Dari Tahi Jadi Tahu

Dari Tahi Jadi Tahu
Tamparan Dari Raisa


__ADS_3

Tidak datangnya Adit hari ini membuat Alex mendadak menjadi orang yang pendiam. Jika biasanya Alex suka menjawab pertanyaan guru yang bahkan tidak ditanyakan padanya sekalipun, hari ini ia hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan guru sama sekali. Bahkan pada saat Bu Rita bertanya padanya apa itu Oviduk, ia hanya terdiam membisu sembari bertanya dalam hati, “sekarang Aqua lagi diskon, ya? Biasanya satu Aqua gelas harganya seribu, tapi kenapa sekarang dua Aqua gelas harganya dua ribu?”


“Alex!” terdengar suara wanita yang memanggil Alex dari jarak yang tidak terlalu jauh sambil melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Dan tanpa harus menebak siapa wanita itu, Alex sudah tahu jika wanita itu adalah Raisa.


Raisa langsung berjalan cepat kearah Alex berdiri.


“Raisa, ngapain lu sampai manggil-manggil nama gua gitu?” Tanya Alex keheranan.


“Emangnya gak boleh apa?” Raisa sedikit kesal dengan pertanyaan Alex.


“Bukannya gak boleh, sih. Tapi tumben-tumbenan lu manggil nama gua, apalagi sambil melambai-lambaikan tangan seperti itu. Aneh tahu.”


“Aneh gimana coba? Biasa aja kali! Oh ya, maaf semalam gua gak balas chat lu. Dan gua juga minta maaf gara-gara gua nyuruh lu buat pura-pura jadi pacar gua, lu malah diwawancarai oleh murid-murid di sekolah ini.”


“Gapapa kok, gua malahan senang. Eh…”


“Ha?!”


“Eh, maksud gua, gua senang bisa bantu lu. Lagian gua tahu kalau lu pasti bosan liat Vino terus-terusan ngungkapin perasaanya pada lu. Tapi, gua juga ikutan penasaran deh kenapa lu gak bisa suka sama dia? Padahal dia ganteng, loh. Eh, apaan sih gua ikutan kepo gini. Maaf, gua lupa kalau gua gak berhak ikut cam…”


“Gua gak suka sama sifatnya. Dia itu sok romantis, dan dia itu orangnya sok kepede-an. Dan gua melihat jika dari penampilan dan gayanya itu, dia itu orang yang bandel.” Raisa memotong perkataan Alex. “Oh, ya, motor lu mana? Kok gua gak ngeliatnya?”


“E-eh, gua gak bawa motor hari ini. Lagi males aja bawa motor.” Jawab Alex gugup.


“Mau pulang bareng?” Tawar Raisa.


“E-emh…”


Tanpa menunggu jawaban dari Alex, Raisa langsung menarik tangan Alex. “Lu bisa bawa mobil, gak?” Tanya Raisa.


“Ng-nggak.” Jawab alex terbata-bata.

__ADS_1


“Yaudah, biar gua yang bawa. Cepetan masuk!”


.........................


Alex terus saja memandangi tangan kirinya yang tadi ditarik oleh Raisa. Sepertinya nanti malam ia harus ekstra kerja keras agar dirinya bisa tertidur.


Sudah beberapa menit mereka berdua duduk tanpa membahas apapun. Inilah hal yang paling Alex tidak sukai pada dirinya. Ia adalah orang yang sangat aktif jika berbicara dengan teman laki-lakinya, tapi ketika ia berhadapan dengan wanita, ia akan kesulitan untuk berbicara karena dirinya takut jika topik pembicaraanya tidak disukai dan tidak sesuai.


Sejenak Alex mengingat nasihat temannya, Aaron. Aaron pernah berkata, cara terbaik untuk membuat wanita cepat akrab adalah dengan cara menyampaikan hal romantis dan komedi. Dan dari kedua itu, Alex rasa ia memiliki sedikit keahlian dalam menyampaikan hal komedi. Namun, Alex berpikir akan lebih jika keduanya dicampur menjadi satu. Ya, meskipun dia tidak punya keahlian dalam hal romantis.


Alex terus bergumam tentang hal romantis dan komedi apakah yang harus disampaikan. Dan akhirnya ia berhasil menemukannya.


“Lu-lu tahu gak bedanya su-suara lu pas lagi sama gua, sama suara orang bersin pas lagi sama gua?” Alex memulainya dengan penuh kegugupan.


