
Di tempat persembunyian yang tak diketahui orang-orang, Alarick tumbuh dan berubah menjadi pria dewasa berusia 23 tahun. Dengan bantuan ketua mafia Afrika bernama Demino, Alarick mulai dirancang untuk membalaskan dendam atas kematian orangtuanya karena Ronald.
Demino menemukan Alarick tengah terluka parah di dalam mobil yang kebetulan kecelakaan.Tidak ada yang tahu perihal Alarick karena kuasa Demino yang menyembunyikan Alarick dalam dunia gelapnya.
Bertahun-tahun sudah, sekarang Alarick telah tumbuh seperti yang Demino inginkan. Ia bisa melakukan atau memerintahkan Alarick untuk membantai semua musuh-musuhnya. Rencananya sudah terbentuk, memanfaatkan anak dari Dimitri membuatnya tak susah menceburkan orang lain untuk dijadikan tumbal.
Sebenarnya, tujuan Demino bukan untuk membalaskan dendam orang tua Alarick yang terbunuh di tangan Ronald, tapi demi kepentingan pribadinya sendiri. Demino memiliki dendam kepada Romanov yang kebetulan memiliki anak angkat bernama Ronald, dan sekarang anak itu sudah tumbuh dewasa dan menjadi pimpinan Monsta Clan.
Berita ini tentu mengejutkan semua mafia di dunia gelap. Yang mereka tahu, Romanov tidak memiliki anak atau istri untuk dijadikan penerus. Untuk itu, semenjak Romanov dikabarkan meninggal, hampir semua kalangan mafia berbondong-bondong saling memperebutkan kekuasaan Romanov yang memang paling kuat dan besar. Sayang, semua itu tidak terjadi. Tiba-tiba saja Ronald datang dengan aura mencekam layaknya pembunuh profesional, dia datang dan menggemparkan dunia gelap.
Dan hal itu, menampung satu korban, Dimitri. Pria itu terlalu gegabah dalam bertindak. Jika saja Dimitri dapat mengulur waktu, pasti sekarang dia masih hidup. Ia juga memiliki kabar, kematian Romanov diakibatkan orang suruhan Dimitri. Dimitri memerintahkan orang itu untuk menukar obat milik Romanov sehingga pria tua itu meninggal.
Bodoh, anak dan ayah memang sama tak ada bedanya. Menyedihkan!
"Kau sudah cukup untuk keluar dari sarangmu. Aku membebaskanmu untuk merancang strategi melarang Ronald. Kau harus hati-hati, dia bukan lawan yang mudah dikalahkan." Demino memberi saran juga memerintah secara bersamaan. Alarick mengangguk, terlalu mengerti dengan semua ini. "Kalau perlu, kau harus membuat senjata untuk melawan dia."
"Tenang, kalau masalah senjata, aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Coba kau lihat," kata Ronald menunjukkan pistol berukuran sedang, ujung moncongnya agak kecil dari ukuran pistol biasa. "Aku sudah merancangnya jauh-jauh hari sebelum kau memerintahkannya. Aku juga sudah membuat peluru yang sudah kulapisi racun paling mematikan, dan setelah ini, aku jamin Ronald tidak akan selamat."
"Jangan berbangga dulu, dia sangat licik. Bagaimana pun juga, kau harus tetap hati-hati."
"Aku pasti hati-hati, kali ini aku akan menghabisi pria itu sampai ke akar-akarnya." Alarick tersenyum bengis. Tatapannya tajam bak singa yang ingin menerkam mangsa. Tangannya mengelus pistol itu dengan lembut, lalu menempelkannya ke dagu. "Dia akan mati secepatnya, di tanganku." Setelahnya, tawa keluar dari mulut Alarick, terdengar bengis dan menyeramkan.
...****...
Alena menunduk. Masih takut berhadapan dengan sosok dominan di depannya ini. Rasanya, dadanya sangat sesak dan ingin lari sejauh mungkin. Pikirannya bercabang ke mana-mana, ke sana ke mari tanpa tujuan. Semua itu karena pria ini, pria sialan yang mencuri ciuman pertamanya. Ciuman yang seharusnya diberikan kepada kekasihnya kelak.
__ADS_1
Alena bukan wanita polos, ia tahu kalau ciuman menambah hal lumrah dilakukan di negara bebas ini. Tapi, bagi Alena, berciuman tanpa status yang jelas akan memperburuk keadaan. Dan dirinya tidak memiliki hubungan apa-apa selain pembeli dan penjual, tapi otak itu langsung menciumnya paksa. Ini tidak adil, sangat tidak adil.
