
Pukul 3 sore.
Seorang gadis berambut panjang tampak melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Pandangan matanya menatap lurus kearah ponselnya hingga ia tak sadar bahwa seseorang tengah menatapnya tajam dari sofa ruang tamu.
"Well, kau hidup cukup baik rupanya." Kaisar tersenyum smirk.
Gadis itu menatap kearah sumber suara. Kaisar bangkit dari sofa dan berjalan mendekati gadis itu. Tinggi badan mereka yang berbeda membuat gadis itu harus mendongak keatas menatap Kaisar.
"Kau merindukanku? 'Keponakanku' tersayang?"
"Om Kai?"
"Ah kau tak pantas memanggilku seperti itu. Lagipula kau bukan keponakanku."
Kaisar melipat kedua tangannya di depan mata. Pandangannya mengintimidasi.
"Kau gadis pembawa sial. Kenapa kau masih berada disini setelah menbuat kedua orang yang memungutmu meninggal. Apa kau tak punya malu?"
"Om a-aku buk-!"
"Sttt! Apa kau masih belum sadar dimana letak kesalahanmu huh, Abelia Mutiara? Cih!" ucapnya sambil menatap kearah nametag miliknya. Mata Abel memerah. Dia bukan seorang pembunuh.
"Om kai, Abel bukan pembunuh. Abel tidak mungkin dengan sengaja membuat nenek dan ibu meninggal."
"Woah. Bahkan kau memanggil mereka dengan sebutan nenek dan ibu? Bagus sekali. Sudah berapa banyak orang yang kau manipulasi."
"Om. Abel sama sekali bukan penyebab mereka meninggal. Jangan menyalahkan takdir."
"Kini kau membahas tentang takdir? Lucu sekali. Sejak kedatanganmu kau merusak SEMUANYA!" Kaisar menaikkan nada bicarannya. Pandangannya tetap memandang Abel dengan tatapan mengintimidasi. Bahkan tatapan mata gadis itu pun juga ikut berubah. Matanya tanpak berkaca - kaca namun ia menahannya untuk tidak menangis.
"Kalau semuanya memang kesalahanku. Abel minta maaf. Abel akan melakukan semuanya untuk menebus kesalahan Abel." Kaisar menarik sebelah alisnya, senyum smirknya tersungging.
"Semuanya?" Abel mengangguk pelan, batinnya tak yakin.
__ADS_1
"Bagus! Bi, tolong kumpulkan semua pekerja yang ada di rumah ini. SEMUANYA, Tanpa terkecuali." ucapnya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Abelia.
Tak lama kemudian datanglah berbondong - bondong orang - orang yang berkerja di rumah ini. Kaisar menghitung mereka satu persatu. Totalnya ada 7 orang, termasuk satpam dan juga penjaga kebun. Mereka tampak berdiri berjajar di sebelah kiri Kaisar. Wajah mereka menunjukkan mimik kebingungan ketika sang pemilik rumah yang baru memanggil mereka.
"Tuan Kai? Apa ada sesuatu hingga membuat kami semua di kumpulkan disini?" Tanya salah satu diantara mereka. Kaisar menatap semuanya , kemudian ia melirik sinis kearah Abel.
"Jadi, karna semuanya sudah berada disini. Aku ingin melakukan pemecatan pada kalian. Semuanya."
Tampak terdengar nada terkejut dari mereka semua, termasuk Abel. Kasak - kusuk terdengar jelas di telinga Kaisar. Pria itu berdecih lirih sambil melirik ke sembarangan arah
"Hey tenanglah. Aku hanya ingin memindahkan kalian di kediaman utama."
"Lalu, bagaimana dengan semua pekerjaan di rumah ini tuan?" ucap sang penjaga kebun pada Kaisar.
"Abel yang akan melakukan semuanya."
"T-tuan, bukankah ini keterlaluan?" seorang wanita yang Kaisar hapal sekali bahwa wanita itu adalah kepala asisten rumah tangga. Dulu wanita itulah yang juga menggendong Abel pertama kali. Kaisar melipat kedua tangannya di dada, ia tersenyum remeh.
"Aku tahu yang terbaik, lagipula gadis itu juga tak keberatan. Bukan begitu?" ucapnya memandang Abel dengan senyum smirknya. Abelia tampak mengangguk ragu.
Kaisar menepuk kedua tangannya,
"Bagus sekali. Jadi tak perlu lagi ada hal yang perlu dicemaskan. Lebih baik kau ajari dia bagaimana mengurus rumah ini dengan benar, Sifa!" Kaisar berlalu meninggalkan beberapa orang yang tampak menatapnya dengan keheranan. Sementara Abelia ia merasa bahwa hal ini akan menjadi lebih berat dengan yang sebelumnya.
