
Hami menatap sendu ruangan bernuansa putih tersebut, pandangannya tak lepas dari seorang gadis yang kini terbaring lemah dengan wajah pucat dan tubuh yang dililit dengan perban ditubuhnya.
Hami memutar kembali memorinya saat Heera sedang menantang maut, bahkan dia sempat melindungi Hami dan berusaha untuk membuat Hami tidak khawatir terhadapnya.
"Kau yang dulunya suka sekali membunuh, kini kaulah yang telah terbunuh. Ingatlah setiap dosa pasti akan ada yang membalasnya, selamat menemui ajalmu Lee" kata kata itu terus saja berputar diotak Hami tanpa berniat untuk lenyap meski hanya sejenak.
"Daun yang gugurpun akan sangat senang jika mereka jatuh dengan tenang, bukan malah dibuang kemudian diinjak hingga tak ada seorangpun yang berharap bahwa dia akan kembali untuk berpijak" Hami berkata lirih sambil menatap Heera yang belum sadarkan diri.
"Kau sebenarnya indah, hanya mereka saja yang memandang mu sebelah mata, tanpa berpikir bahwa ada hati yang terluka, dan rapuh dengan waktu juga takdir yang terus mencemo'oh dirimu hingga berdosa-"
"Lee Heera, kumohon bertahanlah, karena masih ada yang menginginkanmu di dunia, dan merentangkan tangannya untuk dirimu bersinggah, kumohon jangan pergi Lee Heera"
Sudah sekitar seminggu Heera tidak sadarkan diri dan membuat Hami semakin khawatir, beberapa hari yang lalu ada seseorang yang dengan senang hati mendonorkan darahnya untuk Heera dan membuat Hami juga ayahnya menjadi sedikit lega, ternyata masih ada yang peduli terhadap dirinya.
Seminggu itu Mingyu juga dibuat khawatir dengan ketidak hadiran Heera disekolah, ditambah dengan Hami yang tidak pernah keluar kelas dan selalu mandang kosong kedepan membuat Mingyu dan teman teman Hami khawatir dengan gadis berketurunan Jepang dan Korea itu.
Kelas Mingyu dan Hami bersebelahan hingga memudahkan Mingyu bertemu ataupun mengawasi Hami.
Pagi ini Mingyu sudah bertekad untuk bertemu dengan Hami, dia berjalan memasuki kekelasnya untuk menaruh tas kemudian dia keluar menuju kekelas Hami.
Dari luar kelas, Mingyu dapat melihat Hami yang tengah melamun seperti kebiasaannya akhir akhir ini.
Dengan langkah lebar Mingyu berjalan mendekati meja Hami, tentu saja Hami tertegun mendapati Mingyu yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Hami bisa kita bicara?" Mingyu menatap Hami dengan sorot mata yang menuntut bahwa Hami harus menuruti keinginannya.
Mau tidak mau Hami menuruti kemauan dari Mingyu dan saat ini mereka sedang berada di rooftop, dan yang mereka lakukan dari tadi hanyalah duduk saja.
"Ada apa?" tanya Hami dengan hawa yang tidak berteman.
"Heera kenapa semingguan ini tidak masuk?" tanya Mingyu canggung ketika tahu respon yang diberikan oleh Hami.
"Bukan urusanmu" jawab Hami sarkas.
"Itu urusanku karena aku adalah teman Heera juga" Mingyu mencoba untuk membela dirinya.
Hami menatap Mingyu remeh dan terkesan merendahkan, dia juga seakan tidak percaya dan tidak ingin percaya dengan apa yang dikatakan Mingyu barusan.
"Sejak kapan? Apa buktinya? Apa kau tidak mengada ada? Tolong jangan bermimpi bahwa kau berteman dengan Heera, Heera bahkan selalu menghiraukan diriku yang berstatus sebagai sahabat dekatnya, bagaimana bisa dia menerimamu yang bahkan bukan siapa siapanya" Hami bertanya dengan nada merendahkan dan sinis, entahlah Hami merasa tidak terima bahwa Heera berteman dengan orang lain selain dirinya, dia merasa seperti telah dikhianati.
