
Dentuman lembut dari pintu mobil yang ditutup itu seperti menjadi alarm untuk para pekerja di sana untuk segera berbaris dan menyambut Madame mereka di depan Mansion megah milik ketua Clan mereka itu. Ketukan sepatu dengan hak tinggi yang terdengar familiar, terasa seperti melodi yang mengiringi mereka membuat formasi sempurna untuk memberikan tanda hormat mereka kepada sang Madame.
Untung saja, Madame mereka bukanlah pemimpin yang kejam. Walaupun suara ketukan sepatu dan aura dirinya sedikit mengintimidasi semua orang, Madame mereka selalu tersenyum dengan penuh wibawanya kepada para bawahannya. Menjadikannya sangat dihormati dan disegani karena sifat baiknya kepada para bawahannya itu.
"Selamat datang di Mansion, Madame Jessica," ujar semuanya secara serempak ketika Jessica berjalan di tengah-tengah barisan memanjang menuju pintu utama yang mereka buat.
Jessica berbalik ketika ia sudah sampai di barisan paling ujung anak buahnya. Ia tersenyum ramah sebelum mengangguk kecil kepada mereka lalu setelahnya melanjutkan jalannya menuju ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berkas yang ia perlukan untuk meeting dengan seseorang yang akan menyewa jasanya kali ini.
Hal seperti tadi sudah menjadi tradisi yang ada di Clan Thimotheous. Para anggota yang ditugaskan untuk berjaga di Mansion juga beberapa pekerja yang berada di sana, diwajibkan untuk selalu menyambut ketua mereka dengan cara seperti itu ketika mereka datang ke Mansion ini. Awalnya Jessica merasa hal seperti ini sangatlah konyol, karena ia sedari kecil tidak tinggal di dalam Mansion ini. Ia dengan sang Ibu memilih untuk menetap di ujung kota London, di sebuah rumah sederhana, karena itu adalah titah dari Ayahnya Jessica dulu ketika dirinya lahir.
Matthew Thimotheous adalah seorang Ayah yang cukup bijaksana. Ia mengirim istri dan anaknya untuk tinggal di tempat yang sederhana, karena ingin membangun jiwa kepemimpinan anaknya itu dan juga agar Jessica tidak tumbuh menjadi gadis yang manja. Terbukti, hasil dari didikanya di sana dan tanpa memberitahu jika mereka adalah orang berada, Jessica tumbuh menjadi gadis pintar dan ramah kepada semua orang tapi tetap disegani dan ditakuti karena kepintarannya itu.
Krrring... Krring...
Bip!
"Ya? Mereka sudah hampir sampai?"
"Aku akan segera ke sana. Bawa mereka ke ruanganku saja."
"T-Tapi Madame, Tuan Joshua bilang jika beliau ingin membicarakan hal yang cukup rahasia dengan anda."
"Tidak apa-apa, di ruanganku saja."
"Baik, Madame..."
Bip!
"Nath, bisakah kau perintahkan Felix untuk melakukan extra pengamanan di kantorku hari ini? Aku agak sedikit kurang percaya dengan Revengreed itu." Jessica menarik tangan Nathaniel sebelum mereka keluar dari dalam ruangan kerjanya yang berada di Mansion.
"Baik, Madame." Nathaniel mengangguk.
......***......
__ADS_1
Perjalanan dari Mansion utama ke Kantornya hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit saja. Jessica datang bertepatan sekali dengan para anggota Revengreed yang sedang memarkirkan mobil mereka.
Ada sekitar lima orang anak buah dan mungkin satu Tuannya. Jessica mengangguk kecil ke arah mereka sebelum melangkah menuju ke dalam kantornya.
Salah satu anggota Revengreed itu berbisik kecil kepada temannya, "Auranya cukup mengerikan untuk ukuran wanita, bukan begitu Bruno?"
Yang dipanggil Bruno itu hanya mengangguk kecil dan tetap mempertahankan ekspresi datar di wajahnya.
"Ingat apa tujuan awal kita ke sini, jangan asik bergosip saja, Petra," tegur salah satu dari mereka yang mengenakan kemeja hitam dengan jas merah. Pria ber jas merah itu tentu terlihat sangat mencolok dibandingkan dengan anggota lainnya yang menggunakan pakaian serba hitam.
"Baik Tuan Joshua."
"Ayo ke dalam."
Di dalam, Jessica sedang mengobrol dengan salah satu rekannya yang bernama Irish—orang yang tadi menelponnya. Air wajah Jessica masih terlihat sangat tenang walaupun Irish beberapa kali mengingatkan dirinya tentang sejarah kelam tentang perseteruan antara Revengreed dengan Thimotheous 40 tahun silam. Tempatnya, ketika kakek Jessica yang masih menjabat sebagai ketua.
