Daun Jatuh

Daun Jatuh
Cerita sedih


__ADS_3

Kehidupan lika-likuku sebagai seorang bernama Daun. Nama yang cukup aneh, bahkan sangat aneh bukan lagi cukup. Buktinya, dulu saat aku SD seorang guru mengabsen namaku. Guru yang namanya Pak Aryo itu tertawa terbahak-bahak ketika pertama kali membaca namaku, aku yang masih kecil dan polos itu hanya menggaruk tengkuk sembari celingukan. Karena dalam seisi kelas hanya aku yang tidak tertawa dan sampai saat ini akan kuukir namanya sebagai Guru yang akan aku balas perlakuannya di masa depan. Karena, gara-gara Pak Aryo kehidupan SD-ku jadi tak tenang.


Tapi untungnya ada Rizho dia yang selalu bela-belain aku. Bukan karena suka tapi karena sama-sama kita berdua jadi bahan olok-olokkan, ya karena apalagi? Jelas karena nama kita yang tidak lazim.


Menginjak SMP aku mau balas dendam sama Pak Aryo karena nilaiku lebih bagus dari anaknya mau kupamerkan hasilku kepada guru yang mempermainkan aku dulu. Tapi saat aku pergi ke rumahnya, banyak notif masuk dalam ponselku, itu dari Rizho, Mama, dan grub kelas. Karena ponselku yang terus bergetar akhirnya kubuka dan glarrrr...


Rasanya ada petir yang menyambar di otakku. Pak Aryo dikabarkan meninggal, aku benar-benar shock dan langsung merasa sangat bersalah. Takutnya bagaimana jika Pak Aryo nanti menggentayangiku karena tahu niat burukku.


Setiap malam aku berdoa, berdoa dengan harapan agar Pak Aryo tenang di sana. Sungguh waktu itu adalah kejadian terkocak sekaligus menakutkan bagiku. Rasanya begitu kebetulan, jika dibayangkan sekarang memang ada sedikit humor dalam ceritaku dulu.


Dan sekarang jadilah aku Daun si rapuh, bukannya kebal selalu di perolok sejak kecil, tapi aku malah jadi anak penakut, pendiam, dan pendendam. Aku gampang banget nangis dan gampang emosi.


Di satu sisi Rizho menjadi orang yang super cuek, bukan sepertiku yang tidak punya teman, Rizho malah punya banyak teman dan penggemar. Ku rasa dia bisa membuat posisinya berbalik, ia tidak pernah dipermainkan seseorang sekarang, melainkan disegani.


Bagaimana caranya daun ini menjadi sekuat akar? Nama memang harapan orang tua agar anaknya bisa bermakna seperti namanya. Tapi kenapa Mamaku menamaiku Daun? Kenapa tidak sekalian Dynosaurus biar aku menjadi kuat? Protesku suatu ketika pada Mamaku.


"Nanti kamu jadi mati dong. Soalnya kan Dynosaurus sudah nggak ada"


"Apaan sih Ma, bilang mati ke anaknya. Kan bagus Ma, jadi Dynosaurus, aku nggak akan di injak-injak sama orang-orang." Rengekku pada Mama. Mama mendekat dan penuh kesabaran menasehatiku.


"Kalau gitu nanti kamu jadi orang jahat dong. Kamu Mama kasih nama Daun supaya bisa bermanfaat buat orang lain. Banyak lho manfaat daun bagi kehidupan."


Ya gini anaknya Dosen Biologi, apa-apa serba mahluk hidup. Memang daun banyak manfaatnya tapi nama itu tak berlaku kebaikan bagiku. Aku hanya mendesah kasar berlalu meninggalkan Mama yang masih menyeduh teh di ruang tengah. Ku buka pintu kamar kemudian kututup dan kukunci.


"Bosan." Desahku, pada setiap gerakan yang ku lakukan. Buka laptop, bingung tutup lagi. Buka ponsel tidak ada notif tutup lagi. Menyalakan televisi semua isinya cuma gosip. Hah sudahlah, tidur akan lebih baik.


***


"Daun mau balikan sama aku?" Suara lembut dari seorang laki-laki di belakangku. Perlahan aku menoleh memastikan apakah suara itu benar-benar suara dia?


Dan Bommm....

__ADS_1


Dia berdiri sembari membawa bunga mawar merah yang cantik. Rasanya kepalaku seperti dijatuhi bom teramat besar. Karena saat ini otak terasa kosong akibat ledakan itu.


"Hah?" Hanya kata itu yabg dapat terucap. Lakiaki yang baru saja Aku putuskan seminggu yang lalu semenjak penerimaan mahasiswa baru, memintaku balikan padanya. Yang benar saja? Laki-laki angkuh ini mengatakan hal yang menjatuhkan harga dirinya? Sungguh tidak mungkin.


Baru langkah pertama laki-laki itu mendekat padaku, sedikit hujan gerimis turun. Aku pun mendongak merasakan tetesan gerimis kecil. Kemudian hujan pun semakin lebat hingga pada titik aku seperti di guyur oleh se-gayung air es.


"Aaaa!!!"


"Mau sampai kapan bermimpi? Hari ini Papa pulang kita harus menjemputnya di Bandara." Jelas orang yang paling menyebalkan nomor satu di dunia, nanti kalian juga akan tahu siapa orang ini, saat ini aku terlalu malas untuk mengenang kemalangan hidupku jika bersama dengannya.


Tapi ada satu hal yang kusyukuri hari ini. Kejadian mengejutkan tadi untunglah hanya sebuah mimpi. Jika tidak, bisa kejang aku membayangkan keajaiban luar biasa ini.


