
Akibat kejadian beberapa hari yang lalu, hari-hari Alex menjadi terasa berbeda. Dimana biasanya jika Alex langsung masuk kelas, sekarang ia diwawancarai terlebih dahulu oleh murid-murid yang penasaran dengan perkataan Raisa. Tak hanya sampai disitu, mereka bahkan sampai menempel sebuah kertas yang bertuliskan tentang Raisa dan Alex di mading sekolah.
Mereka menuliskan hal tentang Alex dan Raisa dengan judul yang beragam. Mulai dari, “10 Fakta Tentang Raisa, Nomor 3 Bikin Kaget,” “Benarkah Raisa dengan Alex Pacaran?” “Hal yang Harus Diketahui Kenapa Raisa Bisa Berpacaran dengan Makhluk Hidup Seperti Alex,” dan masih banyak lagi. Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu, mading sekolah penuh dengan berita tentang Alex dan Raisa.
“Lex, beneran lu pacaran sama Raisa?”
Adit yang sekarang sedang Alex bonceng, kembali menanyakan kebenaran tentang hal itu. Hari ini, total ada dua puluh pertanyaan yang bernada sama seperti yang Adit tanyakan.
“Gua gak pacaran kok sama Raisa,” jawab Alex. Gaya bicaranya sedikit tak bergairah karena mulai bosan mendengar pertanyaan seperti itu.
“Terus, kenapa Raisa bilang kalau dia pacaran sama lu waktu itu?” Adit kembali bertanya.
“Yaelah, ketiak salamander! Bukan sekali dua kali lu nanya hal itu sama gua, tapi udah lima belas kali! Lu ingat gak sih, kalau lu udah nanya pertanyan itu di hari ini sebanyak lima kali? Bosan gua dengarnya!” Alex menjawab dengan penuh kekesalan. Padahal, sejak hari dimana kejadian itu terjadi, Alex sudah mengatakan pada Adit jika itu semua hanyalah fiktif belaka untuk menghindari dirinya dari bahaya.
“Ta-tapi, kan, Raisa…”
“Lu ngomong lagi gua turunin lu sekarang.” Alex langsung memotong perkataan Adit. “Memangnya kalau gua benar-benar pacaran dengan Raisa apakah akan membuat gua masuk dalam buku ‘Orang paling beruntung di dunia’. Dasar sialan!” Gerutu Alex dalam hati.
..........................
Ditengah malam yang diselimuti dengan dinginnya tiupan angin, Alex kesusahan tidur. Padahal sekarang jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Telapak tangan Raisa ketika memegangnya saat itu benar-benar masih terhafal oleh kulit tangannya sampai sekarang. Begitu lembut, nakal, sehingga membekas dan terasa spesial.
“Udah jam segini tapi gua belum bisa tidur juga. Apa gua harus mengamputasi tangan gua?”
Segala cara sudah Alex lakukan agar dirinya tertidur. Bahkan musik metal dan rock yang biasanya menjadi pengantar tidur setianya, kali ini tak mampu membuatnya tertidur.
“Tunggu-tunggu. Kayaknya gua nyimpan kontak Raisa deh di WhatsApp.” Alex teringat jika dirinya menyimpan kontak Raisa di WhatsApp-nya yang ia dapatkan melalui Grup WhatsApp kelasnya. “Mungkin aja gua bisa hilangin rasa susah tidur ini setelah chatting-an sama dia. Tapi, apa dia belum tidur jam segini? Ah, bodoamat, dah! Yang penting udah gua coba.”
Sebenarnya Alex agak ragu-ragu mengirim pesan kepada Raisa. Ada dua hal yang terpikirkan olehnya jika dirinya mengirim pesan pada Raisa. Yang pertama, Alex takut jika pesannya sama sekali tak dibalas. Dan yang kedua, Alex takut jika sekarang Raisa sedang tidur namun lupa mematikan data seluler dan terbangun akibat suara notifikasi handphone, lalu mengirim pesan kepadanya, “Lu tahu gak jam berapa sekarang? Dasar gak punya otak!” Tapi, dengan keberanian tingkat tinggi, Alex berhasil mengirim pesan “p” kepada Raisa.
