarna dominan putih dengan sedikit aksen emas disana-sini, berdiri gagah dan tersenyum hangat dihadapannya.


Wajah yang sama dengan Arian, sebab data yang di aplikasikan ke avatar tersebut memang miliknya, ini adalah peninggalan terakhir adiknya.


El menyentuh avatar yang berupa hologram itu seolah-olah ia sedang membelai lembut rambut adiknya, sebelum akhirnya ia mantap memutuskan.


"Jika kesatria putih ternyata gagal dan tidak bahagia... Maka, biarkan lah kesatria hitam yang akan menggantikannya."


"Anda telah setuju menggunakan Scanning system."


Ucap A.i yang segera memproses dan mencocokan semua data-data pribadi milik Ariel.


"Tampilkan rupa Avatarku menjadi warna hitam."


"Dan... Satu lagi, bisakah kamu mengganti nick-namenya menjadi namaku, Ariel?"


Semua data yang di butuhkan sepenuhnya telah selesai di ekstrak oleh Ai.


Sekarang, berdiri tegap seorang kesatria berwajah baru wajah Ariel sendiri.


Penampilan Avatar ini sepenuhnya di dominasi oleh warna hitam se kelam langit malam dan Ariel menyukainya.


"Pencapaian sebelumnya telah selesai dipindahkan kedalam Avatar Anda yang baru."


ㅡPeringatan : Anda terkena Pinati 50% dari pencapaian Avatar Anda yang sebelumnya, kini telah selesai di sesuaikan.


Nerf kah....


EL membatin, tetapi dia sepenuhnya memaklumi itu semua. Malahan akan terasa aneh dan tidak adil jika pihak pengembang tidak melakukan Nerf besar-besaran kepada tiap player beta-tester.


"Avatar Anda telah selesai dibuat."


"Pilih di wilayah kerajaan mana Anda akan Re-spawn."


A.i menunjukan gambar dan sedikit video dari masing-masing kerajaan sembari menjelaskan beberapa infomasi singkat untuk El.


"Kerajaan Easter!"


Belum selesai sistem A.i itu menjelaskan seputar tujuh kerajaan yang ada, El sudah menjatuhkan pilihannya terlebih dahulu ke Easter kingdom. Karena sejatinya, El sudah mengetahui semua informasi berkat arahan Arian lewat buku catatannya.


"Dimengerti."


"Memasuki Clan-online dalam 3 detik .....


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2