Daun Jatuh

Daun Jatuh
Bertemu Lagi


__ADS_3

"Aduh, capeknya." Tubuh letih yang saat ini memerlukan sandaran empuk. Terjunlah ke dalam kasur rumah baruku. Rumah kost yang lumayan nyaman, tempatnya sejuk dan masih asri. Ternyata Nenek Sihir itu pintar memilih tempat kost.


"Daun, ayo cari makan."


"Jangan panggil Aku Daun kalau di kota ini. Lagipula Aku tak lapar, mau tidur saja!" Teriakku yang kemudian menimbrungkan selimut hingga kepala. Terdengar suara mobil berlalu pasti si Nenek Sihir itu sudah keluar.


Gusar. Itu yang kurasakan saat ini. Berkali-kali perut ini meraung-raung meminta diisi. Kubuka selimutku dan berjalan keluar kamar. Tak kudapati Nenek Sihir itu sudah kembali. Kenapa bisa lama sekali? Bahkan ini sudah pukul 10 malam. Karena perut tak tahu waktu ini, membuat diriku mencari-cari makanan apa yang masih tersisa. Ternyata nihil bahkan stok mie instan pun tak ada.


Berjalan gontai kembali ke atas, niatnya mau mengambil jaket dan langsung keluar mencari warung terdekat tapi perasaan takut lebih besar. Di kota orang malam-malam pasti menakutkan. Dan akhirnya berguling-gulinglah di kasur jawabnya.


Setelah 15 menit terus saja berguling-guling ditambah dengan rengekan kelaparan akhirnya sebuah suara mobil berhenti terdengar. Buru-buru mata ini menyala dan langsung berlari, hanya mendengar suara mobil itu seketika baterai ditubuh langsung terisi.


"Kak bawa a... pa!" Awalnya senyuman sekarang kernyitan. Bukan makanan yang kudapat tapi sesosok astral yang tidak ingin kulihat. Aku berteriak diakhir kalimat menandakan keterkejutanku.


Untuk kedua kalinya kita bertatap di tempat asing ini. Kenapa dunia itu begitu sempit? Hingga tidak ada ruang untuk pergi jauh dari orang ini. Berlari jauh ke arah lain tetap saja berjumpa.


"Yuk masuk." Suara Kak Bunga yang memecah tatapan kami. Laki-laki itu mengangguk dan melangkah masuk melaluiku.


Satu persatu makanan dikeluarkan. Makanan yang seharusnya sangat lezat itu seketika berubah menjadi hambar. Ingin tidak makan saja dan meninggalkan dapur, tapi raungan perut ini semakin menjadi-jadi. Ternyata perut ini telah mengalahkan hawa nafsu.


Tiga orang duduk dengan menyantap makanan masing-masing. Aku yang sedari tadi hanya fokus makan, entah bagaimana keadaanku sekarang aku tak peduli. Mungkin wajahku dan tingkahku sangat jelek, tapi itu malah bagus jika orang di depanku ini merasa aku benar-benar jelek dan segera pergi.


Bumbu sate sampai ke pipi, lauk di atas piring berantakan, dan makan dengan lahapan besar. Lengkap sudah etika perempuan jorok, pasti sudah timbul rasa ilfeel di hati orang itu.


"Katanya tadi nggak lapar." Kata Kak Bunga karena melihat perilaku makanku yang seperti setahun tak pernah makan.


"Itu tadi, sekarang aku benar-benar lapar."


"Kamu nggak nanya kenapa Rizho bisa ada di sini?" Sebuah pembicaraan yang membuat hatiku langsung mencelos jatuh.


"Bodoamat." Kulangkahkan kakiku ke wastafel, mencuci tangan kemudian pergi menuju kamar dan menutupnya.


Guling dan bantal menjadi sasaran empuk bagiku saat ini, ku hantam satu-persatu gemas dengan orang yang langsung muncul sehari dua kali. Padahal harapanku tidak bertemu dengan si kunyuk itu. "Daun!!!" Teriakan dari luar. Pasti dari Kak Bunga, apa Rizho mau berpamitan? Jika iya kuurungkan niatku untuk turun dan lebih baik tidur.

