
Pagi ini adalah pagi yang sangat merepotkan dan juga bising bagi seorang siswi yang bernamakan Lee Heera. Bagaimana tidak saat dia hendak menuju ke ruang kelasnya, tiba tiba ada segerumbulan siswi yang menghalanginnya, lebih tepatnya adalah sebuah genk yang berisikan anak anak perempuan tersebut.
Lalu mereka menyeret dan membawa Heera ke dalam toilet wanita dengan kasar dan menghajarnya habis habisan sambil melontarkan kalimat kalimat kasar kepada Heera.
"Dasar baj*ngan!"
"Kurang ajar!"
"Beraninya kau!"
Mungkin itu yang Heera dengar dari mulut pedas mereka, tapi Heera hanya diam saja sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan saat ini. Bukannya lemah, Heera hanya menunggu waktu yang tepat untuk membalas perbuatan mereka yang telah dengan beraninya menyentuh kulit putih nan lembutnya.
Setelah puas menghajari Heera sang ketua genk berjalan mendekat lalu berkata, "Ini akibatnya kalau kau berani mendekati kak Junghyun! Ingat jangan pernah kau mendekati kak Junghyun lagi, kalau kau berani mendekati nya lagi, jangan harap kalau kita tetap diam saja!" ucap sang ketua genk yang akrap di panggil dengan nama Yujin.
Heera hanya diam mendengarnya sambil mengusap darah yang keluar dari mulut dan hidungnya, tapi Heera terlihat sangat santai meskipun darah terus saja keluar, dan Heera juga terlihat menunjukkan smirknya yang menyeramkan tanpa sepengetahuan mereka.
"Dan kau juga jangan berani berani untuk mendekati anak baru nantinya. Jika kau berani untuk mendekatinya maka kau akan berakhir hari ini juga!!!" lanjut Yejin sang ketua genk tersebut, dan ucapannya barusan telah membuat kening Heera berkerut, bingung dengan apa yang diucapkan oleh Yejin barusan.
Heera memmbasuh mukanya menggunakan air, saat ini dia masih berada di dalam toilet. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan oleh Yejin tadi. Apa hari ini akan ada murid baru?? Jikapun ada pasti Hami akan memberitahu dirinya, meskipun dia sangat tidak tertarik dengan yang namanya murid baru.
Heera melihat jam tangan yang melingkar di tangannya, ternyata sudah jam 06.19. Dia beralih melihat ke arah kaca yang berada di hadapannya dan yang ia lihat adalah penampilannya yang sangat kacau.
Heera segera merapikan pakaian dan juga rambutnya, kemudian dia berjalan ke kelas dengan penampilan seadanya, dia tidak peduli bahwa dirinya terlihat buruk di hadapan murid murid yang lain, Heera juga tidak lupa memasang ekspresi dinginnya saat menuju ke ruang kelasnya dan itu membuat semua siswa menjauhi dirinya karena ketakutan dengan sikap Heera yang terlihat sangat dingin dan kasar kepada siapapun.
Saat Heera tengah menuju ke kelas suasana sekolah sudah sangat ramai, dan mungkin hari ini dia sangatlah tidak beruntung karena dia bertemu dengan seseorang yang membuat mood nya hancur.
Orang tersebut adalah kakak tingkatnya, dia berpapasan dengan kakak tingkatnya yang paling di kagumi dan dicintai oleh semua siswa di sekolah nya, itupun berlaku kepada guru guru yang ada di sekolah tersebut, karena selain tampan dia juga sangatlah pintar dan baik hati jadi tidak ada satupun murid yang tidak luluh ketika bertemu dengannya kecuali untuk Heera, semua ketampanan dan kecerdasan yang dimiliki lelaki tersebut tidak ada apa apanya bagi Heera selain 'sampah' itu saja.
"Hai Heera" sapa murid yang biasanya di panggil Junghyun tersebut. Heera mengacuhkannya dan terus berjalan hingga melewati kakak tingkatnya tersebut.
