Dark Obsession

Dark Obsession
Obsesi


__ADS_3

Saat ini bukan Ronald yang memimpin, tapi Leo. Setelah Ronald menerima telepon dari Alan yang menyebutkan informasi tentang musuhnya, Leo langsung mengambil alih tubuh Ronald. Sejujurnya Leo merasa marah karena Ronald merencanakan semua ini tanpa memberitahunya, bahkan pria itu menahan Leo agar tidak mengacau.


Ronald tahu kalau Leo lebih beringas darinya, Leo lebih buruk dari hewan yang kelaparan. Jika Leo sampai bertemu langsung dengan barang obsesinya maka semuanya akan kacau dan tamat untuk Alena. Jika Ronald bisa menunda, maka Leo tidak. Karena itulah Ronald tidak membiarkan Leo muncul di saat ia sedang bersama Alena.


Di markas, hanya ada beberapa orang termasuk Alan dan Leo. Alan membawa beberapa dokumen yang ia berikan kepada Leo. "Ini adalah dokumen yang harus Anda tau, Tuan."


Leo membukanya dengan tak sabaran. Ia membaca beberapa menit, lalu ia menatap Alan. "Kau yakin? Bukankah anak sah Dimitri sudah meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan?"


"Semua ini benar, Tuan. Saya baru saja mendapat informasi langsung dari orang terdekat Dimitri. Anaknya masih hidup sampai sekarang," katanya.


"Lalu di mana dia sekarang?"


"Dia ada di sini, tapi keberadaannya masih belum diketahui. Saya yakin kalau dia akan membalas kematian ayahnya, lagi pula anak itu sudah cukup umur untuk melanjutkan organisasi Dimitri yang sudah hancur."


"Jadi dia ada di negara ini? Ah, itu semakin menarik. Cari dia, temukan dia. Aku ingin kabar darimu dalam beberapa hari kemudian."


Alan mengangguk. "Saya akan melakukan pencarian. Tapi, kemungkinan besar pencarian ini akan memerlukan waktu yang cukup lama. Kelihatannya dia dibantu seseorang."


"Itu sudah jelas, yang terpenting aku ingin segera mengetahui keberadaannya. Tentang orang yang membantunya, aku akan mencarinya."


Sejujurnya Leo ataupun Ronald sama sekali tidak ingin berhubungan lagi dengan sesuatu yang menyangkut Dimitri, tapi mengingat dendam kesumat anak pria itu yang belum usai maka terpaksa Leo maupun Ronald harus menyanggupinya.


Pertemuan telah selesai. Kini hanya ada Leo dan Alan di ruangan itu. Alan terlihat sibuk menganalisa sesuatu di depan laptop, sedangkan Leo sibuk membaca salah satu informasi yang anak buahnya dapatkan dari Alena. Benar, Ronald telah memerintahkan orang untuk mengawasi pergerakan wanita itu dan selalu melaporkannya kepada Ronald setiap satu jam sekali.


Leo tersenyum dingin, membaca pesan dari anak buahnya yang bertugas mengawasi Alena justru membuatnya semakin menyukai wanita itu. Orangnya mengirimkan gambar. Gambar itu berisi Alena yang sedang menangis di pinggir jalan, dia terlihat frustrasi. Ah, kasihan.


Pantas, Alena masih polos. Usinya bahkan belum sampai 25 tahun. Dan hari ini Ronald telah menodai kesucian bibirnya. Wanita itu pasti ketakutan setengah mati. Leo harus bertindak, jika Ronald yang melakukan pendekatan maka semuanya akan berjalan lamban. Tapi jika itu Leo, maka tak butuh waktu lama Alena akan menjadi miliknya dan tinggal secara permanen di sisinya.


"Saya baru mengetahui tentang anak Dimitri, Tuan."

__ADS_1


"Katakan," titah Leo tegas.


"Dia berada di dekat sini, selama ini dia dibantu oleh mafia yang ada di Afrika. Mafia di sana telah membantunya untuk bangkit dan mendidiknya dengan cara keras. Dia akan menjadi lawan yang sulit dikalahkan."


"Permainan akan semakin menarik."


"Satu hal lagi, Tuan."


"Ya?"


"Sekarang ini anak itu telah memimpin organisasi gelap yang dibentuk mafia Afrika beberapa tahun lalu. Kemungkinan besar mereka akan menyerang kita dalam waktu dekat."


