
Pagi telah datang, matahari pun telah menunjukkan dirinya dan menyambut orang orang yang saat ini masih asik terlelap dikamar.
Heera, salah satu pelajar yang masih menduduki bangku SMA, gadis paling dibenci dan ditakuti oleh beberapa siswa disekolahnya, kecuali siswa siswa yang merasa dirinyalah yang berkuasa. Dan juga Heera yang telah membunuh dua gadis yang telah melukainya beberapa hari yang lalu.
Kini dia masih setia berada didepan cermin rumahnya dengan pakaian yang telah rapi dan tas yang tergantung dipundak.
Heera menatap pantulan dirinya dengan pandangan yang susah diartikan, entah sejak kapan tangannya memegang sebuah pistol, menggenggamnya erat, kemudian menaruh pistol tersebut ditempat dimana tidak akan ada yang tau.
Hari ini Heera berangkat lebih pagi dari biasanya, dengan mengenakan jaket merah yang selalu ia kenakan saat kesekolah, Heera berjalan menuju ke halte bus yang biasa mengantarkannya ke sekolah.
Tidak perlu waktu lama bus pun datang dan Heera menaikinya bersama beberapa penumpang lain, tapi karena ia ingin menghindari berkontak fisik, dia pun memutuskan untuk naik terakhir saja.
Bukannya Heera sombong karena tidak ingin disentuh oleh siapapun, hanya saja dia memiliki sebuah phobia yang membuatnya takut untuk disentuh oleh orang lain yaitu hapephobia, dan hal itu yang membuat Heera selalu membawa obat penenang yang telah diberikan oleh phsikiaternya agar dia tidak hilang kendali.
Sepi, itulah hal pertama yang Heera lihat saat sampai didepan sekolahnya, hanya ada beberapa siswa yang keluar masuk kelas, entah apa tujuannya.
Heera berjalan santai kearah kelasnya tanpa mempedulikan tatapan tatapan yang dilayangkan oleh siswa siswi yang melewatinya, lagi pula Heera tidak mengenali mereka jadi dia tidak mempermasalah kan hal itu.
Saat Heera berada dikelas hal pertama yang dia lihat adalah seisi kelas yang kosong dan hanya ada dirinya didalam kelas tersebut, nampaknya belum ada yang datang dikelasnya.
Heera menaruh tasnya lalu pergi begitu saja dengan jaket yang telah ia lepas dan dia taruh di kolong mejanya. Tujuannya saat ini adalah rooftop, karena pagi pagi begini adalah saat yang paling Heera sukai untuk melihat langit, tenang dan damai, dua hal yang selalu Heera butuhkan yaitu melihat langit dengan mendengarkan musik dan obat obatan yang selalu dia bawa kapan saja.
Saat di rooftop Heera mulai merasakan hawa dingin yang menusuk kulitnya, hal itu tentu saja terjadi karena hari ini masih pagi dan dia tidak mengenakan jaketnya.
Heera duduk dipinggiran rooftop dengan mata terpejam dan musik yang mengalun ditelinganya, tak jarang Heera ikut menyanyikan musik yang sedari tadi mengalun lembut dan tak jarang pula Heera memandang langit dengan senyuman kecil yang terukir dibibirnya.
Tak sadar sudah lama Heera berada di rooftop hingga ada seseorang yang mengagetkannya dari belakang, tapi orang itu tidak menyentuh Heera hanya merebut headset dari telinganya.
"Udah mau masuk, gak kekelas?" tanya orang tersebut sambil masih berdiri dibelakang Heera.
Heera yang sudah tidak kaget langsung tersadar bahwa dia sudah menghabiskan banyak waktu di rooftop, dia segera menyamakan posisinya dengan orang tadi.
"gak diingetin aku juga tau" jawab Heera cuek, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan orang tadi.
"Sabar Hami, sabar, itu Heera bukan orang lain" Hami menghembuskan nafasnya sarkas kemudian berlari pelan menyusul Heera yang sudah agak jauh darinya.
Saat memasuki kelas langkah Heera terhenti ketika dia melihat Mingyu bersama dengan sekumpulan lelaki yang Heera tahu adalah teman sekelasnya, mungkin mereka sudah berteman, lagi pula bukan itu yang membuat langkah Heera terhenti, tetapi karena bangkunya yang sekarang yang sudah disinggahi oleh ketua kelasnya yaitu Taebin.