Lima menit sudah berlalu, namun balasan pesan dari Raisa masih belum juga ada. Pikiran Alex mulai campur aduk. Sekarang Alex justru memikirkan jika besok dirinya di sekolah akan di-bully habis-habisan oleh Raisa karena mencoba melakuan PDKT melalui chat.
__ADS_1
“Maaf ya, Raisa, mungkin chat gua buat lu terganggu. Ini gua Alex. Gua mendadak bangun dari tidur dan tiba-tiba teringat sama penyakit Rabies. Pas gua nyoba nyari penyakit itu di Google, gua malah ngebuka WhatsApp dan gua malah mengetik nama lu di papan tombol pencarian. Maklumlah, lagi ngantuk wkwkwk.” Alex mencoba membuat alasan agar kejadian yang dipikirkannya tidak akan terjadi besok. Ya, meskipun alasannya sangat-sangat tidak masuk akal.
“Wkwkwk gapapa, kok. Ada-ada aja lu bandingin nama gua sama penyakit Rabies. Beda jauh tahu!” Balas Raisa beberapa menit kemudian.
Alex terkaget-kaget melihat balasan pesan dari Raisa. Jika Ini bukan tengah malam, ia pasti sudah melakukan teriakan layaknya seorang vokalis Band rock.
"Loh, kok lu belum tidur? Gua ganggu lu, ya? Sorry deh kalo gitu!"
"Lu gak ganggu gua, kok. Malahan gua senang ada yang chat gua, karena gua lagi susah tidur."
"Susah tidur? Emangnya lu lagi banyak pikiran, ya?"
"Gak juga, sih. Gua cuma lagi dengar musik biar bikin gua ngantuk. Lu sendiri kenapa belum tidur? Lagi banyak pikiran juga?"
"Gua belum tidur karena lagi nyoba hitung bintang."
"Loh, ngapain lu hitung bintang? Dasar kurang kerjaan!"
"Gua cuma mau mastiin kalau ini bukan mimpi, karena sekarang gua lagi chattingan sama orang spesial kayak lu."
...........................
Karena Adit mengirim pesan pada Alex jika dirinya tak bisa datang ke sekolah hari ini, hari ini Alex pergi ke sekolah dengan menggunakan ojek. Alex pergi ke sekolah dengan menggunakan ojek bukan tanpa alasan. Ia hanya tak mau kejadian saat itu kembali terjadi—kejadian dimana pada saat itu dirinya pulang sekolah sendiri dengan motornya karena Adit saat itu berhalangan hadir karena mengikuti sunat massal.
Ditengah perjalanan yang membosankan karena tidak mempunyai teman bicara, Alex menyanyikan lagu Smells Like Teen Spirit milik Nirvana sembari mengangguk-nganggukkan kepala dan menggerakkan tangan layaknya orang yang sedang memainkan gitar. Alhasil, karena ia tak memperhatikan jalan dan tangannya yang masih bergerak layaknya seseorang yang sedang bermain gitar, motornya justru mengarah ke arah gerobak tukang cendol dan menabraknya. Untung saja pada saat itu ia hanya merusak gerobak dan tidak melukai orangnya.
“Njir! Hampir aja nabrak gerobak tukang jual es krim,” ujar Alex sembari membenarkan posisi duduk. Belum sampai satu menit Alex naik ojek, dirinya sudah dibuat ketakutan.
“Hahaha, Itumah biasa, Dek. Bahkan abang bisa melakukan back flip pas ngelewatin polisi tidur.” Abang ojek menjawab dengan pede.
“Serius lu, Bang?” Tanya Alex terkejut.
__ADS_1
Abang ojek tersebut kemudian membawa motor dengan kecepatan tinggi setelah melihat ada polisi tidur. Sepertinya Abang ojek tesebut tidak main-main dengan ucapannya.
