
Tahun 1930, Di suatu Taman Kanak-kanak.
Terlihat seorang anak kecil laki-laki yang tampak berusia kurang lebih 4 tahun yang sedang bersama teman-temannya yang memiliki badan besar.
DUUKKK
Albert: "Aduhhh!"
Louise: "Lemah sekali dirimu itu!"
Louise: "Masa baru didorong sedikit kamu sudah terjatuh?"
Alex: "Maaf ya, kami tak sudi berteman dengan bocah lemah sepertimu!"
Alex: "Dasar Albert Y****!"
Louise: "Albert P****!"
Isacc: "Woi Albert Y**** P****!"
Anak-anak: "Hahahahah...."
Aku adalah Albert Greene, aku selalu dibully oleh mereka, mereka juga sering menghinaku dengan memanggilku y**** dan p****, karena aku sudah tak lagi memiliki ayah dan ibu, diceritakan oleh ayahku ibuku meninggal setelah melahirkanku, sementara ayahku meninggal ketika aku menginjak usia 2 tahun, ayahku meninggal karena terkena stroke. Dari usia 2 tahun hingga kini, aku hidup di Panti asuhan di dekat perbatasan kota.
Selama hidup di sana, Albert selalu di bully oleh teman-teman sekolahnya, apapun caranya, dimulai dari dia dihina karena lemah, dihina karena tidak mempunyai orang tua, sampai dia mendapatkan kekerasan fisik dari teman-temannya. Tak ada seorang pun yang mau menjadi temannya Albert, bahkan teman-temannya di Panti Asuhan pun tak ingin berteman dengan Albert. Hal itu menyebabkan Albert menjadi anak yang tertutup pada dunia luar.
Suatu hari, sekolah Albert kedatangan 2 murid baru perempuan, mereka berdua memiliki paras yang cantik, hal itu membuat banyak teman-temannya ingin dekat dengan mereka berdua karena penasaran, tetapi tidak untuk Albert, dia nampak tidak peduli dengan kedua anak perempuan itu. Salah satu dari kedua anak perempuan itu menyadari bahwa Albert seperti tidak peduli dengan mereka, melihat itu, dia pun segera membisikkan hal itu kepada teman perempuan yang masuk ke sekolah bersama dengannya.
Aina: "Kak Inami! Coba lihatlah anak laki-laki itu!"
Inami pun melihat ke arah Albert dan bertanya kepada sepupunya.
Inami: "Ada apa dengan anak itu, Aina?"
Aina: "Dia nampak seperti tidak peduli dengan kedatangan kita, Kak!"
Aina: "Kira-kira, dia ada masalah apa ya?"
Aina: "Bagaimana jika sepulang sekolah nanti, kita bertanya kepadanya tentang masalah yang dialaminya?"
Inami: "Huss!"
Inami: "Aina! Kita tidak boleh melakukan hal seperti itu!"
Aina: "Kenapa memangnya?"
Inami: "Mungkin saja, dia tidak ingin masalahnya diketahui oleh orang lain!"
Inami: "Apalagi kalau kita tanyakan masalahnya!"
Aina: "Baiklah, aku paham!"
Inami: "Tapi mungkin kita bisa berusaha untuk mengetahui masalahnya!"
Inami: "Bagaimana jika sepulang sekolah nanti, kita berbincang sebentar dengannya?"
Aina: "Hmm... ide yang menarik!"
Guru: "Baik anak-anak, duduklah!"
Guru: "Kita akan mendengarkan perkenalan dari mereka berdua!"
Semua murid: "Baik, Bu!"
Semua murid pun duduk di tempat duduknya masing-masing, dan kedua murid baru itu pun memperkenalkan diri mereka masing-masing di depan kelas.
Saat di depan kelas, mereka berdua saling berbisik.
Aina: "Kak! Kau duluan!"
Inami: "Kok aku?! Kamu dong yang duluan!"
Aina: "A-aku tidak percaya diri!"
Inami: "Jangan begitu, dong!"
Inami: "Kamu itu harus percaya diri!"
Inami: "Bagaimana kamu mau merubah dirimu kalau kamu masih saja malu-malu seperti ini?"
Aina: "B-baiklah, Kak!"
Aina: "Pe-perkenalkan! N-nama aku adalah Tsuki Aina, salam kenal semuanya!"
Inami: "Dan aku adalah Tsuki Inami!"
Inami: "Kami berdua adalah saudara kandung!"
Kedua anak kembar baru itu telah memperkenalkan diri mereka masing-masing, kini Guru meminta mereka berdua untuk duduk.
Guru: "Baiklah! Aina dan Inami!"
Guru: "Kalian berdua duduk di samping Albert, ya!"