Heera ragu apakah dia mendekat atau tidak, apalagi banyak anak di bangkunya, dia takut jika tersentuh salah satu diantara mereka, tapi bagaimana pun juga itu adalah tempat duduknya dan dia sudah lelah berdiri saja dari tadi apalagi sudah hampir waktunya masuk.
Heera memberanikan diri untuk mendekati Taebin meskipun jantungnya sudah berdetak tidak karuan karena phobianya, tapi bukan Heera namanya jika tidak menyembunyikan ketakutannya.
"Permisi aku ingin duduk" ucap Heera dingin, teman sekelasnya yang lain langsung menghindarinya sedangkan Taebin hanya tersenyum canggung lalu beranjak pergi dari bangku Heera.
Mingyu menatap Heera sesaat sebelum Heera meliriknya seperti berkata 'tidak usah melihati ku' kemudian mereka berdua saling terdiam dengan Mingyu yang sibuk membaca buku dan Heera yang sibuk dengan musiknya hingga bel telah berbunyi.
Saat pelajaran Heera tampak fokus mendengarkan guru, hingga dia baru menyadari bahwa ada yang memperhatikannya dari tadi, awalnya Heera pikir yang memperhatikannya adalah Mingyu, tapi ketika dia menolehkan kepalanya menghadap ke arah Mingyu ternyata dia sedari tadi fokus dengan apa yang diterangkan oleh guru.
Heera kembali memperhatikan guru yang sedang menerangkan tapi dia risih karena merasa ada yang memperhatikannya dari tadi. Heera mulai mengamati setiap siswa yang ada dikelas melalui ekor matanya, kemudian berhenti saat dia melihat Taebin yang sedari tadi melihatinya tanpa ada niatan untuk memalingkan wajahnya.
Heera balik menatapnya datar dan terjadilah kontak mata diantara mereka berdua, tidak lama setelah itu Taebin lebih dulu memalingkan wajahnya dan memutuskan kontak matanya dengan Heera begitu saja hingga Heera terlihat heran melihat tingkah laku Taebin.
Pelajaran berlangsung dengan tenang hingga bel berbunyi dan Heera maupun Mingyu sedang membereskan buku buku mereka dan pergi dari kelas dengan tujuan yang berbeda. Mingyu yang ingin pergi kekantin dan Heera yang ingin pergi ketaman belakang.
Entah kenapa Heera merasa ada yang berbeda hari ini, tapi dia mencoba untuk tidak mempedulikan nya dan lanjut berjalan menyusuri koridor menuju ketaman belakang, hingga dia bertemu dengan kakak kelasnya yaitu Junghyun.
Heera melewatinya begitu saja sedangkan Junghyun hanya menatapnya yang berjalan menjauh, lalu hilang dibelokan koridor.
Saat Heera telah berada ditaman belakang sekolah dia merasa ada hal yang aneh dengan orang orang, jika masalah Mingyu yang sudah tidak mengikutinya itu mungkin hal yang biasa menurut Heera, mungkin karena dia takut dengan ancaman Heera waktu itu sama seperti orang itu.
Heera bersandar di kursi taman, menatap langit yang cerah dan mencoba untuk menjernihkan pikirannya supaya dapat berpikir apa yang sebenarnya terjadi.
'Apa mereka merencanakan sesuatu. Terkadang mencurigai sahabat adalah jalan yang baik, cuih' Heera membatin kemudian tersenyum kecut dengan wajah masamnya.
"Banyak pikiran?" tanya seseorang yang tiba tiba duduk disebelah Heera, membuat Heera secara tidak langsung menggeser duduknya.
"Apa mau mu?" tanya Heera langsung ketika tahu apa maksud orang tersebut mendatanginya.
"Jangan salah paham, sebagai ketua kelas yang baik aku ingin semua siswa yang ada dikelas ku merasa nyaman" jawab sang ketkel yaitu Taebin.
"Kau pikir aku percaya?" kini Heera menjawab ucapan Taebin dengan nada meremehkan.
Taebin hanya bisa menghembuskan nafasnya sarkas mendapati sikap Heera yang kasar meskipun secara tidak langsung.
Taebin cukup tahu bahwa orang yang saat ini sedang dia ajak bicara sangatlah peka dengan keadaan, tapi terkadang Heera suka sekali menuduh orang sembarangan, seperti sekarang.
