Dangerous Obsession

Dangerous Obsession
05


__ADS_3

Setelah berbicara dengan dokter penjaga. Akhirnya Abelia di perbolehkan oleh pulang sore hari nantinya. Kini Kaisar berdiri di depan ranjang keponakannya dengan melipat kedua tangan di dada.


"See? Seharusnya kau meminta pulang setelah sadar."


Ucapan - ucapan kasar yang dilontarkan oleh Kaisar padanya tak membuat Abel sakit hati. Ia berusaha untuk tidak memasukkan ucapan pria iblis itu dalam hati.


Kasiar mengeluarkan ponselnya, ia menggeser - geser layar ponselnya lalu menekan tombol hijau pada ponselnya. Ia menghubungi seseorang. Selang beberapa kali bunyi dering pada ponselnya, seseorang mengangkat panggilannya.


"Setelah ini datanglah ke rumah sakit untuk menjemput keponakanku tersayang. Aku menunggumu." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Abelia. Gadis itu masih setia melamun menatap langit - langit rumah sakit.


Kaisar mematikan ponselnya, memasukkan ponselnya pada saku jas nya kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.


"Aku harus kembali. Kau bisa pulang bersama Edward sebentar lagi. Aku ingin sesampainya kau di rumah kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Kau paham?"


"Aku paham." Balas Abel dengan suara lemah. Kaisar tersenyum.


"Bagus sekali." Setelah mengucapkan hal itu, Kaisar pergi meninggalkan Abelia yang kini terlihat mendesah kasar.


"Bertahanlah sedikit lagi, aku harus kuat dan keluar dari rumah itu hidup - hidup." Lirihnya.


Abel memutuskan untuk merebahkan dirinya sebentar, menunggu kedatangan sang supir pribadi milik Kaisar yang bernama Edward tersebut.


_______


"Hanya ini barang - barangnya nona?" ucap pria bertubuh tinggi dengan kulit berwarna sawo matang itu. Abel mengangguk pelan. Edward membawa tasnya, kemudian melangkah memimpin pergerakan Abel. Gadis itu menatap tangan kirinya yang masih terasa nyeri setelah sang dokter melepas infus miliknya.


Sebentar lagi ia harus kembali kedalam neraka itu.


Edward memasukkan tas milik Abel kedalam bagasi mobil. Setelah itu ia duduk di belakang roda kemudi. Abel segera membuka pintu samping supir setelah mendapat tatapan tajam dari Edward.


Edward mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebab, sesampainya ia di rumah sakit ia mendapat panggilan dari Kaisar untuk segera kembali ke perusahaannya. Mereka berada dalam satu mobil dengan penuh keheningan.


Sementara Abel tak ingin berusaha mencairkan suasana, ia lebih memilih untuk duduk dan menyandarkan kepalanya di sisi kaca mobil itu. Matanya memandang kearah jalanan kota yang tampak mulai ramai orang yang berlalu - lalang pulang dari tempat mereka bekerja.


Tiba - tiba ia teringat dengan sekolahan. Selama 5 hari tak mungkin teman - teman bahkan guru di sekolahnya tak mencarinya. Ia melirik kearah Edward.


"Sepertinya ada yang hendak kau bicarakan nona?" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya untuk tetap tertuju pada jalanan di depannya. Abel berdeham.

__ADS_1


"Itu, bagaimana sekolahku?" lirihnya. Tampak Edward menarik sisi bibirnya. Ia mengelus dagunya dengan satu tangannya.


"Tuan Kaisar sudah menyerahkan surat dokter kepada pihak sekolah." Abel ber-oh ria. Itu artinya ia tak akan mendapat tanda merah di raportnya kelak. Ia mendesah lega. Hal itu membuat Edward yang sedang menyetir refleks melirik kearahnya.


"Bisakah kita pergi ke supermarket sebentar? Aku ingin membeli beberapa bahan makanan."


"Tak perlu nona. Tuan sudah menyuruh saya membelikan bahan - bahan makanan sebelum saya berangkat ke rumah sakit."


Lagi - lagi Abel tak bisa berkata - kata. Ia bingung dengan apa yang di pikirkan Kaisar padanya. Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi mereka sampai di depan Mansion. Abel keluar dari dalam mobil. Tiba - tiba perasaan takut kembali menguasai dirinya. Ia menggenggam erat dress panjangnya, tampak juga ia mengigit bibir bawahnya.


"Nona, .... Nona! Anda tak apa?" Edward mengguncang tubuh Abel. Ia tampak heran melihat Abel yang sejak turun dari mobil tiba - tiba melamun. Saat ia memanggilnya pun tak ada reaksi dari Abelia. Terpaksa ia mengguncang tubuh Abel dan langsung membuat Abel tampak sadar kembali.


"A-ah maaf. Aku melamun." ucapnya lirih.


Edward membuka pintu mansion. Ia menaruh tas milik Abel di ruang tamu. Tampak Abel memijit - mijit lengan kanannya.


"Saya harus kembali nona. Jika anda memerlukan sesuatu anda bisa memanggil saya." Abel mengangguk. Tak lama kemudian Edward mengundurkan dirinya.


Abel menatap ke sekeliling rumah. Benar saja, rumah ini tampak bersih. Tak ada kotoran atau bahkan debu yang menempel di meja ruang tamu saat ia mengusapkan jarinya. Abel membawa kembali tasnya kedalam kamar. Tak hanya itu, ia juga mengeluarkan pakaian kotor miliknya dan memasukkannya kedalam mesin cuci.


