
"LEPASKAN AKU!!!!!!"
Suara teriakan seorang perempuan dari sebuah rumah yang bisa terbilang besar dan mewah telah memenuhi rumah tersebut.
"Heera, kumohon diamlah" balas seorang teman dari gadis yang ternyata adalah Hami.
"LEPASKAN AKU, MEREKA HARUS DI BUNUH!!!! MEREKA HARUS MATI!!!!!" teriak Heera lagi tapi lebih keras dari sebelumnya.
"Heera aku mohon tenanglah" ucap Hami, kemudian ada seorang pria yang masuk ke dalam rumah Heera dan menyuruh Hami untuk menjauh dari Heera dan Hami menuruti perkataan dari pria tersebut.
Pria tersebut berusaha untuk menenangkan Heera yang saat ini tengah hilang kendali. Pria tersebut adalah seorang psikiater yang selalu menagani Heera sejak ia kecil.
Lama bagi psikiater Kim untuk menangani Heera, karena Heera selalu saja membawa benda dan melempar benda tersebut kearahnya dan beruntunglah mereka bahwa Heera tidak menodongkan pistolnya.
Saat ini Heera tengah berada di sebuah taman yang berada tidak jauh dari rumahnya, taman tersebut terlihat indah dengan bunga bunga yang tumbuh sempurna dan juga tidak banyak anak kecil yang bermain ditaman tersebut, karena memang sekarang sudah sore dan anak anak harus pulang ke rumah mereka.
Heera tengah duduk sendirian di sebuah pohon yang cukup rindang. Sebenarnya Hami ingin ikut ke taman bersama Heera karena keadaan Heera yang masih terbilang kacau, tapi mau bagaimana lagi Heera menolaknya dengan berkata bahwa dia ingin sendirian saat ini dan sambil menunjukkan tampang dinginnya yang mematikan.
Heera sebenarnya bisa saja menenangkan diri di taman rumahnya, hanya saja dia tidak ingin untuk sekedar bertatap muka dengan Hami.
Saat Heera sedang melihat anak kecil yang berlarian kesana kemari dengan sangat riang, seperti hidup mereka tidak memiliki beban sedikitpun.
Entah Heera salah dengar atau apa yang jelas dia mendengar ada seorang anak kecil sedang menagis kencang, segera Heera mengedarkan pandangannya dan dia menemukan ada seorang anak perempuan sedang menangis di sebelah ayunan yang tidak jauh dari posisi Heera saat ini.
Heera berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati anak tersebut yang sedari tadi menagis tanpa sebab yang tidak diketahui oleh Heera.
Heera tersenyum ramah pada anak tersebut dan menanyakan kepada anak kecil itu apa yang telah membuatnya menangis.
"Hai adik cantik, kenapa menagis?" tanya Heera ramah sambil menunjukkan senyumannya yang tidak pernah ia perlihatkan kepada orang lain kecuali Hanwoo.
"Kakak ku dimana?" tanya gadis kecil itu sesenggukan. Ternyata dia kehilangan kakaknya, pantas saja dia sendirian sedari tadi.
"mau Kakak bantu cari kakakmu?" tanya Heera sambil masih memperlihatkan senyumannya yang membuat gadis kecil di hadapannya saat ini sedikit merasa tenang.
Gadis itu mengangguk dengan masih sesenggukan, sedangkan Heera mulai sedikit mendekat ke arah gadis kecil tersebut kemudian berkata, " Ayo kakak bantu cari, asalkan jangan nangis lagi oke" ucap Heera sambil masih tersenyum ramah dan hangat, dan hanya diangguki saja oleh anak kecil tersebut.
"Siapa namamu?" tanya Heera ramah, "namaku Kim Misoo" balas gadis yang bernamakan Misoo tersebut.
Heera mengangguk kan kepalanya lalu berniat untuk segera mencari kakak dari anak tersebut, tapi Misoo menahan lengan pakaian Heera sambil menatapnya dengan pandangan polos khas anak kecil.
"Aku mau gendong boleh?" ucap Misoo ragu dan terlihat begitu menggemaskan.
Heera terlihat menimang sesuatu karena jujur dia sangat kaget ketika Misoo minta untuk digendong.