Junghyun tidak merasa aneh dengan sifat Heera, dia tahu bahwa Heera sangatlah cuek dan dia juga orang yang sangat penutup, tidak ingin berteman dengan siapapun dan tidak sembarang orang dapat mnyentuh dirinya, karena menurut mereka Heera adalah tipikal orang yang sangat sensitif dengan apapun yang ada di sekitarnya dan dia juga paling benci jika ada sesuatu yang menyentuh kulitnya.
dia memutar tubuh nya ke belakang dan mengejar Heera yang semakin menjauh. Junghyun mengejar Heera, dia memanggil namanya berulang kali tapi tidak di respon oleh Heera, kemudian saat jarak antaranya sudah dekat, dia memegang pergelangan tangan Heera agar Heera berhenti.
"Apa?" tanya Heera sinis sambil menghempaskan tangan Junghyun dari pergelangan tangannya dan masih dengan menunjukkan tampang dinginnya kepada kakak tingkatnya tersebut.
"Kenapa saat aku memanggilmu, kau sama sekali tidak merespon?" tanya Junghyun ke Heera yang hanya menatapnya dingin tanpa ekspresi.
"Ada apa? Apa ada masalah? Bukankah aku sering melakukannya ke orang lain dan juga ke dirimu? " tanya Heera dan saat itu pula bel mulai berbunyi.
Junghyun pasrah dengan sikap Heera, karena gadis itu sangatlah susah untuk hanya sekedar mengajaknya berbicara.
Pelajaran telah dimulai dari tadi dan beruntungnya Heera, saat dia telah sampai di kelasnya dia tidak mendapati guru mata pelajarannya.
Dengan segera Heera menuju ke bangkunya, dia melihat ada salah satu kaki siswa yang sengaja di keluar dari meja, mungkin dia ingin mengerjai Heera agar Heera terjatuh dan di tertawai oleh banyak anak, tapi itu sangatlah mustahil karena Heera adalah orang yang sangat teliti dengan apapun bahkan benda sekecil apa pun itu.
Heera melewati kaki temannya dengan mudah sambil tersenyum meremehkan, kemudian dia duduk ke bangkunya yang kosong karena memang di bangkunya hanya ada dia dan satunya tidak ada yang menempati. Bertepatan dengan itu, guru mereka pun telah datang, tapi anehnya dia membawa, seorang?
"Baiklah anak anak, hari ini kalian kedatangan murid baru. Silahkan perkenalkan namamu!" pinta Bu Jung, guru kami.
"Perkenalkan namaku Kim Mingyu, salam kenal" ucap murid yang bernamakan Mingyu tersebut. Heera melirik Mingyu sekilas dan kembali untuk melihat langit langit diluar melalui jendela yang berada tepat di sebelahnya.
"Mingyu kau bisa duduk di sebelah gadis itu" Bu Jung menunjuk ke arah bangku yang berada tepat di sebelah Heera dan tentu saja Heera mengetahuinya karena dia sangatlah pintar dalam menebak sesuatu meskipun sedari tadi Heera terus saja melihat keluar jendela dan tidak fokus dengan apa yang di katakan oleh gurunya dan juga oleh Mingyu.
Mingyu hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju ke bangkunya berada. Di setiap langkahnya sudah banyak sekali murid murid perempuan yang melihatinya terkagum kagum karena ketampanan yang dimilikinya.
Bukan Mingyu namanya jika tidak mengabaikan hal tersebut, karena sedari tadi dia terus saja melihat ke arah seorang gadis yang melihat ke luar jendela sejak awal ia datang, bahkan dia sempat terheran dan berfikir memangnya ada apa di luar jendela tersebut.
Memang benar sejak awal Mingyu memasuki kelas dia melihat seisi kelas tersebut dan pandangannya berhenti ke arah seorang gadis yang melihat ke luar jendela, dan saat ia berkenalan pun gadis itu tetap tidak memalingkan pandangannya dan tetap melihat ke arah luar jendela tersebut.
"Hai, namaku Kim Mingyu" sapa Mingyu sopan dan gadis itu hanya melirik sekilas dan kembali untuk melihat langit, "Lee Heera" ucap Heera datar tanpa menghadap ke arah Mingyu.
Mingyu yang penasaran dengan apa yang di lihat oleh Heera sehingga dia tidak ingin memalingkan pandangnya kemudian memutuskan untuk melihat ke arah pandangan mata Heera saat ini, dan yang ia dapat hanyalah langit yang cerah dan awan awan putih saja tidak ada yang lain selain itu.