Clack!


_____


Kaisar melepaskan dasinya sesaat setelah ia keluar dari mobil. Ia merasa kelelahan setelah belakangan ini ia harus pergi beberapa kali ke rumah sakit hanya untuk mengecek keadaan gadis sialan itu. Ia menyugar rambutnya. Saat ia membuka pintu, tercium aroma masakan yang selama ini selalu ia rindukan.


Ia berjalan kearah meja makan. Matanya tampak berbinar ketika melihat beberapa makanan kesukaannya tertata rapi di atas meja makan.


"Ah anda sudah kembali?" suara Abel dari arah dapur membuat senyum Kaisar yang semula terbit kini tampak lenyap begitu saja. Kedatangan Abel membuat aroma masakan yang membuatnya bernostalgia tiba - tiba hilang.


"Seperti yang kau lihat." Ketusnya. Ia menatap heran kearah keponakannya itu. Sama sekali tak ada perlawanan dari Abel. Gadis itu hanya mendesah pelan kemudian tersenyum singkat.


"Anda bisa membersihkan diri dahulu tuan."


"Ya, aku tahu." Kaisar mengambil kembali tasnya, kemudian ia berjalan kearah tangga. Abel menatap setiap pergerakan pria itu.


Sepeninggalan Kaisar ia mendesah kasar.

__ADS_1


"Ya, harus seperti ini Abel. Kau harus membiarkan Om Kai berbicara semaunya. Jangan pernah memikirkan ucapannya dan menyimpannya di dalam hati. Bertahanlah sedikit lagi." Monolognya. Abel kembali ke dapur. Membuatkan minuman hangat yang sangat disukai oleh Kaisar. Teh chamomile yang sering di ingat - ingat olehnya kala Nenek masih hidup.


*Flashback*


"Nenek, ini teh apa?" Ucap Abel kepada Kumala. Wanita paruh baya itu tersenyum.


"Abel menyukainya?" Abel mengangguk.


"Ini teh chamomile. Tehnya wangi kan? Teh ini bisa membuat kualitas tidurmu jadi lebih baik." Ucap Kumala sambil mengusap hidung mancung Abel. Gadis itu tampak tersenyum geli.


"Apa ibu dan nenek suka teh ini?" Kumala tersenyum, kemudian wanita itu mengangguk.


"Semua suka teh chamomile. Nenek, ibu dan om Kai juga. Tapi, om Kai yang paling suka teh ini. Nah sekarang Abel sudah rileks? Kalau sudah Abel bisa kembali tidur supaya besok ujiannya lancar." Abel tersenyum mendengar ucapan Kumala. Benar sekali, besok malam adalah hari ujian kelulusan sekolah menengah pertama. Padahal ini bukan pertama kalinya ia mengikuti ujian. Namun entah mengapa malam ini Abel tak bisa tidur. Ia gugup dan takut jika besok ia tak bisa mengikuti ujian dengan lancar. Ia tak ingin membuat nenek dan mendiang ibunya kecewa.


*Flashback off*


Tak!


"Kau sudah selesai melamun?" Kaisar memukul piringnya. Ia berdecih, apa yang di pikirkan oleh gadis di depannya ini sehingga ia tak sadar dengan kedatangannya.


"A-ah maafkan aku."


Kaisar mendengus kesal. Ia mulai mengambil makanannya sendiri. Kini di piringnya terdapat nasi serta ikan kuah kuning. Entah mengapa makanan ini mengingatkannya pada masa kecilnya. Kaisar memakannya. Pada suapan pertama ia benar - benar di buat bernostalgia oleh rasa makananya. Makanan ini benar - benar seperti makanan yang dibuat oleh tangan ibunya.


Kaisar menatap kearah Abel yang tampak berdiri di ujung meja makan. Ia tak menyuruh Abel untuk makan bersamanya.


Kaisar menghabiskan makanannya hingga suapan terakhir. Rasanya ia ingin mengambil lagi makananan itu jika tak ada Abel di sampingnya.


"Ini minumannya tuan." Abel hendak menyodorkan teh chamomile itu di hadapan Kaisar. Sayangnya, Kaisar terlebih dulu bangkit dari kursinya.


"Bawa minumannya ke meja kerjaku." ucapnya sambil berjalan ke pintu di dekat tangga. Ruang kerjanya berada di lantai satu. Abel mengangguk paham. Ia membawa kembali minuman itu dan mengikuti Kaisar dari belakang.


____


"Ini tuan." Ucapnya sambil menyodorkan minuman itu di atas meja. Kaisar berdeham lirih. Kemudian Abel mengundurkan diri dan menutup pintu kerjanya.


Sepeninggalan Abel, Kaisar berkali - kali melirik minumannya. Pada akhirnya ia meminum tehnya. Matanya membola seiring tegukan demi tegukan teh yang berhasil masuk melalui kerongkongannya. Nyatanya secangkir teh chamomile yang hangat itu akhirnya tandas.

__ADS_1


Kaisar menaruh kembali cangkirnya. Ia memijit pangkal hidungnya.


"Ah sial, apa yang di buatnya hari ini enak sekali." gumamnya pelan.


__ADS_2