Clan Online

Clan Online
Kota Penuh Misteri


__ADS_3

21 April 2070


Jam 17.00 sore


4 jam - 59 menit - 3 detik


Sebelum Fenomena tidak bisa Log-out.


***********************************************


"Clan Online! Jeng - jeng - jeng."


"Wujudkan imajinasi Anda di dunia Virtual!" Begitulah siaran iklan di layar televisi plasma berukuran besar menghiasi setiap sudut gedung.


Meja No. 5 kedai ber-merk sebuah cafe, salah satu tempat nongkrong terkenal kaula muda sejak tahun 2020.


Tiga remaja geng bandel anak SMA Pertiwi, sedang berkumpul sambil ngopi sekaligus asik menikmati jaringan-wifi gratisan.


"Hoam! Lagi-lagi clan online, aku muak!" Eiden menguap malas mendengar iklan game yang akhir-akhir ini jadi Trending topik diseluruh dunia.


"Ya elah ... wajar kali Nyet! Teknologi VR pertama 'tuh!" Cowok badung bernama Rojali a.k.a Jack menanggapi santai keluhan Eiden.


"Eh, lu juga main 'kan Ed?" Reza salah satu dari Trio geng perusuh di sekolah ikut angkat bicara.


"iya." Simpel jawab Eiden, sembari membakar sebatang ro*ok dan dia hisap dalam-dalam.


"Ign lu apa? Nanti aku Invite pertemanan." Rojali bertanya pada Eiden sambil menyeruput segelas es Cappucino.


Note: IGN(in game name) identitas seorang gamers.


"Woy, minuman gue! Asal nyedot aja 'tuh mulut." Reza ambil cup es capucino dari tangan Rojali.


"Najis Mugholadoh 'nih!" Reza mengelap ujung sedotan bekas mulut Rojali, lalu meletakan kembali sedotan kedalam gelas es Cappucino yang sempat diseruput oleh Rojali barusan.


*Mugholadoh : najis berat / cari di mbah google.


"Si**an kau Reza!" Rojali mengumpat, Trio bandel ini sudah berteman akrab sejak masih mengenyam pendidikan dasar. Sudah banyak sekali melewati momen seru yang mereka lalui bahkan saking kompak ketiganya, mereka pun menyandang status jomblo bersama-sama. Saling mengejek dan gonta-ganti nama itu hal biasa bagi mereka.


Rojali dan Reza sibuk membahas seputar game clan-online, Rojali bercerita soal akun game bernama Jack miliknya Class Hunters dan ras manusia sekarang telah mencapai level 7.


Seakan tak mau kalah Reza juga menyombongkan akun miliknya ber level.12 ras manusia memakai Class Hunters IGN Psywar Zeys, dia turut menambahkan kalau dirinya merupakan salah satu anggota inti Scavenger. Clan pringkat 2 teratas di Classment LeaderClan'sBoard saat ini.


Mendengar penuturan Reza Eiden dan Rojali cukup kaget. Sebab untuk sekelas User awam, pencapaian Reza terbilang sangat tinggi hanya dalam waktu satu minggu dia bisa mencapai Title Petualang Silver meskipun dia bukan salah satu dari peserta uji Beta tester, Eiden menilai si Reza memiliki bakat alami seorang gamer.


"Se-serius ***!? Kau bisa jadi Top global User 'nih." Rojali berfikir si Reza punya potensi menjanjikan untuk berlaga di dunia Esport.


Menjadi seorang User handal tentu saja sangat menggiurkan selain meraih popularitas, pundi-pundi uang sudah dipastikan mengucur deras masuk ke tabungan kita. terlebih lagi Minerva selaku Developer game, turut menyediakan item Battle-point melimpah dari setiap menyelesaikan misi yang bisa User kumpulkan untuk ditukar dalam bentuk nominal uang asli. Tak ayal Game Clan Online banyak menyita perhatian para penggiat dunia Esport.


"Siapa dulu ... Reza gitu loh." Tersenyum puas, merasa sedikit jumawa sehabis mendapat pujian.


"Respawn Afiliasi mana?" Rojali masih penasaran, lanjut bertanya lebih jauh lagi pada Reza.


"Kerajaan Tranduill ... Easter bikin males! Ada Kaiden si Cheaters!" Reza memperlihatkan reaksi kebencian, Eiden mengurungkan niat memberitahu nama akun miliknya. Bagaimana tidak, User yang dikira Cheaters oleh kebanyakan orang tak lain adalah dia sendiri, Eiden tak ingin terjadi pertengkaran sepele karna sebuah game.


Rojali dan Reza kembali hanyut membahas Clan Online, saling berbagi saran soal lebih penting menaikan Level Defend, atau Attack dari Avatar. Tak jarang mereka justru berdebat tentang posisi Class yang dibutuhkan dalam anggota Party guna menjamin tingkat keberhasilan misi.


