
...Happy Reading...
...----------------...
Pada zaman dahulu ada kerajaan besar di Pulau Jawa. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Kerajaan itu dipimpin dengan tantangan oleh Prabu Mundangwangi.
Ia memiliki permaisuri bernama Dewi Rembulan dan dikaruniai seorang putri yaitu Dewi Kadita yang sangat cantik. Pada zaman itu seorang raja Biasanya memiliki istri lain yang disebut selir.
Demikian pula Prabu Mundangwangi, Ia memiliki selir yang bernama Dewi Mutiara. Ternyata Dewi Mutiara memiliki sifat buruk karena Ia selalu iri terhadap Dewi Rembulan.
Pada suatu hari Pandita Agung menghadap Prabu Mundangwangi. Ia menyampaikan bahwa tidak lama lagi Prabu Mundangwangi akan menerima putra dari selirnya, yaitu Dewi Mutiara.
Prabu Mundangwangi sangat bahagia karena Ia sudah lama menunggu lahirnya anak dilahirkannya.
"Meskipun puteraku lahir dari rahim seorang selir, tetapi dengan wewenangku Ia akan kuangkat menjadi putera mahkota," kata Prabu Mundangwangi kepada Pandita Agung.
Dewi Mutiara yang diam-diam mendengarkan ucapan itu menyambut dengan sangat gembira.
Ternyata ucapan Pandita Agung benar, karena tidak lama kemudian Dewi Mutiara hamil.
Setelah tiba tiba Ia pun menerima bayi laki-laki. Prabu Mundangwangi sangat gembira menyambut kelahiran puteranya.
Ia pun semakin menyayangi Dewi Mutiara, tetapi juga tetap menerima Dewi Rembulan dan Dewi Kadita.
Ternyata hal itu membuat Dewi Mutiara merasa iri, Ia ingin dicintai oleh Prabu Mundangwangi seutuhnya.
"Aku harus segera melupakan Dewi Rembulan dan Dewi Kadita sehingga akulah yang akan menjadi permaisuri raja," gumam Dewi Mutiara.
Dewi Mutiara mempersiapkan niat jahatnya dengan matang. Pada suatu malam Ia pergi ke hutan bertemu Nenek Jahil dengan ditemani oleh pengawal setianya.
__ADS_1
Nenek Jahil mengubah sangat buruk, tangguh tapi tampak sehat dan sangat gesit. Ia juga sangat sakti dan menguasai semua ilmu sihir.
Dewi Mutiara menyampaikan niat buruknya untuk mencelakai Dewi Rembulan dan Dewi Kadita.
"Meminta, nanti malam aku akan ke istana dan aku langsung ke peraduan Dewi Rembulan dan Dewi Kadita. Jangan khawatir, keiginanmu akan segera terwujud," kata Nenek Jahil meyakinkan.
Mendengar kesanggupan Nenek Jahil maka Dewi Mutiara Iangsung memberi sekantong emas sebagai upah jasanya.
Pada malam yang ditentukan, Nenek Jahil menggantikan lstana Prabu Mundangwangi. Karena kekuatan sihirnya maka tak seorang pun mengerti kedatangan Nenek Jahil yang leluasa masuk ke peraduan Dewi Rembulan dan Dewi Kadita.
Nenek Jahil kemudian mulai membaca mantera penenung untuk dipanggil setan agar membantu rencana jahatnya. Setelah selesai Ia membungkuk dan menyelesaikan wajah Dewi Rembulan dan Dewi Kadita yang sedang tidur lelap.
"Wuuusshh ...," hembusan angin keluar dari mulut Nenek Jahil. Setelah itu Ia meninggalkan istana dengan tenangnya.
"Hah ...., apa yang terjadi?" Teriak Dewi Rembulan dan Dewi Kadita kompilasi bangun tidur. Seketika kita selesai borok dan kudis yang mengeluarkan bau busuk.
"Oh ..., apa dosa kami sehingga tubuh kami menjadi begini menjijikkan?" ratap mereka tiada henti. Seketika seluruh penghuni istana menjadi gempar.
Prabu Mundangwangi merasa sedih, bingung, dan kesal menjadi satu. Pandita Agung dan para tabib didatangkan untuk menyembuhkan penyakit yang menimpa permaisuri dan dibunuh. Sayang sekali tak seorang pun berhasil menyembuhkan mereka.
"Aku tidak mau istana ini dikotori penyakit yang menular dan menjijikkan itu! Mereka harus menghabiskan jauh-jauh dari istana!" perintah Prabu Mundangwangi untuk para pengawalnya.
Akhirnya pada suatu pagi Dewi Rembulan dan Dewi Kadita memasukkan ke dalam dua tandu besar dan menutup kain dengan rapat, kemudian dibawanya menuju hutan belantara.
Setibanya di hutan kedua tandu itu dibuka dan para pengawalnya aku langsung lari meninggalkannya.
Dewi Rembulan dan Dewi Kadita baru menyelesaikannya lalu dibawa pergi ke hutan. Dewi Kadita menangis karena tak tahan tahan kesedihannya.
"Anakku, janganlah menangis. Kita harus berpasrah diri dengan Sang Dewata. Lni mungkin harus mencoba yang harus kita terima," kata Dewi Rembulan sambil menunggu putranya.
Dewi Kadita berusaha melepaskan kesedihannya dengan berjalan menyusuri hutan. Tak lama di hutan itu Dewi Rembulan kemudian sakit dan semakin Iemah.
__ADS_1
Akhirnya Ia menghembuskan nafas terakhir di pangkuan Dewi Kadita.
Dewi Kadita sangat sedih ditolak. Tubuhnya semakin tinggi dan penyakitnya semakin parah. Ia berjalan menyusuri hutan menuju arah selatan.
"Lautan!" teriaknya gembira. Ternyata Ia berada di Pantai Selatan. Tiba-tiba Ia melihat seorang pemuda yang gagah perkasa sedang berdiri tak jauh darinya.
"Aku akan menolongmu, dan penderitaanmu akan segera berakhir," kata pemuda itu. Dewi Kadita sangat gembira mendengarkan ucapannya.
Ia menerima menuruti permintaan pemuda itu demi kesembuhan penyakitnya. Tiba-tiba pemuda itu terjun ke laut dan Dewi Kadita Iangsung mengikutinya terjun ke laut juga.
Sungguh ajaib, seketika penyakit borok dan kudisnya Iangsung hilang.
Dewi Kadita sangat senang mengetahui ia telah pulih dari penyakitnya dan ingin meminta terima kasih kepada pemuda itu.
Anehnya pemuda itu hilang lenyap entah ke mana. Dewi Kadita tersadar bahwa ia sudah sekian lama ada di dalam laut tetapi tidak tenggelam.
Kemudian dia melihat kedua berhasil, dan sangat mengejutkan melihat apa yang terjadi terhadap dirinya.
"Hah ....?!" teriaknya melihat kedua harus ditutup Dewi Kadita akhirnya berhasil pasrah akan bernasib sial.
Ia kemudian hidup di Laut Selatan dan sekali-kali menampakkan diri.
Konon, penduduk sekitar Pantai Selatan terkadang melihat putri cantik berambut panjang yang bagian pinggang sampai ke ujung lemak hitam.
Orang-orang yang menyebutnya, Nyai Roro Kidul sebagai penguasa Pantai Selatan.
***************************************
To Be Continue ...
...
__ADS_1
...
...