"Kemarin malam, aku tidak sengaja bertemu dengan Heera dan sedikit berbincang bincang, dan saat aku menawarkan diriku sebagai temannya, dia menerimaku dan menjadikanku sebagai temannya mulai saat itu, dia juga bahkan tersenyum kepadaku, apa kau masih tidak percaya? Jika kau tidak percaya maka tanyakan saja pada Heera!" Mingyu mencoba untuk membela dirinya kembali.
"HEERA TIDAK AKAN BERTEMAN DENGAN SIAPAPUN SELAIN AKU!!!" Hami berteriak membuat Mingyu tersentak kaget dan mundur satu langkah kebelakang.
Ini jelas bukanlah Hami yang dia kenal selama ini, karena Hami yang dia kenal adalah seorang yang anggun, pemalu dan sangat lembut, dia tidak tahu jika kepribadian lain dalam diri Hami sangatlah menyeramkan dan tampak seperti seseorang yang sangat kasar dan memiliki ego yang besar.
"Ke-kenapa aku tidak boleh berteman dengan Heera?" Mingyu bertanya dengan hati hati dan menjaga jarak ketika melihat respon Hami yang tidak bersahabat.
"Karena Heera hanya akan berteman denganku, bahkan jika dia sudah tidak menganggap ku lagi, maka aku pastikan tidak akan ada yang bisa berteman dengan dirinya termasuk dirimu KIM MINGYU" Hami menekan setiap perkataannya dan membuat Mingyu bergidik ngeri dengan Hami yang saat ini ada di hadapannya.
"Sampai kapanpun, hanya akulah yang akan menjadi temannya, hanya akulah yang akan melindunginya, dan hanya akulah yang ada dimatanya" kini nada bicara Hami berubah menjadi sendu dengan tatapan memelas.
"Kenapa...hiks-" tunggu apakah Hami menangis saat ini.
Mingyu menatap Hami yang sedang menahan tangisnya, karena tampak tubuhnya yang kini bergetar hebat.
"Kenapa kau Jahat telah merebut Heera dariku hiks, padahal hiks, aku sudah berusaha untuk membuat Heera melihat kearahku lagi, tapi hiks, tetap saja tidak bisa, dan kau yang bukan siapa siapa Heera hiks, kenapa kau bisa mengambil seluruh atensi Heera hiks, kenapa kau merebut Heera, KENAPA?!?!" Hami menangis sesenggukan.
Mingyu tidak pernah tahu bahwa Hami sudah berjuang mati matian agar seluruh atensi Heera hanya terarah kepadanya, tapi usahanya gagal karena Mingyu yang dengan seenaknya merebut posisi Hami sebagai teman dekat Heera dan tentu saja Hami tidak terima dengan hal itu.
Mingyu memeluk Hami dan mengucapkan maaf berulang kali, dia merasa sangat bersalah kepada Hami karena telah merebut sahabatnya, tapi Mingyu juga mencoba untuk berteman dengan Heera karena dia penasaran siapa Heera sebenarnya. Ya, hanya sekedar penasaran saja.
Setelah Hami sudah merasa tenang, Mingyu melepaskan pelukannya dan mereka kembali kepada posisi semula yaitu duduk tanpa ingin melanjutkan kata kata.
Heera menatap langit dengan pandangan sendu dan tentunya wajah sembab karena habis menangis.
"Bolehkah aku egois? Aku ingin kau hanya melihatku, memperhatikanku, tersenyum ke arahku dan mencaci maki diriku. Apakah sangat sulit bagimu untuk kembali menganggap diriku ada dan penting di kehidupanmu. Sungguh aku tidak ingin menjadi seorang teman yang tersakiti meski nyatanya rasa sakit yang ku alami tidak sesakit penderitaan yang kau lalui" Hami membatin kemudian cairan bening kembali terjatuh dari mata indah Hami.
