Dari Tahi Jadi Tahu

Dari Tahi Jadi Tahu
Kambing Nafsu dan Permainan jujur


__ADS_3

Dengan pedenya Alex datang ke kantin menggunakan masker motor. Ia seakan tak peduli dengan tatapan murid-murid padanya. Ya mau bagaimana lagi, Alex harus mengenakan masker motornya untuk menutupi bekas tamparan Raisa kemarin. Ia kini terlihat layaknya seorang Sub Zero—karakter game di Mortal Kombat.


“Bakso seperti biasa ya, Kak! Untukku sama Adit.”


“Emangnya kamu siapa?” Kak Tari menatap sosok mengenakan masker motor yang lebih terlihat seperti pencuri. Ia benar-benar tidak tahu jika sosok itu adalah Alex.


“Saya Alex, Kak!” Alex menunjukkan kartu pelajarnya.


“Oh, saya kira siapa.” Kak Tari memandang Alex aneh.


Alex langsung duduk di bangku kantin, yang disana sudah ada Adit. Selang beberapa menit kemudian, tibalah sosok manusia dengan rambut ikal yang selalu menebarkan senyum sumringah menjijikkan pada orang lain. Namanya adalah Wendy, dari kelas XII IPA II.


“Woho, Dit! Siapa, nih? Kok dandanannya kayak Sub Zero habis ngerampok es batu?” Tanya Wendy. Seperti biasanya, kebiasaan Wendy itu jika berbicara selalu diawali dengan “Woho”.


“Santai dong ngomongnya! Gaya bicara lu gak pernah berubah-ubah emang.” Alex langsung menyahut pertanyaan Wendy. Wendy yang mendengar suara tersebut langsung mengetahui jika sosok itu adalah Alex.


“Woho! Alex rupanya.” Wendy menepuk-nepuk tangan tak jelas maksudnya. “Dalam hidup harus punya ciri khas, dan itulah ciri khas gua,” lanjutnya.


Kak Tari datang mengantarkan dua mangkuk bakso yang dipesan oleh Alex. Tercium aroma bakso yang pasti akan membuat siapapun tergiur untuk menyantapnya.


“Kamu mau pesan apa?” Tanya Kak Tari pada Wendy.


“Woho! Saya tidak pesan apa-apa. Kak Tari seperti tidak kenal saya saja, saya kesini cuma ingin melihat-lihat wanita saja, hehehe.” Wanita yang ada di meja sebelah lantas memasang wajah risih.


"Terserah kamu saja, deh." Ujar Kak Tari.


Jujur saja, Alex sekarang merasa risih dengan adanya Wendy. Bukannya tanpa alasan, pria itu tak henti-hentinya mencari perhatian dengan cewek yang ada di meja sebelah. Mulai dari membenarkan rambutnya, batuk sok cool padahal batuknya berdahak, dan menyanyikan lagu barat dengan lirik yang terdengar ngaco.


“Woho! Nama kamu Kela, ya? Hmmm, kamu dari kelas mana?" Wendy akhirnya mulai beraksi setelah cewek di meja sebelah tak memedulikan kodenya.


"Hah?!"Cewek itu lantas langsung menatap Wendy risih.


"Oh, aku tahu kamu mau jawab apa. Kelasuka deh sama cowok romantis kayak Bang Wendy.” Wendy mencoba menirukan suara perempuan serta memasang senyum sumringah andalannya pada cewek yang ada di meja sebelah.


“Apasih?! Nanya sendiri, jawab sendiri.” Cewek yang baru saja digombali oleh Wendy langsung memasang wajah kesal.


Wendy yang senang dengan ekspresi cewek tersebut kembali meggombalinya. “Gambar mangkuknya ayam, ya? Hmmm, kamu tahu gak beda definisi ayam sama kamu? Kalau ayam merupakan hewan yang bertelur, kalau kamu adalah manusia yang berteduh di hatiku.”


Cewek tersebut langsung menghentakkan tangannya ke meja, dan menatap wajah Wendy dengan penuh kekekasalan. Tampaknya cewek tersebut sudah mulai hilang kendali.


