
Jumat, jam 10 malam.
Dimitri baru saja pulang menghadiri pesta yang diadakan salah satu temannya di kelab ternama. Pesta itu berlangsung meriah, tanpa hambatan atau kendala seperti saat-saat dulu. Sekalian menyelundupkan obat terlarang lewat orangnya yang sudah siap mengantar ke pelabuhan, lebih tepatnya ke pelayaran ilegal. Selain menyelundupkan obat terlarang, ia juga terlibat dalam perdagangan manusia yang sekarang ini sedang diusut tuntas oleh pihak berwajib, namun sayangnya aksi kriminal yang Dimitri lakukan selalu lolos dan bebas tanpa jaminan.
Sejujurnya perasaan Dimitri beberapa hari ini sangat senang dan juga bahagia. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun ia berencana menghabisi musuhnya dan berulang kali gagal—kali ini justru rencananya sangat mulus tanpa kendala. Romanov, pria tua itu telah tiada akibat rencana yang Dimitri susun. Dari awal, Dimitri memang menaruh benci kepada Romanov atas keberhasilan yang pria tua itu raih, rasa iri yang membumbung tinggi membuat Dimitri hilang akal dan selalu menyusun siasat untuk menghancurkan Romanov sekalian mengambil alih Monsta Clan.
Dimitri baru saja membuka pintu kamar, sengaja tak menghidupkan lampu. Pria itu memang menyukai suasana remang-remang, ditambah kepalanya yang terasa pusing karena terlalu banyak meminum minuman alkohol tinggi. Rencananya ia akan langsung tidur di kasurnya yang empuk, namun semua itu harus ia urungkan karena teleponnya berdering tanpa henti. Sialan!
"Ada apa?!" bentaknya kesal.
"Halo Bos, markas kita diserang orang-orang tak dikenal."
"Bodoh! Bagaimana mungkin? Bukankah aku sudah meminta bantuan mafia Inggris untuk membantu menjaga markas?!"
"Memang, tapi mereka semua telah kalah. Kami sedang kebingungan, sekarang pasukan kita telah lumpuh beberapa. Mungkin beberapa menit lagi semuanya akan hancur."
"Berengsek! Aku akan ke sana!"
Tidak peduli pada kondisi kepalanya yang terasa ingin pecah, Dimitri langsung ke markas. Dalam hati sibuk mengumpat, siapa orang yang berani mengusik wilayahnya? Demi apa pun juga, Dimitri sangat benci kepada orang yang sudah berani mengusik batas teritorial wilayah dan kekuasaannya. Dimitri memang terkenal paling pongah dan serakah di kalangan dunia gelap, banyak dari mereka menganggap kalau Dimitri kurang cocok menjadi pemimpin organisasi gelap seperti ini. Walau begitu, mereka cukup tahu diri untuk tidak ikut campur.
Butuh hampir satu jam sampai di markas. Dan benar saja, keadaan markasnya sudah hancur lebur tak bersisa. Bahkan, tak ada lagi bala bantuan yang dikirim untuk membantu orang-orangnya. Dimitri emosi, lalu mencoba menghubungi temannya yang berada dalam kawasan perairan untuk meminta bantuan, namun sayang mereka sudah kalah dan tak mau ikut campur. Katanya, musuhnya kali ini sangat tangguh dan terencana.
"Sial!"
Dimitri masuk ke dalam markas yang beberapa dindingnya sudah hancur. Banyak polusi, membuatnya terbatuk-batuk. Ia masuk lebih ke dalam, mencoba melihat barang-barang yang bisa ia selamatkan. Tentunya, ia pergi ke sebuah tempat penyimpanan di mana semua barang-barang berharganya di simpan dengan baik. Setelah pintu terbuka, Dimitri langsung masuk dan berbalik mengunci pintu.
Sementara itu, sosok pria yang sibuk mengawasi Dimitri dari pojok ruangan telah menyeringai. Tangannya yang kosong sibuk mengetuk-ngetuk ke dagu, mencoba menilai seperti apa sosok Dimitri di hadapannya. Ternyata, dia tak lebih dari kotoran yang menempel di dunia dan harus dimusnahkan.
Dimitri tersenyum, rupanya barang-barangnya masih aman dan tertata apik. Ingin berbalik, namun matanya tak sengaja melihat siluet pria bertubuh tegap tengah duduk di ruangan paling pojok. Dimitri meneguk ludah susah payah, lalu berujar. "Siapa kau?!"
"Ah, aku ketahuan ternyata." Pria itu bergumam malas lalu berdiri, datang menghampiri Dimitri.
__ADS_1
Pria itu Leo, berjalan mendekati Dimitri yang sedang menerka-nerka. Di sela itu, Leo mulai memanfaatkan situasi untuk menekan Dimitri.
"Ternyata mafia rendahan seperti dirimu mampu juga membunuh ketua organisasi gelap paling berkuasa. Romanov," ujar Leo dengan nada dibuat kagum.
"Jujur saja, apa maumu datang ke mari dan membuat markasku hancur!" bentak Dimitri.
"Usia yang semakin menua malah membuatmu rentan terkena serangan jantung, lebih baik jaga emosimu Pak Tua."
