Crazy Rich Girl

Crazy Rich Girl
CH. 4 | Bertemu Lagi


__ADS_3

Jessica menatap kosong ke arah jalanan di Distrik X yang cukup ramai sore ini. Dia baru saja selesai belanja beberapa barang untuk menghias ruang kerjanya yang berada di Mansion dan sekarang sedang menunggu Jaguar menjemputnya. Jessica duduk di salah satu kursi jalan dengan Nathaniel yang berdiri di sampingnya membawa kantung-kantung belanjaan milik sang Madame.


"Berapa lama lagi dia akan sampai?" tanya Jessica. Wajahnya sudah menunjukkan sedikit rasa kesal. Pasalnya, Jaguar sudah telat hampir 15 menit dari waktu yang sudah di tentukan oleh Jessica untuk menjemputnya.


"Sebentar lagi, Madame," jawab Nathaniel masih sama seperti lima menit yang lalu.


Jessica berdecih kesal lalu melipatkan kedua tangannya di depan dada. Selalu saja seperti ini. Kali ini, apa lagi alasannya?


Sebenarnya, Jessica ingin sekali mencari supir baru karena Jaguar sering sekali telat seperti ini, tapi ia malas untuk kembali menyeleksi orang-orang baru yang belum tentu akan menjaga rahasia perusahaan sebaik supir pribadinya yang sekarang.


"Kau Nona yang memberikan roti kepadaku kemarin, kan?" ujar seorang pria yang lewat di depannya. Jessica awalnya tidak menghiraukan orang itu, dia masih terlalu kesal dengan supir pribadinya yang tak kunjung datang sedangkan dia harus segera mengecek beberapa stok bahan bangunan di Gudang Barat sekalian mencari The Fox.


"Boleh saya duduk di sini?" ujar pria itu lagi yang langsung duduk begitu saja di sampingnya.


"Tidak usah bertanya kalau kamu langsung duduk seperti itu," sindir Jessica.


Pria tadi hanya terkekeh seraya mengisap lintingan putih di tangannya. Embusan napasnya yang tercampur dengan asap tipis itu, membawa sedikit bau nikotin juga cengkeh ke hidung Jessica yang langsung menyeringit tidak suka. Dia tidak pernah menyukai bau dari asap rokok yang seperti ini, terasa perih saat memasuki saluran pernafasannya.


"Kau terlihat murung, kenapa?" tanya pria itu yang sekarang sudah menolehkan kepalanya ke arah wanita dengan rambut brunette panjangnya itu.


"Supirku telat," jawab Jessica singkat.


"Menjauh, kau membuat Madame-ku tidak nyaman," ujar Nathaniel setelah pria bertubuh besar itu berjalan ke hadapan si pria tadi.


"Ey, sebentar! Saya hanya ingin berterimakasih kepadanya, tidak akan berbuat macam-macam," jawabnya seraya mengangkat kedua tangannya.


"Nath ..." ujar Jessica lalu memerintahkan Nathaniel untuk kembali ke tempatnya tadi dengan ujung matanya.


"Baik, Madame." Nathaniel pun kembali ke tempatnya dengan matanya yang terus saja memerhatikan pria yang masih anteng merokok di sebelah Madame-nya.


"Tidak masalah, kita harus membantu sesama bukan?" ucap Jessica kepada pria tadi.


Senyuman kecil terbit di bibirnya. Entah kenapa, kehadiran pria ini sedikit membuat rasa kesal yang ia rasakan tadi menghilang. Benar apa yang Ayahnya dulu pernah katakan, bercakap dengan seseorang yang tidak mementingkan harta di hidupnya itu jauh lebih mengasyikan ketimbang ia harus mengobrol dengan para muka dua yang terus saja menyombongkan harta mereka.

__ADS_1


"Berkat Nona saya masih hidup sekarang," jawabnya sebelum mengulurkan tangan kanannya.


"Nama saya Jey," lanjutnya.


"Tidak usah berlebihan seperti itu. Salahmu sendiri kemarin bukannya membeli makanan, malah beli minuman berakohol seperti itu," tungkas Jessica seraya terkekeh kecil dan menyambut sodoran tangan pria bernama Jey.


"Namaku Jessica," ujarnya ramah.


"Nona Jessica, nama yang cantik seperti pemiliknya," ungkap Jey yang sontak membuat Jessica tertawa nyaring.


Oh Tuhan, ini kali pertamanya ada seseorang yang berani berbicara sefrontal ini kepadanya. Biasanya, orang-orang yang ia temui pasti saja bersikap sok hormat kepadanya karena menginginkannya kerja sama dan juga barang yang lebih murah dari tempatnya.


"Kau ini, hahah!" Jessica menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, matanya melengkung seperti bulan sabit yang tersenyum cantik ke arah matahari yang perlahan terbenam.


