
Hari mulai sore, disebuah rumah yang terbilang cukup besar tersebut terlihat sangatlah sepi.
Memang penampilan nya sangatlah mengesankan di dalam maupun di luar rumah, tapi itu sama sekali tidak ada artinya jika kau meninggali rumah tersebut sendirian, dan itu lah yang dirasakan Heera setiap harinya, selalu menyendiri di rumah megah nan besar yang selalu ia tinggali.
Heera kini tengah berada di balkon kamarnya, disitu terdapat sofa, teleskop, dan juga pastinya angin disitu sangat lah sejuk.
Kamar Heera berada di lantai dua, bagian pojok kanan rumah, membuat dia harus menaiki tangga terlebih dahulu untuk ke kamarnya.
Heera tengah mengerjakan perkerjaan rumah nya sambil sesekali dia menatap ke arah langit untuk sekedar menghilang kan tekanan nya akibat rumus rumus yang tidak ia pahami sama sekali.
Saat Heera tengah asik menatap indahnya langit malam, terdengar suara bel yang menandakan ada seseorang yang mampir ke rumahnya. Heera berjalan menuruni tangga ke lantai dasar untuk membuka kan pintu.
Ketika pintu telah terbuka, menampak kan Hami yang sedang berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa buku di tangan nya, Heera mempersilah kan Hami untuk masuk ke dalam rumah nya, karena tidak sopan membiarkan seorang tamu berada di luar apa lagi hari sudah mulai gelap. Tanpa basa basi Hami pun masuk ke dalam rumah Heera dengan sopan, takut bila pemilik rumah marah.
"Ada apa? Apa kau ingin belajar? Jika tidak silahkan kau pergi!" tanya dan pinta Heera diakhir kalimatnya ketika dia telah mempersilahkan Hami untuk duduk di ruang tamu, dan betul pertanyaan kedua yang Heera ucapkan, tapi Hami agak kesal dengan perkataan Heera yang terakhir.
"Tidak masalah kan? Lagi pula apa kau betah tinggal di sini sendirian? Makanya aku datang kemari juga untuk menemani mu" ucap Hami sambil tersenyum, sedangkan Heera hanya diam tidak menanggapinya.
Heera berdiri hendak ke kamarnya, tapi tangan nya ditahan oleh Hami dan otomatis Heera menoleh kebelakang.
"Aku tau bahwa kau mengetahui tujuan lainku untuk datang kemari" ucap Hami sambil menatap kosong kebawah dengan posisinya sekarang yang sedang berdiri di belakang Heera sambil memegangi tangan nya.
Heera diam, lalu dia kembali berjalan meniggal kan Hami yang sedang menahan emosi karena sahabatnya yang satu ini, ia mengepalkan kedua tangannya sangat erat berusaha menahan amarahnya saat ini, jujur Hami tidak betah jika Heera jadi seperti ini, rasanya dia ingin menghajar wajah cantik Heera hingga dia sadar bahwa yang ia lakukan adalah hal yang sangatlah salah.
Saat ini Heera dan Hami sedang berada di kamar Heera, mereka sedang mengerjakan tugas mereka masing masing tanpa ada yang berbicara dan menimbulkan suara sedikitpun, kecuali suara gesekan antara bulpen dan kertas.
"Apa kau tidak bosan melakukan hal itu terus menerus?" tanya Hami kepada Heera yang sama sekali tidak menghiraukan nya.
"Kenapa kau tega melakukan hal kejam seperti itu? Apa kau tau yang telah kau lakukan adalah hal yang sangat salah bagi seorang manusia? Seharusnya kau-" belum selesai Hami berbicara Heera membanting bulpennya di atas meja dan berdiri begitu saja menatap Hami penuh kemarahan.
"Aku tau apa yang aku lakukan, jadi kau diam lah dan jangan pernah ikut campur" ucap Heera lalu pergi meninggalkan Hami begitu saja.
