Dangerous Obsession

Dangerous Obsession
03


__ADS_3

Abel mencuci piring bekas makan malamnya. Sebelumnya ia sempat menunggu Kaisar cukup lama, namun sepertinya pria itu sama sekali tak ingin pulang kerumahnya. Abel memilih untuk memasukkan lauk pauknya kedalam kulkas agar bisa dipanaskan esok hari. Ia pun tak lupa membereskan ruang makan.


Setelah memastikan semuanya bersih dan tak ada piring kotor di tempat cuci, ia memilih untuk sedikit berjalan kedepan untuk mengecek pintu dan mematikan lampu yang tak digunakan.


Ceklek,


Abel mengunci pintu depan. Ia sengaja tak mengunci gerbang supaya ketika Kaisar pulang ia hanya perlu membuka pintu utama saja. Abel berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua, diatas nakas tempat tidurnya Abel meraih sebuah foto keluarga kecilnya. Fotonya saat masih kecil bersama kedua orang yang paling ia sayangi.


"Ibu, nenek. Abel minta maaf kalau selama ini Abel menyusahkan kalian. Semoga Tuhan memberikan kalian tempat yang terbaik disisi-Nya."


Cup,


Abel mengecup foto itu, lalu mengembalikan foto itu ke tempat semula. Setelah itu, ia merebahkan tubuhnya.


Tiga puluh menit berlalu. Abel sama sekali belum memejamkan matanya. Berkali - kali bola matanya tampak bergerak ke kiri dan ke kanan.


"Satu, dua, tiga-"


Abel menggerakkan jari tangannya sembari mulutnya tampak komat kamit berhitung.


"Tersisa satu tahun setengah lagi hingga aku lulus sekolah. Melihat perangai om Kai sepertinya aku akan di tendang setelah menyelesaikan sekolah menengah atasku. Sebelum hal itu terjadi, aku harus mencari pekerjaan dan pergi dari rumah ini."


Abel kembali menoleh ke foto sebelumnya, senyumnya mengembang.


"Tenang saja ibu, nenek. Aku tak akan melupakan baktiku pada kalian."


Setelah mengucapkan hal itu, Abelia memejamkan matanya.


_______


Brak!


"RENATA!"


Suara benda tertabrak dan teriakan Kumala membuat situasi yang sebelumnya tegang menjadi horor ketika sebuah tubuh terpental di tengah jalan.


Renata tertabrak sebuah truck minyak setelah menyelamatkan Abel dari aksi penculikan yang di ketahui di dalangi oleh keluarga Aldi, ayah kandungnya.


Kumala memeluk tubuh Renata yang sudah terbujur kaku akibat tabrakan yang sangat keras hingga membuat tubuh Renata terpental jauh dan membuat tubuhnya terseret - seret. Tubuh Renata yang berdarah - darah membuat guru yang memeluk Abel langsung menutup mata gadis berusia 6 tahun itu.


Orang - orang tampak berbondong - bondong membantu menaikkan tubuh berdarah milik Renata ke dalam ambulance setelah harus menunggu selama 25 menit. Kumala memeluk cucunya yang menangis di dalam Ambulance, gadis itu menggenggam tangan Renata yang tak tersentuh luka sedikitpun.

__ADS_1


"Nenek, ibu hanya tidur kan? Ibu tidak kenapa - napa kan?" Kumala mengangguk cepat. Ia tak ingin membuat cucunya menangis.


Ambulance itu akhirnya sampai di sebuah rumah sakit terdekat, dan membawa masuk tubuh Renata kedalam sebuah ruangan. Sementara Kumala nampak terisak disaksikan oleh Abel kecil.


"Nenek, nenek kenapa menangis?"


"Nenek tidak apa - apa sayang."


Tak lama kemudian datanglah sepasang suami istri dan memeluk Kumala. Abel hanya diam di kursi menyaksikan ketiga orang dewasa itu saling berbincang. Salah satu dari pasangan itu tampak sedikit menjauh, pria itu tampak sedang menghubungi seseorang.


*


Seatle, Amerika Serikat.


Drttt drttt,


Seorang pria meraih ponselnya yang tergeletak di samping bantalnya. Ia mengangkat panggilan itu tanpa membuka matanya.


"Hello-"


"Sialan! Sampai kapan kau akan keras kepala dan meninggalkan Indonesia huh! Pulanglah, Renata ah maksutku kakakmu meninggal dunia!"


DEG!


"Paman?"