__ADS_1


***


Pagi telah tiba. Rasanya satu hari pertama di sini sangatlah cepat, tak sabar rasanya bertemu dengan teman baru di kampus. Mari kita lupakan si Daun dan mulai mengenal Anggi.


Tak banyak keributan kali ini, Aku dan Kak Bunga damai-damai saja, hari ini tumben sekali nenek sihir itu tidak mengoceh panjang lebar, padahal kemarin Aku menghiraukan teriakannya. Tapi kenapa harus dipikirkan justru ini lebih baik untuk kesehatan telingaku.


"Nanti kamu naik angkot aja ya, Kakak nggak bisa jemput." Kata Kak Bunga yang memutuskannya secara sepihak. "Kenapa? Aku nggak mau naik angkot, bau." Kataku dengan serba-serbi rengekan.


"Kamu tu ya jangan manja. Pokoknya jangan naik taxi, harus hemat." Kata Kak Bunga sembari melajukan mobilnya. Aku hanya bisa meneriakinya tanpa dianggap. Kenapa sih nenek sihir itu selalu membuat masalah? Barusaja telingaku bersyukur, namun giliran darahku yang diuji rasanya darah sudah memuncak sampai ujung kepala.


Kulangkahkan kakiku dengan hentakan kasar, kesal karena sebuah kabar sial diawal pagi. Huft! Rasanya hari ini akan lebih buruk dari hari sebelumnya.


"Anggi!" Teriak seseorang dari arah belakang. Kutolehkan kepalaku untuk melihat seseorang yang memanggil namaku. Ku sapa orang itu dengan senyuman lebar, tanganku juga tak lupa untuk berpartisipasi.


"Kenapa ke arah situ, Kita kan harus berkumpul di Aula. Kemarin Kamu nggak kedengeran ya?" Jelas Savira saat jaraknya mulai mendekat ke arahku. Aku yang tidak tahu apa-apa ini merasa bingung, benar jika kemarin memang ada beberapa pengumuman tapi tak kudengarkan, lagi-lagi menjawab asal-asalan adalah jurus andalan.


"Aduh. Aku lupa banget, aku ini memang pelupa orangnya."


***


Tempat yang sangat ramai, ribuan orang berkumpul sesuai kelompok. Aula yang sangat luas ini serasa menjadi tempat yang sempit akibat banyaknya orang. Panas dan sumpek yang dirasa saat ini.


"Aku ke kelompokku dulu ya. Dimana kelompokmu?" Tanya Savira yang tampaknya sudah menemukan kumpulan kelompoknya.


"Aku sama Hani kok, pasti akan cepet ketemu soalnya Hani orangnya tinggi. Jadi Kamu pergi dulu aja." Ucapku enteng. Padahal aku sama sekali tidak tahu menahu tentang kelompokku, semoga saja keberuntungan sedang bersamaku dan Aku bisa bertemu kelompokku secepatnya.


"Haha benar, dia itu memang tower." Tawa receh Savira dan Aku pecah, akhirnya Kami berpisah. Aku melewati lautan orang dengan pengetahuan yang kecil. Terus berjalan menyusuri pinggir Aula tapi tetap saja Hani tak terlihat. Apa jangan-jangan kelompoknya ada di tengah-tengah Aula?


"Anda sedang kebingungan Nona?" Suara seseorang dari samping kananku. Mungkin salah satu dari panitia, kutolehkan kepalaku ke samping kanan dan melihat seseorang dengan tubuh tinggi berkemeja biru kotak-kotak. Wajahnya tampan, rambutnya hitam dan lurus, sangat rapi dengan kacamata yang bertengger di telinganya menambah kesan cerdas.


"Apa nama timmu? Biarku bantu mencarikan." Tawar orang itu dengan suara yang membuatku merasa terhipnotis. Lebih tepatnya aku sudah terhipnotis sejak awal, sejak awal menatap matanya. Tampan sekali.


"Halo?" Ia lambaikan tangannya pada wajahku yang membuatku tersadar dan malu sendiri. Dasar wanita murahan, hanya segitu saja langsung terhipnotis, rutukku pada diriku sendiri yang tidak bisa mengontrol diri.

__ADS_1


"A-aaku lupa." Jawabku sembari menggaruk puncak kepala yang tak gatal, hanya sebuah alibi yang sangat klasik. Anak kecil pun akan mengerti bahwa saat ini aku berbohong.