"Apa kau Sedari tadi hanya melihati langit?" tanya Mingyu memastikan, sedangkan Heera hanya melirik ke arah Mingyu sekilas tanpa berniat untuk berkata sepata katapun, lalu Heera kembali untuk melihat langit.
Pelajaran telah dimulai beberapa saat yang lalu, dan Heera pun kembali fokus ke pelajaran begitu juga Mingyu.
Tapi belum lama pelajaran dimulai ada panggilan untuk guru guru bahwa akan di adakan rapat dadakan saat ini dan tentunya para guru termasuk guru Heera pun mengakhiri pelajaran nya dan pergi ke ruang rapat setelah salam kepada para murid.
__ADS_1
Tidak lama kemudian kelas menjadi bising, para murid perempuan di kelas Heera datang menuju ke bangkunya, lebih tepatnya ke bangku Mingyu untuk berkenalan dan berteman dekat dengan nya, dan tidak sekali murid tersebut mengajak Mingyu ke kantin tapi di tolak mentah mentah oleh Mingyu.
Karena suasana sangat bising, Heera pun memukul mejanya keras dan suasana seketika hening, kemudian Heera berjalan keluar kelas.
Karena penasaran Mingyu pun mengikuti kemana Heera pergi. Mungkin agak lancang karena Mingyu baru saja kenal dengan Heera, tapi melihat sikapnya yang berbeda dengan gadis lain itu membuatnya sangat penasaran dengan Heera.
Heera tahu bahwa ada seseorang yang mengikutinya tapi dia mengabaikan nya dan tetap berjalan hingga saat Heera sampai di depan pintu rooftop, Heera membuka pintu tersebut dan memasukinya begitu saja kemudian menutup kembali pintu tersebut.
Mingyu yang melihat Heera memasuki pintu rooftop pun juga ikut masuk, tapi sebelum itu ia mengintipnya terlebih dahulu dan herannya kenapa disana tidak ada Heera sama sekali, maka dari itu Mingyu memutuskan untuk memasukinya.
Saat Mingyu baru menjejak kan kakinya di rooftop, tiba tiba ada sebuah benda yang menempel di lehernya, tepat di nadi nya hingga membuat Mingyu dengan susah payah menelan salivanya karena ketakutan. Mingyu terkejut bukan main, karena benda yang menempel di lehernya adalah sebuah pistol.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya seseorang dibelakang Mingyu.
"A-aku...aku hanya ingin berteman dengan mu" jawab Mingyu jujur.
Heera segera menjauh kan pistolnya dari leher mulus Mingyu dan pergi meninggalkan Mingyu yang masih diam ketakutan.
Tapi sebelum benar benar pergi Heera sempat berkata, "Jangan bilang kesiapapun jika ingin nyawamu selamat" kemudian dia benar benar pergi dari hadapan Mingyu.
Heera duduk di pinggir rooftop tersebut dan membiarkan kakinya menggantung disitu. Heera tahu bahwa Mingyu adalah orang baik, itu jelas terlihat dikala dia berkenalan dengan Heera dan kala ia sedang berkontak mata dengan nya meskipun hanya sesaat, tapi hal itu malah membuat Heera muak. Karena menurutnya semua orang itu sama saja, sama sama KEJAM.
Mingyu barjalan mendekati Heera, dia tahu bahwa Heera tidak bermaksud untuk melukainya, mungkin dia melakukan hal itu supaya tidak ada yang berani macam macam dengannya.
Belum lama ia melangkah, ada sebuah suara yang kembali menghentikan langkahnya.
"Kenapa kau masih disini?" itulah kata yang berhasil ditangkap oleh Mingyu, dan dia yakin bahwa yang mengatakan hal itu adalah Heera, karena tidak ada orang lain disitu selain dia dan Heera.
"A\-aku..." belum selesai Mingyu berucap tiba tiba pintu rooftop terbuka dengan keras hingga menghasilkan suara yang membuat Mingyu dan Heera terkejut hingga menoleh ke arah suara.
Di pintu terdapat Hami yang sedang mengatur nafasnya karena kelelahan, dan di belakangnya terdapat seseorang lagi tapi siapa?