***


"Lari dong. Kamu itu lelet banget sih." Gertak seorang yang tadi tidak kuceritakan karena malas, aku benci dia bahkan sangat-sangat membencinya. Dia selalu unggul dalam segala bidang, tidak heran jika dia selalu berani memperlakukanku seenaknya.


"Dari pagi bawel terus. Mama~" Rengekku meminta pertolongan.


"Sebenarnya apa sih masalahmu padaku?" Dengan dagu yang sedikitku angkat dan raut wajah kesal yang kutampilkan membuatnya hanya diam. Ia tidak menjawab, ia hanya langsung menyalakan mobil bergegas untuk ke Bandara. Dasar orang aneh pikirku saat ini.


Setibanya di Bandara kupeluk erat Papaku. Begitu juga dengan lainnya mereka semua melepas segala rindu, selama 2 tahun tidak bertemu. Rasanya Papaku kini terlihat lebih tua.


"Senangnya bisa melihat kedua anak perempuan Papa."


"Tidak. Hanya aku anak Papa satu-satunya." Kataku sembari memeluk Papa sampai ke mobil. Aku memang terlihat manja, mungkin orang yang melihatku akan kesal. Tapi aku hanya bisa seperti ini dengan keluargaku, dengan orang lain? Kalian akan lihat sendiri nanti.


"Papa dengar Anak Papa ini bisa masuk di Perguruan Tinggi terbaik ya." Goda Papaku.


"Tentu saja, bahkan nilaiku lebih baik dari nenek lampir yang sedang menyetir itu."


"Hei hanya satu nilai kau unggul dariku." Balasnya dengan nada tawa mengejek.

__ADS_1


"Lihat saja aku pasti akan mengalahmu kedepannya." Jawabku semangat, merasa tak terima selalu direndahkan. Kakak Iparku hanya membalas dengan gumaman.


"Kalian harus lebih akur nanti, karena akan tinggal satu kost."


"Apa?"


‌Aku terkejut, amat sangat terkejut. Lagi-lagi Mamaku mengambil keputusan tanpa membicarakannya terlebih dahulu padaku. Tapi anehnya Kakak Iparku tidak merasa terkejut akan itu, ya orang menyebalkannya itu adalah Kakak Iparku. Apa mungkin dia sudah tahu perihal ini semua?


"Kalian ada di Perguruan Tinggi yang sama, jadi jika tinggal satu kost kan enak." Ceramah Mamaku. Berkali-kali aku merengek tidak mau. Tapi tetap saja keputusan sudah bulat. Bahkan Mama sudah bertanya pada Ibu Kost perihal ini semua. Selalu saja hanya aku yang tidak diberi tahu.


Aku marah saat ini, rasanya sangat tidak adil. Sebenarnya siapa anaknya? Aku atau Kakak Iparku? Mama selalu saja terlihat lebih menyukainya. Kalau boleh jujur rasa benci ini timbul mungkin karena aku yang iri dengan Kakak Iparku. Sifatnya memang kasar seperti itu sejak dulu tapi waktu aku kecil aku malah senang diperlakukan seperti itu menurutku cara bicaranya berbeda dari yang lain dan aku menyukainya tapi semenjak tumbuh menjadi dewasa aku tidak suka padanya.


Aku iri dengan namanya, wajahnya, otaknya, cara bicaranya, semuanya. Setiap detail hidupnya seperti lebih indah. Dia bunga aku hanya daun. Bunga yang selalu tampak lebih menarik dari daun. Ratusan daun di pohon akan kalah dengan setangkai bunga saja. Iya namanya Bunga. Parasnya secantik bunga merekah. Otaknya jangan ditanya ia sudah bolak balik ke Luar Negeri untuk kompetisi. Bisa di katakan sempurna untuk seorang manusia.


Malam ini juga aku harus segera berangkat pindah ke Kost. Karena besok adalah hari pertama aku masuk perguruan tinggi. Kesal dan senang bercampur jadi satu. Dengan terpaksa aku setuju tinggal dengan Kak Bunga lantaran Papa yang memaksaku. Bahkan berjanji jika uang jajanku akan ditambah.


"Pa, Ma. Kita berangkat ya." Ucap Kak Bunga pada Om dan Tantenya. Ku tegaskan dia bukan orang tua Kak Bunga tapi orang tuaku.


"Daun hati-hati." Aku hanya melirik Mamaku sekilas dan langsung menghadap ke depan. Kak Bunga melajukan mobilnya dan di sinilah kita sekarang hanya berdua.


"Oh ya Kak, jika ketemu aku di Kampus jangan sapa aku Daun ya."


"Kenapa? Mau di panggil Batang?"


"Apaan sih. Panggil aku Anggi atau Gigi, terus Gita juga boleh pokoknya jangan nama depanku."


"Oke, Aku akan panggil kamu Angta." Jawabnya dengan wajah datar, menyebalkan. Apanya yang di panggil Angta, nama belankangku memang Anggita tapi seriusan aku bakal di panggil Angta? Aku hanya membiarkan pembicaraan itu. Terserah orang ini mau panggil aku apa, benar-benar bukan manusia karena tak bisa diajak kompromi.


"Rizho nggak hubungi Kamu?"


"Nggak usah dibahas, aku sudah lupa." Jawabku cepat, ketika Kak Bunga ingin mengatakan sebuah kata lagi, buru-buru kupotong perkataannya. "Diam aku ngantuk." Aku mengalihkan posisi berbalik memunggungi Kak Bunga, dan heninglah yang terjadi.

__ADS_1


Apa sih ngungkit-ngungkit si gila itu. Rasanya mood-ku semakin hancur saat nama keramat itu harus disebutkan.


__ADS_2