Dangerous Obsession

Dangerous Obsession
04


__ADS_3

Abel yang merasa ketakutan melirik ke segala arah. Matanya tak sengaja menatap sebuah vas kecil yang berada di atas meja yang berada tepat di belakang Kaisar.  Ia hanya perlu menemukan waktu yang tepat untuk mendapatkan celah agar ia bisa meraih vas kecil tersebut.


Kaisar tersenyum remeh ketika melihat gelagat aneh Abel. Hal itu membuatnya bersemangat untuk lebih menyiksa gadis itu. Ia kembali menarik rambut Abel dan membuat gadis itu akhirnya menangis kesakitan. Berkali - kali Abel berusaha melepaskan rambutnya dengan memukul - mukul tangan Kaisar.


"Memberontaklah! Semakin kau bergerak maka aku akan bersemangat menarik rambutmu hingga dapat aku pastikan kau akan kehilangan seluruh rambutmu."


"Aku mohon lepaskan aku tuan. Aku akan pergi menjauh darimu jika itu bisa membuatmu lega." pinta Abel pada Kaisar. Sayangnya pria itu seakan tuli. Ia sama sekali tak mendengarkan ucapan Abel.


Abel hendak menyerah, namun Tuhan seakan mendengar doanya. Ia menemukan sebuah moment yang pas untuknya meraih vas tersebut. Abel berhenti memukuli tangan Kaisar. Dengan cepat ia meraih vas tersebut dan memukulan vas itu tepat di pelipis Kaisar.


Prang!


Vas tersebut pecah dan membuat darah mengucur di pelipis Kaisar. Pria itu melepas cekalannya, hal itu membuat Abel dengan cepat berlari menuju tangga meninggalkan Kaisar.


"****! ABEL KEMARI KAU!"


Abel berlari meninggalkan Kaisar yang masih tampak memegangi pelipisnya yang berdarah. Kaki - kaki kecilnya menaiki tangga dengan pelan, langkahnya tiba - tiba tampak berat ketika Kaisar kini berlari di belakangnya. Tangan kekarnya berusaha meraih kembali rambut Abel.


"Hhhahhh ahhhh tolong!"


Abel berteriak ketakutan. Kakinya hampir saja menaiki tangga terakhir jika saja Kaisar tak berhasil menangkap tangannya.


Sayangnya Abel berhasil di tangkap oleh Kaisar. Pria itu menarik tangan Abel dengan kencang hingga membuat tubuh mungil Abel limbung ke belakang dan membuatnya jatuh ke dasar tangga.


BRUK!


Suara benda jatuh yang kencang menggema di dalam rumah. Tubuh Abel tergeletak di lantai satu dengan darah yang mengucur dari pelipis dan hidungnya. Kaisar berlari menuruni tangga untuk menolong Abel.


"Bel, Abel!"


Kaisar menggoncang tubuh Abelia. Sayangnya tak ada reaksi apapun dari Abel. Kaisar mendekatkan jarinya di lubang hidung Abelia dan refleks menghembuskan nafas lega ketika masih dapat merasakan hembusan nafas dari lubang hidungnya. Gadis itu pingsan.


"****! Merepotkan saja."

__ADS_1


Kaisar mengangkat tubuh Abel dan membawanya menuju mobil. Ia menidurkan Abel di jok belakang mobilnya, kemudian bergegas untuk masuk ke mobil bagian depan.


Brak.


Kaisar menutup pintu cukup keras, matanya melirik dari arah kaca yang berada di bagian atas menatap kearah Abel. Bahkan suara kencang itu tak membuat gadis itu bergerak sama sekali. Tangannya memutar kunci mobil dan mulai menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Kaisar mengigiti ibu jarinya. Tubuh Abel yang tak bergerak membuatnya sedikit ketakutan. Pasalnya bagaimana ia akan menjelaskan kepada pihak rumah sakit mengenai hal ini? Jika mereka mengetahui kejadian yang sebenarnya maka nama baik yang selama ini ia bangun sejak menginjakkan kakinya di Seatle hingga akhirnya ia kembali ke Indonesia pastinya hancur begitu saja.


Mobil yang ditumpangi Kaisar akhirnya sampai di sebuah rumah sakit. Dengan cepat ia keluar dari mobilnya, beberapa staff rumah sakit mendatangi mobil Kaisar dengan membawa bed.


Tubuh gadis itu di bawa kedalam ruang UGD, sementara Kaisar terpaksa duduk di depan ruang UGD. Tampak beberapa kali Kaisar mengigit kuku jarinya, ia terlihat begitu khawatir akan nama baiknya.


"****, ****, ****! Kenapa mereka lama sekali?" Gumamnya sambil sesekali menggerakkan kaki kakinya.