"LEE HEERA!!!" teriak Hami hingga membuat Heera, Mingyu dan orang yang berada di dekat Hami terpaksa menutup telinganya karena suara Hami sangatlah keras.
Hami tidak mempedulikan orang lain yang berada di situ, karena yang ia pedulikan saat ini hanyalah Heera. Kenapa dia tidak bisa merubah dirinya padahal setahu Hami saat Heera masih kecil, dia adalah orang yang manja dan periang, tapi sekarang Heera sangat lah menyebalkan hingga membuat Hami pusing karena harus memarahinya terus menerus.
"Bukan urusanmu" ucap Heera santai sambil menunjukkan ekspresi datarnya.
"Dan jangan pernah membicarakan nya di depan umum jika kau tidak ingin bernasip sama seperti mereka!" lanjut Heera, lalu pergi begitu saja meninggalkan ke tiga orang tersebut, tapi Heera sempat menoleh ke arah orang yang berada di belakang Heera dan berhenti sejenak, "Dan kau juga jangan pernah ikut campur urusnku kak" ucapnya lalu benar benar pergi meniggalkan tempat tersebut.
"SIALAN!!!!!" teriak Hami lagi, sedangkan kakak tingkatnya berusaha menenangkan Hami supaya tidak terlalu terbawa emosi.
"Bagainapun juga itu semua adalah keputusan Heera, dan kita tidak bisa melarangnya" tutur kakak tingkat Hami dan Hami hanya pasrah dengan takdirnya sebagai 'SAHABAT' dari seorang gadis yang bernama Lee Heera tersebut.
.
.
Heera saat ini tengah berada di taman, bukan untuk menikmati indahnya taman tersebut tapi untuk memandang langit yang kebetulan sedang cerah.
Heera memejamkan matanya dan memikirkan tenang hal yang telah ia lakukan kemarin hingga dia tersenyum bahagia, dan mungkin kali ini dia akan melakukan hal yang sama lagi kepada temannya, ralat kepada orang yang sangat ia benci sejak dulu.
Ya, yang kemarin Heera lakukan adalah membunuh. Dia telah membunuh salah satu siswa di sekolahnya. Bukan, lebih tepatnya dia telah membunuh seseorang yang telah berani melukainya, meskipun itu hanya segores saja.
Mungkin pendapat kalian Heera adalah psikopat gila yang sangat suka membubuh seseorang yang berada di dekatnya, tapi kalian salah. Heera melakukan hal tersebut ketika dia di sakiti oleh orang orang saja.
Karena jika ada seseorang yang dengan lancangnya menyentuh tubuh Heera, itu membuat Heera menjadi sangat stres, dikarenakan saat hal itu terjadi, kenangan masa lalunya kembali berputar dan membuatnya menjadi hilang kendali hingga menyebabkan dirinya selalu di bawa ke psikiater oleh siapa lagi jika bukan sahabatnya Hami, dan bukan nya membaik hal tersebut malah membuat keadaan Heera menjadi kacau, dan dia terus saja merasa semakin dan semakin tertekan.
Dari pada diam dan tertekan setiap harinya, Heera lebih memilih untuk membunuh setiap orang yang berani melukainya, dan hal tersebut ia lakukan secara diam diam tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali sahabatnya, DAN kebiasaan itu sudah ia lakukan sejak dia berumur 10 tahun, beberapa bulan semenjak meninggalnya kedua orangtua tercintanya, dan hal itu pula yang membuat Heera berusaha untuk merubah sikapnya menjadi pendendam, dingin, ambisius, dan tidak peduli dengan semua orang, termasuk teman dekatnya sekalipun, tapi setidaknya dia merasa sedikit tenang dan sangat lega.
'Kriiing~'
Bel telah berbunyi, menandakan pelajaran selanjutnya akan dimulai. Heera mendengus kesal karena bel tersebut telah mengganggu waktu tenangnya.
Memang biasanya jika guru guru sedang rapat hanya akan menghabiskan waktu satu jam pelajaran, jadi Heera tidak punya waktu yang lama untuk menenangkan pikirannya, bisa saja Heera membolos dan pergi ketempat yang lebih tenang, tapi Heera bukanlah tipe yang seperti itu, dia sangat taat peraturan karena didikan orang tuanya saat ia masih kecil.