"Aku tidak mau! Aku bukan wanita seperti itu, kau tidak bisa melakukan ini padaku!" pekik Alena marah. Ia pelan mundur ke belakang, lalu berlari ke arah motor yang terparkir di pinggir jalan.
"Aku bisa, kamu perlu bukti?" tantang Ronald.
Alena tidak menggubris ucapan Ronald dan memilih menancap gas ke tempat kerjanya. Sesampainya di sana, Maria menyambut Alena dengan senyuman manis. Wanita paruh baya itu menarik tangan Alena ke dalam toko dan tersenyum girang. Alena tampak heran bercampur bingung. Kenapa?
"Bibi kenapa?" tanya Alena bingung, dia melirik ke arah Bryan yang baru datang dari arah belakang. "Kau tahu bibi kenapa?"
"Pelanggan tadi, yang kamu antarkan pesanannya memberikan tip yang sangat banyak. Ini baru pertama kalinya ada pelanggan sebaik itu."
"Ini rezeki kita, tahu! Bagaimana kalau nanti malam kita makan-makan, jarang sekali 'kan kita kumpul bareng? Bibi yang akan bayar," katanya. "Kamu mau ikut 'kan, Nak?" tanyanya ke arah Alena.
"Bi, di rumah—"
"Bi, dia mana mau melakukan pekerjaan rumah? Sudah, lebih baik kalian saja yang makan-makan, aku tidak apa tidak ikut. Lagian juga, di rumah masih banyak kerjaan."
"Al, kamu juga perlu bahagia. Hidup kamu bukan untuk dimonopoli mereka, apa kamu mau selamanya hidup seperti ini? Bukan hanya tenaga kamu, tapi hak atas hidup kamu pun tidak bisa kamu rasakan." Bryan menyahut.
"Bry, aku percaya semua akan indah pada waktunya. Mungkin bukan sekarang, tapi aku yakin kalau kebahagiaan yang selama ini aku inginkan pasti akan terjadi. Sekarang ini sabar adalah kunci utama yang harus aku genggam."
Maria tersenyum lembut, memeluk Alena yang tampak rapuh namun berusaha tegar. "Bibi sayang sama kamu, kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang sama Bibi. Okay?"
"Okay."
__ADS_1
"Kamu harus janji satu hal sama Bibi, kalau nanti Stacy dan anaknya ganggu kamu, yang harus kamu lakukan adalah telepon Bibi atau Bryan. Mengerti?" Alena mengangguk berulang kali. Lalu tersenyum. Ia melepaskan pelukannya. "Biar Bryan yang mengantarmu pulang nanti," katanya.
"Tidak usah, Bi. Bryan pasti sibuk, aku tidak mau menganggu dia," tolak Alena cepat.
Maria tersenyum. "Dia justru kesenangan bisa mengantar kamu pulang. Tidak percaya, tanyakan saja pada orangnya langsung."
Alena tersentak mendengarnya.
Malam hari, tepat jam 7 malam. Sesuai perkataan Maria, Bryan mengantar Alena pulang. Mereka menaiki motor matic milik Bryan. Alena hanya memegang ujung jaket pria itu lantaran takut dicap gadis agresif. Lagi pula, Bryan pasti juga merasa risih jika ia memeluk pria itu apa pun alasannya.
"Nah, sudah sampai." Bryan mematikan motornya di halaman rumah Alena. Gadis itu turun dan melepas helmnya lalu memberikannya pada Bryan. "Masuk ke dalam terus istirahat."
"Mana mungkin, bersih-bersih dulu. Atau paling tidak harus membuatkan makan malam." Alena menjawab lesu.
"Aku sangat ingin memaki ibu tirimu saat ini. Dia dan anaknya sama saja, kerjanya cuma menghabiskan uang dan memerintah. Apa sebaiknya kamu pergi saja dari sini? Paling tidak sampai mereka sadar diri," usul Bryan.
"Tidak mungkin. Aku mana bisa pergi dari sini, rumah ini 'kan peninggalan orang tua aku." Alena menjawab mantap. "Kau pulanglah, aku akan masuk."
"Okay. Sampai ketemu besok," pamit Bryan lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Alena masuk ke dalam rumah, tanpa ia sadari jauh dari rumah sebuah mobil memerhatikan mereka sejak tadi. Dia Leo, sisi lain dari Ronald. Pria itu melihat pintu rumah Alena yang sudah tertutup. Senyum bengis muncul tiba-tiba.
"Ikuti pria tadi, lalu tabrak seolah itu kecelakaan." Leo memerintah.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
**Tbc
Untuk chapter berikutnya bakal lebih seru. Jangan lupa tekan like yaa. Tambahkan juga ke favorit kalian. Terima kasih**.