"Apa kau memberitahu seluruh siswa disekolah bahwa aku telah melakukan hal itu?" tanya Heera ke Taebin dengan tatapan membunuhnya.
"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin bilang bahwa nanti ada pemeriksaan benda benda berbahaya seperti pisau ataupun pistol" jawab Taebin.
"Karena sudah banyak siswa disekolah kita yang meninggal tanpa ada saksi mata dan juga sangat misterius siapa pelakunya. Aku harap kau berhati hati" lanjut Taebin kemudian berlalu pergi meninggalkan Heera.
"Kau pikir aku bodoh" gumam Heera pelan.
Kini Heera tahu apa penyebab mereka menghindarinya, tapi Heera masih merasa ada yang aneh. Bagaimana mereka tahu jika pelakunya adalah salah satu diantara siswa siswi di sekolahnya, mungkinkah ada yang memberitahu.
Heera menyimpan pikiran itu untuk nanti, dia sama sekali tidak peduli dengan hal yang menurutnya tidak penting, tapi sebagian dari semua hal ini adalah penting menurut Heera.
"Arrrggg" Heera frustasi karena pusing dengan pikiran pikiran yang selalu melayang di otaknya. Heera akhirnya memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan pergi menuju kelasnya.
Saat Heera telah berada dikelas, seperti kejadian tadi pagi, dia melihat Mingyu dan sekumpulan lelaki yang sama seperti tadi pagi, hanya saja Taebin sempat menoleh kearahnya dan langsung menyuruh yang lain agar bubar dan kembali ketempat duduk masing masing dengan alasan kelas akan dimulai sebentar lagi.
Heera berjalan menuju bangkunya dan menghiraukan sebuah senyuman yang dilontarkan oleh Taebin kepadanya. Hanya satu yang dapat Heera dekskripsikan kepada Taebin untuk hari ini, aneh.
Heera duduk dibangkunya dan dia sedikit melirik ke arah Mingyu yang sedang fokus membaca buku yang sama seperti yang ia baca tadi pagi.
Heera tidak terlalu mempedulikannya dan terlihat tenang dengan Mingyu yang sudah tidak lagi mengikutinya. Apa kemarin telah terjadi sesuatu kepada Mingyu saat Heera tidak masuk, sekali lagi Heera tidak peduli, mungkin dia berpikir bahwa Hami telah melaksanakan perintahnya dengan baik.
Tidak lama bel berbunyi dan pelajaran berlangsung dengan tenang, tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir Mingyu seharian ini, bolehkah Heera senang sekarang.
Saat pelajaran sedang berlangsung ada tiga orang petugas kepolisian yang masuk kekelas Heera. Awalnya Heera terkejut karena ia pikir yang melakukan razia adalah anggota osis seperti biasa, tetapi ternyata dugaannya salah, pantas saja tadi Taebin memberitahunya bahwa ada razia tapi tidak memberitahu bahwa yang melakukan razia adalah petugas kepolisian.
Semua murid dikelas Heera sudah diperiksa, hanya tinggal Heera dan Mingyu saja yang belum diperiksa.
Saat polisi mendekat kearah Heera dan Mingyu, disitulah Mingyu berbicara dengan Heera meski hanya sekalimat saja.
"Aku tau kau pintar" ucap Mingyu sambil melihat Heera melalui ekor matanya.
Heera menoleh saat Mingyu berbicara kepadanya, kemudian dia menunjukkan smirk yang mengerikan di mata Mingyu.
Saat petugas kepolisian berada tepat disebelah mereka, keduanya memutuskan kontak mata dan lebih memilih untuk melihat petugas kepolisian yang menatap keduanya dengan tatapan mengintimidasi.
"Kalian berdua, tunjukkan isi tas kalian!" pinta salah satu diantara ketiga polisi tersebut.
Heera dan Mingyu membuka dan mengeluarkan isi tas mereka. Saat semua barang telah dikeluarkan kedua polisi laki laki dan perempuan yang lain mengecek kedalam tas yang isinya kosong, kemudian mereka meraba seragam Heera dan Mingyu supaya tidak ada yang terlewatkan.