Mingyu terus saja mengamati Hami, apakah harus sampai sebegitunya hingga dia terus saja menangis, padahal Heera hanya berteman memang apa salahnya kan.
"Apa kau tidak ingin kembali kekelas?" tanya Mingyu yang tidak direspon oleh Hami.
Mingyu diam dan kembali menatap lurus kedepan, sebenarnya jika mau dia akan pergi meninggalkan Hami hanya saja jika dia melakukan itu, dia akan mendapatkan masalah dari Hami maupun Heera dan dia tidak ingin itu terjadi, dan rencananya juga akan menjadi sia sia jika hal itu sampai terjadi.
Katakan lah Mingyu jahat dan tidak berperasaan karena memiliki niat seperti itu karena memang itu adalah sifat Mingyu yang sebenarnya.
Mingyu sebenarnya adalah seorang yang berkepribadian tidak peduli, dingin, cuek dan tidak berperasaan, dia juga adalah seseorang dengan rasa penasaran yang tinggi.
Dan karena sikap Heera yang tampak berbeda dengan murid lainnya membuat rasa penasaran Mingyu melunjak.
Bel istirahat berbunyi tapi tidak ada tanda tanda Hami ingin beranjak pergi dari tempat itu.
Mingyu yang jengah pun berdiri meninggalkan Hami sendirian dan Hami juga nampak tidak peduli dengan Mingyu yang telah hilang dibalik pintu yang menghubungkan rooftop dengan tangga.
Lama Hami terdiam dengan posisi yang tidak berubah sama sekali, pintu rooftop terbuka dan kembali menampakkan sosok Mingyu yang berjalan kearahnya dengan roti dan sekotak susu rasa strawberry.
"Nih buat kamu" Mingyu menyodorkan roti dan susu yang dia beli kepada Hami.
Tidak ada pergerakan apapun dari Hami yang membuat Mingyu jadi jengah sendiri dengan tingkah laku Hami.
Baru daja Mingyu ingin membuka suara, Hami lebih dulu berbicara dan menginterupsi Mingyu untuk kembali menutup mulutnya.
__ADS_1
"Mingyu, menurutmu aku ini orang seperti apa? Kumohon jujurlah" ucap Hami.
"Menurutku kau adalah gadis yang manis, baik dan ramah, tapi setelah melihat sikapmu tadi, aku jadi berpikir bahwa kau juga adalag seseorang yang keras, posesif dan egois mungkin" jawab Mingyu dengan nada ragu diakhir kalimatnya.
Keduanya lalu terdiam kembali dan tidak ada yang ingin membuka percakapan, baik Mingyu ataupun Hami.
Di salah satu ruangan di rumah sakit terdapat seorang gadis yang tengah terbaring lemah di ranjang dan tidak berniat untuk membuka matanya ataupun menggerakkan anggota badannya.
Disebelah ranjang terdapat seorang lelaki SMA yang setia menunggu gadis tersebut bangun dari tidur panjangnya.
"Kapan kau akan bangun? Apa kau akan membiarkanku sendiri dan dikucilkan oleh mereka? Bukankah kau sudah janji akan menjagaku? Apa kau akan mengingkarinya, kak Heera?" lelaki yang bernamakan Lee Hanwoo tersebut menatap sang kakak sendu.
Dia memegang tangan Heera selagi yang dipegang belum sadarkan diri, membawa tangan Heera kekepalanya dan menggerakkan tangan itu seperti sedang mengelus dirinya.
Setelah puas Hanwoo menurunkan tangan Heera mengelus lembut tangan yang biasanya di gunakan untuk melindungi dirinya dari siksaan kedua orang tuanya.
Hanwoo benci situasi dimana dia harus melihat Heera terbaring tidak sadarkan diri diatas ranjang rumah sakit dan memerlukan waktu berminggu minggu untuk Heera sadar, dan Heera jadi seperti itu juga karena kakaknya yang memiliki dendam tersendiri dengan Heera.