Disisi lain
Mingyu dan Junghyun sedang berbicara empat mata tanpa Hami, mereka saat ini masih berada di rooftop dan mereka sedang membicarakan tentang Heera.
__ADS_1
"Apa kau membenci Heera??" tanya Mingyu dan mendapat gelengan oleh Junghyun.
"Aku hanya ingin memanfaatkan nya saja untuk membalaskan dendam yang selama ini ku simpan, apa kau juga ingin ikut denganku Mingyu?" balas Junghyun sambil tersenyum licik.
Mingyu menghajar wajah tampan Junghyun yang sebenarnya adalah kakak sepupunya, dia sangat tidak terima bila ada temannya yang di manfaatkan oleh orang lain, apalagi orang itu adalah teman sebangkunya yaitu Heera. Kenapa dengan teganya dia memanfaat kan Heera yang sekarang adalah teman sekelas nya, meskipun mereka tidak dekat dan kehadiran Mingyu yang ingin menjadi teman Heera pun belum di terima olehnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu untuk mendekati Heera, aku pasti akan melindunginya dari kakak kelas yang brengsek seperti dirimu!" ucap Mingyu kasar, lalu pergi meninggalkan Junghyun nya yang masih tersungkur dilantai.
Bel telah berbunyi dari tadi, Mingyu dengan cepat berlari menuju kelasnya karena takut ketinggalan pelajaran dan juga takut bila dia sampai dihukum oleh gurunya karena telat masuk.
Saat Mingyu telah sampai di kelas, dia terlihat sangat lelah karena berlari dari rooftop menuju ke kelasnya, dan tentu saja itu adalah hal yang sangat melelahkan, tapi untungnya guru mereka belum hadir membuat Mingyu tidak dihukum karena ketinggalan pelajaran.
Setelah rasa lelahnya menghilang, Mingyu menoleh menghadap ke arah Heera yang saat ini tengah menatap langit yang cerah kemudian, dia kembali menghadap lurus ke depan.
Mingyu merasa kasihan kepada Heera, kenapa Junghyun tega memanfaatkan nya, memang Heera adalah tipe perempuan yang dingin dan cuek dan juga mengerikan menurutnya, bahkan dia juga membawa pistol saat bersekolah tanpa di ketahui siapapun. Tunggu apa pistol?
Mingyu kembali menoleh ke arah Heera, bukankah dia tadi membawa pistol? Sekarang dimana pistol itu? kemudian Mingyu juga teringat dengan ucapan Heera saat mereka berada di rooftop, dia berkat, 'jangan bilang ke siapapun jika ingin nyawamu selamat' itulah ucapan Heera yang masih ia pikirkan.
Mingyu bingung dengan kata kata itu, maksud Heera jangan bilang ke siapapun itu tentang apa? Apa tentang ia membawa pistol ke sekolah? Atau Heera hampir saja membunuhnya?
Karena bingung memikirkan ucapan Heera dan bertepatan dengan itu gurunya pun telah datang, Mingyu memutuskan untuk tidak memberitahukan semua hal yang ia pikirkan kepada semuanya, karena dia ingin nyawanya tetap selamat.
Kring...kring...kring
Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa sudah berhamburan keluar kelas begitu juga dengan Heera, dia sudah keluar sejak tadi entah apa yang membuatnya tergesah gesah ingin pulang.
Saat Mingyu berada di persimpangan jalan, dia melihat Heera dan di depannya ada dua orang anak perempuan dan Mingyu merasa tidak asing dengan perempuan tersebut.
Ya, dia adalah Yejin dan salah satu temannya yang tadi mengajak Mingyu untuk ke kantin dan mereka juga yang telah membuly Heera tadi pagi.
Mingyu melihat Heera mengeluarkan sebuah pistol yang selama ini ia sembunyikan di balik rok nya yang terbilang sangatlah pendek, tapi kalian tenang saja karena Heera memakai celana yang panjangnya sama dengan rok yang dia pakai.
Mingyu berhenti berjalan ketika melihat pistol tersebut. Apa Heera hendak membunuh kedua gadis yang sedang berjalan jauh di depannya? Tapi Kenapa? Apa mereka telah melakukan kesalahan kepada Heera?