Semua murid yang ada di Sana terkejut mendengar perintah Guru mereka terkecuali Albert yang memang dia tidak lagi peduli dengan hal-hal seperti itu, tentu saja mereka (anak/teman Albert) memberikan reaksi seperti menolak gurunya itu.
Louise: "T-tunggu dulu, Bu Guru!"
Guru: "Iya, ada apa Louise?"
Louise: "Ibu tidak salah bicara, kan?"
Louise: "Meminta mereka berdua untuk duduk dengan anak bdoh itu?"
Isacc: "Betul itu! Kami tidak sudi anak b*doh dan tidak punya orang tua itu duduk dengan mereka berdua!"
Anak-anak yang lainnya: "Betul Bu!"
Guru: "Memangnya siapa yang kalian maksud bodoh, anak-anak?"
Salah seorang anak pun menjawab pertanyaan Guru.
Fins: "Masa ibu tidak tahu?"
Fins: "Yang kami maksud b*doh tentu saja si anak y**** itu!" sembari ia menunjuk ke arah Albert.
Fins: "Benar begitu kan, bu?"
Sang Guru pun terdiam sejenak, hingga akhirnya ia pun mengatakan sesuatu.
Guru: "Inami! Aina! Ibu mau bertanya dengan kalian!"
Inami: "Silakan Bu!"
Guru: "Apakah kalian mau duduk di samping Albert?"
Mendengar pertanyaan dari Sang Guru, mereka berdua pun diam sejenak untuk berpikir dan saling berdiskusi, setelah beberapa detik, mereka pun menjawab.
Inami dan Aina: "Ya! Kami mau duduk dengannya, Bu!"
__ADS_1
Jawaban mereka pun membuat seisi kelas terkejut (kecuali Albert), dan membuat mereka bertanya-tanya kepada Inami dan Aina.
Chris: "Tunggu! Kenapa kalian mau bersama dengannya!?"
Leon: "Benar! Kenapa kalian mau dengan orang b*doh seperti dia?!"
Anak-anak lainnya: "Benar itu! bla bla bla bla....."
Kelas pun menjadi sangat ribut saat itu, akan tetapi pada saat itu pula, Inami memberikan isyarat untuk tenang. Seketika kelas pun menjadi tenang.
Inami: "Kenapa kami ingin duduk bersama dengan Albert?"
Inami: "Karena itu adalah keputusan kami!"
Inami: "Dan kalian tidak berhak untuk mencemooh keputusan kami!"
Inami: "Apa kalian paham?"
Seluruh anak di kelas pun dengan berat hati menyetujui keputusan Inami dan Aina.
Guru: "Baiklah! Inami! Aina! Silakan kalian berdua duduk ya!"
Inami dan Aina: "Baik Bu!"
Mereka berdua lantas pergi menuju Albert dan duduk di dekat Albert (Albert berada di tengah mereka berdua), mereka pun memperkenalkan diri mereka berdua.
Inami: "Halo! Perkenalkan aku adalah Tsuki Inami! Dan dia adalah adikku, Tsuki Aina!"
Aina: "Bolehkah kami mengetahui nama mu?"
Albert: "....."
Diamnya Albert membuat suasana diantara mereka bertiga menjadi canggung. Hingga akhirnya terdengar suara kecil nan menggemaskan dari mulut Albert.
Albert: "Albert Greene!"
Mendengar suara Albert, Inami dan Aina pun berteriak dalam pikiran mereka.
Inami: (Uufff..... imut sekali suaranya!)
Aina: (Kyaa..... dia ini laki-laki, kan?!)
Aina: (Mengapa suaranya bisa seimut ini?!)
Inami dan Aina: (Imut! Imut sekali! Aku jadi tak bisa fokus karena keimutannya!)
Setelah mendengar suara Albert, mereka berdua menjadi tidak fokus selama pembelajaran.
Setelah waktu pembelajaran selesai, semua murid-murid pun pulang kerumahnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Albert, ia juga bersiap untuk pulang, namun tiba-tiba saja, Aina mengajak Albert berbicara.
Aina: "A-Albert! Bo-bolehkah aku berbicara denganmu?"
Albert hanya melihat sekilas ke Aina dan Inami yang ada di depannya, setelah itu ia pun pergi, tetapi kepergiannya ditahan oleh mereka berdua seolah-olah mereka tidak rela berpisah dengan Albert.
Inami: "Albert! Kami ingin berbicara denganmu!"
Aina: "Albert! Kalau kamu ada masalah, cobalah untuk menceritakan masalahnya ke kami!"
Albert: "....."
Albert: "...Memangnya kalian berdua siapa?"
Albert: "Kenapa aku harus menceritakan masalahku kepada orang asing seperti kalian?"
Albert: "Maaf! Tapi bisa lepaskan tangan kalian?"
Albert: "Aku ingin segera pulang!"
Aina: "Aku tahu kamu itu memiliki masalah!"
