Crazy Rich Girl

Crazy Rich Girl
PROLOG


__ADS_3

Menjadi orang kaya tentu adalah impian semua orang. Barang branded, kehidupan yang mewah, apapun yang diinginkan hanya tinggal menjentikkan jari dan voila semuanya menjadi nyata. Terkadang, memiliki banyak uang itu terasa seperti peri yang memiliki banyak serbuk ajaib. Bahkan, cinta saja bisa dibeli dengan uang—ya, walaupun itu bukan cinta yang tulus.


Tapi, kekayaan itu terkadang membuat seseorang menjadi angkuh dan lupa dengan sekitarnya. Menjadi arogan, tidak tahu belas kasih dan juga sisi kemanusiaan.


Entahlah, di dunia yang menempatkan uang sebagai tahta nomor satu ini sebenarnya banyak sekali kelebihan dan kekurangannya.


Siapapun yang memiliki banyak uang, tentu akan diprioritaskan. Berbeda terbalik dengan dia yang bahkan untuk makan pun harus berpikir tiga kali sebelum membelinya.


Bruk!!!

__ADS_1


"Aduh, hati-hati kalau jalan!" Jessica menunduk untuk mengambil beberapa kantung kertas belanjaannya sebelum seorang pengawal pribadinya datang menghampiri mereka dan membantunya mengambil beberapa tas belanja itu dari tangan Jessica.


Seorang pria berperawakan tinggi baru saja menabrak tubuhnya, untung saja Jessica bukanlah wanita lemah. Tentu saja, bagaimana jadinya jika seorang ketua Clan mafia ternama ternyata memiliki fisik yang lemah? Sudah habis dari dulu dan mungkin saja sekarang ia akan menjadi gelandangan. Atau, bisa saja sebelum tahta ini turun kepadanya, Ayahnya sudah membuangnya terlebih dahulu.


Tapi itu tidak mungkin, ia adalah anak satu-satunya dari Pak Tua itu. Mana tega ia membuangnya dan membiarkan aset berharga ini diambil oleh orang lain.


"Maaf Nona, kepala saya sedikit pusing. Sekali lagi saya minta maaf," ujar pria yang menabraknya tadi seraya membungkuk sopan. Baju pria itu sedikit kotor dan lusuh, dalam sekali lihat saja Jessica tahu jika pria ini adalah seorang tunawisma di distrik ini.


"Tidak usah, Nath. Aku buru-buru, sebaiknya kau segera menelpon Jaguar untuk menjemput kita."

__ADS_1


"Dan kau, apakah kamu belum makan?"


Pria tadi menggeleng. Wajahnya memang sedikit pucat dan bau alkohol jelas sekali tercium darinya. Sepertinya ia lebih memilih membeli sebotol minuman dibandingkan makanan, dan Jessica tahu jika seorang tunawisma sepertinya pasti susah untuk mendapatkan uang. Ia tidak bermaksud untuk mengejek, itu adalah fakta karena mereka mendapatkan uang hanya dari orang-orang yang ikhlas memberinya di jalan dan itupun terkadang hanya beberapa sen saja. Maka dari itu, Jessica dengan cepat langsung memberikan salah satu tas belanjanya yang berisikan beberapa potong roti dari toko kesukaannya.


"Makan ini, lain kali jika kau punya uang, belikanlah makanan jangan kau belikan minuman beralkohol. Nasib baik kau hanya menabrakku, bagaimana jika kau menabrak orang jahat yang bisa saja langsung membunuhmu." Jessica tersenyum seraya menepuk pundak pria itu dan pergi begitu saja menuju sebuah mobil Limousine yang sudah datang menjemputnya.


Pria tadi tersenyum lalu melambaikan tangannya ke arah mobil Jessica dan berseru, "terimakasih!"


Ya, ternyata orang kaya yang ramah dan masih mau peduli kepada seorang gelandangan dan pemabuk sepertinya itu masih ada.

__ADS_1


Jessica adalah contoh nyata dari sisi kemanusiaan yang masih tertinggal disaat harta menjadi pijakkannya di tahta paling atas. Pemimpin yang bijaksana.


__ADS_2