"Kalau begitu kita persiapkan mulai dari sekarang. Sebaiknya kita jangan membahasnya di sini." Tiba-tiba tatapan Leo menajam dan melesatkan tembakan beruntun kepada orang yang berada di balik dinding. Tepat mengenai dahi orang itu.


"Dia?" tanya Akan menggantung.


"Anda benar, sebaiknya kita jangan berbicara di sini. Tidak aman, apalagi jika menyangkut strategi."


"Kau pergi saja, aku ada urusan sebentar."


"Baik, Tuan."


...****...


Alena tidak bisa berbuat banyak selain merenung di pinggir jalan sambil menatap sungai di bawah sana. Sepeda motornya yang ia gunakan untuk mengantarkan pesanan kue ia parkir di pinggir jalan, untungnya di sana tidak ada larangan apa pun.


Setelah menerima ciuman paksa dari pelanggan kurang ajar, Alena langsung pergi dan tak mau tinggal lebih lama lagi. Harusnya ia menerima tawaran Bryan dan membiarkan pria itu yang mengantarkan pesanan. Tapi tidak, hanya karena ancaman kecil yang tak ada apa-apanya, Alena justru membuatkan dirinya masuk ke dalam kubangan dosa.


Alena tahu ini hanya ciuman biasa dan di sini ciuman adalah hal lumrah dilakukan. Tapi tetap saja, ada perasaan mengganjal semacam rasa bersalah terhadap Bryan. Dia menyukai pria itu, seharusnya ciuman pertamanya juga untuk pria itu, bukan untuk orang asing yang tak jelas siapa.

__ADS_1


Alena janji dia tidak akan pernah lagi percaya kepada orang asing lagi, atau membiarkan dirinya dilecehkan begitu saja. Alena akan berusaha melawan dan meminta pertolongan dengan suara keras, walau gagal, setidaknya dia tidak menjadi wanita yang dengan suka rela menyerahkan harga dirinya kepada pria lain.


Seusai pertemuannya dengan pelanggan menyeramkan itu, Alena memilih lebih hati-hati lagi. Dia tidak akan melawan ucapan Bryan lagi. Ya, sebagai bentuk antisipasi.


"Kau di sini?" Sebuah suara mengejutkan Alena. Wanita itu menoleh dan menatap pria mesum itu dengan mata terkejut. "Kau mau bunuh diri?"


Pria bernama Ronald itu mendekati Alena. Tanpa bisa dicegah, Alena tidak memilik jalan lain. Ronald mengurung tubuhnya di pembatas antara jalan dan sungai. Kini Alena benar-benar terkungkung tak bisa ke mana-mana.


"Mau kuantar pulang, sweety?" tawar Ronald mendadak ramah.


"Tidak, Tuan-"


"Ssttt, hanya Ronald." Dia memotong ucapan Alena.


"Y-ya, maksudku Ronald aku bisa pulang sendiri. Kau tidak perlu repot-repot mengantarku pulang atau kembali ke tempat kerjaku," ujar Alena cepat bercampur gemetar—dia takut bila sewaktu-waktu Ronald memaksakan kehendak seperti tadi.


"Kau masih saja bekerja di sana. Kau tau, gajimu tidak banyak. Lalu bagaimana bisa kau menyenangkan hati ibu dan saudara tirimu, hm?" bisik Ronald tepat di telinga kanan Alena.


Wanita itu tersentak, demi apa pun juga kenapa pria itu tahu mengenai gaji dan keluarga tirinya? Apakah pria itu seorang mata-mata seperti yang ada di televisi?


"Aku mengetahui banyak tentangmu, Alena. Jangan takut, aku tidak berniat macam-macam, kecuali—" Alena mendongak menatap Ronald yang sengaja menjeda ucapannya. "Kecuali kalau kau membangkang, maka aku tak segan membuatmu jera. Kau mengerti apa yang aku maksud, kan?" ujar Ronald kalem bercampur nada penekanan di akhir kalimatnya, sedangkan tangannya membuat tanda isyarat tanda petik dua.


Alena langsung tahu makna itu, otomatis membuatnya takut.


"Kau ... kenapa bisa begini? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?" tanya Alena lirih, air matanya ingin jatuh.


"Bagaimana jika aku mengatakan kalau aku menyukaimu—" Alena mendongak, menatap pria itu tak menyangka. "Sebagai teman ranjang," lanjutnya menyeringai.


Dan satu tamparan mendarat di pipi pria itu.

__ADS_1


__ADS_2