"Kau tidak tau apa yang telah kau lakukan, maka dari itu aku akan selalu mengawasi mu, untuk membuatmu sadar Lee Hera" ucap Hami pelan, ia menghembuskan nafasnya dan kembali untuk mengerjakan tugas nya sendiri.
Disisi lain, Heera sedang berada di dalam toilet yang terletak di lantai bawah rumah tersebut, dia marah dan frustasi karena temannya selalu saja ikut campur dalan urusan nya, apalagi kakak kelasnya yang benar benar ia benci, kenapa dengan seenaknya dia ikut campur dalam permasalahan nya, ditambah lagi teman sebangkunya saat ini yang selalu saja mengikuti Heera kemanapun ia pergi.
Kini hari telah benar benar gelap, tapi siapa sangka di malam yang gelap ini masih ada seseorang yang terbangun, dan kini dia sedang duduk di bawah sinar rembulan sambil menatap sebuah makam yang ada di hadapan nya.
"Kenapa kau pergi begitu cepat? Kau bilang ketika aku telah pulang kita akan bermain bersama lagi, tapi....kau berbohong kepada ku, " tangis orang tersebut.
"Kenapa kau tidak cerita jika kau sedang sakit saat itu hah!! Kau bodoh, sangat bodoh, kau tau!! Belum cukup kah kau membuatku menderita dulu hah?!?!" tangisnya makin kencang.
Dia pikir bahwa disitu sudah tidak ada orang sama sekali karena kini hari telah benar benar gelap gulita makanya dia berteriak dan menangis sangat kencang, tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikan semua gerak gerik dan mendengar setiap ucapannya.
'Kau pikir aku tidak mendetita? Bahkan aku lebih menderita dari pada dirimu Kim Mingyu' Batin orang tersebut lalu kembali fokus dengan makam yang ada di hadapannya saat ini.
Tentu saja orang yang menangis dan berteriak di depan makam malam malam adalah Mingyu, dia datang malam hari karena dia mendapat kabar bahwa kakak nya telah meninggal. Sebenarnya sudah lama ia diberi kabar tentang perginya sang kakak tercinta, dan tadi Mingyu telah diajak oleh ayah dan ibunya untuk pergi ke makam kakak nya, tapi Mingyu menolak karena alasan tertentu, yaitu dia ingin menghabiskan waktunya berdua dengan sang kakak malam ini.
.
.
"Aku pulang" Heera memasuki rumahnya yang jelas jelas pasti hanya sunyi yang ia dapat, tapi ada hal yang aneh dirumah tersebut, dan betul saja ternyata ada Hami di dalam rumahnya, lebih tepatnya ia saat ini tengah berada di dapur untuk membuatkan makanan.
"Kenapa kau ada disini? Dan kenapa kau bisa masuk ke dalam rumah ku?" tanya Heera dingin, sedangkan yang ditanyai hanya memasang tampang 'tidak peduli' dengan semua pertanyaan Heera, dan lebih memilih untuk tetap melanjutkan pekerjaan nya yaitu menyiapkan makanan untuknya dan juga untuk Heera tentunya.
"Kau bisa lihatkan aku sedang apa? Dan untuk masalah kenapa aku bisa masuk ke rumahmu, aku masuk lewat pintu belakang" jawab Hami seadanya.
"Sudahlah tidak perlu dipikir, lebih baik kau duduk disini dan makan saja makanan mu, aku membuatnya dengan susah payah" terang Hami panjang lebar.
Heera tidak menghiraukan perkataan Hami dan langsung duduk kemudian memakan makanan nya dengan tenang begitupun dengan Hami, mereka makan dalam kesunyian tidak ada suara sedikitpun dan hanya ada suara sendok.
"Darimana saja kau semalam?" Tanya Hami untuk memecah keheningan, sedangkan yang ditanyai hanya fokus dengan makanan yang ada dihadapannya dan sekali lagi Heera tidak menghiraukan pertanyaan dari Hami.
