Dari Tahi Jadi Tahu

Dari Tahi Jadi Tahu
Jangan bilang siapa-siapa, ya!


__ADS_3

“RAISAAAA! Jangan lari, dong!”


Alex berhasil menggapai tangan lembut Raisa pada saat Raisa hendak berlari dari hadapannya.


“Apasih main megang-megang tangan gua? Pakai tangan kiri segala lagi. Bisa-bisa tangan gua berkurap setelah dipegang oleh tangan bekas cebok lu itu!” Raisa panik bagaikan seseorang yang baru saja digigit king cobra.


“Dengar dulu makanya! Gua cuma mau bilang, tolong jangan bilang siapa-siapa ya tentang kejadian tadi.” Alex memohon pada Raisa.


“Gila banget ya lu, bisa-bisanya sempak lu berlumuran tahi, gitu. Gimana ceritanya coba?” tanya Raisa. Diliriknya kuku panjang tangan kiri Alex yang sekarang agak kekuning-kuningan akibat kejadian menjijikkan tadi.


“Ceritanya panjang, Raisa. Kalau gua ceritain, lu juga pasti gak bakalan ngerti,” jawab Alex mencoba menyembunyikan kejadian tadi.


Gila sekali jika Alex sampai bilang kalau awal kejadiannya itu berawal dari dirinya mencoba membayangkan ekspresi wajah Raisa kalau lagi ngeden. Bisa-bisa dirinya di cap manusia paling aneh di muka bumi ini oleh Raisa.


“Raisa, gua boleh minta sesuatu sama lu, gak?” Tanya Alex.


“Boleh, asal jangan minta yang aneh-aneh,” jawab Raisa.


“Jangan minta yang aneh-aneh itu maksudnya gimana? Gua cuma mau minta tolong ambilin tas gua di dalam kelas dan bilang sama Pak Bagas kalau gua harus pergi ke rumah sakit karena harus jenguk adik gua yang tititnya kejepit resleting.”


“Ta-tapi, kan…”


“Cepetan!” Alex langsung memotong perkataan Raisa yang belum sempat dihabiskan.


.....................


Setelah menunggu beberapa menit lamanya, Raisa datang dengan memakai tas Alex dan membawa kardus yang entah apa isinya.


“Lu lama banget sih ngambil tas gua?”


“Maaf Lex, tadi Pak Bagas menyuruh gua mengutip sumbangan untuk membantu sedikit biaya pengobatan adik lu yang lagi sakit. Oh, ya, Pak Bagas tadi tanya adik lu harus dijahit, gak? Kalau dijahit, adik lu dijahit berapa jahitan? Ini sumbangannya. Emang gak banyak, sih. Semoga membantu!”


Alex hening seketika. Padahal niatnya berkata seperti itu agar dirinya mendapatkan izin untuk pulang, karena merasa malu jika harus kembali lagi ke kelas. Tapi, kenapa sekarang ia jadi mendapatkan sumbangan seperti ini? Sampai nanya adiknya dijahit berapa jahitan lagi. Untung saja Raisa tidak bertanya, “Adik lu dirawat di rumah sakit mana? Rencananya kami mau menjenguk adik lu pas pulang sekolah nanti.” Bisa-bisa Alex benar-benar menjepit adiknya dengan resleting.


.......................


Alex tiba di sekolah dengan keadaan sedikit terlambat karena dirinya ketiduran di kamar mandi. Bagaimana tidak, tadi malam dirinya kesusahan tidur karena terus memikirkan apakah Raisa akan menceritakan kejadian memalukan tersebut pada murid lain.


Alex langsung bergegas menuju ruangan kelas yang di dalamnya sudah terdengar suara guru mengajar. Guru itu adalah Pak Irskan. Beliau adalah guru bahasa Inggris yang dikenal juga sebagai guru yang suka bercanda dan dekat dengan murid.


“Hey Alex, come here first. Why you are so late today?” Tanya Pak Irskan.


“I’m so sorry, Sir. I had overslept in the toilet,” jawab Alex. Alex memang lumayan pintar dalam hal berbahasa Inggris. Hal itu didapatkan karena ia adalah seorang penggemar berat lagu-lagu rock yang berbahasa Inggris. Bahkan, sejak kelas sepuluh SMA—setiap bagi Rapor—nilai bahasa Inggris lah yang paling banyak ia dapatkan daripada pelajaran lainnya.


“Falling asleep in the toilet? Does scent your sh*t have the power to make you sleep?”

__ADS_1


Hahahaha…


Seketika murid di kelas semuanya tertawa setelah mendengar perkataan Pak Irskan.


Does scent your sh*t have the power to make you sleep? Bahkan Alex sendiri juga ikut tertawa setelah mendengarnya.


“You can sit now!” Pak Irskan menyuruh Alex duduk.


Alex langsung ke tempat duduk dan diiringi oleh tepuk tangan murid kelasnya yang bahkan ia sendiri tak tahu sebab dan maksudnya.


.......................


Sama seperti biasa, suasana kantin sangatlah ramai. Suara orang berbicara dan suara orang mengunyah makanan berkolaborasi menciptakan suatu hal yang wajib didengarkan jika berkunjung ke tempat ini.


“Ini pesanannya.”


Tak perlu waktu lama, hidangan bakso pesanan Alex dan temannya sampai.