"Ada saatnya dimana aku lemah yaitu melihat orang yang kusayangi terluka dan aku berjanji tidak akan membiarkan Hanwoo kecilku terluka" ingatan itu terus saja terputar di otak Hanwoo yang membuatnya meneteskan air mata.
Heera memang sangat jarang masuk rumah sakit tapi sekali Heera masuk rumah sakit, akan lama baginya untuk meninggalkan tempat itu.
Paling lama Heera berada di rumah sakit mungkin sekitar dua bulan karena lukanya yang teramat dalam, bahkan Heera pernah sampai di operasi beberapa kali.
Hanwoo sadar bahwa Heera seperti sekarang karena dirinya, sang kakak menyimpan dendam pun juga karena dirinya, dan hal yang paling Hanwoo benci adalah mengetahui bahwa kelemahan sesungguhnya dari Lee Heera adalah dirinya.
Sejak kecil Heera selalu saja melindungi dan membela dirinya dari amukan sang ayah dan juga ibunya, bahkan kakaknya, Lee Hanyuk sempat marah dan merengek kepada Heera bahwa dia harus menjauh dan tidak berurusan lagi dengan Hanwoo tapi Heera menolak dengan alasan bahwa dia kasihan dengan Hanwoo yang kecil dan lemah, hal itu membuat Hanyuk marah dan berniat membalas perbuatan Heera karena telah mengacuhkannya.
"Bolehkah aku menyesal karena bertemu dengan dirimu? Bolehkah aku kecewa karena melihatmu tersenyum? Dan bolehkah aku menangis melihatmu yang selalu saja tersiksa?-" Hanwoo diam sebentar untuk menatap manik mata Heera yang tertutup rapat.
"Aku sangat menyesal karena telah dipertemukan oleh malaikat sepertimu, aku kecewa karena senyum palsu yang selalu kau berikan kepadaku, dan aku sangat sedih saat kau mempertaruhkan nyawamu karena diriku, kenapa kau harus menjadi kakakku" Hanwoo menundukkan kepalanya dalam dalam sambil masih menggenggam tangan Heera erat.
Hati Hanwoo sekarang sangat sakit karena melihat kakak tersayangnya tidak kunjung terbangun.
Menangis adalah satu satunya hal yang dapat Hanwoo lakukan saat ini, dia terus saja berandai bahwa dia sedang berada didalam game dan dapat membuat Heera sembuh begitu saja.
Bel pulang sekolah telah berbunyi sedari tadi, ketika Mingyu ingin keluar dari area sekolah tiba tiba saja Hami menariknya dan memaksanya untuk masuk kedalam mobilnya.
Mingyu awalnya menolak tapi Hami sudah menarik Mingyu untuk masuk dan mobil yang mereka tumpangi melaju kearah yang pastinya berlawanan dengan arah rumah Mingyu.
"Kau ingin membawaku kemana?" Tanya Mingyu yang sedikit marah karena ditarik laksa oleh Hami.
Tak ada jawaban dari Hami dan itu membuat Mingyu mendengus tidak suka, baik Heera ataupun Hami ternyata sama sekali tidak ada bedanya pikir Mingyu.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah sakit, Mingyu tentu saja bingung kenapa Hami membawanya kerumah sakit.
Hami menyuruh Mingyu untuk turun dari mobilnya dan menyuruh Mingyu untuk mengikutinya.
"Heera" satu kata itu berhasil membuat Mingyu terkejut, kenapa Heera bisa sakit? Pertanyaan itu yang mengisi otak Mingyu saat ini.
Hami berhenti di salah satu bangsal rumah sakit yang Mingyu yakini adalah tempat Heera dirawat saat ini.
Cklek~
"Heera aku-" perkataan Hami terhenti ketika dia melihat orang lain didalam bangsal yang ditempati Heera.
"Hanwoo?" yang merasa dipanggil pun menoleh dan mendapati Hami juga seseorang yang dia tidak kenal.
"Sejak kapan kau disini? Apa kau bolos?" tanya Hami yang menyadari bahwa Hanwoo tidak memakai seragam sepertinya.