Hami pasrah, dia tau temannya ini memang suka sekali menyimpan sebuah rahasia darinya dan beruntunglah Hami masih ingin berteman dengannya, karena Hami tau dimana pun Heera berada pasti tidak akan ada yang menyukai dirinya selain Hami, Hami juga tau bahwa Heera sangat tidak membutuhkan seorang 'teman' didalam hidupnya.
Tapi bukan Hami namanya jika dia membiarkan sahabat masa kecilnya sendirian dan dibenci semua orang karena telah mengambil jalan yang salah dan menjadikan nya sebagai tujuan hidupnya. Maka dari itu Hami sangat sabar jika temannya tersebut mulai melakukan 'aksinya' sekali lagi untuk yang kesekian kalinya pula.
"Heera, apa semalam kau\-" belum sempat Hami menyelesaikan kata katanya, Heera telah lebih dulu berkata, "aku tidak melakukan nya" ucap Heera dingin kemudian, dia berdiri dan Hendak menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Saat dia sedang berjalan ditangga, dia berhenti sejenak kemudian lanjut berkata, "hari ini aku ingin bolos, dan tolong bilang ke anak baru itu jangan mengikutiku terus" kemudian dia kembali berjalan sambil dilihat oleh Hami sampai Heera telah hilang didalam kamarnya.
Ketika Hami telah sampai disekolah, dia terlihat sangat lemas, sampai dia bertemu dengan Mingyu teman sekelas Heera yang baru dan tentu saja teman sebangku Heera pula dan semangatnya pun kembali seperti semula.
Hami mengetahui hal itu karena kemarin, ketika ia sedang berada di rooftop dia sempat berbicara dengan nya dan sedikit bercanda dengan Mingyu, siapa sangka bahwa Mingyu yang tampan dan berkharisma itu sangat ramah dan murah senyum, tidak seperti yang lainnya yang selalu saja memamerkan ketampanan mereka kepada semua wanita disekolahnya.
Dan siapa yang tidak akan suka dengan pria sempurna seperti Mingyu, itu sungguh mustahil bahkan Hamipun kini telah jatuh cinta dengan Mingyu.
Tapi itu semua tidak berlaku untuk seorang Lee Heera yang terkenal cuek, pendiam dan juga dingin dengan semua orang, sungguh itu bertolak belaka dengan Mingyu yang baik, ramah, dan murah senyum, tapi terkadang dia juga bisa cuek dan dingin kepada orang orang jika sekiranya sangat mengganggu aktifitasnya.
"Mingyu~" panggil Hami semangat, dan yang dipanggilpun menolehkan kepalanya kebelakang tepat kearah Hami memanggil dirinya.
"Oh Hami, hai" sapa Mingyu ke Hami dan otomatis hal tersebut langsung membuat Hami sangat senang karena dia dapat sedekat ini dengan orang yang begitu ia kagumi.
"Hai juga" jawab Hami sambil tersenyum lebar hingga memperlihatkan deretan giginya yang terawat.
Hami menyadari ada hal yang aneh dengan Mingyu, dia membawa sebuah jaket yang terlihat tidak asing dimatanya.
"Bukankah jaket itu seperti milik Heera??" tanya Hami kepada dirinya sendiri.
"Benarkah?" tanya Mingyu antusias, dan dapat dilihat binar kebahagiaan yang ada dimatanya.
Hami menjawab pertanyaan Mingyu dengan gugup dan dia sedikit bingung kenapa Mingyu bisa sesenang itu.
"Apa kau sendiri? Dimana Heera? Apa dia tidak masuk?" tanya Mingyu berturut turut kepada Hami sedangkan yang ditanyai mulai diam, entah kenapa rasanya sakit saat Mingyu hanya menanyakan Heera yang jelas jelas sangat membencinya dan dia juga bingung kenapa Mingyu bisa seantusias itu menanyakan keberadaan Heera.
"Dia bilang dia sakit, jadi dia ijin tidak masuk untuk hari ini" jawab Hami sambil menunjukkan senyuman palsunya, sedangkan Mingyu hanya menganggukkan kepalanya kecewa kemudian ijin ke Hami untuk pergi ke kelas nya.