“Satu kali lagi deh biar kamu ngomong.” Dengan pedenya Wendy mengatakan "sekali lagi". Ia seakan tak peduli jika cewek tersebut sudah sangat marah sekarang.


Wendy melihat-lihat objek di sekitarnya untuk mencari yang sekiranya cocok sebagai bahan gombalannya. Dilihatnya cewek tersebut sedang memakan bakso menggunakan sendok. Sendok. Wendy berpikir jika itu akan menjadi objek yang menarik.


“Kamu lagi makan bakso pakai sendok, ya? Sendok itu punya kepanjangannya, loh. Send nomor WA-nya, donk!”


Byurrr…


Cewek tersebut langsung menyiramkan kuah bakso ke muka Wendy. Wendy langsung berteriak kepanasan sambil memegang wajahnya. Dirinya juga melakukan gerakan layaknya orang yang sedang kemasukan. Entah itu gerakan yang memang dibuat-buat olehnya untuk mendapatkan simpati orang lain atau apa, Alex dan Adit dibuat takut dengan keadaan Wendy sekarang.


“Kita bawa Wendy ke UKS, Lex!” Adit berusaha menolong Wendy yang sedang kejang-kejang.


“Woy, jangan diam aja, dong! Lu harus tanggung jawab.” Alex memarahi wanita yang menyirami Wendy dengan kuah bakso. Suasana kantin langsung berubah sekarang.


............................


Untung saja siraman kuah bakso di wajah Wendy tadi tak parah. Dokter mengatakan jika Wendy hanya perlu mengoleskan salep yang diberikan pada wajah agar wajahnya lekas membaik.


"Raisa, jangan langsung balik ke sekolah, dong!” Ujar Adit pada Raisa yang baru saja hendak menyalakan mobil." “Lagipula kan guru di sekolah sudah tahu jika kita sedang mengantar Wendy ke rumah sakit. Kita jalan-jalan dulu, ya. Please! Aku bosan di kelas mulu.”

__ADS_1


Ya, mereka terpaksa membawa Wendy ke rumah sakit karena penjaga UKS takut akan terjadi apa-apa pada wajah Wendy.


“Tapi kita harus jalan kemana? Gua gak tahu harus kemana,” tanya Raisa sembari memegang dahi, menunjukkan jika sedang berpikir.


“Biar gua aja yang bawa mobilnya,” ujar Adit pada Raisa.



“Lu bisa bawa mobil, Dit? Jangan sampai nanti kita.... Ah sudahlah gua gak mau mikir yang aneh\-aneh. Tapi kalau lu emang gak bisa, dan lu baru mau belajar, mendingan jangan, karena bukan disini tempatnya!"


“Tenang aja, Lex. Gua sudah cukup tahu tentang mobil, meskipun Terakhir kali gua bawa mobil sekitar dua bulan yang lalu, sih. Tapi kalian jangan khawatir, gua udah hafal caranya, kok.”


Meskipun Alex kurang yakin dengan apa yang dikatakan oleh Adit, Raisa dengan mudahnya mempercayai Adit. Raut wajah Raisa pun terlihat sangat santai seakan\-akan berbicara, “bawa kami kemanapun yang kamu suka.”


Raisa akhirnya memberi kemudi pada Adit.


Pergantian posisi pun terjadi. Kini Adit yang menyetir, Raisa duduk di bangku tengah mobil bersama Alex, sedangkan Wendy tetap duduk di kursi paling belakang tak bicara sama sekali semenjak dari rumah sakit.


“Mau kemana kita, Dit? Jangan macam\-macam, deh.” Baru saja mobil bergerak Alex sudah khawatir.


“Santai Lex, lu juga nanti bakalan tahu,” jawab Adit santai. Ia hanya meletakkan sebelah tangannya disetir mobil sembari menyanyi lagu Jepang kesukaannya. Alex bahkan tak pernah melihat supir manapun mengendarai mobil dengan gaya seperti Adit. Sepertinya skill Adit sudah melampaui supir\-supir.


“Dilepas aja maskernya!” Sangking cemasnya karena Adit sedang mengendarai mobil, ia sampai lupa ada Raisa disebelahnya.