Dia menatap Misoo yang terus memandanginya dengan ragu, dia kasihan dengan anak malang ini, tapi dia juga merasa ketakutan saat bersentuhan dengan orang lain.
Dengan ragu Heera mengiyakan permintaan dari Misoo dan menggendongnya dengan hati hati, entah kenapa kepala Heera terasa pusing dan banyak keringat yang keluar dari tubuh Heera.
Tidak lama Heera mencari sang kakak dari anak tersebut, dia mendengar ada yang meneriakkan nama Misoo dengan keras dari arah belakang, menyebabkan mereka berdua segera menoleh ke arah belakang, dan mendapati seorang pemuda yang tidak asing dimata Heera.
"Kak Mingyu!!!" teriak Misoo sehingga membuat kakaknya yang bernamakan Mingyu tersebut langsung menoleh kearah sumber suara dan mendapati adiknya sedang bersama dengan orang lain.
Heera menurunkan Misoo dari gendongannya dan membiarkan dia kembali ke kakaknya, setelah itu Heera berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan kakak adik tersebut. Heera saat ini sedang membutuhkan obat obatannya.
Sebelum semakin menjauh Heera merasakan ada sebuah tangan kecil yang memegang jari jari lentiknya, dan otomatis Heerapun menoleh kebelakang dan mendapati Misoo yang tengah memegangi tangannya, kemudian Heera di tarik oleh gadis kecil tersebut ke arah dimana kakaknya berada dan dengan terpaksa Heera mengikuti Misoo dengan ekspresi yang bisa terbilang tidak senang, Heera sudah tidak tahan dan rasanya dia ingin pingsan saja.
"Kak, kakak ini yang sudah bantu aku untuk mencari kakak" tutur anak kecil tersebut sambil tersenyum sangat lebar.
Mingyu terus saja melihati Heera dengan tatapan takut dan heran, dia merasa aneh dengan sikap Heera yang peduli karena dia pikir Heera adalah salah satu orang yang tidak peduli dengan apapun termasuk anak kecil seperti adiknya.
"Kak, kakak tidak ingin berterima kasih?" tanya Misoo kepada sang kakak yang sedang melamun saat ini.
Mingyu yang sadar telah melamun pun kemudian membungkuk kan tubuhnya dan berterima kasih kepada Heera yang saat ini tengah melihatnya, tetapi anehnya Heera sama sekali tidak menunjuk kan ekspresi dingin seperti biasanya saat ia di sekolah, tapi mengapa? Ini sangatlah aneh menurut Mingyu.
Setelah Mingyu berterima kasih, Heera memutuskan untuk segera pergi tapi lagi lagi tangannya dicekal oleh tangan mungil Misoo.
Misoo memohon agar Heera ingin bermain dengannya dan dengan ragu Heera kembali mengiyakan permohonan dari Misoo yang malah membuat Mingyu terheran, tapi Heera ijin pergi sebentar untuk membeli minum dengan alasan bahwa dia haus dan di iyakan oleh Misoo.
Heera segera berlari cepat menuju toko yang berada didekat taman dan memasuki toko tersebut dengan kasar yang mendapat teguran dari sang pemilik toko.
Heera segera saja menyambar air putih dan langsung membayarnya. Dengan tangan yang bergetar dan kepala yang semakin pusing Heera meraih obat obatan yang tadi dia bawa asal dan meminumnya dengan rakus.
1 menit
2 menit
3 menit
Heera masih diposisi yang sama yaitu bersandar pada dinding toko tersebut sambil mengatur nafasnya agar kembali normal dan butuh waktu beberapa menit lagi baru pusing dikepalanya akan menghilang.
Setelah dirasa bahwa kepalanya sudah tidak pusing lagi dan anggota tubuhnya kembali berjalan normal, Heera kembali memasuki toko tapi kali ini dia tidak kasar seperti tadi.
Heera menyambar tiga buah es krim dan langsung membayarnya lalu segera keluar dari dalam toko dan kembali ke taman untuk menemui Misoo dan juga Mingyu.
"Nih!" Heera menodongkan dua buah ea krim kearah Mingyu yang saat ini sedang terkejut.
"Buat kamu sama Misoo" kata Heera lagi.
