Dari Tahi Jadi Tahu

Dari Tahi Jadi Tahu
Prolog


__ADS_3

“Gimana sih ekspresi wajah Raisa kalau lagi ngeden?”


Ditengah pelajaran Fisika yang sedang berlangsung, pertanyaan itu muncul tiba-tiba dalam benak Alex. Entah karena efek pelajaran Fisika yang memang tidak disukai atau memang isi pikirannya kebanyakan hal aneh, pertanyaan itu sontak hadir dibenaknya.


Raisa Saputri, itulah nama wanita yang sedang dipikirkan oleh Alex—wanita yang disebut-sebut sebagai wanita tercantik di SMA Negeri 1 Spektra. Siapa saja yang melihatnya pasti akan dibuat jatuh cinta olehnya, tak terkecuali satpam sekolah yang sudah mempunyai 5 anak. Satpam itu bahkan pernah merayunya dengan menyanyikan sebuah lagu metal milik Slipknot, yaitu Psychosocial. Setiap Raisa hendak pulang, dengan bantuan gitar listrik dan suara serak nan berdahaknya, ia membuat Raisa menjerit dan kejang-kejang layaknya orang yang sedang kesurupan. Bukan hanya Raisa yang menjerit dan kejang-kejang setelah mendengarnya, seluruh murid yang hendak pulang juga merasakannya. Bahkan ada yang sampai menggigit pintu gerbang sekolah setelah mendengar satpam sekolah menyanyikan lagu tersebut.


Alex mulai memandang wajah Raisa sembari memvisualisasikan wajah cantik Raisa dalam khayalannya. Alex mulai menarik nafas dalam-dalam dan menutup kedua matanya agar bisa berkonsentrasi dan mencapai titik dimana ia bisa membayangkan wajah Raisa sedang ngeden dengan sangat jelas dalam khayalannya.


Truuuttthhh…


Suara kentut tiba-tiba keluar yang menandakan kalau Alex sekarang sedang mules. Murid dikelas dan guru yang sedang mengajar sontak langsung menutup lubang hidung.


“Kamu kentut ya, Alex?” Pak Bagas menatap Alex curiga.


“Itu bukan suara kentut, Pak; itu suara saya yang mencoba menirukan suara katak kalau lagi minta hujan. Memangnya Bapak nyium baunya? Gak, kan?” Alex coba mengelak.


Pak Bagas mencoba mencari sumber bau, tapi memang benar kata Alex, tidak ada bau. “Ada-ada saja kamu. Kalau pelajaran sedang berlangsung, kamu harus fokus, dong. Paham?”

__ADS_1


“Maaf, Pak.”


....................


1 jam sudah berlalu dan Alex tetap saja mencoba menahan rasa sakit perutnya. Gara-gara ia terlalu berkonsentasi membayangkan wajah Raisa kalau lagi ngeden, perutnya sekarang jadi mules.


Alex tahu, kalau sekarang ia pergi ke toilet, ia pasti akan langsung disambut oleh tahi yang tak disiram.


Toilet di sekolah Alex memang benar-benar sangat aneh—dijadikan tempat dimana murid-murid memamerkan sesuatu. Tujuan utama mereka tidak menyiram tahi adalah ingin memamerkan makanan apa yang mereka konsumsi sebelum tahi mereka dikeluarkan. Alex sangat ingat momen dimana pada saat itu dirinya ingin kencing di toilet sekolah. Baru saja membuka pintu toilet, ia langsung dikejutkan oleh tahi yang diatasnya terdapat selembar kertas yang tertulis “Gua habis makan sushi, nih! Kalian mana bisa makan makanan kayak gua!!!” Kejadian itu benar-benar membekas dalam pikiran dan membuatnya jadi takut untuk masuk ke toilet sekolahnya.


Wajah Alex mulai mengeluarkan keringat, badannya mulai menggigil, dan urat mulai timbul di dahinya. Alex mulai memikirkan bagaimana cara mengeluarkan tahinya. Apakah ia harus mengeluarkannya di dalam botol Aqua, atau ia harus mengeluarkannya di tanah lalu menguburnya. Segala cara Alex pikirkan agar dirinya tidak mengeluarkan tahinya di tempat ajang pamer tersebut. Ia tidak ingin murid-murid sampai tahu kalau makanan yang ia konsumsi sebelum mengeluarkan tahinya adalah jengkol.


Alex berlari sangat kencang layaknya seseorang yang sedang dikejar oleh ibu-ibu karena ketahuan mencuri celana dalam suaminya. Bahkan dirinya berlari tanpa melihat keadaan sekitar dan lupa kalau ia justru berlari ke arah kantor Kepala Sekolah.


..................


Baru saja Alex membuka pintu toilet, ia langsung disambut oleh sepasang tahi yang sudah mengeras yang menandakan jika tahi tersebut dikeluarkan oleh sepasang sahabat sejati yang ingin memamerkan jika kelak persahabatan mereka akan menjadi seperti tahi. Semakin lama, maka akan semakin melekat. Semakin lama, maka akan semakin keras dan kuat. Semakin lama, maka akan sulit dihilangkan oleh orang lain.

__ADS_1


Treeettsshh…


Belum sempat Alex membuka celana, tahinya sudah keluar dan mengalir deras tak terhentikan yang membuat celana dalamnya sekarang terasa berat karena menampung tahi yang keluar.


“Fyuuhhh… Syukurlah, tahinya tertampung semua di sempak. Sekarang gua tinggal memikirkan bagaimana caranya membuang sempak gua tanpa ketahuan,” gumam Alex.


Perlahan Alex membuka pintu dan mengintip keadaan sekitar. Kelihatannya toilet dalam keadaan sepi karena sekarang masih jam pelajaran. Alex langsung bergegas keluar dan melempar sempaknya kedalam parit.


“Lu ngebuang sempak yang berlumuran tahi itu kedalam parit?” Terdengar suara cewek bertanya yang suaranya itu tak asing di telinga Alex.


“RAISAAA! Lu kenapa bisa ada disini?” Tanya Alex yang terkejut karena Raisa berada di toilet pria.


“Gu-gua salah masuk toilet,” jawab Raisa terbata-bata.


 


Mungkin bagi sebagian orang agak terkesan kotor, tapi ini hanya bagian prolog, kok. Jadi silahkan disambung membaca halaman selanjutnya. Terima kasih!

__ADS_1


 


__ADS_2