“Pegangan yang erat, Dek!” Perintah Abang ojek pada Alex.
“WHAAAA!”
Baru saja melakukan aksi back flip, lampu belakang motor Abang ojek tersebut justru hancur terkena aspal karena lompatannya terlalu rendah. Dengan cepat Abang ojek tersebut langsung menyeimbangkan motornya yang hampir terjatuh.
“Back flip tai abang merah jambu! Kita hampir saja terjatuh tadi!” Alex kesal.
Aksi tersebut membuat anak kecil yang berada dipinggir jalan bertepuk tangan dan menyoraki, “keren banget bang aksinya.” Alex yang melihat anak kecil tersebut ingin rasanya menaikkannya ke motor yang ia naiki agar merasakan sensasi yang ia rasakan.
Meskipun Alex harus melewati perjalanan yang sangat mendebarkan, akhirnya Alex sampai ke sekolah. Badannya masih terus bergetar akibat kejadian tadi.
“Ini Bang uangnya, kembaliannya ambil untuk Abang aja. Hitung-hitung, buat ngebantu lampu motor abang yang hancur.” Alex memberikan uang lima puluh ribunya kepada Abang ojek tersebut. Meskipun Alex sedikit kesal dengan kejadian tadi, tapi dirinya merasa kasihan terhadap Abang ojek tersebut.
“Sial! Apa kata bini gua kalau sampai tau lampu belakang motor rusak. Bisa-bisa gua gak dikasih jatah juga malam ini.” Mata Abang ojek tersebut mulai berkaca-kaca dan mulai menarik-narik ingusnya yang sedikit keluar.
“Loh, emangnya kenapa Abang bisa gak dikasih jatah sama istri Abang? Kalau Abang punya masalah, ceritakan aja Bang sama saya,” tanya Alex.
Abang ojek tersebut mulai meneteskan air mata dan akhirnya menceritakan ceritanya pada Alex.
“jadi gini, Dek. Kamu bisa lihat kan betapa tampannya wajah abang?” tanya Abang ojek.
“bi-bisa, Bang,” jawab Alex ragu-ragu.
“Jadi ceritanya, dulu itu saya adalah tukang ojek paling populer di kampung ini. Setiap hari saya selalu mendapat penumpang yang banyak. Tapi, kebanyakan penumpang saya itu adalah wanita. Mereka benar-benar menggilai saya—bahkan sampai membuat sebuah Grup di WhatsApp dengan nama “Fendi Lovers”. Sangking terlalu banyak penumpang, saya sering pulang malam dan membuat istri saya menuduh saya yang bukan-bukan. Karena istri saya orang yang cemburuan, dia menyuruh saya agar hanya menerima penumpang pria saja. Jika tidak, dia gak bakalan kasih saya jatah malam selamanya. Karena saya sangat cinta padanya, saya menurutinya. Sejak saat itu sampai sekarang, saya jadi sepi tumpangan. Akibat sepi tumpangan, istri saya juga mengancam gak bakal ngasih ngasih jatah malam pada saya sampai saya dapat penumpang yang banyak. Jadi serba salah saya jadinya.”
Seketika suasana menjadi mellow. Alex benar-benar sedih mendengar cerita abang ojek tersebut. Bukan hanya dirinya yang sedih. Murid, satpam, dan guru yang berada diluar pagar, pun, ikut tersentuh hatinya setelah mendengar cerita Abang ojek tersebut.
Murid, satpam, dan guru yang berada diluar pagar berbondong-bondong memberikan sedikit bantuannya kepada abang ojek tersebut dan berharap bantuan mereka bisa cukup untuk memperbaiki lampu motor Abang ojek tersebut yang hancur.
__ADS_1
“Terima kasih atas bantuan kalian semua. Saya mendoakan agar rezeki kalian semua dilancarkan. Doakan juga saya mendapat penumpang yang banyak.”
“Amiin,” jawab mereka semua.