"Kau memang bedebah kecil, siapa dirimu dan untuk apa kah datang ke mari?! Dan tahu apa kau tentang Romanov?"
Leo menyeringai, berdiri di depan Dimitri yang belum juga goyah. "Kalau aku adalah anak angkatnya, kau percaya?"
Sontak saja Dimitri tertawa keras. "Kau bercanda? Pria tua itu mana mungkin mau merawat anak yang bukan darah dagingnya. Kau tahu, pria sepertinya memang wajar hidup sendirian, dia hanya parasit pengganggu kesenangan orang."
Dimitri sudah hilang akal, pria itu sudah mabuk berat. Namun tetap saja memaksa bicara. "Apa kau tahu seluk beluk Romanov ketika masih muda? Dia hidup hanya untuk menyakiti, bahkan membunuh kekasihnya sendiri."
Leo menyeringai. "Lalu?" Ia menjambak rambut Dimitri hingga empunya berteriak nyaring. "Kau mau aku melakukan apa? Aku tidak peduli, seburuk apa pun perlakuannya di masa lalu, atau seberengsek apa pun tindakannya di masa kini—yang jelas, dia sudah membuatku merasa hidup dan berhutang budi."
Leo menggelap, ia semakin menarik rambut Dimitri dan membantingnya di lantai yang penuh debu. Pria itu menggeliat, merasa kesakitan pada area punggungnya yang terkena serpihan bangunan roboh. Tak sebatas itu, Leo menginjak tubuh Dimitri dengan kuat dan berhasil membuat pria itu memuntahkan darah.
"Kau tahu, aku sangat ingin membunuhmu. Membunuh hama menjijikkan sepertimu, tapi mari kita lihat lebih jauh. Kudengar kau memiliki istri simpanan yang amat kau cintai dan bayi mungil yang lucu. Benar?"
"Berengsek, jangan sentuh mereka!"
"Aku tak menyentuhnya, hanya saja orang-orangku yang melakukannya. Yang jelas, mereka sudah—kau tahulah, pergi dari dunia ini?"
Dimitri murka. "Kurang ajar, kubunuh kau!"
Leo kembali menginjak tubuh Dimitri saat pria itu ingin bangkit. Leo berteriak memanggil Alan, beberapa detik setelahnya, Alan datang dengan beberapa orang di belakangnya.
"Bawa dia, kau tahu apa yang harus dilakukan."
__ADS_1
"Tentu Tuan."
Tentu saja yang akan Dimitri dapat hanya kematian yang menyiksa.
...****...
Alan mengetuk pintu ruang kerja Ronald. Kemarin, setelah Dimitri berhasil dieksekusi, tiba-tiba Leo memilih bersembunyi dan membiarkan Ronald datang memimpin. Tak banyak yang Ronald katakan setelah itu, hanya beberapa kata perintah untuk semakin menyiksa Dimitri agar terlihat sebanding dengan kematian Romanov.
Alan datang dan menyerahkan map cokelat di atas meja. Ronald menatap amplop itu datar, lalu mengangkat alisnya ke atas seolah bertanya 'apa ini?' kepada Alan.
"Ini adalah informasi yang sudah saya dapatkan dari wanita yang Anda minta, Tuan."
Ronald tersenyum miring, mengangguk pelan. Ronald membukanya, pelan dan penuh kehati-hatian seolah amplop itu adalah porselen mahal yang gampang pecah.
Lembar pertama, menunjukkan beberapa data pribadi dari wanita itu. Wanita yang baru Ronald ketahui namanya, Alena Rodriguez. Seorang wanita yang memiliki darah campuran Spanyol. Lembar kedua, ada beberapa foto candid yang tentunya tetap terlihat jelas di mata Ronald. Cantik, Ronald memuji.
"Dia Alena Rodriguez, sebelumnya dia menetap di Spanyol. Tapi beberapa tahun terakhir dia pindah ke negara ini untuk mengikuti ayahnya yang memutuskan menikah lagi," jelas Alan.
"Ibunya meninggal?"
"Ibunya meninggal sejak di dilahirkan, Tuan. Dia hanya hidup dengan ayahnya, Rodriguez. Namun begitu, dia berasal dari kalangan kaya. Rodriguez memilih menikah lagi dengan wanita paruh baya yang juga memiliki anak seusia Alena."
"Tapi di sini ada keterangan kalau dia bekerja di toko roti sederhana?"
"Itu benar. Setelah menikah, Rodriguez mengajak Alena tinggal di sini. Tapi beberapa tahun kemudian, perusahaannya bangkrut karena ada seseorang yang mengacau. Dan beberapa hari yang lalu, Rodriguez meninggal."
Oh, jadi itu yang membuat wanita itu menangis saat bertemu dengannya di rumah sakit? Ronald tersenyum, lalu menatap Alan. "Kurasa aku harus pergi ke toko itu untuk membeli beberapa roti untuk orang-orangku."
Alan mengerti arti senyuman itu. Senyuman yang berarti tanda ketertarikan—yang juga pertama kali ia melihatnya. Jadi, wanita cantik berdandan sederhana itulah yang mampu memikat hati tuannya?
Alena, batin Ronald tersenyum misterius.
__ADS_1
tbc