Dan dapat kalian tebak bagaimana perasaan Hami saat ini, sangat sakit rasanya ketika mengetahui bahwa orang yang kau cintai lebih mempedulikan orang lain yang tidak dekat dengannya dari pada dirimu yang terlihat sangat akrab.
Sebelum Mingyu pergi semakin jauh, Hami memanggil Mingyu hingga sontak ia menoleh kebelakang lagi dan yang ia lihat saat itu adalah Hami yang sedang berjalan kearahnya dengan wajah datar.
__ADS_1
Ketika Hami telah berada tepat di sebelah Mingyu, tanpa menoleh dia berkata, "jangan pernah kau mencoba untuk mendekati Heera ataupun berurusan dengannya jika ingin nyawamu selamat" kemudian Hamipun langsung melenggang pergi meninggal Mingyu yang sedari tadi diam mematung melihat perubahan Hami yang menurutnya sangat menyeramkan.
'Kriiing~'
Bel masuk berbunyi membuyarkan lamunan Mingyu seketika, dengan cepat ia berlari menuju kelasnya yang berada tidak jauh dari tempat saat ia berbicara dengan Hami barusan.
Saat Mingyu hendak sampai dikelasnya, bertepatan dengan itu dia melihat gurunya sedang berjalan santai sambil melihat sekeliling dan tanpa basa basi lagi Mingyu segera mempercepat larinya hingga dia sampai didalam kelas tanpa sepengetahuan gurunya dan ia segera duduk di bangkunya
Mingyu mulai mengatur nafasnya saat ia telah duduk di bangkunya, sungguh lega mengetahui bahwa ia tidak telat masuk kedalam kelas.
'tadi sangat melelahkan' batin Mingyu yang saat ini tengah bersandar di kursinya.
Setelah nafasnya kembali normal, Mingyu menoleh ke arah bangku Heera yang kosong, lalu ia menghembuskan nafasnya sarkas sesekali memikirkan hal yang tidak tidak tentang Heera.
'siapa sebenarnya dia? Apakah dia pembunuh yang sedang menyamar? Apakah dia seorang mata mata? Apakah dia psikopat?! tapi kenapa dia memberikan jaketnya kepadaku?' Mungkin itu yang ada dipikiran Mingyu saat ini.
Mingyu pun membuang jauh jauh semua pikiran tentang Heera ketika melihat gurunya telah memasuki kelas dan memulai pelajaran. Dan tentu saja kelas yang awalnya ramai menjadi sunyi ketika pelajaran tengah berlangsung, hingga bel istirahat pun telah berbunyi.
Guru yang tadi mengajar dikelas Mingyu memberikan salam kemudian melenggang pergi, dan kelas saat ini telah kembali ramai, "Wah, senangnya si Heera tidak masuk hari ini" ucap salah satu murid laki laki yang ada di barisan bangku Mingyu.
"Kau benar, kenapa sekalian dia tidak masuk terus, atau kalau bisa sekalian dia pindah sekolah saja, kita pasti bisa bebas dari tatapan dan sikapnya yang sangat menjengkelkan menurutku" tambah salah seorang murid lagi.
Semua murid menyoraki kedua siswa tadi dan ada beberapa yang ikut angkat bicara mengenai keburukan Heera dan semakin menjelek jelekkan nya.
Karena tidak betah terus terusan dikelas, Mingyu pun pergi keluar hendak menemui seseorang dengan membawa kotak bekalnya.
Senyuman Mingyu kembali terukir ketika melihat orang yang ia cari sedang berjalan sendiri ke arah kantin yang kelihatan nya sangat ramai, dia berlari pelan sambil memanggil nama orang tersebut, berharap bahwa yang dipanggil menoleh ke arahnya, dan benar saja orang yang dipanggil Mingyu tadi langsung menoleh ke arah Mingyu.
"Ada apa?" tanya orang itu datar, sedangkan Mingyu hanya tersenyum manis hingga membuat orang tersebut jadi merona.