"Kenapa? Apa iklim Seattle membuatmu bodoh hingga tak mengenali suara Pamanmu sendiri? Pulanglah Kai, berhentilah bersikap kekanak - kanakan. Kau tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, tentang kakakmu dan apa alasan yang sebenarnya mengapa kakakmu mengadopsi Abe-"


"Cukup paman. Aku sendiri yang mendengar ucapan kak Nata waktu itu. Dan sekarang aku tak peduli dengan kebenarannya. Aku percaya dengan apa yang ku dengar dan ku lihat. Soal kak Nata aku minta maaf, aku tak bisa pulang sekarang."


"Hal-"


Tutt, tuut.


Kaisar memutus panggilan itu, tak lupa ia mematikan ponselnya lalu membuang ponselnya kesembarang arah.


"Hahhhh"


Kaisar mendesah kasar, ia hendak kembali memejamkan matanya namun tiba - tiba matanya terasa perih. Kaisar menangis hingga ia tertidur.


_______

__ADS_1


"BEL! ABEL!"


Brak brak brakk.


Suara ketukan pintu yang disertai teriakan membuat Abel tersentak dalam tidurnya. Abel melirik ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Masih jam 3 pagi, rupanya ia hanya tertidur selama 5 jam. Abel sesegera mungkin untuk berlari menuruni tangga untuk membuka pintu yang semakin lama ketukan pada pintu itu berubah menjadi tambah keras.


Ceklek,


Kaisar buru - buru mencekik leher gadis itu, Abel memukul - mukul tangan Kaisar. Pria itu sama sekali tak terpengaruh, justru semakin keras Abel memberontak semakin kencang pula cekikan di lehernya.


"O-om maaf-"


"TUAN! Panggil aku tuan apa kau tuli ha?"


"Tuan, aku mohon lepas-"


Plak!


Satu tangan Kaisar menampar keras pipi Abel hingga gadis itu terpental. Abel menangis dan memegangi pipinya. Pelan tapi pasti ia menyeret tubuhnya mundur ketika perlahan - lahan Kaisar mendekatinya.


"Tuan, maafkan aku."


"Ya, seharusnya kau meminta maaf dan mengakui kesalahanmu. Kesalahanmu yang membuat aku kehilangan orang - orang yang aku sayang." Kaisar menjepit dagu gadis itu hingga membuat keduanya saling tatap.


"Gara - gara kau, aku kehilangan kakak yang pa\~ling kusayangi. Gara - gara kau, aku kehilangan wanita yang aku cintai. GARA - GARA KAU ABELIA SIALAN!"


Plak,


Kaisar kembali menampar wajah Abel. Gadis itu menangis sambil mencoba melindungi wajahnya dari pukulan yang di layangkan oleh Kaisar. Kaisar berhenti memukulnya, namun hal itu tak membuat Abel seketika membuka wajahnya. Ia masih menyembunyikan wajahnya. Kaisar meraih kerah baju tidur Abel, gadis itu mengintip dari celah jari - jarinya.


Kaisar tersenyum smirk.


"Lantas harus bagaimana kau bertanggung jawab dengan semua ini, Abel?"


Abel semakin terisak. Satu masalah yang besar kini berada di hadapannya. Masalahnya, tak tercium aroma minuman keras dari nafas pria itu yang artinya pria itu dalam keadaan sadar 100%. Kaisar akhirnya benar - benar meluapkan emosi padanya. 'Sinyal bahaya' kini dirasakan oleh Abel.


Kaisar akan membunuhnya!


"Tuan, kumohon maafkan aku. Ijinkan aku menebus kesalahanku asal kau tak membunuhku." Kaisar menautkan kedua alisnya kemudian tertawa terbahak - bahak.


"Apa menurutmu aku akan membunuhmu? Tentu saja tidak. Aku tak akan membunuhmu Abel tenang saja." Kaisar perlahan - lahan melepas cekalan pada kerah baju Abel. Gadis itu gemetaran ketika Kaisar mengelus rambutnya dari atas kemudian turun kebawah dan akhirnya ia menjambak rambut Abel hingga gadis itu meringis kesakitan.

__ADS_1


"Aku akan membuatmu menderita! Aku akan mengikatmu disekitarku hingga akhirnya kau merasa sesak dan kemudian mati perlahan - lahan Abel, Hahahaha!"


Tawa kencang Kaisar membuat dada Abel terasa nyeri. Rasanya ia benar - benar akan sulit untuk keluar dari neraka yang diciptakan oleh Kaisar.


__ADS_2