Mingyu mengulurkan tangannya untuk mengambil es krim yang diberikan oleh Mingyu lalu berterima kasih, dia memanggil Misoo yang sedang asik bermain sendirian.
Merasa dipanggil Misoo menolehkan kepalanya dan berlari mendatangi kakaknya yang saat ini sedang memegang dua buah es krim
"Nih, dari kak Heera" ucap Mingyu yang tersenyum manis kepada adiknya.
Misoo menerima es krim dari kakaknya dan berterima kasih kepada Heera yang membalasnya dengan senyuman manis yang membuat Mingyu merona karena Heera sangat manis saat sedang tersenyum.
Misoo melanjutkan kegiatannya seperti tadi yaitu kembali bermain dan menyisakan Heera juga Mingyu yang saling diam tanpa ada niatan untuk berbincang.
Keduanya hanya mengamati Misoo sambil memakan es krim mereka masing masing tanpa ada percakapan diantara keduanya hingga es krim mereka habis.
Tidak banyak anak kecil di taman tersebut dan hanya menyisah kan beberapa anak saja, karena saat ini sudah mulai malam.
Heera menyandarkan tubuhnya pada kursi taman dan membuat atensi Mingyu teralihkan kepadanya. Berduaan dengan seorang lelaki sangatlah tidak nyaman bagi Heera, karena memang Heera tidak pernah melakukan hal itu dan ini yang pertama kalinya bagi Heera, Meskipun ditaman masih ada adik Mingyu dan beberapa anak kecil lain yang tengah bermain tapi itu tetap saja.
Mau bagaimana lagi adik Mingyu, Misoo ingin sekali bermain dengan dirinya dan Heera juga enggan untuk menolak permintaan dari anak kecil, alhasil Heera saat ini sedang dilanda bosan karena terus saja berdiam diri dengan teman sekelasnya.
"Terima kasih" ucap Mingyu kepada Heera yang saat ini tengah menyandarkan tubuhnya pada kursi taman.
Heera menautkan alisnya bingung dengan apa yang di katakan oleh Mingyu barusan. Mingyu yang mengerti hal itu pun kembali berbicara.
"Terima kasih untuk yang tadi karena kau, aku berhasil menemukan adikku" lanjut Mingyu kemudian dia menatap mata Heera lalu tersenyum manis.
__ADS_1
Heera masih diam sambil menatap kearah manik mata Mingyu, membiarkan Mingyu menyelesaikan kalimatnya.
"Tadi itu aku tidak tulus untuk berterima kasih kepadamu, dan sekarang aku sangatlah tulus mengucapkannya" tambah Mingyu sambil tersenyum kemudian mengarahkan pandangan nya ke arah langit yang mulai gelap dan menunjuk kan bintang bintang yang indah.
Heera hanya menganggukan kepalanya sebagai respon dan dia juga melihat ke arah langit persis seperti yang dilakukan oleh Mingyu.
Mingyu yang tahu akan hal itu pun kembali melihat ke arah Heera. Dilihatnya wajah yang begitu sempurna dari samping, membuat siapapun yang melihatnya akan terpikat oleh kecantikan seorang Lee Heera, tapi sayangnya kecantikan itu selalu ia sembunyikan di balik tampang dingin miliknya.
"Jangan melihatiku" ucap Heera dengan nada dingin karena Mingyu sedari tadi melihati wajahnya tanpa ada niatan untuk memalingkannya.
Mingyu tersentak dan dengan cepat memalingkan pandangannya dari Heera, dan entah kenapa itu membuatnya menjadi salah tingkah sendiri hingga membuat wajahnya kembali merona.
Heera melirik sekilas ke arah Mingyu, sungguh sikap Mingyu sangatlah lucu dimata Heera, hingga membuat Heera terkekeh pelan, karena baru pertama kalinya dia bertemu dengan seorang lelaki seperti Mingyu, sikapnya seperti anak kecil dan itu terlalu kekanak kanakan menurut Heera.
Mingyu yang mendengar Heera terkekeh pun segera melihat ke arah Heera, itu adalah sebuah pemandangan yang harus di abadikan, karena seorang Lee Heera dapat tertawa di hadapan seorang lelaki seperti Kim Mingyu. Itu adalah hal yang luar biasa dan sangatlah langkah.