Eiden menggelengkan kepala melihat kelakuan dua sahabat penggila Video Game. Tak ambil pusing Eiden larut dalam lamunan tentang sosok mendiang Theo adik laki-laki sangat dia sayangi, sampai Reza menyadarkan Eiden dari renungan pahit.


"Oyy Ed! Sedang memikirkan masalah apa?" Saking sengit berdebat dengan Rojali, Sampai membuat Reza lupa kalau Eiden bersama mereka.


"Ah, Kalian sudah selesai?" Eiden berusaha mengalihkan topik obrolan, sambil sedikit menyinggung sikap konyol Reza dan Rojali.

__ADS_1


Reza dan Rojali merasa tidak enak hati, si Reza bertanya alasan Eiden memilih Kedai tua ber Merk Sebuah Cafe sebagai tempat kumpul malam ini guna mengusir perasaan canggung.


"Rekomendasi dari Nenek gue." Pungkas Eiden, sekaligus mengabarkan kalau tadi pagi neneknya dari desa datang berkunjung.


Sebagian industri, Restoran, Toko, maupun Plaza mengaplikasikan teknologi masa depan, Kedai Sebuah Cafe hadir dengan tetap mempertahankan nuansa ciri khas arsitektur tahun 2020.


"Kalian pernah mendengar kisah kedai ini?" Nada horor keluar dari mulut Reza, menggugah rasa penasaran Eiden dan Rojali.


Reza mulai bercerita soal kota tempat mereka tinggal menyimpan sejuta misteri, sekitar Tahun 2020 pernah mengalami kehancuran total dan sampai sekarang pun beritanya masih simpang siur pasal apa penyebab pasti bencana tersebut. Reza menambah fakta mengejutkan kalau kedai Sebuah Cafe adalah satu-satunya bangunan yang selamat. Kisah ini diceritakan turun-temurun oleh generasi lama anggota keluarga Reza.


Reza selesai menceritakan sejarah 50 tahun lalu, Mulut Eiden dan Rojali sejak tadi terbuka seolah-olah tak percaya akan apa yang barusan mereka dengar perlahan-lahan menutup. Menyisakan tanda tanya besar dibenak sampai bunyi pesan masuk lewat ponsel Eiden memecah keheningan, dia membaca isi pesan singkat dari sang nenek yang memintanya untuk segera pulang.


************************************************


Jam 20.00 malam.


01 jam : 59 menit : 10 detik


Sebelum fenomena tak bisa Log-out.


Eiden dan kawan-kawan sempat berbincang-bincang sejenak di depan teras Kedai Sebuah Cafe.


"Nanti main Clan-online bareng-bareng 'yuk!" Ajak Rojali sebelum melangkah pulang ke rumah.


"Siap ... Entar gue invited party 'deh!" Reza menyanggupi permintaan dari Rojali, sambil kembali bertanya pada Eiden.


"IGN lu apa? Ah, sudahlah! lain kali saja!" Reza melambaikan tangan dan segera meninggalkan Eiden.


Eiden berjalan sambil menenteng kantung plastik, berisi 1 Cup minuman cokelat panas serta 2 bungkus Teh herbal kering, buah tangan yang dia beli dari kedai Sebuah Cafe.


Sepanjang jalan, pikiran Eiden terus dihantui oleh rasa penasaran. Terutama soal cerita Reza beberapa saat lalu, kurang-lebih Eiden percaya sebab seingatnya sang nenek pun pernah menyinggung tentang sejarah kota.


"Menarik juga!" Eiden mempercepat langkah kaki, karna dia ingin segera bertanya pada sang nenek.


"Ahh, kau sudah pulang bobocu?" Eiden mengkerutkan dahi, nama bobocu adalah kebiasaan sang nenek memangil si Eiden ketika masih kecil.


"Nenek belum tidur?" Eiden bertanya sambil memeluk sang nenek tersayang.


"Nenek belum mengantuk." Mengusap-usap lembut rambut si cucu meskipun Eiden sudah meranjak remaja, dia masih mengangap Eiden seperti anak kecil yang dulu gemar bermain depan halaman rumah si nenek sewaktu Eiden dan Theo tinggal di desa bersamanya.


"Ohh iya ... aku membeli ini untuk Nenek." Eiden tersenyum, sembari menyodorkan 1 kantung plastik.


"Wahh, terimakasih cucuku." Si nenek begitu senang menerima pemberian Eiden.


"Bagaimana? Tidak terlalu buruk 'kan?" Nenek menunggu tanggapan Eiden tentang kedai Sebuah Cafe.


"Emm, sedikit kuno tapi benar kata nenek, sebuah cafe memang nyaman." Eiden menjawab sopan, lalu mencium pipi keriput si nenek.