“Gua juga makai ini gara\-gara tamparan lu kemarin! Sampai berbekas di muka gua.” Alex langsung melepaskan maskernya untuk menunjukkan bekas tamparan.


Sontak Raisa berusaha menahan tawanya setelah melihat bekas tamparannya di pipi Alex. “Itu juga gara\-gara lu sendiri.”


Dibagian depan, entah apa yang sedang dilakukan oleh Adit. Cairan air berbusa kini menghinggapi kaca depan mobil. Adit langsung menekan segala tombol yang ada, bahkan ia sampai menekan tombol radio.


“GUA LUPA TOMBOL KLAKSONNYA YANG MANA! ADA KAMBING DI DEPAN!” Teriak Adit panik.


“PIJAK PEDAL REM!” Perintah Raisa.



Hampir saja bagian depan mobil menabrak kambing yang sedang bercinta. Dan untung saja tidak ada yang menabrak mobil Raisa dari belakang.


“Dasar Kambing *****!” Gerutu Adit. “Lihat tempat dong kalau mau main!” Adit langsung memarkirkan mobil Raisa di toko terdekat. Ia takut untuk melanjutkan perjalanan lebih jauh karena takut akan terjadi apa\-apa nantinya.


Kambing tersebut langsung pergi dan kini bercinta di seberang jalan. Sepertinya pasangan kambing tersebut sudah tak bisa membendung nafsunya.


“Kita disini aja, ya. Sebenarnya gua gak tahu juga mau kemana, hehehe.” Adit melepaskan sabuk pengamannya.


“Jadi kita ngapain disini?” Tanya Alex.


“Kita main aja gimana?” Adit menatap ke arah Alex dan Raisa.


“Main apa maksud lu? Jangan macam\-macam, deh!” Raisa mencoba membuka pintu mobil yang terkunci sambil memasang mimik wajah sedang takut.


“Eh, maksud gua bukan itu! Permainan maksud gua. Kami bukan pria gituan.” Adit menjelaskan.


Raisa langsung menghembuskan nafas ketakutannya. “Permainan apa?”


Adit memikirkan permainan yang cocok untuk dimainkan sekarang. Ia mulai menyebutkan satu\-satu permainan yang pernah ia mainkan, tapi semua yang disebutkan itu adalah permainan laki\-laki. Setelah berpikir beberapa saat, Adit akhirnya mengingat sebuah permainan yang pernah ia mainkan bersama Alex dan teman wanitanya ketika kelas sembilan SMP. Nama permainan itu adalah “ Permainan Jujur”.


Permainan ini diawali dengan hompimpa, dimana orang yang keluar sebagai pemenang boleh bertanya sesuka hati pada salah satu orang yang tergabung dalam permainan ini, dan tentu saja harus dijawab dengan jujur.


Karena permainan ini bisa dimainkan oleh laki\-laki maupun wanita, Adit menyebutkan permainan ini untuk dimainkan.

__ADS_1


Sejenak Alex mengingat kembali permainan ini, dimana permainan ini membuatnya sampai tidak masuk sekolah selama tiga hari berturut\-berturut.


Singkat cerita, ketika SMP Alex pernah memainkan permainan ini bersama Adit dan cewek yang ia sukai ketika SMP, Rossa. Ketika hompimpa dilakukan, Adit keluar sebagai pemenang, dan dengan senang hati pertanyaan yang Adit tanyakan ditujukan padanya. Sebenarnya pertanyaan Adit pada saat itu bermaksud untuk membantunya. Pertanyaan Adit adalah, “Lex, Lu nyimpan surat cinta untuk Rossa di dalam tas lu, kan? Kasih, dong!”


Karena nama pemainan ini adalah permainan jujur, Dibukalah tas dan diambilnya amplop yang didalamnya berisikan surat. Alex kemudian menyerahkannya pada Rossa.


“Maaf ya, Lex. Gua udah punya pacar.” Ujar Rossa sehabis membaca surat dari Alex. Memang terdengar singkat tapi benar\-benar menembus hati Alex. Rossa kemudian langsung pergi ke luar kelas, meninggalkan Alex yang ditertawai oleh Adit dan teman laki\-lakinya. pertanyaan Adit yang bermaksud membantunya justru menjadi mempermalukannya.