"Kau tertawa?" tanya Mingyu memastikan, dan setelah dia bertanya seperti itu Heera tiba tiba tersentak dan dia dengan segera memalingkan wajahnya karena malu. Bagaimana dia bisa tertawa di hadapan seorang lelaki? Apa dia sudah gila?
Kini Mingyu lah yang tertawa karena melihat ekspresi Heera yang sangat menggemaskan sekali dimata Mingyu.
Heera berdiri dari duduknya hendak meninggalkan taman tersebut, tapi dengan cepat dicegah oleh Mingyu, dia memegang pakaian milik Heera, karena saat itu Heera menaruh kedua tangahmnnya di depan dadanya, sengaja supaya Mingyu tidak memegang tangannya, karena itu akan membuat Heera menjadi hilang akal seperti tadi.
"Maafkan aku soal tadi, aku tidak bisa menahan tawaku karena kau tadi terlihat menggemaskan" ucap Mingyu jujur sambil menunjuk kan tampang menyesalnya.
"Hmm" hanya itulah yang keluar dari mulut Heera
"Bisakah kau disini sebentar lagi" ucap Mingyu yang mendapat pandangan aneh dari Heera.
"Ak\-aku hanya tidak ingin adik sepupuku kecewa karena kau tiba tiba pergi" kata Mingyu yang mulai tergagap.
'Misoo sepupunya Mingyu, aku Kira adik kandungnya' batin Heera.
Heera menghembuskan nafasnya sarkas kemudian kembali duduk di sebelah Mingyu dan mengamati Misoo yang sedang tertawa bahagia.
"Terimakasih" Mingyu tersenyum kearah Heera yang bahkan tidak direspon olehnya.
Keduanya terdiam dan hanyut dalam pikiran mereka masing masing, Heera sedang terhanyut oleh kenangan masa lalunya, sedangkan Mingyu terus memutar otaknya berusaha untuk mencari topik pembicaraan.
"Aku sudah pernah membacanya" Heera berkata secara tiba tiba dengan topik yang membuat Mingyu sangat bingung.
"Novel yang saat itu kau baca, 'Love Or Ego' aku sudah membacanya dan akhirnya sama seperti dugaanku, selalu cinta yang memenangkan semuanya, sangat tidak masuk akal" jelas Heera yang hanya dibalas anggukan oleh Mingyu.
Keduanya kembali terdiam dan tidak ada topik lagi, selalu saja seperti ini dan Mingyu sangat tidak suka dengan situasi yang canggung.
"Heera" panggil Mingyu yang membuat atensi Heera teralihkan kepadanya.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Mingyu menundukkan wajahnya takut.
"Apa?" Heera menatap heran Mingyu yang saat ini sedang menundukkan kepalanya.
"Apa kau tidak pernah bersama dengan Hami saat disekolah?" tanya Mingyu ragu.
"Jarang" jawab Heera sedetik kemudian mengalihkan pandangannya lurus kedepan.
"Kenapa?" tanya Heera tanpa mengalihkan pandangannya kearah Mingyu.
"Tidak! Aku hanya bertanya!" Mingyu menaikkan volume suaranya satu oktaf saat menjawab pertanyaan Heera.
"Ak\-aku, hanya tidak pernah melihatmu bersama dengan Hami saat disekolah, kau\- juga selalu sendirikan saat istirahat" Mingyu menjelaskan dengan nada yang kentara ragu juga takut.
"Mingyu" panggil Heera tenang tapi tidak memalingkan pandangannya yang menatap langit yang sudah gelap sepenuhnya.
"Ya?" Mingyu menyahuti dengan cepat dan membuat Heera mendengus geli mendengarnya.
"Apakah kau sangat takut denganku?" pertanyaan Heera membuat Mingyu diam membatu.
"A\-aku\-" ucapan Mingyu terpotong oleh kata kata Heera yang kembali menbuatnya terdiam.
"Ternyata kau sama saja" setelah berkata seperti itu Heera bangkit dan berjalan menjauh yang membuat Mingyu merasa bersalah.
