Crush Landing On You

Crush Landing On You
Episode 1 part 4


__ADS_3


Penampakan wajah Kapten Ri Jeong Hyeok.


“Aku bersumpah demi kehormatan negeriku. Kami akan menghukum mereka. Jika soal hukuman, kami pihak Utara lebih baik dari Selatan. Kita turunkan senjata pada hitungan ketiga. Satu..... dua..... tiga...” Ucap


Kapten Ri seraya menurunkan senjatanya.


Kapten Ri dan anak buahnya menurunkan senjata, akhirnya tentara sekutu juga menurunkan senjata mereka.


Namun, ketika Kapten Ri sudah meletakkan senjata, salah satu sandera dengan cepat meraih pistol yang di depan Kapten Ri dengan niat menembak, dengan sigap dan gagahnya Kapten Ri segera menendang tangannya agar senjata itu terjatuh. Terjadilah perkelahian tentara dengan para sandera, dan tentara sekutu dan kapten Ri sama-sama menodongkan pistolnya.


Lalu walkie talkie tentara sekutu bersuara “Alfa Satu, kembalilah. Jangan terlibat konflik. Jangan konflik dengan


Utara.”


Begitu juga dengan walkie talkie Kapten Ri “Petir Satu, dengar aku. Jangan konflik dengan Selatan. Segera


kembali.”


Mendengar perintah tersebut, mereka akhirnya menurunkan senjata. Sandera  segera dibawa oleh Kapten Ri dan anak buahnya. Mereka membawanya ke badan pengamanan.


Petugas Badan Keamanan Cho Cheol Gang langsung mendatangi mereka, dia memperhatikan para sandera yang masih di dalam mobil.



                                                       Penampakan wajah  petugas Badan Kemanan Cho Chael Gang


“Salam Pak, Kompi Lima bersiaga untuk transfer perampok makam yang kami tangkap saat patroli zona

__ADS_1


demiliterisasi. Kapten Ri Jeong Hyeok.” Lapor Kapten Ri.


“Bagus. Ada lagi?” tanya Cho Chael Gang menunjukan wajah yang menyebalkan.


“Karena tornado tadi, ada banyak pagar kawat berduri dan pepohonan yang jatuh. Transformator voltase tinggi untuk pagarnya tak berfungsi. Kita harus perketat keamanan di daerah yang rusak


sampai semua diperbaiki.” Jelas Kapten Ri.


“Benar. Besokkah? Pertukarannya?”


“Ya, Pak.”


“Sayang sekali. Ini terjadi di hari terakhirmu. Mulai dari tornado sampai perampok makan.”


“Tak apa-apa pak” Jawab Kapten Ri.


 “Itu terjadi di zona patroli kami. Tak bisa dianggap remeh”


 “Kau tahu Badan Keamanan telah mengizinkan mereka memasuki zona demiliterisasi. Ini tak akan menguntungkan jika dibahas di penilaian akhir.”


 “Jadi Badan Keamanan memberi perampok makam izin menyeberangi Garis Perbatasan untuk


mencuri artefak. Itu maksudmu?”  pertanyaan Kapten Ri membuat Cheol Gang tertawa.


“Tentu bukan, Kapten Ri.”


 “Aku sudah janjikan kapten Selatan bahwa kita akan investigasi ini. Aku ingin


memegang janji”

__ADS_1


 “Baik silahkan pegang janjimu. Tapi, bisakah aku berjanji juga, Kapten Ri? Aku Cho Cheol Gang, tak akan bersikap lunak kepada siapa pun. Jika kau melakukan sesuatu yang mengancam keamanan tentara, dan tertangkap olehku. Kau pasti dihukum berat. Tentunya, kau tak akan melakukan hal semacam itu. Tapi konon


sesuatu atau seseorang akan selalu berubah seiring waktu. Bukankah hidup memang seperti itu?” Jelas Cheol Gang, Kapten Ri hanya berdiri tegap dan memberi hormat setelah mendengar ucapannya.


                                                                                                    XXX


“Astaga jangan dibahas lagi, jika dia seangkuh itu kepada petugas Badan Keamanan,  nasib kita bagaimana? Kurasa dia bisa tampak keren dan tangguh, tapi Badan Keamanan akan mengawasi kita mulai sekarang karena itu. Itulah maksudku.” Ucap Pyo Chi Su (Anak buah Kapten Ri) sambil memegang toples yang berisi arak ketika mereka berenam sedang melanjutkan jaga malam.


 “Kenapa Kapten Ri ditempatkan di pos perbatasan? Dia dari Pyongyang, mungkin dari keluarga berada. Kenapa tak menikmati hidup di sana?” tanya salah satu tentara yang ikut berjaga bersama mereka.


“Karena itulah, kau harus hati-hati dengan orang kaya. Mereka ingin mengendalikan semuanya agar bisa menerima cinta dari Jenderal Kim.” Jelas Pyo Chi Su.


 “begitu..” jawab tentara tersebut sambil mengangguk-anggukan kepala.


  “Sudahlah. Ini adalah arak dari tahun 1953, yakni sebelum gencatan senjata disepakati. Segelas arak ular berusia 60 tahun ini bisa membuat mereka yang malnutrisi melompat dengan penuh semangat. Ini obat bukan arak” jelas Chi Su penuh semangat.


 “Aku mau segelas obat ini.” Ucap tentara yang tadi bertanya mengenai Kapten Ri dengan penuh penekanan.


 “Tentu” Jawab Chi Su tertawa diikuti gelak tawa tentara yang lainnya. Lalu menuangkan


arak itu ke mangkuk tentara yang meminta tadi.


 “Terima kasih.”


 “Nikmatilah. Kau berikutnya.” Menuangkan arak tersebut untuk tentara lainnya.


  “Tapi, apa boleh minum seperti ini saat bertugas?” tanya salah satu tentara.


  “hei, kita bekerja siang dan malam selama dua bulan. Pergantian kompi di pagi hari, jadi tak apa-apa.” Sahut Chi Su meyakinkan lalu tertawa. Mereka akhirnya minum-minum arak padahal sedang berjaga...

__ADS_1


__ADS_2