
Katakan saja ini gila, pipinya baru saja ditampar tapi ia sama sekali tidak merasakan sakit apa pun. Meski air matanya berair, jantungnya bergemuruh hebat, tapi sebisa mungkin ia tidak akan membalas. Tidak membalas bukan berarti ia percaya pada hukum alam bernama karma. Big no!
Jika ia menunggu karma akan datang, lalu bagaimana keadaan tubuhnya yang mungkin saja sudah membusuk penuh luka, nyawanya yang melayang, dan psikisnya yang terguncang? Hell, ini bukan kisah dongeng di mana Cinderella akan bertemu dengan pangeran berwajah rupawan, bukan juga dongeng putri tidur yang terbangun karena ciuman pria tampan. Shit, kepalanya mau pecah dan saat ini kedua orang itu malah membuat semuanya semakin rumit.
Percayalah, dia bukan wanita kasar. Bukan juga wanita yang suka mengumpat, ia hanya kecewa pada keadaan. Itu saja. Kematian ayahnya beberapa hari yang lalu masih menyisakan luka menganga, penuh duka dan sulit sekali mengikhlaskannya.
"Pokoknya aku tidak mau tau, kau harus mencari uang itu dalam waktu satu hari! Aku tidak mau hidup menggelandang di jalanan!" teriak wanita itu keras-keras, lalu mendorong orang di hadapannya dengan kasar. "Aku tidak mau tau caramu mendapatkan uang itu dari mana, menjadi jalang pun terserah. Yang penting kau pulang dengan uang banyak!"
"Sampai mati pun, aku tidak akan menjadi jalang demi mendapatkan satu sen uang!" teriak wanita itu keras. "Suruh saja anakmu yang melakukannya! Bukakah dia suka menjajakan tubuhnya ke banyak pria?!"
"ALENA!"
Cukup, kesabaran ada batasnya. Alena ingin merasakan ketenangan, senantiasa merasa tenteram meski ayahnya sudah tiada. Ditinggal ayahnya malah membuat semuanya menjadi runyam, ibu tiri dan saudara tirinya malah membuat hidupnya semakin menderita lahir batin. Berbagai tekanan... berapa banyak ucapan mereka untuk membuatnya menderita? Alena rasa tidak akan cukup bila menjabarkannya dalam satu hari.
"Ibu, aku hanya bekerja di toko roti sederhana. Bukan bekerja di kantoran yang punya gaji tinggi. Hargai, aku juga manusia yang punya batas lelah," pinta Alena lirih, air matanya tumpah.
"Memangnya aku peduli? Rodriguez meninggal gara-gara kau, kalau kau tidak membuatkan minuman untuknya, mungkin saja sampai saat ini dia masih di sini bersama kita!" teriak ibu tirinya penuh kebencian. "Jujur saja, kau adalah pelakunya kan?!"
"Untuk apa aku membunuh ayahku sendiri? Aku sangat menyayanginya."
"Karena kau cemburu kepadaku, kepada saudari tirimu. Kau itu manusia rubah, licik!"
Alena menangis, bukan karena marah. Tapi karena tuduhan yang dilayangkan ibu tirinya. Dulu, saat ayahnya belum menikahi wanita itu, semuanya masih normal. Dan ketika ayahnya mengenalkannya kepada wanita itu, semua juga tampak baik. Dia wanita yang cukup pengertian dan penyayang, belum lagi saudari tirinya yang memang selalu membuatnya nyaman. Dan ketika ayahnya meninggal, semuanya berbanding terbalik. Mereka menjadi kasar dan suka memukul, perusahaan yang dibangun ayahnya pun sudah raib. Miris, benar-benar miris.
Kehidupan yang dulu bagai putri raja, kini terlihat seperti itik buruk rupa.
"Heh, pasti Rodriguez diam-diam mengutukmu di sana. Pembawa sial sepertimu memang harus dikasari seperti ini," kata Stacy pada putri tirinya. Ia kembali menampar wajah Alena kuat hingga ujung bibirnya terluka.