Setelah mereka tidak menemukan benda tajam, mereka berjalan kedepan kelas dan menyuruh semua siswa untuk tetap waspada dan melarang dengan tegas agar tidak keluar malam hari dan menghindari gang sempit, kemudian ketiga polisi tersebut mengucapkan salam dan pergi keluar dari kelas.
__ADS_1
"Sudah ku duga kau sangatlah pintar" ucap Mingyu saat petugas kepolisian telah keluar dari kelas.
"Jangan pernah meremehkan ku" jawab Heera acuh.
Pelajaran kembali berjalan, Heera maupun Mingyu tidak ada lagi yang berbicara sepata kata pun, hingga bel pulang telah berbunyi.
Heera dan Mingyu berjalan keluar kelas dengan Heera yang selalu terakhir keluar dari kelasnya, tidak seperti yang pernah Mingyu lihat dulu. Dan saat keluar dari gerbang sekolah pun Heera dan Mingyu menggambil arah yang berlawanan.
Padahal Mingyu ingat jelas saat dia pulang bersama Hami ingin menuju kerumah Heera yang kebetulan berada tepat disamping rumah Hami, dia melewati jalan yang sama dengan arah rumah Mingyu, hanya saja rumah Mingyu berjarak lebih jauh dari rumah Heera dan Hami.
Mingyu mencoba untuk tidak peduli dan lebih memilih untuk terus berjalan menuju ke halte bis padahal sebenarnya dia sangat penasaran kemana Heera akan pergi.
Tapi bagaimana pun juga Mingyu masih ingat dengan larangan dari Hami dan juga Taebin untuk menjauhi Heera jika dia ingin nyawanya selamat.
Sedangkan Heera saat ini terlihat bahagia meskipun dia masih memasang tampang dinginnya dihadapan orang orang.
Bagaimana tidak, seharian ini tidak ada yang mengganggunya sama sekali, bahkan geng yang selalu membulynya juga sudah tidak terlihat lagi dimata Heera.
Saat ini Heera sedang berada ditoko buku untuk membeli novel yang sekiranya menarik untuk dibaca. Heera berjalan menyusuri rak buku dan berhenti ketika melihat sebuah buku yang menarik perhatiannya. Sepertinya dia tau buku itu, hanya saja dia lupa pernah melihatnya dimana.
Heera terlihat berpikir sejenak, kemudian dia baru ingat bahwa novel itu sama persis seperti novel yang Mingyu baca tadi saat dikelas. Entah kenapa dirinya seperti tertarik dengan novel tersebut, kemudian Heera berjalan kekasir untuk membayar novel yang tadi dia ambil.
Saat diperjalanan pulang Heera berpikiran untuk mampir kerumah Hami, sekedar untuk menyapa orang tua Hami yang juga telah membesarkannya.
Heera masuk begitu saja dirumah Hami tanpa ijin dari sang pemilik rumah, dia berjalan menaiki tangga dan menyusuri lorong agar dapat kekamar Hami.
ceklek...
Suara pintu yang terbuka menandakan ada seseorang yang masuk kedalam kamar Hami dan tentunya orang itu adalah Heera.
Hami menoleh sebentar kearah Heera kemudian dia melanjutkan menonton film di laptopnya sambil berbaring diatas kasur.
"Ada apa? Tumben kesini? Udah ketemu ayah belum?" tanya Hami berturut turut kepada Heera.
"Aku belum ketemu papa, aku kesini cuma mau ngomong" balas Heera sambil mendudukkan dirinya dikasur Hami.
Hami sedikit melirik kearah Heera kemudian kembali fokus untuk melihat drakor yang ada di laptopnya.
"Apa?" jawab Hami cuek tampa melihat kearah Heera sedikitpun.
"Hari ini aneh" ungkap Heera membuat Hami yang tadinya fokus melihat drakor jadi melihatnya dengan dahi yang mengkerut, bingung.
Heera menoleh kearah Hami dan melihat raut kebingungan diwajahnya. Seakan paham Heera kembali berkata, lebih tepatnya menjelaskan.
"Mingyu tertutup sama aku, kak Junghyun udah gak ngikutin aku, Taebin dari tadi lihatin aku, terus gak ada yang bully aku hari ini. Aneh" ungkap Heera ke Hami yang telah menjadi teman curhatnya selama ini.
"Bagus bukan?" tanya Hami kepada Heera yang saat ini sedang memainkan pistolnya.