"Hai Hami, mau ke kantin ya?" tentu saja orang yang kini ada dihadapan Mingyu adalah Hami.
"I-iya" jawab Hami gugup, karena senyuman Mingyu yang begitu manis dan menawan dimatanya.
"Ikut aku!" tanpa menunggu jawaban dari Hami, Mingyu langsung menarik lengan Hami dan membawanya entah kemana, dapat kalian tebak bagaimana perasaan Hami saat ini, tentu saja sangat berdebar dan dia semakin gugup karena sikap Mingyu.
Tentu saja hal itu menjadi tontonan banyak siswa, tapi mereka semua tidak mempermasalah kan hal itu karena bagaimanapun juga Hami memiliki muka yang cantik dengan sikap yang periang dan ramah, Hami juga memiliki harta yang berlimpah sehingga banyak yang menyukainya, tapi sayangnya dia harus berteman dengan Heera yang dingin dan super cuek.
Kini Mingyu dan Hami sedang berada di rooftop sekolah, Mingyu memberikan sebuah kotak makan miliknya ke Hami, tentu saja Hami kaget dan tidak percaya dengan apa yang oleh Mingyu perbuat, tapi disisi lain dia senang dengan hal itu.
"Untukmu, ibuku memasak banyak hari ini, dari pada tidak habis aku berniat untuk memberikannya kepada teman dekat ku" ucap Mingyu kepada Hami.
Hami menerima bekal makanan yang diberikan oleh Mingyu dan diapun mulai memakannya sendiri karena Mingyu juga membawa kotak bekal lagi di tangannya.
Mingyu dan Hami makan dalam sunyi, tidak ada yang berbicara satupun diantara mereka, Hami yang bosan jika harus diam terus langsung angkat bicara terlebih dahulu, "Mingyu, apa kau pernah berpacaran?" tanya Hami memberanikan diri.
Mingyu diam memikirkan jawaban nya, "tidak pernah, sejauh ini tidak ada perempuan yang benar benar menarik perhatianku....kecuali satu orang" jawab Mingyu kemudian tersenyum setelah diakhir kalimatnya.
Hami menjadi penasaran siapa perempuan yang disebut oleh Mingyu tadi, "Memangnya siapa perempuan itu?" tanya Hami penasaran meskipun agak sakit dihatinya karena takut Mingyu benar benar telah menyukai perempuan lain.
"Aku juga bingung siapa dia" balas Mingyu tenang yang malah membuat Hami bingung dengan ucapan Mingyu.
"Hmm, apa kau tahu dimana rumah Heera?" tanya Mingyu ragu ragu, sedangkan Hami menatap Mingyu tidak percaya dengan pertanyaan nya.
"Sebenernya aku ingin mengembalikan jaket ini, kau bilang mirip seperti punya Heera bukan, semalam aku ketiduran ditempat terbuka dan aku merasa ada yang meletakkan sesuatu di tubuhku, saat aku bangun ternyata ada jaket, jadi aku membawanya kemana mana, siapa tahu ada seseorang yang merasa" cerita Mingyu panjang lebar.
Mingyu hanya memanggutkan kepalanya tanpa berniat untuk menjawab lagi hingga bel telah berbunyi, Mingyu pun berdiri dari duduknya kemudian dia mengajak Hami untuk kembali ke kelas.
Dirumah Heera~
Heera berbaring di atas kasur miliknya, dia menatap langit langit kamar sambil menggenggam sebotol pil obat. Heera masih mengingat kejadian semalam saat ia tidak sengaja mendengar seseorang sedang berbicara sendiri didepan makam sambil menangis dan tidak sekali orang tersebut berteriak.
Yap betul, semalam yang berada di pemakaman adalah Heera. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya malam hari, sambil memakai pakaian hitam dengan jaket panjang, Heera berada di pemakaman tersebut sampai Hari menjelang pagi, setelah itu Heera pun membolos sekolah satu hari.