Alex berani menetapkan jika kejadian pada saat SMP itu adalah kejadian yang paling memalukan dalam hidupnya. Bahkan kejadian ia melempar sempak yang berlumuran tahi ke parit yang diketahui oleh Raisa masih kalah dengan kejadian pada saat SMP itu. Jika kejadian ia melempar sempak yang berlumuran tahi ke parit hanya disaksikan oleh Raisa, kejadian pada saat SMP itu disaksikan oleh hampir semua teman kelasnya.


“Woy, yuk hompimpa!” Adit memukul bahu Alex.


“I\-iya, yuk.”


Alex, Adit, dan Raisa bersiap\-siap untuk melakukan hompimpa. Sementara Wendy masih saja terdiam membisu. Ia bahkan sama sekali tak peduli dengan apa yang mereka lakukan.


Hitam, putih, hitam. Adit kembali memenangkan permainan ini. Adit lantas tertawa terbahak\-bahak.


“Gua mau nanya sama lu Raisa.”


Rencana apalagi yang sedang dipikirkan oleh Adit. Apakah dirinya juga berencana membuat Raisa juga mengalami apa yang dialami oleh Alex ketika SMP?


“Lu mau nanya apa?”


“Sejak nama lu sama Alex jadi perbincangan hangat di sekolah, lu mulai timbul rasa suka sama Alex, kan?”


Raisa kini memasang muka serius, “darimana lu tahu?” Tanyanya.


“Kan gua nanya, kok lu malah nanya balik? Berarti betul dong pertanyaan gua kalau lu mulai suka sama Alex? Cihuy!” Seru Adit pada Raisa, mencoba membuat Raisa untuk mengaku. “Ingat! Lu harus jawab pertanyaan ini dengan jujur. Kalau gak, akan ada kejadian buruk di sekitar lu.” Adit membuat suasana lebih memanas.


“Apasih?!” Jawab Raisa. Ia tampak kebingungan, karena harus dijawab seperti apa pertanyaan Adit.


“Ayo dong, jawab jujur!”


Alex yang berada di sebelah Raisa pun hanya menyaksikan Raisa yang kini terpojokkan oleh pertanyaan Adit. Alex tak tahu harus bereaksi seperti apa. Disatu sisi ia senang jika Raisa menjawab “Iya” tapi disatu sisi ia merasa perkataan itu tak mungkin keluar dari mulut Raisa.


“Gua gak suka kok sama Alex!”


Mbeeekkkk…


Pandangan mereka sontak tertuju pada kambing yang tadi sedang bercinta, yang kini menjerit karena ditabrak oleh sepeda anak kecil. “Yuk, kita tolong!” Raisa berseru pada Alex dan Adit.


Mereka bertiga langsung keluar dari mobil. Disana sudah ada anak kecil yang terkapar dan kedua kambing yang menjerit kesakitan.


“Kamu gak kenapa\-kenapa, Mbing?” Tanya Adit pada kambing.


Bhuukhh…


“Jangan bercanda! Tolong adik itu dulu!” Raisa memukul bahu Adit lumayan keras.


Alex langsung membangunkan adik yang sedang terkapar tersebut. Adik tersebut terlihat baik\-baik saja tanpa bekas luka sedikitpun.


“Aduh, aku pikir tadi itu tempat loncat untuk sepeda, tapi ternyata kambing lagi main,” ujar adik tersebut sambil merapikan baju sekolahnya.


“Ya, ampun! Masih kecil pandanganmu udah rabun aja. Makanya, jangan kebanyakan main hp! Yaudah, pulang sana!” Jawab Alex kesal.


Alex langsung mengalihkan pandangannya ke kambing yang ditabrak oleh adik tersebut. Kini kambing tersebut sudah bangun dan bersiap\-siap untuk meninggalkan mereka.


“Kita balik ke sekolah aja, yuk! Sini kunci mobil gua.” Raisa mengambil kunci mobilnya dari tangan Adit.

__ADS_1


“Tapi kan, pertanyaan gua…”


“Lu mau ikut atau gua tinggalin disini?” Raisa langsung memotong perkataan Adit. Adit hanya pasrah menuruti perkataan Raisa.


__ADS_2