
*Flashback on*
16 Tahun lalu,
Hujan deras yang menerpa di kota A membuat suasana sore tampak terasa membosankan. Kaisar yang pada saat itu sudah bersiap hendak pergi bersama teman – temannya pun hanya bisa mendesah berkali – kali di depan jendela rumahnya.
Tiba – tiba ia mengenyitkan alisnya, dalam derasnya hujan sang kakak Renata Alatas tampak mendekap sesuatu dalam dadanya.
"Ibu, Apa yang kak Nata bawa dengan tergesa – gesa itu?" Ibunya yang sedang duduk memegang gelas teh hanya menatap penuh pertanyaan kearahnya. Kaisar bergegas menuju pintu depan, dan membuka pintu itu.
Ceklek,
Renata memeluk sesuatu di dadanya dalam kondisi basah kuyup. Sang Ibu Kumala yang melihat wujud putrinya itu refleks bangkit dan mendekati Renata, dan ia tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"R-re? Ini anak siapa?" Kumala tampak tergagap, sementara Renata hanya diam mengigit bibir bawahnya. Salah seorang asisten rumah tangga datang membawakan dua buah handuk dan memberikannya pada Renata dan bayi itu.
"Re! Jawab ibu nak, ini anak siapa?"
Mendengar bentakan ibunya Renata menangis sesenggukan. Kaisar hanya bisa melihatnya dan berusaha mendengarkan penjelasan yang akan di berikan kakaknya. Ia melirik sekilas bayi itu kala sang asisten membawanya kedalam. Sayangnya suara ibu membuat asisten rumah tangga itu berhenti dan berdiri di samping Kaisar.
"Bi, jangan dibawa dulu bayinya. Biarkan saja disini. Sekarang Re, jawab ibu sayang. Bayi siapa itu?"
"Ibu. Selama ini Aldi tidak benar – benar memeruskan kuliahnya di Swiss, Aldi selingkuh dari Nata dan mempunyai anak dengan selingkuhannya. Sekarang mereka berdua selesai dimakamkan, mereka meninggal dalam kecelakaan mobil. Hanya anak ini saja yang selamat. Nata ingin merawatnya bu, kasihan bayi ini karna keluarga Aldi tak ada yang mau mengasuh anak ini. Ijinkan Nata merawatnya bu, Nata mohon." Pintanya dengan sesenggukan. Entah karna suara hujan ataupun suara bising dalam ruangan ini membuat bayi mungil yang berada di gendongan asisten rumah tangga itu menangis kencang. Semua mata menatapnya, bayi yang sepertinya berusia 2 bulanan itu terus menerus menghisap tangan – tangannya.
"Nata, nanti kita bahas hal ini lagi. Kai tolong belikan susu formula untuk bayi baru lahir ya, sepertinya bayinya lapar." Kaisar mengangguk, lalu ia berlari kearah motornya dan pergi menuju apotik tanpa mengkhawatirkan penampilan kerennya yang kini harus basah kuyup terkena air hujan.
Dalam keheningan Kumala membawa bayi itu dalam gendongannya, ia menimang – nimang bayi itu. Entah mengapa ada rasa kasihan terhadapnya. Ia menatap kearah Nata, putrinya yang duduk menunduk sambil memeluk tubuhnya dengan handuk.
"Nata. Kita tak bisa merawatnya. Bayi ini masih memiliki keluarga, biarkan keluarganya saja yang merawatnya." Ucap Kumala padanya. Renata menatap ibunya, beliau benar. Namun bagaimana jika keluarganya saja tidak ada yang mau merawatnya? Apakah bayi itu akan di tempatkan di panti asuhan. Atau bahkan lebih buruknya bayi itu akan dibuang?
"Keluarga Aldi tak ada yang mau merawatnya bu. Mereka tidak menerima bayi haram di dalam keluarganya." Lirihnya. Kamila melirik marah kearah Renata.
"Tak ada bayi yang haram. Mereka semua terlahir suci, hanya karena kedua orang tuanya yang melakukan kesalahan kita tak boleh mencap bahwa bayi itu haram. Dan Renata, kalaupun kita bisa merawatnya ibu tak ingin di masa depan mereka meminta kembali anak ini. Harus ada peraturan tertulis dari keduanya. Mengurus anak itu tak mudah Nata, apalagi ini bukan anak kalian. Ibu tak ingin kamu tambah sedih karna harus merawat anak dari penghianat itu."
"Renata mohon bu. Jangan sebut Aldi penghianat. Ini semua karna kesalahan Nata."
__ADS_1
"Nata, apa maksut kamu?"
"Nata tidak akan pernah bisa h-"
Clack!
Pintu kediaman Kumala terbuka. Kaisar masih dengan helmnya berjalan kearah mereka dengan baju yang basah kuyup. Sang asisten rumah tangga mendekati Kaisar dan mengambil susu formula beserta dotnya dan dengan segera membuatkannya di dapur. Kaisar melepas helmnya dan menatap datar kearah Renata.
"Jadi, benar kan pria brengsek yang kakak sebut tunangan itu berkhianat. Syukurlah jika akhirnya dia ma-"
Plak!