"Non Abel yang sabar ya. Kami tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kami percaya Non Abel pasti bisa melakukan yang terbaik!" Mereka tampak mencoba menghibur Abel, gadis itu yang semula tampak murung kini kembali tersenyum. Ia menyeka sudut matanya dan kemudian mengangguk pelan.
______________
Kaisar melipat kedua tangannya di dada, beberapa orang tampak berbondong - bondong berpamitan kepada Kaisar dan juga Abelia yang berdiri di belakang Kaisar. Tampak beberapa dari mereka menatap iba kearah gadis baik yang selalu menjaga tuan rumah sebelumnya itu. Sifa si kepala asisten rumah tangga itu memeluk tubuh Abel, membisikkan kata - kata penyemangat.
"Cukup untuk adegan melow - melownya. Sekarang kalian bisa berangkat dengan tenang menuju rumah utama."
"Baik tuan Kai, dan Non Abel. Kami semua berpamitan." ucap salah satu dari mereka dan dibalas anggukan oleh Kaisar.
__ADS_1
Mereka semua pergi menggunakan kendaraan yang di siapkan oleh Kaisar sebelumnya. Setelah itu suasana menjadi hening. Kaisar membalik tubuhnya menatap kearah Abelia. Ia berjalan mendekati Abel dengan memasukkan kedua tangannya di saku celana trainingnya, ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Abel.
"Kau tahu sekarang jam berapa? Kenapa kau tidak segera membuat makan malam. Ingat, semua tugas yang berada dirumah ini sekarang kau yang bertanggung jawab!" Tegasnya sambil meninggalkan Abel yang berdiri mematung di depan pintu.
______________
Abel mengikat rambutnya ala ponytail, ia sedang bersiap - siap untuk memasak makan malam. Untungnya ia bisa memasak maupun melakukan pekerjaan rumah lainnya.
Kaisar menyandarkan tubuhnya di tembok dapur yang tak jauh dari posisi Abel memasak. Kedua tangannya melipat di dada, dengan mata yang senantiasa menatap tangan lincah Abel saat memotong beberapa bahan makanan. Gadis itu tampak lihai mengolah makanan sambil menyanyi kecil.
"Kau bisa memasak?"
"Astaga!"
Abel yang hendak mencicipi makan malamnya tampak terkejut mendengar suara berat Kaisar yang tiba - tiba hingga ia menjatuhkan sebuah sendok sayur. Abel melirik sebentar kearah Kaisar yang tengah tersenyum sinis itu, ia pun segera memungut sendok sayurnya dan mencucinya.
"Heh bodoh!" ucap Kaisar sambil berlalu meninggalkan Abel yang sedang mencuci sendok sayurnya. Abel lebih memilih untuk mendiamkan Kaisar, setidaknya kali ini Kaisar tak mengatakan kata - kata yang menyakiti hatinya.
Setelah itu Abel menata makan malamnya di atas meja makan, sementara Kaisar tengah duduk memandang setiap pergerakan Abel dengan menautkan kedua tangan di atas meja. Kaisar melirik jam di pergelangan tangannya,
"Telat 15 menit 35 detik. Bukankah pekerja disini selalu tepat waktu dalam menyajikan makan malam?" tegasnya sambil melirik Abel. Gadis itu berdiri di belakang kursi. Abel tampak gugup, ia berkali - kali menautkan jari - jarinya.
"Maafkan aku om, disini hanya Abel yang berkerj-"
BRAK!
Kaisar bangkit dari kursinya dan menggebrak meja. Seketika itu pula Abel tersentak, matanya memanas.
"Bukankah itu resiko yang harus kau lakukan atas pilihanmu sendiri? Jangan membuatku seolah - olah aku yang bersalah! Pergilah! Kau membuat nafsu makanku menghilang begitu saja."
Kaisar meraih jaket kulitnya.
"Dan satu lagi. Panggil aku TUAN! Kau bekerja disini dan menumpang padaku, jadi tunjuk rasa hormatmu padaku!"
__ADS_1
Kaisar berlalu meninggalkan Abel yang tampak mematung menatap meja makan. Sepeninggalan Kaisar, Abel terisak. Rasanya sayang makan malam yang ia buat tak tersentuh sama sekali. Ia menarik kursi di depannya dan mulai mengambil nasi dan memakan makan malamnya dengan dada yang terasa sesak dan rasa makanan yang tiba - tiba hambar di mulutnya.
'Tuhan, kuatkan aku' Batin Abel.