"Kakak, jangan pergi dulu, Misoo masih mau sama kakak" Misoo mencekal lengan pakaian Heera sambil menatap mata Heera dengan mata yang berkaca kaca ingin menangis.
"Sekarang sudah malam dan kakak harus pulang" dan dengan itu Misoo menangis sesenggukan.
Mingyu panik begitu pula dengan Heera, walau bagaimanapun Heera paling tidak suka jika ada anak kecil yang menangis karena itu mengingatkan dirinya yang dulu.
"Misoo ingin kakak melakukan apa agar Misoo tidak nangis hmm?" Heera bertanya dengan nada lembut yang membuat Mingyu kembali terpanah.
Misoo menatap Heera lagi dengan mata yang sembab dan hidung merah karena habis menangis.
"Misoo ingin kakak ikut makan malam dengan Misoo dan kak Mingyu" ucap sang gadis kecil yang masih sesenggukan.
Heera dan Mingyu sontak terkejut dan saling menatap satu sama lain hingga Heera memutuskan kotak mata mereka dan kembali memandang Misoo yang masih menatapnya dengan penuh harap.
Heera berpikir untuk menolak ucapan dari Misoo tapi dia menjadi ragu ketika melihat binar penuh harapan dimata sang gadis kecil.
Heera menatap Mingyu bingung seolah bertanya 'bagaimana ini?' dan Mingyu terlihat berpikir sebentar sejurus kemudian dia mencoba untuk membujuk yang lebih mudah dan hasilnya nihil karena Misoo terus saja merengek ingin Heera ikut makan malam bersamanya.
Kini giliran Mingyu lah yang menatap Heera putus asa karena bujukannya gagal, sedangkan Heera sendiri hanya menghela nafasnya kemudian mengangguk lemas yang membuat Misoo kegirangan.
Misoo berjalan lebih dahulu dan disusul Heera juga Mingyu dibelakangnya, tidak ada pembicaraan dan hanya di isi oleh ocehan ocehan dari Misoo.
"Maaf ya" Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tidak masalah" Heera menjawab acuh karena memperhatikan Misoo yang sedang mengoceh bahagia.
Keduanya kembali terdiam dengan Heera yang fokus memandangi Misoo dan Mingyu yang sedang memikirkan sesuatu hingga mereka sampai didepan rumah Mingyu.
"Ayo kak masuk!" ajak Misoo dan diangguki oleh Heera.
Baru saja mereka bertiga menapakkan kaki didalam rumah Mingyu, sudah ada kedua orang tua Mingyu yang menyambut kedatangan mereka dengan wajah yang terlihat cemas.
"Kalian kenapa baru pulang? Eh Mingyu siapa ini? Temen kamu ya?" tanya sang ibu berturut turut.
"Tadi Misoo tidak ingin diajak pulang, dan perkenalkan dia Lee Heera, teman sekelasku. Misoo memaksanya untuk makan bersama kita karena tadi dia telah membantu Misoo" jawab Mingyu.
Kedua orang tua Mingyu tersenyum ramah kepada Heera dan mempersilahkan Heera untuk masuk.
Makanan sudah tertata rapi di meja makan dan semua keluarga Mingyu juga Heera memakan makanan dengan diiringi candaan dan ocehan dari keluarga Mingyu.
Heera memakan makanannya dengan tenang dan tidak ikut untuk berbicara kecuali saat ada yang bertanya kepadanya.
Selesai makan malam Heera berpamitan kepada orang tua Mingyu untuk pulang kerumahnya, tapi Mingyu memaksa Heera untuk pulang bersamanya dan akhirnya Heera hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Mingyu mengantar Heera pulang dengan berjalan kaki karena Heera tidak ingin naik motor dengan alasan tidak ingin orang lain salah paham.
"Kenapa kau ingin mengantarku pulang? Apa kau hanya ingin bersikap baik kepada orang tuamu? Jika iya maka\-" perkataan Heera terpotong oleh Mingyu yang berbicara dengan nada tegas.
"Bukankah sudah kubilang tadi bahwa kau adalah temanku, aku tidak ingin membiarkan temanku pulang sendiri dilarut malan seperti ini" tegas Mingyu kepada Heera yang sedang melihatinya.