“Gimana keadaan adik lu, Lex?” Tanya makhluk hidup yang berada disebelah Alex, yang kerahnya sengaja diangkat agar terlihat seperti Sasuke.


Namanya Aditya, orang yang sudah sedari kelas tujuh SMP hingga sekarang kelas dua belas SMA selalu berada satu kelas dengan Alex. Ia adalah seorang yang berkeinginan menjadi youtuber terkenal. Sudah berulang kali Aditya meng-upload video dirinya memainkan game kesukaanya, Pou. Meskipun telah membuat judul yang unik agar video-nya banyak ditonton, seperti “WOW!!! Lihatlah!!! Pou telanjang tanpa sehelai benang pun!!!” Tapi tetap saja penontonnya sepi.


“Adik gua sehat,” jawab Alex.


Dreeeng… Dreeeng… Dreng…


"Bangun tidur kuterus mandi


Tidak lupa kusikat gigi


Jangan anggap aku tertidur, jika tak datang kesini


Karena aku sedang menyiapkan puisi cintaku untukmu, wahai bidadari."


Sontak murid-murid di kantin langsung bertepuk tangan dan memberi dukungan pada Vino setelah mendengar pantun cintanya.


"Oh Raisa, sang pujaan hatiku


Kau semakin cantik hari demi hari


Aku benar-benar tak tahu mengapa begitu


Aku juga tak tahu kenapa diantara wanita-wanita cantik


Tetap kaulah yang tercantik

__ADS_1


Dan aku juga tak tahu


Apakah benar isu yang memberitahukan


Jika kau terlahir dari perkawinan silang antara manusia dengan alien


Hingga membuat cantikmu berbeda dengan yang lain."


Plaaakkkk…


“Gila banget ya lu, bilang gua terlahir dari perkawinan silang antara manusia dan alien. Dasar sinting!” Raisa marah dan langsung pergi dari kantin.


Kata-kata yang keluar dari mulut Raisa sudah cukup menandakan jika Vino kini telah ditolak oleh Raisa sebanyak dua puluh empat kali. Sepertinya Raisa sangat marah karena Vino mengatakan jika ia terlahir dari hasil perkawinan silang antara manusia dengan alien.


..........................


Alex yang baru saja masuk ke dalam kelas dibuat kaget karena sudah ada Vino yang ditemani oleh teman-temannya.


Teman-teman Vino terlihat sangat sangar. Rambut mereka acak-acakan, memakai jaket yang dibelakangnya tertulis 4k0eh c1nt4 k4m0eh cel4m4ny4, dan resleting celana mereka terbuka. Mereka datang layaknya seseorang yang sedang ingin mengajak perang antar kelas.


“Raisa, kenapa lu selalu nolak cinta gua?”


Vino ternyata datang ke kelas Alex untuk meminta penjelasan kenapa cintanya selalu ditolak oleh Raisa. Suasana kelas XII IPA 1 menjadi melankonis gara-gara pertanyaannya.


“Maaf, Vino, gua udah dua puluh dua kali bilang sama lu, kalau gua gak akan pernah bisa jatuh cinta sama lu,” jawab Raisa.


“Terus alasan lu gak pernah bisa nerima gua apa? Lu bisa bilang sama gua agar gua bisa intropeksi diri! Apa gua kurang ganteng? Atau gaya rambut gua aneh? Atau lubang hidung gua terlalu kecil? Lu bilang dong alasannya!” Vino terlihat serius kali ini. Dirinya benar-benar ingin tahu alasan mengapa cintanya selalu ditolak Raisa.


Raisa yang tadi duduk manis di bangku, kali ini berdiri. Sepertinya ia akan menampar wajah Vino.


“Gua nolak cinta lu karena gua udah punya pacar.” Raisa kemudian berjalan ke arah Alex berdiri dan menarik tangan Alex. “Ini dia pacar gua,” ujar Raisa.


Sontak suasana menjadi berubah. Semua pandangan kali ini tertuju pada Alex. Tatapan mereka membuat Alex salah tingkah. Ditambah lagi tangannya yang sekarang dipegang oleh Raisa. Ingin rasanya Alex jungkir balik sekarang.


“Jadi lu nolak gua karena lu pacaran sama dia? Dari segi ketampanan juga gantengan gua,” ujar Vino yang di iya-kan oleh murid lain.


Memang benar kata Vino, dari segi ketampanan, dirinya masih lebih tampan daripada Alex.


“Lu ngaku aja kalau lu itu pacar gua. kalau nggak, gua bakal ceritain kejadian memalukan kemarin.” Raisa berbisik pada Alex sekaligus mengancam.


“Ta-tapi, kan…”


“Cepetan!” Raisa menginjak kaki Alex.


Alex menatap Vino yang sedari tadi menatapnya. “Gua adalah pacar Raisa, dan gua ingatin lu untuk jangan pernah lagi dekatin dia, atau gua bakalan buat lu menangis satu jam enam puluh menit dengan tendangan gua.” Alex yang merasa terancam dengan perkataan Raisa, antara terpaksa sekaligus senang sehabis mengeluarkan perkataannya.

__ADS_1


“Oke, kalau begitu kenyataannya. Gua terima dengan lapang dada.” Vino beserta teman-temannya langsung beranjak pergi dari kelas Alex.


__ADS_2