Hanwoo hanya mengangguk lalu melihat kearah Mingyu dengan pandangan heran, Hami yang tahu hal itu langsung buka suara.
"Perkenalkan dia Kim Mingyu, teman sekelas Heera" Mingyu membungkuk untuk memberi salam.
"Mingyu perkenalkan dia Lee Hanwoo, se-"Hami belum selesai berbicara tapi Hanwoo lebih dulu menyelanya.
"Pacar kak Heera" potong Hanwoo sebelum Hami menyelesaikan perkataannya.
Baik Hami ataupun Mingyu sama sama terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Hanwoo barusan sedangkan Hanwoo sendiri nampak tidak peduli dengan reaksi Hami dan Mingyu.
Hami yang baru tersadar bahwa Hanwoo berkata seperti itu karena Heera pun kembali memasang ekspresi biasa sedangkan Mingyu masih asik bergelut dalam pikirannya.
Hami memukul lengan Mingyu supaya dia berhenti melamun, sedangkan Mingyu yang sedang melamun tentu saja terkejut dengan perlakuan Hami.
"Hanwoo bisa keluar sebentar?" tanya Hami hati hati karena adik Heera ini sangat tidak suka diperintah kecuali oleh Heera.
"Hmm, aku titip kak Heera, aku ingin pulang" dengan itu Hanwoo keluar dari bangsal yang ditempati oleh Heera dan menyisahkan Hami yang terkejut dengan respon Hanwoo.
Hami pikir bahwa Hanwoo akan menolak perintahnya seperti biasa, karena selain tidak ingin diperintah oleh orang lain dia juga pasti tidak ingin jauh jauh dari Heera.
Katakanlah bahwa Hanwoo adalah tipe adik yang tsundere dengan kakaknya, karena memang kenyataannya seperti itu.
Hanwoo adalah tipe anak yang paling susah untuk mengekspresikan emosinya karena suatu hal, maka dari itu Heera lebih memilih bersama dengan Hanwoo dari pada dengan Hami.
Hami mengerjabkan matanya berkali kali barulah dia sadar dengan sikapnya barusan, dengan itu Hami membalikkan badannya menghadap kearah Mingyu dan meminta maaf, setelahnya Hami memandangi Heera yang masih saja enggan untuk membuka matanya.
"Apa kau membawaku kesini karena hal ini?" tanya Mingyu memastikan.
"Bukankah kau tadi penasaran dimana Heera sekarang?" kini Hami yang balik bertanya.
Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung untuk menjawab apa dan Hami tampak tidak peduli dengan sikap Mingyu.
__ADS_1
"Apa tidak masalah kau mengajakku kemari?" tanya Mingyu pada akhirnya.
"Memang kenapa? Bukankah kau tadi bilang bahwa kau adalah teman Heera, jadi apa salahnya" itu lah jawaban Hami yang membuat Mingyu kembali terdiam.
Mingyu beralih memandangi Heera sama seperti yang Hami lakukan saat ini. Wajah tenang Heera membuatnya teringat oleh seseorang, orang yang dulunya pernah mengisi hampir seluruh ruang dihatinya.
Hami beranjak dari duduknya dan hal itu mengejutkan Mingyu yang sedang serius memperhatikan Heera yang tidak sadarkan diri.
"Aku ingin ke toilet dulu" pamit Hami lalu beranjak keluar dari bangsal.
Mingyu memandangi kepergian Hami kemudian kembali untuk mengamati wajah tenang Heera lekat lekat.
"Tidak ada yang tahu sebenarnya siapa yang sedang melakukan tipu muslihat disini. Kita yang sama sama ingin memuaskan sebuah ambisi dengan jalan penyelesaian yang sama tapi tujuan yang sangat berbeda-"
"Kau yang tahu tentang ambisiku sedangkan aku yang tidak mengetahui semua tentang dirimu, ini terdengar aneh tapi sepertinya aku mulai membencimu"
"Kau terlalu mirip dengan dirinya Lee Heera-" Mingyu bergumam.