Renata menampar pipi adik laki – lakinya itu. Nafas naik turunnya dan juga mata yang tampak merah dan bergetar nampak mengintimidasi Kaisar. Sayangnya laki – laki itu tak peduli. Ia masih dengan mata datar menatap kearah kakaknya.
"Tutup mulutmu Kai. Kau tak tahu apa – apa tentang Aldi! Jangan berani – beraninya kau berbicara buruk dengannya!" ucapnya dengan menekan dada Kaisar dengan telunjuknya.
*Flashback Off*
Kaisar membuka pintu kamarnya. Kamar luas bernuansa abu – abu dan putih itu masih sama seperti terakhir kali ia meninggalkannya. Barang – barang miliknya pun masih tersusun dengan rapi di tempatnya, dan ia pun mendekati ranjangnya dengan menyeret koper besar miliknya lantas ia melemparkan kopernya begitu saja di atas ranjang.
\~
Kai, ibumu meninggal dunia karena sakit jantung yang dideritanya. Pulanglah.
Deg!
Sebuah pesan singkat dari pamannya yang berada di Indonesia membuatnya terkejut. Pasalnya ia sama sekali tak pernah mendengar ibunya mengeluh tentang sakitnya. Yang ada, Ibunya hanya akan bercerita panjang lebar tentang anak angkat kakaknya itu. Sejak kematian kakaknya sang ibu harus mengurus sendiri anak itu. Keluarga yang sebenarnya tak pernah mau menjengguk anak itu.
Kai mengetuk – ketuk meja kerjanya dengan sebelah tangan lainnya menyangga kepala. Ia melirik jam yang berada di samping meja kerjanya. Tak mungkin ada penerbangan di jam sekarang. Kalaupun ada, ia harus menunggu pagi – pagi buta untuk berangkat dari Amerika ke Indonesia.
"Alex, aku harus benar – benar kembali ke Indonesia." Ucapnya sambil memakai kembali jas kerjanya, sang asisten Alex mengenyitkan dahinya dari balik meja kerjanya.
"Sir, Anda tak bisa kemana – mana sekarang. Sebentar lagi petinggi perusahaan X dari Swiss akan tiba."
"Bisakah kau menggantikanku?"
__ADS_1
"Sayangnya tidak bisa sir. Maafkan saya."
"****. Berapa lama lagi aku harus menjadi boneka pria tua itu! ****." Frustasinya. Alex hanya menggelengkan pelan kepalanya. Kaisar mendesah kasar.
Cklek!
Pintu ruang CEO terbuka, Kaisar melirik datar kearah pria tua yang masih nampak berdiri kokoh itu. Rambut putihnya serta pakaian yang selalu tampak licin itu selalu terlihat pas di tubuhnya. Pria tua itu mendekati Kaisar.
"Kai, ibumu me-"
"Ya, I KNOW. Dan bahkan aku tak bisa pulang untuk mengantarkannya ke peristirahatan terakhirnya. How LUCKY I'am." Sarkasnya. Pria tua itu hanya terdiam.
"Tuan Zack-"
"Duduklah Alex. Aku hanya akan menemui putraku sebentar." Ucapnya. Pria tua itu adalah Zachary Sebastian.
"Listen son, aku turut berbela sungkawa atas kematian Kumala. Aku mengerti keinginanmu, tapi aku ingin kau bertahan sedikit lagi. Perusahaan ini membutuhkan-"
"Maksutmu KAU membutuhkanku? Tentu saja aku akan bertahan sedikit lagi sebagai balas budiku karna kau menampungku. Aku akan benar – benar menyelesaikan ini dan kemudian aku akan mengangkat kakiku dari perusahaan ini." Zack mengambil nafas panjang kemudian mengangguk pelan.
"Bagus"
\~\~\~
Kaisar menuruni tangga rumahnya, setelah kematian Ibunya otomatis rumah dan segala asetnya jatuh ketangannya. Jangan lupakan perusahaan yang bergerak di bidang makanan milik keluarganya juga otomatis berada di bawah kendalinya.
Makan siangnya kini tertata rapi di meja makan. Dahinya berkerut ketika melihat hanya ada satu piring yang berada di atas mejanya.
"Jadi, kemana perginya keponakanku tersayang?" ucapnya pada salah satu asisten rumah tangga yang membawakan lauk ke mejanya.
"Non Abel sudah pergi ke sekolahannya dari pagi Tuan." Kaisar termanggut – mangut.
"Sungguh tata krama yang buruk dari seorang anak pelakor yang dibesarkan oleh orang lain" Ucapan buruknya membuat para asisten rumah tangga yang menata makan siang hanya saling sikut dan melirik satu sama lain.
Kaisar menikmati makan siangnya. Setelah makan, ia bangkit dan membenarkan pakaiannya kemudian meraih tas kerjanya.
__ADS_1
"Ingatkan gadis itu untuk menemuiku malam nanti. Aku akan membicarakan sesuatu dengannya." Ucapnya pada para asisten rumah tangganya. Kaisar berjalan menuju garasi, dan mengemudikan mobilnya menuju perusahaan keluarganya.