Keduanya diam dengan Heera yang menghadap lurus kedepan dan Mingyu yang menundukkan kepalanya.
"Apa kau tidak takut bila aku melukaimu?" tanya Heera yang sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.
Mingyu menatap Heera sejenak dari samping kemudian menggelengkan kepalanya tanda bahwa dia tidak setuju dengan peryanyaan Heera barusan.
"Untuk apa aku takut, kita sama sama manusia dan aku yakin kau tidak akan melukaiku karena kita teman bukan" Mingyu mengakhiri kalimatnya dengan senyuman dan tak nampak sedikitpun keraguan dari nada bicara Mingyu dan hal itu membuat Heera sedikit tersentuh.
"Kau pemaksa sekali ya" itulah yang dikatakan oleh Heera sebelum dia menunjukkan senyumannya kepada Mingyu, benar benar senyum yang ditujukan untuk Mingyu.
Mingyu mendadak kaku dan pipinya terasa panas saat melihat Heera tersenyum kepadanya, bahkan itu lebih manis dari senyuman Heera tadi saat ditaman.
Keduanya terdiam dengan Mingyu yang masih mencerna kajadian tadi dan Heera yang memandang langit dan sesekali menendang kerikil dikakinya.
Mingyu kemudian menatap lurus kejalanan dengan ekspresi yang kembali biasa biasa saja setelah sadar dengan kebodohannya tadi.
"Sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya masalah disekolah" pikir Mingyu.
"Apa aku sudah benar menerimanya sebagai temanku?" pikir Heera.
Keduanya terhanyut dalam pikiran masing masing hingga mereka sampai didepan rumah Heera.
Mingyu kembali dibuat takut dengan Rumah Heera yang tampak menakutkan diluar, Heera terkekeh dengan Mingyu yang seperti itu.
"Sampai jumpa" Mingyu pun melenggang pergi menjauh dari rumah Heera.
"Awas ada seseorang yang mengawasimu dari belakang" begitulah ucapan Heera yang membuat Mingyu melangkahkan kakinya lebar lebar.
Heera melangkahkan kakinya menyusuri lorong kamar yang gelap, kemudian berhenti ketika mendengar suara langkah kaki lain didalam rumahnya.
Heera berlari menjauh mencoba mencari tempat untuk bersembunyi, tapi kesialan berpihak kepada Heera saat ini, karena dia melihat Hami yang berjalan menaiki tangga.
Heera mempercepat laju larinya hingga menuruni tangga dan menarik tangan Hami menuju ke suatu tempat yang pastinya tempat untuk dia dan Hami bersembunyi.
Heera berjalan kearah kamar dilantai dasar yang dulunya ditempati oleh kedua orang tuanya, Heera menyuruh Hami untuk masuk kedalam lemari pakaian tapi Hami menolaknya dengan suara yang lantang.
"KIM HAMI MASUK SEKARANG ATAU KAU AKAN MATI!!" pinta Heera mutlak yang membuat Hami langsung ketakutan dan menuruti perintah Heera.
Sebelum Heera menutup pintu lemari, Hami menahan pergerakan Heera dengan memegang salah satu pintu.
"Kau ingin kemana? Apa yang terjadi?" Hami bertanya panik.
Saat Heera ingin menjawab dia mendengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin jelas.
"Siapa mereka?" Hami kembali bertanya dengan nada khawatir.
Hami pun mendengar suara langkah kaki sama seperti Heera maka dari itu Hami sangat panik.
Heera selalu menyuruhnya untuk bersembunyi disaat hal seperti ini selalu terjadi dan Heera tidak pernah memberitahu kepada Hami apa yang sebenarnya terjadi.
Tapi itu bukanlah yang membuat Hami menjadi khawatir sekaligus takut, yang membuat Hami takut dan khawatir adalah Heera yang biasanya tampak tenang jika situasi seperti ini terjadi sekarang malah terlihat panik dan cemas.
"Hami, tolong jangan keluar dan jangan bersuara apapun yang terjadi. Pakailah ini, aku harus menyelesaikan sesuatu" Heera memakaikan headset pada telinga Hami yang sedang mengalunkan sebuah lagu.