"Tapi bolehkah aku berharap bahwa kau akan baik baik saja? Setidaknya aku masih bersimpati denganmu" dengan itu Mingyu beranjak keluar dari bangsal yang ditempati oleh Heera.
Sedangkan Hami sendiri masih setia berada didalam toilet, lebih tepatnya dia kini sedang berhadapan dengan sebuah kaca besar yang terpasang apik didalam toilet.
Hami sebenarnya masih tidak terima jika Mingyu berteman dengan Heera, tapi dia lebih merasa aneh dengan sikap Heera yang dengan mudahnya menerima Mingyu sebagai temannya.
Selama ini Heera selalu menolak setiap siswa siswi yang ingin menjadi temannya, tidak peduli sikap mereka manis ataupun terlewat baik, karena memang Heera memiliki alasan tersendiri untuk tidak berteman.
Contohnya seperti ketkel Heera yang bernama Kang Taebin, dia dulunya selalu bersikap manis dan perhatian dengan Heera supaya Heera ingin terbuka dengannya bahkan dia selalu mengikuti Heera saat disekolah, tapi setelah mengetahui identitas asli Heera dan mendapatkan ancaman akhirnya Taebin mulai menjauhi Heera, hanya saja Hami terkadang memergoki Taebin yang sedang memperhatikan Heera dari jauh tentu saja.
Hami berpikir bahwa Heera ingin berteman dengan Mingyu pasti karena suatu hal yang sangat dia takutkan, tapi bisa jadi karena dia ingin menjebak Mingyu karena telah mempermainkan Heera?
Kepala Hami merasa teramat pusing karena memikirkan hal itu, dia mencuci mukanya kemudian keluar dari toilet rumah sakit.
Disebuah mansion yang megah terdapat seorang pemuda sedang melempar semua barang barang dikamarnya secara brutal hingga seisi kamar terlihat seperti kapal pecah atau bahkan lebih parah dari itu karena seisi kamarnya telah rusak semua.
"SIALAN KAU LEE HEERA!!!" amuknya hingga membuat kedua orang tuanya terusik dengan suara menggelegar milik sang anak.
Pemuda itu kemudian terduduk di kasur king size empuk miliknya dan mencoba menetralkan amarahnya.
"Untuk kali ini aku berterima kasih karena kau masih bisa hidup Lee, aku akan selalu menyempatkan diriku untuk bermain denganmu, tunggu saja Lee" setelah mengucapkan kata kata itu, dia beranjak keluar dari kamarnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya.
Lee Hanwoo tengah berada di rooftop rumah sakit, dia tadi berbohong kepada Hami bahwa dia akan kembali kerumahnya, memang siapa yang ingin berada dirumah yang isinya adalah orang orang psikopat gila.
Selain itu alasan Hanwoo tidak ingin pulang kerumahnya karena dia tidak ingin mendengar ocehan orang tuanya yang selalu membandingkan dirinya dengan sang kakak.
Hanwoo akui bahwa dia adalah anak paling tidak berguna di antara keluarganya, memang anak mana yang senang bila dirinya digunakan dan dituntut oleh orang tua untuk membunuh orang orang yang tidak berdosa maupun yang telah melakukan dosa besar, tapi bukankah membunuh juga merupakan dosa yang teramat besarnya?
Hari sudah mulai gelap dan Hanwoo masih betah berada di rooftop tanpa merasa kedinginan sedikitpun, karena dia memang sudah terbiasa seperti itu sejak kecil.
Hanwoo dulunya selalu saja kabur dari rumah supaya terhindar dari ocehan tidak berguna kedua orang tuanya, dan kebiasaannya itulah yang membuatnya selalu berkelana di gelap dan juga dinginnya malam, tapi memang itulah yang Hanwoo butuhkan.
Sangat lama dia berada di rooftop sambil bersandar pada dinding pembatas, hingga sebuah notifikasi di ponsel mengganggunya.