"Mungkin, tapi aku merasa aneh. Mungkin karena aku tidak menunjukkan pistolku kepada mereka hari ini" ucap Heera santai sambil masih memainkan pistolnya.
"Letakkan pistol itu!" pinta Hami, lalu berusaha merebut pistol yang ada digenggaman tangan Heera, tapi naas Heera lebih lincah dan Hami sudah tau itu.
"Aku akan menaruhnya jika kau membawakanku sebuah mainan" Heera menunjukkan smirknya kepada Hami yang membuat Hami mendengus kesal mendengar apa yang baru saja keluar dari mulut Heera.
"Aku bercanda. Aku bukan psikopat yang suka membunuh orang tanpa alasan" Heera berucap lagi tapi kali ini tangannya mencekram erat pistol yang tadi dia mainkan, setelah beberapa saat cekalan tangannya kembali melonggar.
"Tapi jika boleh, aku ingin menjadi psikopat yang bisa membunuh seseorang tanpa takut dengan dosa yang akan diterima. Aku iri" tambah Heera lagi.
"Heera!" Hami membentak Heera dengan wajah yang kelewat merah. Apa temannya ini sudah kehilangan akal sehatnya, itu yang ada dipikiran Heera saat ini.
"Dimana akal sehat mu hah! Belum cukup kau membunuh murid murid disekolah kita dan sekarang kau malah ingin menjadi psikopat gila hah!" Hami benar benar marah sekarang dan tak bisa menahan untuk tidak marah kepada Heera.
"Baiklah, tapi jangan salahkan aku jika suatu saat kau yang akan jadi targetku" balas Heera sambil kembali menunjukkan smirknya dan melangkah pergi meninggalkan Hami sendirian dikamarnya.
"LEE HEERA!!!" Teriak Hami dari dalam kamar saat kamar telah tertutup kembali.
Saat Heera berada ditangga dia sempat berpapasan dengan ayah Hami dan menyapanya sopan, karena bagaimana pun juga keluarga Hami lah yang telah merawatnya semenjak kedua orang tuanya meninggal.
Heera menghembuskan nafasnya. Dia lelah, bukan hanya hari ini saja tapi dia lelah setiap saat. Mentalnya semakin lama menjadi semakin tertekan dan jika boleh jujur dari pada menghabisi nyawa orang lain, Heera lebih ingin untuk menghabisi dirinya sendiri.
Tapi dia ingin hidup demi orang tuanya, dia ingin menunjukkan kepada orang tuanya bahwa dia bisa menepati janjinya saat dia kecil dulu.
"Bisakah?" gumam Heera pelan sambil menatap langit langit kamarnya.
Sebenarnya saat dirumah Hami, Heera ingin berkata sesuatu, ingin menceritakan sesuatu, bahwa dia lelah dan dia iri dengan hidup orang lain, dia juga ingin kembali menerima kasih sayang dan dukungan dari orang tuanya.
Heera lelah terus berada dalam kegelapan masa lalunya, tanpa ada setitik cahaya yang mau menolongnya untuk keluar dari kegelapan yang dia buat sendiri. Heera takut sendirian.
Diam diam Heera menangis sesenggukan, dengan suara tangisnya yang pelan meski rumah yang dia tempati cukup besar dan sepi, tapi itu lah kebiasaan Heera dan dia sangat tidak memahaminya, Heera tidak pernah memahami dirinya sendiri selain ambisinya untuk membunuh orang yang telah berani melukainya.
Heera tertidur pulas dalam tangisnya dan sedari tadi dia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang selalu mengawasinya dan memperhatikan setiap gerak geriknya kapan saja dan dimana saja.
"Andai kau tau bahwa selama ini kau tidak sendiri, andai kau tau bahwa ada aku disini yang selalu membuka kedua tanganku lebar lebar hanya untuk mu seorang, maaf jika menurutmu aku beban, tapi ini semua kulakukan juga untuk kebaikanmu" orang yang sedari tadi mengamati Heera tak lain lagi adalah Hami.
Hami pergi dengan perasaan sedih yang mengikutinya, dia merasa gagal menjadi seorang teman yang baik untuk Heera, dia sungguh tak mampu membuat sahabatnya kembali seperti dulu.
Tapi Hami percaya kepada tuhan bahwa sahabatnya akan berubah suatu saat nanti, meskipun bukan dia yang membuat Heera berubah, tapi itu tidak masalah.