"Tidak usah terlalu khawatir, Irish. Aku sudah meminta Felix untuk mengetatkan keamanan di sini. Kau bisa lanjut bekerja, aku akan berbicara dengan mereka." Jessica menepuk lembut pundak milik wanita itu.
Irish akhirnya mengalah, ia memilih untuk mengangguk dan percaya kepada apa yang dikatakan oleh ketuanya.
Jessica mengangguk, "Silakan."
Setelahnya, Jessica kembali berjalan menuju lift yang akan membawanya ke ruangannya yang berada di lantai delapan.
Mendengar apa yang dikatakan Irish kepadanya tadi, tentu saja sebenarnya Jessica sedikit ragu dengan pertemuannya dengan para Revengreed itu. Walaupun Ayahnya sempat berbicara jika mereka sudah berdamai dengan Revengreed, tapi tetap saja, Jessica tidak mudah mempercayai mereka begitu saja.
Kekacauan yang ditimbulkan kakeknya 40 tahun silam itu bisa saja menjadi alasan bagi mereka ingin balas dendam kepadanya sekarang, ketika Thimotheous sudah dipimpin oleh seorang wanita sepertinya.
Tidak, Jessica tidak takut hanya karena dirinya seorang wanita dan musuhnya adalah pria. Ia tidak takut sama sekali bahkan jika dia harus langsung turun untuk menghabisi mereka semua. Jessica hanya tidak ingin usaha Ayahnya untuk mengurangi daftar musuh mereka itu berakhir sia-sia ketika dirinya sudah dipercayai memegang jabatan ini.
Belum genap dua tahun Jessica mengambil alih posisi Ayahnya, empat penghargaan tentu sudah ia kantungi. Tapi, Jessica sendiri kadang masih suka meragukan kinerjanya walaupun dia selalu dipuji oleh para bawahannya dan juga para penjual yang ada di underground karena wibawanya itu.
Ah, entah lah... memikirkan masalalu Thimotheous dengan Revengreed hanya membuat dirinya merasa risau. Ia harus melupakan pikiran itu sejenak agar para klient nya nanti tidak bisa membaca air wajahnya.
__ADS_1
......***......
"Masuk!" Jessica berbicara lantang ketika pintu ruangannya diketuk dari luar.
Hampir 10 menit jeda waktu yang dia butuhkan hingga para Revengreed itu naik ke atas.
"Mereka cukup lambat rupanya." benak Jessica.
Pria dengan jas berwarna merah itu masuk lebih dulu, diikuti dengan dua anak buahnya yang mengenakan pakaian serba hitam. Jessica berdiri dari duduknya lalu memersilakan mereka untuk duduk di depannya. Setelah mereka semua duduk, Jessica kembali menjatuhkan bokongnya di atas kursi kerjanya.
"Oke, jadi apa yang kalian butuhkan dari kami?" ujar Jessica to the point.
"Tidak usah terlalu buru-buru, aku kemari hanya ingin menyapa kawan lama," ujar pria dengan jas merah itu.
"Tidak mungkin The Fox mengirimkan adiknya ke mari, hanya untuk beramah-tamah denganku saja," jawab Jessica dengan tatapannya yang sedikit mengintimidasi lawan bicaranya.
Pria dengan jas merah itu atau bisa kita sebut saja Joshua, terkekeh kecil mendengar jawaban dari Jessica.
"Kau tidak pernah berubah, Jess. Selalu awas dan waspada di setiap situasi," timpalnya.
Jessica hanya diam, tidak berminat untuk membalas kembali perkataan pria itu. Dia hanya terus saja menatap wajah Joshua dengan serius.
"Oke, oke, calm down Madame. Aku kemari sebenarnya ingin meminta bantuan dari kalian, kau bisa menghitung ini sebagai memperpanjang kontrak pertemanan di antara clan kita." Joshua menyandarkan tubuhnya di punggung kursi seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Jessica menggeram rendah, dia tidak pernah menyukai pria ini. Selalu pongah dan menyebalkan sekali, tidak seperti The Fox sang ketua asli yang jarang berbicara dan selalu fokus pada apa yang ia ingin kerjakan. Tidak bertele-tele seperti adiknya ini.
"Sebenarnya aku tidak masalah jika kau tidak ingin membantu kami. Tapi, kakekku pernah berkata jika Ayahmu dulu menjanjikan sesuatu kepada kami agar clan kita bisa menjadi teman dan tidak terus berperang dingin," lanjutnya dengan salah satu sudut bibirnya yang tertarik ke atas.
"Ck! Baiklah, apa yang kau inginkan?" balas Jessica akhirnya.
"Aku ingin kau mencari kakakku."
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dan beri dukungan biar author semangat terus nulis updateannya!
See u on the next chapter~