Hanwoo menghiraukan notifikasi tersebut yang sebenarnya adalah sebuah pesan dari sang kakak, Lee Hanyuk tapi sepertinya Hanyuk memang sengaja ingin mengganggunya terbukti bahwa dia terus saja mengirim pesan kepada Hanwoo.
Hanwoo terus saja menghiraukan pesan dari sang kakak hingga sebuah pesan yang membuatnya lekas turun dari rooftop dan berlari menuju bangsal Heera.
Dipesan itu mengatakan bahwa kakaknya saat ini telah berada dirumah sakit atau lebih tepatnya didalam bangsal yang ditempati oleh Heera, Hanwoo sangat khawatir jika kakaknya akan mencoba membunuh Heera kembali.
Brak~
Pintu terbuka dengan kasar dan hal pertama yang Hanwoo lihat benar benar tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
Dia melihat Hanyuk yang sedang duduk dikursi sambil menggenggam tangan Heera dan jangan lupakan tatapan sayu yang dia tujukan untuk Heera.
Hanwoo berjalan kearah Heera dengan wajah memerah padam karena menahan emosi, dia menghempaskan tangan Hanyuk yang tadinya telah memegang tangan Heera.
"JANGAN PERNAH KAU MEMEGANG TANGAN KAK HEERA!!" Hanyuk diam ketika sang adik membentaknya.
"Bukankah sekarang kau senang karena telah membuat kak Heera kembali masuk ketempat sialan ini? Sekarang apa yang kau lakukan disini? Apa kau ingin membunuh kak Heera? Kau memang\-"
"Memang kenapa? Aku kemari karena ingin bertemu dengan sepupuku, apakah tidak boleh?" Hanyuk memotong perkataan dari sang adik.
"Sejak kapan kau menganggapnya sepupu? Bukankah kalian hanya menganggap kak Heera mainan saja?" Hanwoo berkata dengan nada meremehkan.
Hanyuk tertawa dengan kata kata Hanwoo barusan, seakan dia tidak terpancing dan menganggap perkataan adiknya memang semuanya tepat sasaran, tapi jika untuk menganggap Heera sepupunya mungkin Hanyuk harus membalas ocehan adiknya ini.
"Apa kau tidak melihat dirimu sendiri? Kau sendiri juga tidak mempedulikan Heera dan lebih memilih bermain dengan ponselmu saja, apa itu yang kau sebut sayang terhadap Heera?" balas Hanyuk yang juga sedang meremehkan Hanwoo.
Setelah mengatakan itu Hanwoo tiba tiba saja terdiam dan tidak bisa berkata apa apa lagi, kakaknya memang benar jika dia lebih asik dengan ponselnya dari pada mendengarkan Heera berbicara.
Cukup lama keheningan mendominasi keduanya hingga bunyi notifikasi dari ponsel milik Hanyuk memecahkan keheningan tersebut.
Hanyuk buru buru membuka ponsel miliknya dan tertera jelas nama sang ayah dilayar yang menyuruhnya untuk segera pulang.
Hanyuk kembali memasukkan ponselnya setelah selesai membalas pesan dari sang ayah kemudian tersenyum remeh kearah Hanwoo.
"Kau memang benar bahwa aku, ayah, dan ibu hanya menganggap Heera mainan saja maka dari itu aku kesini untuk memastikan bahwa mainanku baik baik saja" Hanwoo berusaha sekeras mungkin untuk menahan emosinya.
"Sampai jumpa adikku, aku harap kau pulang hari ini" dengan itu Hanyuk melangkahkan kakinya keluar dari bangsal dan menyisahkan Hanwoo yang berusaha mati matian agar tidak terpancing oleh emosinya dan juga Heera yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
++++
__ADS_1
'Tidak ada yang tahu bagaimana perasaan seseorang akan berlabuh. Dua orang teman yang merasa dipermainkan dan hubungan saudara yang rentan karena masalah. Akhirnya hanya akan ada harapan yang menyisahkan sebuah perasaan yang tidak terbalaskan, juga penyesalan yang bersinggah karena terlalu berharap kepada sebuah perasaan"