Dalam perjalanan pulang, Hami selalu merapalkan kata kata penyemangat untuk dirinya sendiri dengan tujuan agar dia tetap kuat untuk menerima kondisinya sekarang.
Hingga ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya dan membuat Hami terkejut bukan main hingga otomatis membalikkan badannya menghadap sipelaku.
"Mingyu!" ucap Hami spontan saat tau bahwa yang memegang pundaknya adalah Mingyu, sedangkan Mingyu hanya tersenyum mendapati reaksi Hami.
"Kamu ngapain disini?" tanya Hami kepada Mingyu.
"Habis dari mini market, beli barang suruan bunda tadi" jawab Mingyu dan diangguki Hami.
Keduanya terdiam dalam kecanggungan dan bingung ingin berkata apa lagi. Berakhirlah Hami yang lembali mulai membuka suara.
"Mau mampir kerumahku" tawar Hami ramah kepada Mingyu, berharap Mingyu menerima tawarannya.
"Mungkin lain kali. Sekarang aku harus cepet pulang ngasih ini ke bunda, takutnya udah lama nunggu" jawab Mingyu sambil memperlihatkan dua kantong besar penuh kearah Hami.
Hami mengangguk kecewa dengan jawaban Mingyu, mungkin dia harus berhenti untuk mengkhayal sesuatu yang tidak mungkin.
"Maaf ya" sesal Mingyu sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Keduanya kembali terdiam dan hanyut dalam pikiran masing masing, melupakan bahwa mereka memiliki urusan masing masing.
"Oh ya, kalau gak keberatan mau ikut kerumahku?" tanya Mingyu canggung.
"Apa jauh?" tanya Hami dan dijawab gelengan oleh Mingyu.
"Gak terlalu sih menurutku" jawab Mingyu dan hanya diangguki oleh Hami.
"Baiklah aku ikut, tunggu sebentar aku ingin ganti pakaian, ayo masuk kerumah ku dulu!" balas Hami sambil menarik tangan Mingyu dan membawa Mingyu masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1
Mingyu sempat terkagum kagum ketika baru masuk kedalam halaman rumah Hami yang sangat luas dan dan dipenuhi oleh tumbuhan dan bunga yang beraneka ragam.
Dalam pikiran Mingyu mengatakan bahwa perbandingan antara rumah Heera dan Hami sangatlah berbeda.
Jika di halaman rumah Hami terdapat beraneka tumbuhan dan bunga, maka terlihat sebaliknya dirumah Heera hanya ada beberapa bunga yang mendominasi dan Mingyu sama sekali tidak mengenali bunga apa yang ditanam dirumah Heera.
Lalu ketika masuk kedalam rumah Hami pasti akan disambut dengan lukisan lukisan indah disepanjang dinding rumah, berbeda dengan bagian dalam rumah Heera yang terdapat beberapa benda benda unik seperti yang Mingyu katakan.
Mungkin selain itu Mingyu tidak tahu perbedaan apa lagi yang ada dirumah keduanya dan Mingyu telah mengambil kesimpulan bahwa rumah Hami jauh lebih Hidup dari pada rumah Heera yang terlihat suram dan tertutup.
Selagi menunggu Hami mengganti pakaian, Mingyu duduk disebuah sofa ruang tamu dan tidak selang beberapa menit keluar seorang pria paruh baya yang Mingyu yakini adalah ayah dari Hami.
Mingyu buru buru berdiri dan memberi salam kepada ayah Hami yang sedang berjalan kearahnya dan dusuk disofa seberang Mingyu.
"Kamu teman Hami ya?" tebak tuan Kim sambil tersenyum lembut kepada Mingyu.
"Iya. Nama saya Kim Mingyu" jawab Mingyu sopan lalu kembali duduk saat tuan Kim telah menyuruhnya untuk duduk.
"Kamu teman Heera juga?" kini tuan Kim bertanya kepada Mingyu dengan sorot mata yang menatapnya dalam membuat Mingyu menjadi sangat gugup.
"Tidak perlu takut, saya hanya bertanya dan kau bisa menjawabnya dengan jujur" ucap tuan Kim ramah.