Sebenarnya semalam Heera juga sempat berbicara di makam orang tuanya seperti yang Mingyu lakukan, tapi ia hanya menangis pelan dengan ekspresinya yang tidak pernah berubah, hingga Mingyu datang ke pemakaman ia menghentikan kegiatannya dan menghapus air matanya lalu mengalihkan atensinya kearah seseorang yang telah sangat berani datang ke pemakaman malam hari seperti dirinya.
Dan Heera sedikit terkejut bahwa orang yang ke pemakaman saat itu adalah Kim Mingyu, teman sekelas sekaligus teman sebangkunya, awalnya Heera terlihat tidak peduli, tapi saat mendengar perkataan Mingyu, Heera pun kembali mengarahkan pandangannya kearah Mingyu, hingga lelaki itu telah terdiam dan hanya menyisakan suara isak kan yang berasal dari Mingyu.
Heera berjalan mendekati Mingyu dan ternyata Mingyu telah tertidur di atas makam, bisa bisanya dia tertidur. Heera melepaskan jaket hitamnya, kemudian menaruhnya di atas tubuh Mingyu agar dia tidak kedinginan, kemudian dia kembali dengan aktifitasnya tanpa peduli bahwa ia sedang kedinginan.
Karena kejadian semalam Heera jadi sakit demam, dia tidak peduli lagi pula setelah dari makam dia selalu tidak masuk sekolah, tapi bedanya sekarang Heera benar benar sedang sakit.
Mungkin bagi kebanyakan orang pasti akan bosan bila berada dirumah sendirian, tapi bagi Heera hal itu malah membuatnya senang, meski tidak mengutarakannya dengan ekspresi.
Sejak tadi Heera berbaring di kasur, pikirannya melayang entah kemana, mengingat kenangan kenangan masa lalunya yang masih ia simpan rapi di memorinya.
*Flash back on~
Malam yang sunyi dan ketenangan menyelimuti sebuah keluarga yang saat ini tengah tertidur pulas, tapi ketenangan itu tidak bertahan lama hingga suatu kebisingan membangunkan mereka, Ayah dan Ibu dari keluarga Lee sangat terkejut ketika mendapati bahwa ada pencuri dirumah mereka, Ayah Lee berusaha untuk menangkap pencuri itu, hingga....
Dor.....
Dor.....
Dor.....
Ayah dari keluarga Lee pun tertembak dan Nyonya Lee berteriak histeris mendapati suaminya sekarat karena tembakan yang diterimanya tadi. Dan hal itu membuat anak tunggal mereka terbangun dan menangis ditangga yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2 rumah.
Mendengar suara isak tangis dari sang putri kesayangan membuat nyonya Lee bergegas mendekat kearah sang anak tunggalnya guna untuk melindungi dari pencuri yang sedang ancang ancang untuk menembak anak kecil tersebut.
Dor.....
Satu tembakan berhasil mengenai tubuh nyonya Lee, dan hal itu membuat sang anak semakin menangis dengan keras.
Pistol kembali diarahkan ke anak tersebut, saat hendak menembak seseorang dengan beraninya memukul sang pencuri dari belakang hingga pistolnya terlempar kearah anak dari keluarga Lee.
Terlihat dengan jelas dimata anak kecil tersebut kedua orang yang ada dihadapannya kini sedang saling menghajar satu sama lain, dengan tangan gemetar karena ketakutan anak kecil tersebut mengambil pistol yang berada tidak jauh dihadapannya.
"Hentikan!!!" teriak nya memecah kesunyian malam, sambil menudingkan pistol kearah sang pencuri.
"Heera" gumam seseorang yang sedari tadi berkelahi dengan pencuri.
Sang pencuri yang merasa musuhnya hilang fokus kini menancapkan benda tajam keperut sang lawan, kemudian ia berlari menjauh dari rumah. Tapi sebelum pencuri tersebut benar benar keluar,
Dor.....
__ADS_1
Dor.....
Dor.....
Dor.....
Heera menembakkan pistolnya tepat mengenai beberapa bagian tubuh sang pencuri yang saat ini telah jatuh didalam genangan darahnya.