Banyak pertanyaan yang berputar di kepala Mingyu saat ini, tapi dia tetap mengamati Heera dengan seksama. Dan pertanyaan itu seketika lenyap ketika dia melihat bahwa ternyata Heera berjalan ke arah yang berlawanan dengan ke dua gadis tersebut.
Tapi jauh dari perkiraan nya. Heera mengapit pistol yang ia bawa di antara tas dan tubuh nya sambil nengarahkan pistol tersebut ke belakang, lebih tepatnya ke arah dua anak perempuan yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya tanpa sepengetahuan siapapun termasuk Mingyu dan kedua siswa tersebut, dan beberapa saat kemudian.
Dor...dor...
Mingyu diam membeku, melihat pemandangan di depannya, sungguh tidak dapat di percaya, dua orang gadis tumbang begitu saja dengan darah yang berkecucuran di seragamnya, sedang kan orang yang berada di seberang sana tersenyum puas sambil menunjukkan smirk nya.
Mingyu berlari ketakutan karena hal tersebut. Dia meninggalkan mayat gadis yang baru saja di bunuh boleh Heera beberapa menit yang lalu begitu saja, tanpa berniat untuk menolong mereka karena itu percuma saja dikarenakan kedua gadis tersebut sudah tidak bernyawa saat ini.
Mingyu takut, sangat takut, kemudian dia berhenti di sebuah jalanan yang sepi, dia memasuki sebuah gang yang sempit untuk bersembunyi, tapi.....
Dor.....
Sebuah suara pistol telah berhasil mengejutkan nya, dia menengok ke arah suara tersebut, dan di situ dia melihat seorang gadis sedang berdiri tak jauh darinya sambil memegang pistol di tangan kanan nya.
"Bukan kah aku sudah pernah bilang ke padamu untuk tidak mengikutiku? Kenapa kau tetap melakukan nya hah?!?!" ucap gadis tersebut kepada Mingyu yang saat ini sedang ketakutan setengah mati.
"A-aku...aku hanya ingin pulang saja. Dan aku tidak sengaja melihatmu. Itu saja" balas Mingyu ketakutan.
Gadis itu mendekat dan semakin mendekat hingga menampak kan wajah nya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Mingyu hingga membuat Mingyu menatap matanya ke takutan.
"Jika kau membocorkan hal itu, kau akan bernasib sama seperti mereka" ancamnya dan hanya di angguki saja oleh Mingyu.
Gadis yang bersama Mingyu saat ini adalah Heera, entah apa yang membawanya hingga dia bisa menyusul Mingyu secepat itu, dan karena hal itu membuat Mingyu sangatlah ketakutan.
"Apa aku perlu menghabisimu sekarang agar kau bisa bungkam untuk selamanya?" lanjut Heera dan di jawab gelengan oleh Mingyu.
"Baiklah aku akan mengampuni mu untuk hari ini, selagi kau tidak membocorkan nya dan juga kau jangan pernah seenaknya menyentuhku ingat itu! tapi untuk kali ini saja, selanjutnya jangan berharap jika aku akan mengampuni mu" ucap Heera kembali, lalu berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Mingyu yang sedang ketakutan setengah mati di situ.
Bukankah Heera terlihat seperti seorang psikopat yang ingin sekali membunuh seseorang yang baru saja ia kenal? Tapi kuperingatkan lagi bahwa jangan pernah kalian menganggap Heera psikopaht, karena Heera bukanlah seorang psikopaht atau pun pembunuh, dia hanyalah gadis biasa yang memiliki banyak sekali tekanan sejak ia masih kecil.
Mulai dari meninggalnya kedua orang tuanya di karenakan sebuah peristiwa tragis yang tidak pernah mereka bayang kan hingga orang orang yang selalu membully dan ingin membunuhnya atau pun memanfaatkan dirinya untuk membalaskan dendam mereka hingga perilaku kasar yang dilakukan oleh paman dan bibinya kepada dirinya.
Itulah yang membuat Heera menjadi seperti sekarang, pendiam, dingin, cuek, sadis, dan tidak mempunyai perasaan kepada orang lain bahkan sahabat kecilnya sekalipun.
__ADS_1