"Umm, saya satu kelas dengan Heera dan menjadi teman sebangkunya, tapi sepertinya Heera sangat tertutup dan dia menyuruh saya untuk menjauhinya" jawab Mingyu gugup tapi tersirat kejujuran dimatanya.
"Huh, sudah kuduga dia masih sama seperti dulu" ucap tuan Kim dengan raut kecewanya.
"Kalau saya boleh tau, sebenarnya ada apa dengan Heera?" tanya Mingyu sopan kepada tuan Kim dan hanya dibalas dengan gelengan lemah.
"Aku tidak ingin semakin menyakiti anak itu dengan memberitahukan hal ini ke orang lain, sudah cukup anak itu menderita selama ini, jika kau ingin tau maka tanyakan saja kepada Heera" tutur tuan Kim, lalu beranjak dari tenpat duduknya.
"Bolehkah aku minta tolong kepadamu?" tanya tuan Kim lagi dan Mingyu hanya menanggapi dengan anggukan saja.
"Tolong jadilah teman Heera, sudah lama Hami ingin merubah sikap Heera tapi selalu saja tidak bisa, apa kau sanggup" ucap tuan Kim
"Aku akan mencobanya" jawab Mingyu gugup dan setelah nya tuan Kim langsung pergi dan menyempatkan diri untuk menepuk bahu Mingyu.
"Oh ya, Heera tidak suka jika ada seseorang menyentuhnya, karena itu membuat mental Heera terganggu" lanjut tuan Kim lalu hilang dibalik pintu.
Tidak lama setelah kepergian tuan Kim, Hami keluar dari kamarnya dengan pakaian yang simpel tapi terlihat modis.
"Ayo Mingyu!" Hami berpamitan kepada ayahnya, kemudian menuju kerumah Mingyu dengan berjalan kaki.
Keduanya berjalan berdampingan tanpa ada yang membuka suara. Hami yang sedang bersenandung ria dan Mingyu yang tampak memikirkan sesuatu. Bahkan saat dirumah Mingyu, keduanya masih belum membuka suara.
Hingga Hami bertemu dengan kedua orang tua Mingyu barulah Hami dan juga Mingyu kembali membuka suara.
"Ini siapa Mingyu? Pacar kamu?" tanya bunda Mingyu dengan menatap penuh selidik kearah Hami, sedangkan yang ditatap sudah sangat ketakutan.
"Temen aku bun. Namanya Hami" balas Mingyu.
"Bukan pacar nih, cantik loh" goda bunda Mingyu sambil menaik turunkan alisnya membuat Hami tersipu malu, sedangkan ayah Mingyu hanya bisa pasrah menatap kelakuan istrinya.
"Udah jangan diganggu dulu, palingan habis ini juga mau ditembak" timpal ayah Mingyu sambil tetap fokus untuk menonton tv.
Bunda Mingyu pun memasang ekspresi yang sulit diartikan, kemudian memberi kunci motor kepada Mingyu dan menyeretnya keluar dari rumah.
"Udah kamu pacaran aja sana, bunda gak ngelarang kok, apa lagi dia cantik imut lagi" ucap bunda Mingyu sambil tersenyum manis kearah Hami.
Mingyu tentu saja tidak terima dan hendak protes ke bundanya, tapi segera dia mengurungkan niatnya saat bundanya telah menutup pintu rumah.
Sekarang Mingyu lah yang hanya bisa pasrah dengan sikap bundanya yang terlalu ajaib. Katakanlah Mingyu anak yang durhaka kepada orang tua, karena bagaimanapun juga itu ada benarnya bagi Mingyu.
Mingyu menolehkan wajahnya menghadap kearah Hami yang sedang tertawa anggun seperti seorang bangsawan. Jika dilihat lihat kembali, Hami memanglah sangat cantik dimata Mingyu, tapi Mingyu hanya mengagumi kecantikkannya saja tidak lebih.
"Sekarang mau kemana?" tanya Mingyu yang menghentikan tawa Hami.
Keduanya terlihat berpikir dan berakhirlah Hami yang mengangkat bahunya dan Mingyu yang tampak bingung, apa lagi saat Hami berkata 'terserah' membuat Mingyu semakin bingung untuk memilih tempat yang bagus, padahal mereka tidak sedang kencan.
Akhirnya keduanya sepakat untuk pergi ketaman saja karena hari sudah hampir gelap dan matahari akan segera tenggelam sepenuhnya.