Indah. Bukan hanya gestur tubuhnya, namun juga cara wanita ini yang mau menjabat tangan Jey yang hanyalah seorang gelandangan. Mereka dari kasta yang berbeda, tapi Jessica dengan santun tetap mau bercengkrama dengannya.


"Ah, jemputanku sudah datang. Sampai bertemu di lain kesempatan, Jey. Nice to know you!" Jessica bangkit dari duduknya, melambaikan tangan kecilnya ke arah Jey sebelum ia melangkah menuju mobil jemputannya. Meninggalkan Jey yang terseyum senang dengan hatinya yang menghangat.


Jey tahu, Jessica bukan orang biasa. Dia pasti masuk ke dalam jejeran orang terkaya di kota London saat ini. Namun, sifat humblenya dan tutur kata sopan yang selalu terurai dari bibirnya dari awal pertemuan mereka, sudah mampu membuat Jey menilai jika Jessica adalah wanita cerdas yang terlahir dari orangtua yang luar biasa.


......***......


"Kau sudah coba datangi tempat mereka?" tanya Jessica. Alisnya menukik marah membuat Lucas langsung menunduk merasa bersalah kepada sang Madame.


"Sudah, Madame ... Namun, mereka berkilah saat kami tagih," jawabnya pelan.


Jessica mengurut keningnya sendiri. Hal seperti ini sering sekali terjadi di gudang barang bangunan, entah kenapa tapi yang sering tertipu oleh customer kebanyakan adalah barang bangunan yang mereka jual.


"Aku tidak mau tahu, kau harus membuat mereka membayarnya. Ini bukan kasus pertama di bulan ini, kau harus bertanggung jawab jika tidak aku akan menggantimu dengan anak buahku yang lain," final Jessica sebelum berjalan meninggalkan tempat itu.


Helaan napasnya terdengar berat saat Jessica sudah sampai di depan mobilnya. Kepalanya terasa nyeri ketika ia menghitung kerugian yang akan ia dapat jika Lucas tidak berhasil membuat orang itu melunasi barang yang mereka beli.


"Nath, aku ingin membeli secankir Macchiato sebelum pulang," ungkap Jessica sebelum membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam.

__ADS_1


......***......


Jessica menatap ke dalam cangkir kopinya dengan pandangan bingung. Isi kepalanya sungguh sangat penuh dan berantakan. Tim yang ia tugaskan untuk mencari The Fox baru saja membrikan laporan harian yang ia minta dan mereka bilang kalau posisi The Fox sama sekali tidak bisa mereka lacak. Belum lagi laporan dari gudang elektronik yang bilang jika untuk bulan ini, salah satu brand tidak bisa mengirimkan barang kepada mereka karena sedang ada masalah internal di perusahaannya.


Bulan ini bisa dibilang titik terberat Jessica di selama dua tahun dirinya memimpin Thimotheous. Banyak sekali masalah yang membuatnya rugi puluhan ribu dollar.


Handphonenya berdering, nomor dengan nama kontak Joshua muncul di layarnya. Jessica segera mengambilnya lalu mengangkat panggilan telpon itu.


"Ya, halo?"


"Apa sudah ketemu?"


"Ini baru dua hari pencarian, bisakah kau bersabar?" Jessica mengerutkan keningnya tidak suka mendengar pertanyaan Joshua yang menjadi awalan percakapan mereka.


"*Kami membutuhkannya, kau ingat itu bukan?"


"Jika kau butuh dana untuk mencarinya, bilang saja. Aku akan mengirimkan uang bayarannya lebih awal*."


"Bukan masalah uang, kakakmu sangat susah untuk dilacak karena tidak banyak yang tahu wajah aslinya seperti apa. Kenapa kau tidak memberikanku foto jelasnya agar mempermudah pekerjaanku?"


Ya, dari awal Joshua memintanya untuk mencari The Fox, tidak ada satupun foto yang menunjukkam jelas rupa wajah lelaki itu. Membuat pencarian mereka semakin sulit karena Joshua hanya memberikan ciri-cirinya saja.


"I'm sorry, Jessy. Aku tidak bisa memberikanmu foto jelasnya karena aku sendiri tidak memiliki foto Josephine yang sedang tidak mengenakan topeng."


Jessica mendengus lirih sebelum netranya menangkap sosok Jey yang seperti sedang ketakutan karena dikejar oleh sesuatu. Tak lama dari itu, tiga orang pria dengan tato yang memenuhi seluruh tubuhnya datang mengerumuni Jay lalu menonjok lelaki itu begitu saja membuat Jessica membelakkan matanya kaget.


"Aku akan menelponmu lagi nanti."


Bip ...


Jessica memasukkan handphonenya ke dalam tas sebelum berjalan keluar dari café dan segera menghampiri keributan yang ada tepat di depan café tempatnya menenangkan diri tadi.


"Hei! Ada apa ini?!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejak biar author terus semangat updatenyaa


__ADS_2