Aina: "Kamu di bully oleh mereka, bukan?"
Aina: "Aku tahu kamu di sakiti, kamu di hina oleh mereka!"
Aina: "Aku tahu itu!"
Aina: "Aku ingin kamu menceritakan masalahmu kepada kami!"
Mendengar itu pun, Albert terdiam sejenak, suasana itu membuat Albert teringat dengan sesosok yang sangat penting bagi dirinya yang sering menenangkan hatinya yang gundah, namun Albert tak tahu kemana sosok itu hingga sekarang. Ingatan itu membuat Albert meneteskan air matanya, melihat itu, Inami pun mengusap air mata milik Albert.
Inami: "Apa kamu menangis, Albert?"
Inami: "Kalau iya, gunakanlah pundak ku untuk mengeluarkan tangisanmu itu!"
Albert: "Maaf! Engkau tidak perlu melakukan itu!"
Albert: "Laki-laki.... itu tidak boleh menangis!"
Albert: "Begitulah yang dikatakan orang-orang..... kepadaku!"
Aina: "T-tapi..."
Seolah tak memperdulikan ocehan mereka, Albert pergi begitu saja dari hadapan mereka berdua dan pulang menuju tempat tinggalnya.
Inami dan Aina yang melihatnya pun hanya bisa terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa, tak lama kemudian, datang seorang laki-laki dewasa yang memanggil keduanya.
???: "Inami! Aina! Ayo kita pulang, Nak!"
Mendengar panggilan yang sangat dikenalnya pun, mereka melihat ke arah suara tersebut, dan terlihatlah seorang laki-laki dewasa yang jelas, mereka sangat mengenalnya.
Inami dan Aina: "Ayah!"
Mereka pun berlari menuju ayahnya dan memeluknya seperti larinya seorang anak kecil kepada ayahnya yang baru saja pulang dari kerjanya.
Ayah A&I: "Uhh... putri-putri kesayangan ayah!"
Ayah A&I: "Gimana, hari sekolah pertama kalian?"
Aina: "Tentu saja sangat menyenangkan, Yah!"
Ayah A&I: "Terus, apakah kalian mendapatkan teman baru?"
Mendengar pertanyaan dari ayahnya, Inami segera menanggapinya dengan...
Inami: "Tidak!"
Inami: "Kami tidak mau berteman dengan mereka, Yah!"
Jawaban dari Inami tentu membuat ayahnya bingung dan menanyakan alasannya.
Ayah A&I: "Loh?"
Ayah A&I: "Kenapa kalian tidak mau berteman dengan mereka?"
Aina: "Habisnya, mereka selalu membully seorang teman kami!"
Ayah A&I: "Memangnya siapa yang mereka bully?"
Inami: "Seseorang yang nampak seumuran dengan kami, namanya Albert Greene!"
__ADS_1
Inami: "Ia di hina oleh mereka hanya karena dianggap b*doh!"
Aina: "Benar!"
Aina: "Mereka membully Albert sampai membuat Albert menjadi anak yang sangat tertutup!"
Ayah A&I: "Hmmmm...... ini tidak boleh dibiarkan!"
Ayah A&I: "Perbuatan mereka mungkin sudah sangat di luar batas!"
Aina: "Ayah! Kami mohon, bantu Albert agar tidak di bully lagi oleh mereka!"
Ayah A&I: "Ya.... Akan ayah coba lakukan, Nak!"
Ayah A&I: "Tapi sekarang kita pulang dulu, ya!"
Inami dan Aina: "Terima kasih banyak, ayah!"
Kembali ke Sisi Albert, kini ia sedang berdiri di dekat sungai yang sedang mengalir deras, mengamati aliran sungai dengan tatapan kosongnya, dan di saat ia sedang melamun, tiba-tiba saja terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah Albert. Albert pun menyadari bahwa itu adalah langkah kaki mereka bertiga, ia segera membalikkan badannya ke arah mereka bertiga.
Albert: "M-mau apa kalian?!"
Louise: "Nggak! Kami hanya mau melihat sungai ini bersamamu!"
Louise: "Ya, kan teman-teman?"
Alex dan Isacc: "Iya!"
Isacc: "Sekalian kami mau minta maaf dengan kamu!"
Alex: "Karena kami sudah membully dirimu selama ini!"
Louise, Alex, dan Isacc: "Maafkan kami, Albert!"
Albert yang melihat itu sudah sangat mengetahui sifat mereka, hal yang mereka lakukan sekarang ini adalah kepalsuan.
Albert: "Maaf! Aku tidak mau memaafkan kalian!"
Mendengar jawaban Albert membuat mereka bertiga terkejut, mereka tidak menyangka bahwa ada perubahan dari dalam diri Albert.
Alex: "Apa maksudmu?"