"Ibu..."
"AKU BUKAN IBUMU!" bentak Stacy marah. "Cepat pergi dan dapatkan uang! Dasar anak bodoh!"
...****...
"Ya ampun sayang, ada apa dengan wajah cantikmu? Dia memukulmu lagi?" tanya Maria, pemilik toko roti yang Alena singgahi guna mencari uang. Wanita itu menyentuh bibir Laura yang terluka, dan membuat empunya meringis kesakitan. "Stacy memang keterlaluan. Harusnya kau laporkan saja kepada polisi, biar dia tau diri. Clara juga begitu, anak sama ibu memang mirip!"
"Aku tidak mungkin melaporkan ibuku ke polisi, Bi. Meski perlakuannya kasar, tapi bagaimanapun juga dia tetap keluargaku. Aku tidak mungkin menghancurkan keluarga ini, Ayah pasti kecewa," ujar Alena lirih.
"Ayahmu itu memang terlalu buta untuk melihat kebusukan Stacy, harusnya kamu mencegahnya menikahinya."
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa mencegah ayahku meraih kebahagiannya? Dulu saat Ayah menceritakan tentang ibu, matanya selalu berbinar-binar. Ayah terlihat bahagia, dan aku? Mana mungkin bisa menghancurkan kebahagiaan Ayah."
Itu adalah bagian tersulit yang Alena alami. Melihat wajah bahagia ayahnya membuat pikirannya terpecah belah, bukan tidak bahagia, tapi melihat keceriaan ayahnya yang riang saat mengatakan hubungannya dengan Stacy membuat Alena miris. Ayahnya telah tertipu, perusahannya hancur dan sekarang kematian telah menjemputnya.
Di sela ketidakberdayaannya, Maria selalu muncul untuk memberinya semangat. Janda satu anak itu selalu bisa membuat pikirannya kembali tenang. Sifat keibuan yang memang tidak dibuat-buat sukses membuat Alena merasa dejavu.
Ibu... bagaimana kabarmu di surga?
"Bibi tau apa yang kau alami, Al. Tapi apa salahnya jika kamu mencoba melawan? Kau harus membuktikan kepada mereka kalau kau bukan wanita lemah yang bisa diinjak seenaknya. Jika kau diam seperti ini maka akan memperburuk posisimu. Ayahmu tidak akan bahagia di sana."
Alena mengembuskan napas. "Melawan dengan cara apa? Bahkan aku sudah berteriak, tapi mereka tetap acuh tak acuh." Alena mengusap air matanya. "Ah... lebih baik aku jaga di depan. Mungkin sudah ada pelanggan."
"Kamu tidak udah khawatir, di sana sudah ada Bryan."
Jantungnya berdetak kencang saat nama Bryan disebutkan. Berapa lama... sudah berapa lama Alena memendam rasa kepada pria itu? Alena rasa, perasaan ini tidak akan pernah hilang. Heh, Alena merasa miris. Tidak bisa memberitahukan tentang perasaannya kepada Bryan, dan lagi pula pria itu pasti tidak akan pernah mau dengan dirinya.
Pria itu terlalu sempurna untuknya yang bukan siapa-siapa. Wanita miskin dan tidak punya apa pun yang dibanggakan. Alena merasa kalau mencintai Bryan adalah keinginan yang terlalu muluk, pria itu terlalu baik.
"A-aku akan ke sana," katanya terbata.
Alena menghampiri Bryan yang sibuk melayani beberapa pembeli. Alena membantunya, membuat pria itu tersenyum tipis. Setelah semuanya selesai, pembeli pun telah pergi, Alena mulai menghela napas panjang.
Bryan tertawa lirih. "Bisa aja kamu, Al. Lelah sih iya, cuma mau bagaimana lagi? Aku tidak mungkin diam saja melihat ibuku dan dirimu melayani pembeli sebegitu banyak. Kalian hanya berdua, wanita pula."