"Kyaaaa" Heera berteriak histeris melihat perbuatannya dan refleks ia melempar pistol yang ada digenggaman tangannya sembarangan.
Selang beberapa menit polisi datang dan mengevakuasi korban yang sudah meninggal maupun yang masih hidup yaitu Tuan dan Nyonya Lee, ayah dari Hami, dan juga Heera sendiri.
Flash back off*~
"Huft" Heera menghembuskan nafasnya sarkas, selalu saja memori itu yang ada di kepalanya dan hal itu selalu berhasil membuat kepala Heera sangat pusing.
Karena tidak ingin mengingat hal tersebut, Heera memejamkan kedua matanya berusaha untuk tertidur.
Sekolah~
Pelajaran telah usai sedari tadi, semua siswa tengah berdesakan untuk cepat cepat pulang ke rumah.
Kini Mingyu dan Hami tengah berjalan pulang, sebenarnya tadi ia akan dijemput oleh supir pribadinya, tapi Hami menolak dengan alasan sedang keluar bersama teman.
Mingyu dan Hami sama sama tidak ingin memulai pembicaraan hingga mereka melewati sebuah toko jajanan, Mingyu mengajak Hami untuk mampir sebentar ke toko tersebut. Mingyu membeli dua buah coklat batangan, sedangkan Hami hanya melihat Mingyu saja.
Ketika Mingyu dan Hami telah sampai didepan rumah Heera, Hami berpamitan pulang dan Mingyu berterima kasih kepada Hami karena telah mengantarkannya ke rumah Heera.
Sebelum Hami pergi, Mingyu meraba isi tasnya dan mengambil coklat yang tadi ia beli, kemudian dia berikan kepada Hami sebagai ucapan 'terima kasih' dan sebagai tanda 'pertemanan'.
Mingyu bingung apakah ia harus menemui Heera atau tidak, sejujurnya Mingyu masih trauma dengan apa yang telah Heera lakukan kepadanya. Tapi mengingat semalam Heera lah yang telah melindunginya dari kedinginan membuat pikiran buruknya mereda.
Mingyu menekan bel rumah dan tidak lama munculah Heera dengan mengenakan pakaian santai.
Mingyu membungkuk memberi salam kepada sang pemilik rumah yang saat ini tengah menatapnya datar.
"Sebenarnya-" kalimat Mingyu kembali terpotong oleh ucapan Heera.
"Masuklah!" pinta Heera kemudian ia masuk lebih dahulu kedalam rumahnya tanpa mempedulikan Mingyu yang saat ini tengah kebingungan.
Dengan memberanikan diri, Mingyu memasuki rumah Heera dengan memberi salam kembali agar terlihat sopan.
Mingyu terlihat sangat terpesona dengan apa yang ada didalam rumah Heera, terdapat banyak sekali benda yang unik tetapi indah dilihat oleh mata.
Heera datang menemui Mingyu dengan membawa nampan berisi biskuit dan teh, Heera menyuruh Mingyu agar duduk di sofa depannya dan mempersilahkan Mingyu untuk memakan dan meminum cemilan dan juga teh yang telah ia bawa.
"Sebenarnya aku kesini untuk mengembalikan jaket ini. Hami bilang itu adalah jaket mu" ucap Mingyu sopan.
"Bukan milikku" jawab Heera dingin dan singkat.
"Emmm, baiklah jika bukan, aku akan memberikannya kepadamu, karena itu adalah jaket model perempuan dan mana mungkin aku mengenakannya. Baiklah aku pergi dulu" ucap Mingyu sambil menaruh jaket tersebut di atas meja kemudian hendak saja pergi, tapi dicegah oleh Heera.
"Minumlah dulu, tidak sopan menolak pemberian orang" ucap Heera tanpa menoleh kearah Mingyu.
Mingyu kembali duduk dan meminum teh buatan Heera dan sesekali memakan biskuit juga, setelah benar benar habis dia baru diperbolehkan pergi oleh Heera.