Sontak Raisa merasa bingung kenapa Alex tiba-tiba menanyakan hal aneh seperti itu padanya. “Gak tahu, emangnya apa?” Tanya Raisa penasaran. Tampaknya Raisa tak tahu jika sekarang Alex sedang menggombal.


“Ka-kalau suara orang bersin pas lagi sama gua itu 'HAYHAYHAYSYEM'. Ka-kalau suara lu pas lagi sama gua ‘hay-hay ganteng! Minta nomor WhatsApp-nya, dong!' Hehehe.” Jawab Alex disertai tawa aneh.


“Oh iya, lupa gua. Hehehe!”


Gombalannya gagal dan membuat suasana menjadi hening kembali. Alex kini mengingat sebuah quotes yang ia lihat di Internet. “Jika kau gagal, tidak ada salahnya jika kau mencobanya sekali lagi.” Alex yang teringat quotes itu, mencoba untuk menggombal sekali lagi. Mungkin yang pertama gagal, tapi kali ini ia yakin dengan gombalannya.


“Raisa! Lihat tuh ada alien lagi joging.” Alex menunjuk ke arah seberang jalan.


“Mana? Kok gua gak ngeliat apa-apa?” Tanya Raisa sembari melihat ke arah yang Alex tunjuk.


“Ternyata memang benar, ya, kalau cinta itu buta.” Jawab Alex dengan nada sok romantis.


Sriiiittt…


Mobil yang sedang dikendarai oleh Raisa hampir saja menabrak orang yang sedang menyebrang, tapi beruntung Raisa masih sempat mengerem mobilnya.

__ADS_1


“Alex! Lu hampir membuat kita dalam bahaya tahu, gak? Sesuain dong, dimana tempatnya harus bercanda!” Raisa berujar serius.


“Ma-maaf, Raisa,” jawab Alex pasrah. Baru kali ini ia melihat Raisa semarah ini.


Sekarang Alex sudah tidak peduli dengan keheningan yang terjadi diantara ia dan Raisa. Alex sekarang hanya duduk dan fokus pada lagu yang sedang didengarnya di earphone.


“Oh, ya, Lex. Ngomong-ngomong, daritadi gua sebenarnya bingung. Rumah lu dimana, sih? Kayaknya gua pernah liat lu pulang sekolah lewat jalan ini, deh.” Raisa terus melihat kekanan dan kekiri seberang jalan. “Alex!” sambungnya lagi.


Alex masih saja asik sendiri dengan lagu yang didengarnya. “SO MAKE EVERY SECOND DIVINE!” Teriaknya mengikuti lirik lagu milik Suicide Silence.


“Woy!” Raisa menarik earphone Alex. “Malah asik sendiri. Rumah lu dimana, nih?”


“Oh, ya, ya. Rumah gua, ya? Ehmm…” Alex masih melihat ke arah seberang jalan—memastikan sudah sampai dimana. “Oh, udah hampir sampai, kok. Nah, itu dia rumah gua, yang warna biru muda. Kelihatan, kan?” Alex menunjuk ke arah rumah yang tidak terlalu jauh dari mobil yang sedang ia tumpangi.


Raisa langsung menuju ke rumah biru muda yang ditunjuk Alex.


“Rumah lu disini, ya? Lumayan jauh sih dari rumah gua.”


“Gua tahu kok rumah lu dimana.”


“Tahu darimana lu?” Tanya Raisa kebingungan. Seingatnya, dirinya dan Alex baru kali ini dekat.


“Hehehe. Lu inget gak waktu itu ada orang yang ngambil celana dalam di jemuran rumah lu? Itu gua. Sorry, ya. Habis, mau gimana lagi. Waktu ospek, kami para lelaki diharuskan membawa celana dalam wanita. Karena gua malu untuk membeli celana dalam wanita di toko dan kebetulan saat gua lagi jalan sama Adit gua ngeliat celana dalam wanita di jemuran rumah lu, yaudah gua ambil aja.” Alex mencoba menerangkan kepada Raisa.


Mendadak wajah Raisa memerah. Ia tampak begitu malu dan tak tahu harus mengatakan apa kepada Alex.


“BTW, itu celana dalam lu, bukan? Imut soalnya. Ada kantung didepannya.”


Plaakkkk…


Setelah menampar Alex dengan amat keras, Raisa langsung masuk ke dalam mobilnya dan langsung pergi meninggalkan Alex yang sedang tersungkur.

__ADS_1


__ADS_2