Ketika diperjalanan mereka sama sekali tidak membuka suara hingga mereka sampai ditaman yang sepi.
Yang ada dipikiran Hami saat ini adalah menghabiskan waktu berdua dengan Mingyu. Sedangkan dipikiran Mingyu saat ini adalah semua perkataan yang dikatakan oleh ayah Hami, tuan Kim.
Ingin sekali Mingyu bertanya kepada Hami tapi dia terlalu takut, apa lagi Hami adalah sahabat Heera, Mingyu takut jika Hami malah memberitahu tentang apa yang dia tanyakan kepada Heera, mungkin Heera akan marah dan berakhir membunuhnya jadi Mingyu mengurungkan niat itu.
Padahal ini adalah momen yang pas untuk menanyakan semuanya tentang Heera kepada Hami, ditambah tidak ada orang ditaman karena hari sudah gelap dan itu termasuk sebuah kondisi yang sangat mendukung bagi Mingyu.
Mungkin berbeda dengan Hami yang berpikir, mungkin lebih tepatnya berkhayal akan menghabiskan waktu waktu romantis dengan Mingyu hari ini.
Memang betul apa yang orang orang ucapkan, beda orang pasti beda pemikiran dan itu telah terjadi diantara Hami dan Mingyu yang memiliki pemikiran yang sangat berbeda.
Karena terlalu larut dalam pikiran masing masing, keduanya memutuskan untuk membuka suara dan mengobrol hal hal ringan.
Keduanya terlihat senang dan tertawa bersama, bahkan Mingyu sudah melupakan sejenak hal hal yang bersangkutan dengan Heera, dan Hami mungkin sangat bersyukur karena keinginannya terkabul.
Tapi takdir berkata bahwa nama Heera akan selalu ada di setiap ucapan keduanya, dan hal itu dimulai dari Hami.
Hami tampak memandang langit malam sejenak kemudian dia menghela nafas dan membuat atensi Mingyu tertuju padanya.
"Heera suka langit" gumam Hami sambil kembali melihat langit malam.
Sebenarnya Mingyu bingung dengan yang dikatakan oleh Hami, bukankah mereka tadi tidak membahas Heera sedikitpun, dan kenapa sekarang Hami tiba tiba menggumamkan nama Heera.
Jangan salahkan Mingyu jika rasa penasarannya tentang Heera semakin menjadi jadi, karena bagaimanapun juga bukan Mingyu yang pertama kali menyebut nama Heera.
Karena rasa penasarannya tidak bisa dia tahan, akhirnya Mingyu pun memutuskan untuk menanyakan kepada Hami semua tentang Heera.
"Ada apa sebenarnya dengan Heera?" tanya Mingyu akhirnya dan mendapat tatapan aneh dari Hami.
"Aku gak berhak beritahu kamu yang bukan siapa siapanya Heera, kalau penasaran lebih baik tanyakan langsung ke Heera" jawab Hami.
Mingyu tentu saja kecewa dengan jawaban dari Hami, tapi itu semua ada benarnya dan hal itu mengingatkan Mingyu dengan ucapan ayah Hami tadi.
"Apa masa lalunya sekelam itu hingga membuat dia menderita?" tanya Mingyu pelan.
"Sangat" jawab Hami singkat.
"Bahkan akupun tak akan sanggup jika diposisi Heera" lanjut Hami.
Keduanya kembali terdiam dan kembali hanyut dalam pikiran mereka masing masing, kemudian keduanya sama sama merutuki kebodohan mereka yang harus menyebut nama Heera dan membuat suasana kembali canggung.
Seberusaha apapun keduanya melupakan Heera sejenak, akan ada saja topik dan momen yang membuat mereka akan teringat dengan Heera.
Takdir memang tidak ingin membuat mereka melupakan Heera, meski hanya semenit saja tidak akan.
Seandainya Heera tahu bahwa ada seseorang yang selalu memikirkan dan mengkhawatirkannya. Seandainya dia tahu bahwa dia tidak lah sendiri.
Hami mungkin akan bahagia jika Heera menganggapnya ada, dan Mingyu akan senang jika ia bisa dekat dengan Heera.
__ADS_1
Karena jika menurut Mingyu, Heera sama saja seperti kakaknya dan menurut Hami, Heera adalah harta karunnya yang sangat berharga.