Alex pun mendekati Albert sembari bertanya-tanya kepadanya. Albert pun juga jelas mundur untuk menjaga jarak dengannya.
Alex: "Hei, Albert!"
Alex: "Coba kamu jelaskan apa maksud dari perkataanmu!"
Albert hanya diam tidak menjawab pertanyaan dari anak laki-laki di depannya. Hingga kemudian, Albert benar-benar telah berdiri di pinggir sungai dan hampir jatuh ke sungai yang mengalir deras tersebut.
Alex: "Kamu udah sok akrab dengan Aina dan Inami!"
Alex: "Dasar bocah tidak tahu diri!"
Alex pun mendorong Albert dengan sangat keras, membuat Albert terpental dan jatuh ke dalam sungai deras tersebut.
Albert dari dalam sungai terus memandangi ketiga orang yang selama ini terus membully nya, dan bersumpah untuk selalu mengingat wajahnya.
Albert: (Akan kuingat selalu wajah dan perbuatan kalian selama ini!)
Albert: (Dan akan kubalas perbuatan kalian di kemudian hari!)
Albert pun benar-benar telah terbawa jauh dari tempat pijakannya akibat derasnya aliran sungai.
1 Minggu kemudian, Albert telah berada di laut lepas, mengambang di permukaan laut layaknya mayat dari orang yang mati tenggelam, 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu, hingga 1 bulan telah berlalu. Kini Albert terbangun dari pingsannya dan menyadari bahwa dirinya telah berada di sebuah rumah sakit. Tak lama setelah ia sadar, pintu ruangan terbuka dan memperlihatkan seorang pria dewasa memasuki ruangan tersebut, sembari tersenyum ia menanyakan keadaan Albert.
???: "Nak! Kamu sudah sadar, ya?"
Albert: "Siapa....kah.....anda?"
???: "Oh, maaf karena mengejutkanmu!"
???: "Perkenalkan, namaku adalah...."
Halsey: ".....Halsey Nimitz!"
Halsey: "Aku adalah Panglima di sini!"
Halsey: "Nak, siapa nama kamu?"
Albert: "....."
Halsey: "Tenanglah! Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu!"
Merasa aman, Albert pun memberitahukan namanya kepada Halsey, tentunya dengan suara imutnya itu.
Albert: "Albert!"
Albert: "Namaku adalah Albert Greene!"
Halsey: "Albert, ya?"
Halsey: "Nama yang bagus!"
Halsey: "Oh iya, aku ingin bertanya kepadamu!"
Halsey: "Apa boleh?"
Albert: "....Iya!"
Halsey: "Kamu ditemukan oleh salah satu anak buahku di pinggir pantai!"
Halsey: "Bagaimana kamu bisa hanyut hingga ke pantai disini?"
Halsey: "Bisa kamu beritahu aku mengapa kamu hanyut?"
Albert pun mengiyakan dan mulai menceritakan semuanya.
Kita akan ke sisi Inami dan Aina, pada hari itu, negara tempat mereka tinggal tiba-tiba saja di serang oleh pasukan yang tidak dikenal, mereka menyerang negara tersebut menggunakan kapal perang dan kapal induk yang sangat panjang dengan pesawat tempur aneh, tiap-tiap kapal terdapat corak berwarna merah menyala, dengan itu, mereka mampu untuk melumpuhkan pertahanan Angkatan Laut, Angkatan Udara, bahkan Angkatan Darat di negara tersebut. Bahkan akibat serangan itu, memakan korban yang sangat banyak termasuk ayah dan ibu dari Inami dan Aina, kelompok tersebut menamakan diri mereka sebagai 'Siren'.
Kembali ke sisi Albert, setelah ia menceritakan perjalanan dia kemari, Marsekal Halsey pun merasa sedih kepada Albert, tak lama kemudian, ia menanyakan sesuatu kepada Albert.
Halsey: "Nak! Apa kamu mau menjadi anak angkatku?"
Mendengar pertanyaan tersebut tentu membuat Albert bingung, ia mencoba untuk memahami pertanyaan dari Halsey.
Halsey: "Bagaimana?"
Halsey: "Apa kamu mau?"
Albert pun akhirnya memahami pertanyaan tersebut dan ia mengangguk menandakan bahwa ia mau menjadi anak angkat dari Marsekal Halsey. Mulai saat itu Albert pun menjadi anak angkat Marsekal Halsey dan sangat dekat dengan anak Sang Laksamana, Andre Nimitz.
Ilustrasi Panglima Marsekal Halsey Nimitz
Sumber: https://cdnb.artstation.com/p/assets/images/images/015/092/031/small/younghun-byun-kakaotalk-20190109-1904384791.jpg?1547028948
__ADS_1
Ilustrasi Albert Greene
Sumber: https://twitter.com/Namiki\_Itsuki/status/1500063680041521155?s\=20