Tak lama kemudian pintu tersebut terbuka, seorang Dokter wanita dan beberapa perawat keluar dari ruang UGD. Sang dokter mendekati Kaisar, tampak sekali dokter itu melayangkan tatapan yang tak bisa diartikan kepadanya.


"Apakah anda wali dari pasien tersebut? Bisa kita membicarakannya di ruang saya sebentar?" Kaisar mengangguk. Kemudian ia mengikuti dokter tersebut masuk ke dalam ruangannya. Sang dokter itu mempersilahkannya duduk.


"Benarkah? Sebelumnya keponakan saya bertengkar dengan kekasihnya."


Dokter tersebut menatap Kaisar dengan tatapan memindai, senyum sinisnya tersungging saat melihat pelipis Kaisar. Tangan dokter itu tampak mencatat sesuatu di kertas depannya.


Sret!


Dokter itu merobek kertasnya, dan mengulurkannya pada Kaisar.


"Saya harap kejadian ini tak terulang lagi, karna kami mengindikasikan adanya Gegar otak ringan pada pasien." Kaisar mengangguk paham, lalu pergi menuju kamar dimana Abel dirawat.


Ia berdiri cukup lama di depan jendela kamar Abel. Gadis itu masih tertidur, dengan jarum infus yang masih setia berada di tangannya. Tak lupa perban yang mengikat kepala Abel.


Tangan Kaisar meraba kertas yang sebelumnya ia masukkan kedalam kantong celananya, ia berdecih.


"Merepotkan, sungguh merepotkan."

__ADS_1


_______


Abel membuka matanya perlahan - lahan. Sesekali tampak dahinya berkerut saat ia menggerakkan tubuhnya.


"Shhhh!"


Abel memegang kepalanya, entah mengapa kepalanya terasa sangat sakit. Abel memindai seluruh ruangan rumah sakit. Alisnya berkerut, sejak kapan dan bagaimana dirinya bisa berada di sini?


Ceklek,


Ketika pintu terbuka, munculah seorang perawat yang datang kepadanya. Perawat itu terkejut ketika melihat Abel kini duduk dengan tatapan mata kosongnya. Ia meletakkan begitu saja nampak makanan dan bergegas mendekati Abel.


"Nona, apa terjadi sesuatu? Apa anda merasa pusing & mual?" Abel yang tiba - tiba tersadar dari lamunannya menggeleng seketika.


"Tidak, anu. Tapi bagaimana bisa saya berada di sini?"


"Seorang pria menggendong anda sekitar 5 hari yang lalu. Apakah anda bertengkar dengan kekasih anda? Wali anda yang mengantarkan anda sendiri." Abel mengerutkan dahinya, apa - apaan dengan jawaban iblis itu. Namun ia lembih memilih untuk mengangguk.


Kemudian perawat itu meninggalkannya dengan makan siangnya. Ia baru tahu bahwa dirinya sudah tidak sadarkan diri selama 5 hari. Lalu selama 5 hari tersebut apakah pria itu juga menemaninya? Bagaimana bisa pria itu tak merasa bersalah sedikitpun karena telah melukainya. Abel memilih untuk memakan makanannya dengan perasaan kesal.


Entah pendengarannya bermasalah, atau pria itu memang hantu. Tiba - tiba saja pria itu sudah berdiri bersandar di bingkai pintu dan tersenyum remeh kepadanya.


"Kau masih hidup rupanya, huh?"


Abel hanya menggerakkan bola matanya melingkar. Masa bodo dengan ucapan yang menyakitkan hatinya. Ia akan bertahan sampai ia lulus dalam sekolah menengah atasnya.


"Melihatmu makan dengan lahap sepertinya kau sudah sehat. Aku akan meminta dokter untuk memulangkanmu. Dan juga jangan lupa, kau bekerja padaku. Gara - gara kau aku harus membayar orang lain untuk membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan rumah lainnya." ucap Kaisar dengan berjalan mendekatinya. Abel menatap pria itu datar, ia masih memakai pakaian formal. Abel melirik kearah jam yang berada di atas pintu. Artinya pria itu datang menjenguknya saat istirahat kantor.


"Tidakkah kau kesini untuk meminta maaf?" ucapan Abel membuat Kaisar yang hendak menarik kursi menatap aneh kepadanya. Kemudian senyum smirknya mengembang.


"Meminta maaf? Apa setelah aku meminta maaf kau bisa menggembalikan Renata kembali padaku?" Abel terdiam mendengar ucapan Kaisar,


"Keterdiamanmu menandakan kau mengerti jawabannya bukan?" Ucap Kaisar dengan tersenyum remeh.

__ADS_1


__ADS_2