
"Kamu gila? Aku tidak akan membiarkanmu mengantar kue-kue ini kepada pelanggan itu, Al. Tugas kamu cuma di sini, bukan sebagai pengantar pesanan," protes Bryan saat Alena mengutarakan keinginan pembelinya beberapa waktu lalu.
Alena mengerang frustrasi, masalahnya ia masih ingat perkataan pelanggan itu. Kalau bukan dirinya yang mengantarnya, maka toko milik Maria akan rugi banyak. Alena sadar kalau hanya toko ini mata pencaharian mereka, dan Alena tidak mau egois hanya karena masalah sepele ini. Mengantar makanan bukan sesuatu yang buruk untuk dilakukan, ia hanya berkendara sepeda motor lalu menyerahkan kue dan mengambil uang, kemudian selesai. Ia akan kembali ke toko dan mengerjakan tugasnya kembali.
"Ayolah, ini bukan sesuatu yang sulit, Bry. Kau 'kan tau semua kue ini sudah dibuat dan dikemas, kalau seandainya pesanan ini tidak diantar maka tokomu akan rugi besar," bujuk Alena keras kepala.
"Sekali tidak ya tidak, biar aku yang mengantarkan!" putus Bryan lugas.
"Ada apa ini?" tanya Maria yang baru saja datang dari arah belakang.
"Ibu bilang kepada Alena supaya tidak keras kepala. Dia hanya di sini, sedangkan aku yang mengantarkan pesanan." Bryan mengadu.
"Tapi pelanggan sendiri yang bilang kalau aku yang harus mengantarnya. Bry, sekali ini saja." Alena memohon kepada Bryan dengan memelas, tidak mau toko milik Maria akan rugi besar.
"Bryan, kau setuju saja. Lagi pula ini kemauan para pelanggan, kan?" tutur Maria lembut. "Lebih baik kau antar pesanan yang lain, biarkan Alena mengantar pesanan ini."
"Tapi-"
"Aku akan berangkat. Sampai jumpa," katanya langsung pergi menuju motor yang sudah ada tumpukan pesanan kue.
"Seharusnya Ibu tidak memberi izin kepada Alena, aku merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi," protes Bryan kepada ibunya, Maria.
"Kau hanya merasa parno saja, Bry. Cepat antar pesanan lain atau mereka akan menunggu lama."
"Terserah!"
Maria melihat kepergian putranya dengan senyum tipis. Ia tahu kalau pria itu menyukai Alena, bahkan sangat menyukainya. Dan ia tahu kalau Alena juga menyukai Bryan, putranya. Maria hanya bingung, kenapa sampai sekarang ini mereka masih merahasiakan perasaan masing-masing? Maria sangat menyukai Alena, dia perempuan yang baik.
...****...
Ternyata tidak sulit menemukan rumah pelanggan kaya itu. Hampir semua orang mengenal pria itu dan bahkan tersenyum malu saat menyebut namanya, terlebih seorang wanita. Alena acuh tak acuh, yang ia lakukan hanya cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya ini lalu kembali ke toko secepatnya. Kalau tidak, maka Maria akan kesepian dan kewalahan menghadapi pelanggan.
Rumah itu dijaga satpam, gerbangnya sangat tinggi sampai membuat Alena geleng-geleng kepala.
"Permisi Pak, apa benar ini rumah Tuan Ronald Gustavo?" tanya Alena sopan, suaranya amat lembut di telinga sang satpam.
"Iya benar. Ada keperluan apa?"
"Tuan Ronald memesan kue dari toko saya, sekarang ini saya mengantarnya."
__ADS_1
"Oh, kalau begitu saya akan membukakan pintu," katanya lalu membuka gerbang dengan cepat. "Anda butuh bantuan?"
"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri, terima kasih." Alena segera menjalankan motornya masuk ke halaman rumah Ronald. Yang lihat pertama kali adalah keindahan halaman yang membuatnya terpana.
Alena mematikan motornya, lalu ia menekan bel pintu rumah dengan cekatan. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka dan memperlihatkan wanita paruh baya menggunakan pakaian hitam putih.
"Anda mencari siapa?" tanyanya ramah.
"Saya mengantarkan pesanan Tuan Ronald, dia memesan banyak kue dari toko saya."
"Ah, Tuan sudah menunggu. Silakan masuk," katanya.
"Tapi kuenya-"
"Biar pelayan lain yang mengangkutnya. Mari masuk," katanya mempersilakan Alena masuk.