Bryan menatap Alena, beberapa detik kemudian pria itu terkejut karena melihat luka di bibir Alena. Ia ingin menyentuhnya namun gagal karena Alena lebih dulu mundur ke belakang.
"J-jangan sentuh, sakit."
Tatapan Bryan berubah sendu. "Alena, kenapa kau diam saja saat mereka memperlakukanmu seperti ini? Kenapa kau menyusahkan diri sendiri demi memenuhi kesenangan mereka?"
"Aku terlalu bodoh ya?" tanya Alena lirih. Bryan menggeleng lalu menarik wanita itu ke pelukannya. "Aku tidak mau keluargaku hancur, Bry. Aku hanya sendiri, cuma mereka yang aku punya."
"Ada aku, Al. Ada aku," kata Bryan lirih sembari mengelus punggung Alena yang bergetar.
"Hah, drama memuakkan," desis Ronald meremehkan. Matanya terus melihat ke arah dua orang yang tengah berpelukan di dalam toko roti, begitu intim dan mesra. "Aku rasa semua ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."
"Lalu apa yang akan Anda lakukan, Tuan? Mereka saling menyukai sejak lama. Tapi sayangnya, tidak ada dari mereka yang mengatakan tentang perasaan masing-masing," sahut Alan.
"Cinta diam-diam heh!" kekeh Ronald tertawa. "Aku akan ke sana, membeli sesuatu untuk anggota Monsta Clan kurasa bukan ide yang buruk," kata Ronald lalu keluar dari mobil menuju ke toko roti tersebut.
__ADS_1
Bryan melepas pelukannya lalu mengusap air mata Alena yang tumpah. "Jangan nangis lagi, masih ada aku."
"Iya."
"Permisi," Suara itu menyentak mereka. Menoleh lalu menatap pria tampan sedang berdiri di depan etalase dengan tatapan tajamnya.
"Ya Tuan? Anda ingin membeli sesuatu?" tanya Bryan ramah.
"Bryan ke sini sebentar!" teriak Maria dari belakang.
"Iya," balas Bryan. "Al, tolong layani dia ya? Ibu memanggil," katanya menepuk bahu Alena.
"Iya."
Alena datang ke sana, menghampiri pelanggan berwajah super tampan dengan ramah. "Anda menginginkan kue yang seperti apa? Biar saya bantu carikan," kata Alena sopan.
Ronald menatap tajam Alena, tiba-tiba saja darahnya berdesir hebat. Sial, jika dilihat dari dekat, Alena jauh lebih cantik dan menggoda. Ronald mengumpat dalam hati, menilai penampilan Alena yang tertutup namun tetap saja terlihat menggoda di matanya.
"Tuan?" panggil Alena sopan.
"Carikan kue yang paling mahal di sini," kata Ronald dingin.
"Ah, baik." Meski ada rasa tidak nyaman saat pria itu selalu memberi tatapan aneh, Alena berusaha acuh tak acuh. Lagi pula tidak ada sesuatu yang menarik darinya sehingga bisa menarik perhatian pria. "Ini dia kuenya," kata Alena menyodorkan kue yang baru saja ia pilihkan.
"Aku ingin membeli 200 buah. Kau bisa mengantarkannya ke rumahku?"
Alena tersenyum, sialnya senyum itu mampu membuat tubuh Ronald terbakar. Sial! Gairah sialan!
"Tentu. Silakan catat alamat Anda, dan teman saya akan—"
"No, you have to deliver," potong Ronald dingin. "Kau yang harus mengantarnya, bukan orang lain."
"Tapi itu bukan tugas saya," ujar Alena tidak enak hati.
"Apa kau akan melakukan perdebatan yang tidak penting seperti ini? Turuti atau toko ini akan rugi," ancam Ronald.
Alena tergagap. "Ah y-ya. Saya akan mengantarnya sendiri."
Ronald tersenyum—ah tidak, lebih tepatnya Leo. Pria itu tersenyum tipis.
__ADS_1
Hah, jebakan pertama sudah dilakukan.