Dengan takut takut Hami menuruti apa kata Heera, dia diam didalam lemari dan berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Diluar lemari saat ini terdapat Heera yang sedang bersembunyi dibalik pintu menunggu seseorang memasuki kamar, Heera mengambil sebuah belati yang selalu dia bawa kemana saja.
Cklek~
Pintu terbuka pelan dan muncul seseorang dibalik pintu dengan masker yang menutupi mukanya, pria asing itu maju memasuki kamar dan mengecek dibawah kasur.
Heera berjalan pelan dan mengambil ancang ancang untuk menusukkan belatinya pada bagian fital pria asing tersebut.
Jleb
Belati yang dipegang Heera menghunus dada pria asing tersebut hingga tak sadarkan diri karena memang telah mati.
Dor...
Dor...
Dor...
Seseorang dari belakang sedang menembak Heera, tapi untunglah Heera dengan sigap menghindarinya meski hal itu sia\-sia karena peluru tetap saja mengenai bahu kanan Heera.
"Akh" Heera meringis kesakitan karena bahunya tertembak.
Dari dalam lemari, Hami sangatlah ketakutan apalagi saat mendengar suara tembakan diiringi dengan Heera yang sedang meringis kesakitan.
Hami menutup mulutnya rapat rapat menahan agar mulutnya tidak mengeluarkan suara dan Hami berdoa agar tidak terjadi apapun kepada Heera.
Heera bangkit dan berusaha untuk membalas perbuatan dari pria asing yang bahkan tidak dia ketahui asal usulnya kecuali tentang dua tersebut adalah suruhan dari seseorang yang sangat dia benci.
Jleb
Belatinya berhasil menghunus lengan pria asing tersebut, tapi bukannya menarik belati Heera lebih suka untuk menekan belati miliknya semakin dalam hingga tercipta luka yang sangat parah.
Heera menarik belatinya saat mendapat perlawanan balik dari pria tersebut, sedikit nyeri saat Heera menggerakkan tangannya karena luka yang dia dapat saat ini.
Mereka berdua berusaha melawan satu sama lain dan saling membunuh dengan tujuan yang tentunya berbeda.
Beberapa luka yang sangat dalam telah Heera dapatkan dan itu membuat Heera jadi semakin melemah kerena darah yang terus saja mengalir keluar dari tubuhnya.
Heerapun terjatuh dilantai kamar yang dingin dan telah ternodai oleh banyaknya bercak bercak darah, baik dari darah Heera ataupun darah pria asing tersebut.
Pria itu mendekat kearah Heera dan menyentuh dagu Heera yang membuat Heera meringis karena menahan pusing dikepala dan nyeri ditubuhnya akibat pergerakan yang dilakukan oleh pria itu.
"Kau yang dulunya suka sekali membunuh, kini kaulah yang telah terbunuh, apa kau telah merasakan bagaimana rasanya menemui ajalmu Lee Heera? Ingatlah setiap dosa pasti akan ada yang membalasnya, selamat menemui ajalmu Lee" pria asing itu tersenyum dan membentuk sebuah seringaian.
Heera menatap pria itu tepat dimatanya yang membuat Heera membeku seketika, Tuhan apakah ini yang dirasakan orang orang yang telah dia bunuh, beruntunglah mereka karena tidak perlu merasakan sakit yang berkepanjangan seperti yang dirasakan Heera saat ini, tapi jikapun sekarang dia mati, dia tidak ingin mati ditangan lelaki brengsek yang ada dihadapannya saat ini.
"Sialan kalian" Heera menyumpahi pria asing itu, kemudian jatuh tidak sadarkan diri.
"Lebih baik ku biarkan kau mati perlahan mungkin itu lebih menyenangkan, lagi pula tidak akan ada yang mendatangi rumahmu hingga besok pagi. Sampai jumpa adik sepupu, terimakasih telah bermain denganku dulu"
dengan itu pria yang tadi melukai Heera pergi meninggalkan kediaman keluarga Lee dengan tersenyum puas karena tugasnya selesai.
__ADS_1
"Seharusnya kau tidak menghiraukanku dulu dan lebih memilih bermain dengan bocah tidak berguna itu Lee" ucapnya kembali dengan nada dan wajah yang terlewat datar.