Alena memandang rumah besar milik Ronald, seperti istana di negeri dongeng. Namun bukan itu yang Alena pikirkan, lagi pula ia ke sini hanya mengantar pesanan dan meminta uang pembayaran.
"Anda sudah ditunggu di dalam, silakan masuk."
"Tapi ini ruangan apa?" tanya Alena bingung karena wanita itu mengantarnya ke depan pintu bercat cokelat yang tampak seram.
Alena mengangguk paham, hampir saja ia berpikiran macam-macam. Ketika wanita itu sudah pergi, Alena segera masuk dengan pelan.
Di atas ranjang, dia melihat sosok pria tengah berbaring sambil membaca sesuatu di tab.
"Permisi Tuan, saya sudah mengantarkan pesanan kue Anda." Alena membuka suara, pelan dan hati-hati.
Ronald menatap Alena, lalu ia menaruh tabnya di atas nakas. Dia duduk di ranjang, tersenyum kemudian.
"Kenapa cepat sekali?" keluhnya dibuat-buat.
"Maaf, maksud Anda?"
"Panggil aku Ronald, jangan pakai kata 'anda', rasanya tidak enak di telingaku." Ronald beranjak, mendekati Alena. "Hah, ternyata kau sangat cantik jika dilihat dari dekat."
Mendengar perkataan itu, Alena buru-buru menjauh. "Tuan, semuanya menjadi 10 juta. Anda bisa membayarnya sekarang."
"Kalau aku bayar dengan tubuhku bagaimana?" bisiknya sensual.
__ADS_1
Alena mendorong tubuh Ronald menjauh, wanita itu geram dan merasa dilecehkan. "Maaf Tuan, jangan berbicara tidak sopan padaku. Anda tidak bisa berbicara seperti ini pada orang asing yang baru dikenal."
Ronald semakin menyeringai. "Lalu?"
Alena semakin yakin kalau pria di hadapannya ini berbahaya. Sejak awal Alena memang ketakutan saat berhadapan dengannya, ditambah ucapannya sekarang ini yang melecehkan dirinya. Alena punya firasat buruk.
"Anda tidak bisa melakukan hal ini kepada saya. Saya ini masih punya harga diri," kata Alena berkaca-kaca.
"Jangan menangis sweety," katanya mencoba mengusap air mata Alena tapi ditepis wanita itu cepat.
Di sisi lain, Ronald merasa tertantang. Ah, wanita di depannya ini sangat manis dan cantik. Wanita yang mampu membuatnya bergairah dan menegang tanpa harus menggoda. Dan lagi, suara lembut itu mampu membuat darahnya berdesir hebat, membuat jantungnya berdetak kencang.
Sial! Dia harus memiliki wanita itu secepatnya!
"Selesaikan pembayarannya sekarang, dan saya akan pergi!" ujar Alena mulai kesal.
"Kenapa terburu-buru? Kita bisa duduk dulu sambil makan malam bersama, kan?" Ronald semakin mendekatkan diri, lalu berbisik pelan di telinga wanita yang membuatnya menggila. "Atau kau mau juga melakukan hal lebih?"
"Hentikan," kata Alena mendorong tubuh Ronald tapi sia-sia. "Tuan, jangan seperti ini."
Alena sudah menangis, meski begitu Ronald masih belum mau melepaskan pelukannya. Alena merasa kotor, ia tidak pernah berdekatan dengan pria mana pun selama ini. Dan ini sudah berlebihan.
"Lepaskan!" berontak Alena sembari menangis.
"Tidak, aku tidak mau." Ronald semakin mempererat pelukannya. "Kau milikku, Alena."
"Saya bukan milik Anda!"
Ronald tersenyum lalu mengecup bibir wanita itu kilat. Alena menegang, semakin memberontak di sela tangisnya. Ronald semakin mencium Alena, menuntut dan tak membiarkan wanita itu mengambil napas.
Dering ponsel membuat Ronald terjaga, dia melepaskan ciumannya dan mengambil ponselnya.
"Ya?" Dia melirik wanitanya yang masih menangis sesenggukan.
"...."
"Aku akan ke sana." Ronald menutup teleponnya. Ia mendekat ke arah Alena. "Sayang sekali, aku harus pergi. Kau boleh pergi dan masalah pembayaran, aku akan menyuruh orangku untuk mengurusnya."
"Ah, ciumanmu sangat manis. Aku akan menantikan pertemuan kita selanjutnya."
__ADS_1