Setelah Heera benar benar melihat Mingyu telah pergi dari rumahnya, iapun mengambil jaket miliknya yang tadi diberikan oleh Mingyu, Heera sedikit tertegun ketika ia menemukan sebuah coklat yang terdapat tulisan friends di saku jaketnya, Heera mengambil coklatnya kemudian memakan sedikit coklat pemberian Mingyu mungkin.
"Manis" monolog Heera pelan, lalu menyimpan atau lebih tepatnya menaruh coklat sisanya didalam kulkas.
Malam ini Heera melakukan rutinitasnya seperti biasa, berbaring di atas kasur empuknya sambil memikirkan suatu hal yang mengusiknya dari tadi.
"Huft" Heera menghembuskan nafasnya sarkas, untuk pertama kalinya ia merasa bosan sendirian dirumahnya, tapi ia juga sungkan untuk memanggil Hami supaya ingin bermain dengannya lagi seperti dulu.
Heera pun akhirnya memutuskan untuk berjalan jalan disekitar rumahnya untuk menghilangkan rasa bosan.
Heera berjalan kesebuah ruangan, suara langkah kaki terdengar dengan jelas karena kondisi rumah yang sepi. Sesampainya diruangan yang ia tuju Heera membuka pintu besar yang ada dihadapannya.
Ketika pintu telah terbuka lebar terlihat banyak sekali alat musik baik tradisional maupun alat musik sekarang, semua tersusun rapi ditempatnya, dan terlihat sebuah piano yang bersinggah tepat ditengah tengah ruangan.
"Sudah lama" ucap Heera pelan, kemudian ia berjalan kearah dimana piano tersebut bersinggah.
Heera mendudukkan pantatya didekat piano, dia menatap lamat lamat piano yang ada hadapannya.
*Ting.....
Ting.....
Ting*.....
Alunan suara piano berbunyi dengan indah, sudah lama bagi Heera tidak memainkan piano, mungkin sekitar 6 tahun, tapi hal itu tidak membuat Heera lupa akan irama, nada dan *tuts* piano yang sangat ia sukai dulu.
"Sudah lama" kali ini bukan Heera yang berbicara, Heera membalik tubuhnya dan melihat Hami yang kini berada dibelakangnya, sebegitu sukanya kah dia sampai sampai Hami masuk keruangan pribadinya saja ia tidak sadar.
"Hmm" gumam Heera acuh kemudian ia melenggang pergi begitu saja tampa mempedulikan Hami yang saat ini tengah menatapnya dengan pandangan aneh.
"Apa kau sudah memakan coklat pemberian Mingyu?" tanya Hami, yang membuat Heera berhenti melangkah menjauh.
"Sudah" jawab Heera singkat kemudian lanjut berjalan kembali.
Tidak jauh Heera melangkah, ia menghentikan langkahnya kembali, hening untuk sesaat sebelum Heera mulai angkat bicara, "jika kau kemari hanya untuk bertanya hal itu, lebih baik kau pergi" ucap Heera tanpa menoleh kearah Hami.
"Ayahku yang menyuruhku kesini, mana mungkin aku mau ke rumahmu semalam ini" balas Hami cuek kemudian berjalan pergi meninggalkan rumah Heera.
Heera hanya mendengus sebal sambil terus berjalan tanpa mempedulikan ucapan dari Hami.
Heera tidak di kamarnya saat ini, tapi ia berada di dapur dimana ia tadi menaruh coklat pemberian Mingyu. Heera mengambil coklat tersebut kemudian memakannya perlahan.
"Manis" puji Heera untuk yang kedua kalinya saat memakan coklat pemberian Mingyu.
Heera kini telah kembali ke kamarnya, dia hendak saja tertidur saat ia melihat sebuah jaket yang tergantung di lemari. Jaket yang telah ia berikan kepada Mingyu untuk sekedar menghangatkan badannya.
Heera kemudian membuang jauh jauh pikirannya tentang Mingyu dan mulai untuk masuk ke alam mimpinya, berharap bahwa ia bermimpi indah bukan mimpi buruk yang menghampirinya.
__ADS_1