Eiden dan mendiang Theo pernah tinggal bersama Nenek hampir setahun ketika kedua orang tua tugas ke luar kota, Eiden begitu sangat sayang pada sang nenek bahkan melebihi kasih Eiden pada ayah dan ibunya sendiri. Meski berusia sepuh sekitar 73 tahun, kondisi nenek Eiden masih lumayan gagah. Semua berkat kebiasaan hidup sehat serta rutin mengkonsumsi ramuan-ramuan herbal.


Kakek Eiden sudah lama wafat tinggalah si nenek di desa seorang diri, Ardhan Wangsatrya Ayah Eiden sekaligus putra kandung si nenek telah berulang kali mengajak untuk pindah kerumah mereka, tapi niat baik Ardhan selalu ditolak mentah-mentah.


Pagi tadi si nenek datang ke kota untuk melepas rindu pada sang cucu kesayangan, nama Eiden pun pemberian dari sang nenek.


Ikatan batin antar Eiden dan nenek sangat dalam bahkan sampai bisa menebak isi hati dan jalan pikiran si cucu


"Kau terlihat Murung, ada apa bobocu?" Hanya sekali lihat, dia paham jika sang cucu sedang memikirkan sesuatu.


Mulanya sedikit ragu, namun dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa keingintahuan yang terus saja mengelayut di benak. Eiden coba memberanikan diri untuk bertanya tentang sejarah kota dan apa penyebab bencana besar tersebut bisa terjadi, mengingat 50 tahun yang lalu adalah masa muda si neneknya.


Sang nenek tidak serta-merta menjawab, raut wajah tua yang tadinya begitu tenang kini berubah penuh kesedihan.

__ADS_1


"Nenek mengantuk!" Tubuh renta itu berjalan menuju pintu kamar sambil membawa bungkus kantung kresek.


"Tidur nyenyak nek." Eiden memperhatikan sebentar, dia heran mengapa sang nenek bersikap aneh berbeda dari biasanya.


"Nenek kenapa? Sudahlah ... aku lanjutin main Clan Online saja." Sehabis makan-makan di kedai sebuah cafe beberapa jam lalu, Eiden lekas menyatroni markas besar disebut kamar, sudah tak sabar ingin segera berpetualang ria di dunia Aingaard.


***


"Kriet!!!" Suara bilik jendela terbuka semilir angin malam berhembus menerpa rambut ubanan sang nenek, cahaya rembulan menerangi sudut-sudut kamar.


Dia menarik keluar sesuatu dari dalam tas, sebuah buku catatan lusuh ukuran sedang bersampul merah muda khas Tahun 2020 bertulis Diary Laras.


Lembar demi lembar dia buka dan baca. Mengingat semua kenangan masa muda, tak terasa air mata jatuh membasahi salah satu lembaran buku dengan secarik poto seorang pria tertempel apik disitu.


Beberapa bait puisi, terukir dari tinta merah.


Satu-satunya hal yang aku janjikan padamu


Setiap waktu, aku mendoa'kan mu ...


Kita melakukan yang terbaik setiap hari


Tapi ... inilah akhirnya.


Kemarin, saat kau tersenyum padaku


Kita memimpikan kedamaian kecil ...


Aku tidak ingin keajaiban


Tapi terlambat ... semua hilang.


Ku mohon padamu sayang


Bahu untuk menangis


aku sendirian ...


Beri aku satu kata..


Dimana bintang yang bersinar untuk aku dan kamu ... Bulan bersembunyi dibalik awan..


Aku bukan salah satunya ... aku bukan pahlawan


Tolong lihat aku ... tolong jangan pergi


Kegelapan itu..bukan tempat mu


Jangan tinggalkan aku sekarang


Tapi, semua berakhir ...


From : Laras (Si Hunters pembuat masalah)


To: Eiden Al azae ( Pria paling aku cintai)


"Sudah lama 'yaa? Eid ... Eiden." Nenek ini bernama Annisa dyah Larasati, tak kuasa membendung isak tangis kepedihan ketika mengenang sang kekasih masa lalu sangat dia sayang bernama Eiden. Menghembuskan napas terakhir tepat dipangkuan, sungguh masa-muda pahit harus dilewati oleh si nenek Cinta mereka harus kandas terpisahkan oleh sang ajal.


Meski dia menikahi pria lain, tak sekalipun Laras melupakan sosok Eiden, dan inilah alasan utama Laras tidak mau tinggal di kota yang menyimpan seluruh kenangan manis juga pahit perjalanan hidupnya hingga ke masa tua.


Insiden kehancuran kota setengah abad lalu, disebabkan oleh pertempuran Laras dibantu teman-teman sesama anggota Hunters melawan Eiden dan Ezra yang dikuasai kekuatan jahat mengamuk, di akhir peperangan Eiden korbankan nyawa demi melindungi Laras serta seluruh penduduk kota.

__ADS_1


Laras memberi nama Eiden pada cucunya, agar kelak tumbuh menjadi pria bertanggung jawab dan berani, sama seperti Pemilik asli nama tersebut.


************************************************


__ADS_2