"Kalau begitu ayo ikut aku ke papan list kelompok. Oh ya sebelumnya kenalkan Aku Dimas Ananta, panggil aja Kak Dimas, kita beda angkatan satu tingkat." Oh ternyata ini Dimas? Aku hanya tahu wajahnya dari fotonya dan jika dari fotonya dia lebih sering mengepos foto yang gelap atau bahkan hanya menampakkan sebagian wajahnya. Dan dikenyataan dia sangat tampan, pantas saja jika Hani suka Kakak ini karena memang kuakui dia lebih tampan daripada Rizho. Eh kenapa aku sebut namanya? Bisa-bisa orang itu muncul nanti.


"Ah iya. Namaku D... Anggita Preswari, biasa dipanggil Anggi sih."


"Oh begitu, biasanya di list hanya akan ditulis nama panggilan sama nama jurusannya biar gampang." Jelas Kak Dimas dengan sopan dan cool. Memang mata Daun tidak pernah salah memilih laki-laki.


Kami berjalan berdua menuju papan list, sekitar 10 meter lagi Kita sampai namun seseorang dengan rambut ikalnya sudah berdiri menghadang jalan.


"Hai Kak, dia se-tim denganku." Suara itu, suara yang membuatku bersungut-sungut.


"Benarkah? Enak dong, sudah ketemu kelompok. Ya sudah Kamu bareng Dia aja." Kata Kak Dimas yang menimbulkan rasa kecewa dalam hatiku. Hiks, orang tampanku akan pergi. Tapi yang bisa kulakukan adalah mengangguk, hati ini rasanya sepat melihat orang menyebalkan ini tengah berdiri menghadapku. Tapi sebuah keganjalan muali kurasa. Tunggu Dia tadi bilang Aku sekelompok dengannya? What!!


"Ayo ikut aku." Dengan seenak jidatnya Dia menarik tanganku. "Tunggu-tunggu, Kau tadi bilang jika Aku sekelompok denganmu?" Dengan bisikan Aku menyuarakannya.


"Iya." Jawab Rizho santai. "Nggak mau!" Tolakku sembari menampik tangannya. "Aku nggak mau sekelompok denganmu."


"Kenapa? Takut jatuh cinta lagi padaku ya." Kepercayaan diri tingkat dewa, hatiku rasanya mencelos mendengar perkataan itu dari mulut Rizho si cowok tak tahu diri. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depan Daun yang sudah membenci Rizho.


"Hahahah, PD banget ya. Sorry, Aku nggak suka sama Kamu. Soalnya sudah ada orang yang Aku suka."


"Siapa? Dimas?" Jawab Rizho sangat jitu, kukibaskan rambut dan kusilangkan tanganku ke dada sembari berkata. "Emang penting ya Kamu tahu? Jangan-jangan Kamu yang masih suka sama Aku." Jawabku percaya diri dan melewatinya begitu saja.


"Kalau iya gimana?" Deg! Rasanya jantungku berhenti, apa-apaan? Dia kan sudah punya pacar, si kakak tingkatnya yang cantik jelita itu. Kubalikkan badanku dengan kerutan di kening. "Tuh, kan wajahmu merah. Fiks Kamu masih suka sama Aku." Damn! Aku kejebak sama si ular Rizho. Kutudingnya dengan satu jariku dan membuat peringatan.


"Kurang ajar, awas ya. Aku akan buktikan kalau Aku memang sudah nggak suka sama Kamu tapi Kamu yang akan suka sama Aku."


"Buktiin aja." Tantang Rizho dengan wajah yang tetap stay cool, yang bikin hati ini tambah dongkol. Aku berbalik dan berjalan membelakanginya.


"Hei! Emang Kamu tahu dimana kelompok kita sekarang!" Lagi dan lagi Aku menepuk jidatku. Rasa malu ditambah kesal menyelimutiku saat ini. Bagaimana orang ini bisa menjadi paket lengkap orang jahat? Huft, super menyebalkan.


Lihat saja suatu hari akan kubuat harinya hancur seperti dia menghancurkan hari-hariku

__ADS_1


__ADS_2