
Seri sudah siap dilapangan dengan paralayangnya, hari ini adalah pengujian akhir pakaian olahraga. Dan kali ini Seri akan mencoba melakukannya langsung.
"Nona Yoon, kapan kau belajar paralayang?" tanya sekretaris/asisten Seri. siapa lagi kalau bukan Hong Chang Sik yang bertubuh gemuk dan bermata sipit itu.
"AKu belum bilang? aku dapat sertifikat Interlaken saat aku di Swiss."
"Begitu. Kami bisa mengujinya dan memberikan laporannya kepadamu. Jangan kau lakukan sendiri."
"Hmm. . tampaknya aku akan sangat sibuk. AKu sedang buru-buru karena harus mendaki."
"Mendaki kemana?" tanya Hong Chang SIk.
"Tempat yang tinggi." jawab Seri sambil memandang ke atas langit.
"Disini sudah tinggi. Adakah yang lebih tinggi?"
"Besok pagi, kau akan lihat namaku di berita. Jangan terkejut"
"Skandal pacaran lainnya?" tanya Chang SIk kebingungan. Seri menatapnya, Chang sik langsung menundukkan wajah.
"Bukan" Jawab Seri tersenyum. "Baik, mari kita mulai." Seri mulai memakai peralatan paralayangnya.
"Anginnya cukup kencang. Kami sudah periksa ramalam cuaca. Nona yakin bisa?" tanya Chang SIk khawatir terhadap bosnya.
__ADS_1
"Pak Hong, kenapa angin bertiup?"
"Aku tidak tahu."
"Angin bertiup untuk bergerak, bukan tetap diam. Angin harus tetap bergerak, agar aku bisa terbang." Jawab Seri dengan senyum tanpa ragu. Kemudian dia memasang kacamata dan helm pelindung lalu menerbangkan diri dengan paralayangnya. Terbang . . . . tinggi sekali.
"Nona Yoon hati-hati." teriak Hong Chang Sik sambil melambaikan kedua tanggannya.
Betapa bahagianya Yoon Seri berada di atas, dia sambil direkam oleh wartawan yang ikut juga dalam paralayang tersebut.
"Sungguh kau sudah berhasil. Kau sudah bekerja keras Seri. Aku bisa terbang lebih tinggi lagi. Ini menyenangkan " ucap Seri penuh bangga.
"Lihatlah warna indah hutan itu dan juga padang rumput yang hijau. Sudah lama aku tak lihat pemandangan ini. Astaga, lihat traktor itu pun melayang haha. . kenapa itu bisa terjadi?" tawa yang tadi terlihat di wajah Seri kini menjadi ekpresi yang campur aduk, tak menyangka dan takut. Angin kencang membawanya, dia terbawa masuk ke angin tornado, dan hanya teriakan Seri yang terdengar. . .
Zona Demiliterisasi Korea batas Utara 1000M.
Para tentara yang dipimpin oleh seorang kapten yang tampan terlihat memasuki gerbang dengan mobilnya. Wajah dingin dengan tatapan tajam namun mempesona. Mereka pun turun ke arah perbatasan antara Korea Utara dan Korea Selatan, dengan membawa senjata lengkap.
"Kapten Ri, dinilai dari suara tembakan mereka menuju kemari. Mungkin dia pembelot selatan"
Kapten Ri memejamkan matanya untuk mendeteksi arah.
" Wilayah tempur sejauh 400 meter dari posisi kita. Menuju arah pukul 11. Total ada sepuluh. Senapan otomatis K2 ada enam. Dan Tokarev **-33 ada tiga." Jelas Kapten Ri pada anak buahnya.
__ADS_1
"**-33?" tanya salah satu prajuritnya.
"Mereka adalah kawan kita." Jawab kapten Ri. Mereka pun berjalan mengendap-ngendap di padang rumput, memastikan musuh atau bukan yang sedang ada di hadapan mereka. Kapten Ri melihat tiga orang yang berlutut dan ditodong senjata oleh tentara juga. Kapten Ri memberi kode kepada anak buahnya untuk maju berjalan. Para tentara itu akhirnya mengarahkan senjata mereka ke kapten Ri dan anak buahnya.
"Mundur. Maju selangkah lagi, kalian memasuki garnisun kami." Ucap Kapten Ri.
"Serahkan mereka bertiga. Maka kami akan mundur" Ucap tentara lawan.
"Mereka kawan kita." Jawab kapten Ri.
"Kapten, kami dapat izin dari badan keamanan dan kemari untuk berburu rusa. Kami tersesat karena tornado itu. " Ucap salah satu orang yang menjadi sandera tentara lawan.
"Mereka melewati garis perbatasan selatan dan tertangkap basah menggali artefak budaya." Jelas tentara lawan.
"Bisa buktikan?"
Tentara lawan menunjukkan bukti berupa hasil tangkapan layar kamera mereka.
"Ini menunjukkan tanggapan layar dari kamera kami " jelasnya kepada kapten Ri.
"Ada yang terluka?" tanya kapten Ri.
"Tidak"
__ADS_1
"Kita sudah mengamati situasi. Mari turunkan senjata." Pinta kapten Ri.