
"Hai namaku Jihan Herlina. Kalian bisa panggil Aku Kak Han biar gampang, Aku sebagai Kakak tingkat kalian yang akan memimpin kelompok ini."
Prok prok prok.....
Tepukan bergerumuh dari kelompokku. Kemudian semuanya memperkenalkan diri masing-masing dimulai dari Ari, Sella, Indah, Key, Johan, Rizho....
"Namaku Rizho Arzakan, bisa dipanggil Rizho. Keahlianku dibidang atletik." Perkenalan singkat dengan wajah datar tapi dapat tepuk tangan paling meriah. "Wah Kamu populer ya. Soalnya tepuk tangannya pada kenceng semua." Kata Kak Han dengan tawa khasnya yang lucu.
Kini giliran Hani dan terakhir Aku. "Hai namaku D... Anggita Preswari, bisa dipanggil Anggi. Keahlianku dibidang gambar. Senang bisa berkenalan dengan kalian." Rasanya lega sudah berkenalan, kini tinggal mengatur rencana tim.
"Ada yang mau mengusulkan nama tim?" Tanya Kak Han yang ditanggapi oleh Ari dan Johan, akhirnya kita telah menamai tim ini menjadi Zhoteam. Diambil dari nama Rizho si bocah populer, karena banyak yang setuju lebih baik Aku diam saja daripada memberontak.
"Baiklah kalau begitu Kita akan memasangkan perorangan yang pas mewakili lomba kelompok kita, jadi...."
"Kak." Suaraku memotong pembicaraan Kak Han yang sedang mengatur rencana. "Aku mau ke toilet sebentar ya."
"Mau Aku temenin?" Tawar Hani namun dengan halus kutolak. "Nggak usah, Aku bisa sendiri kok." Mendengar jawabanku Hani hanya mengangguk dan membiarkan Aku pergi bersama tasku.
Sebenarnya Aku ke toilet bukan karena ingin membuang air, tapi rasanya Aku tak betah ada di sana selain ada Rizho, suasana ramai benar-benar membuat kepala ku menjadi sedikit pening. Kududukkan diriku di bangku dekat toilet dan memejamkan mata. Menenangkan diri yang sedari tadi dibuat panas dan pusing.
Cessss...
"Au." Tanpa sengaja Aku berteriak. Sebuah benda dingin menempel di pipiku. Membuat tubuhku terperanjat dan membelalakan mata. "Katanya ke toilet kenapa malah duduk di sini." Kata Rizho, yang seakan muncul dalam mimpi buruk.
"Aku memang barusaja ke toilet hanya saja setelah itu duduk di sini." Entah kenapa sekarang otakku jadi bisa berpikir cepat untuk urusan berbohong.
"Wah sekarang Kau pandai berbohong ya."
"Kamu aja yang sok tahu soal Aku. Kamu itu nggak tahu apa-apa tentang Aku." Aku pun berdiri dan meninggalkan Rizho yang masih berdiri dengan dua kaleng di tangannya. "Namamu. Kenapa Kamu nggak mengatakannya dengan jujur." Tanyanya.
"Bukan urusan Kamu." Jawabku sembari membalikkan diri dan dengan sekejap mata Aku terkejut, Kakak kelas si cantik jelita berdiri tepat di hadapanku. Kak Dian dengan setelan warna merah jambunya tengah berdiri di hadapanku dengan berkacak pinggang.
"Lama tak jumpa." Sapanya. Ya iyalah lama orang sananya udah lulus duluan, basa basi jaman kapan itu? Dasar nenek-nenek. Batinku.
"Kak duluan, tuh udah ditunggu Rizho." Jawabku sembari memainkan daguku menunjuk keberadaan Rizho. Lalu kulangkahkan kaki menjauh dan tak tahu menahu kejadian selanjutnya tentang mereka, mungkin mau mojok dan pacaran. Sana-sana, dua orang perfect yang harus jauh dari seorang upil sepertiku.
__ADS_1
***
"Rizho." Kata Kak Dian pada Rizho yang masih membeku di tempatnya. Kak Dian menepuk lengan Rizho dan membuat Rizho mengelus lengannya sakit.
"Jangan terlalu sering melamun." Ucap Kak Dian dengan senyuman cerianya, Rizho pun membalasnya dengan senyum manisnya.
"Kak minum?" Tawar Rizho sembari memberikan sekaleng minuman. Diterimanya kaleng itu dengan senyum sumringah.
"Makasih." Kak Dian bergelayutan di lengan Rizho dan berjalan berdua melewati diriku yang saat ini bersembunyi di balik tembok.
Apa sih yang kulakukan? Kenapa Aku harus penasaran dengan dua orang itu? Sekarang tahu sendiri kan, kalau posisiku sangat jauh dari standar Kak Dian.
***
"Kenapa di toiletnya lama banget?" Tanya Hani yang melihat keterlambatanku, mungkin sudah sekitar setengah menitan aku meninggalkan kelompokku. "Hehe, tadi antri banget. Terus perutku juga sakit." Bohongku.
"Benarkah? Apa Kamu pulang saja?" Tampak wajah Hani yang khawatir, perasaan bersalah pun merasuki diriku. Tidak tega dengan wajah khawatir Hani yang ternyata sia-sia. "Tidak, tidak, Aku sudah baik-baik aja kok."
"Ayo semua anggota berkumpul. Semua sudah ada kan?" Tanya Kak Han kemudian mengabsen satu persatu pasukannya. "Rizho, dimana Dia?"
"Dian. Kamu kalau pacaran lihat waktu sama tempat dong. Mengacau saja." Marah Kak Han pada sifat Kak Dian yang tidak mencerminkan seorang panitia. Ayo Kak Han marahi saja Kak Dian, kalau bisa sekalian batu di sampingnya juga.
"Sudah pergi sana, ke kelompokmu." Kak Dian pun pergi dan membisikkan sesuatu pada Rizho. Seauatu yang tidak bisa didengar olehku.
"Baiklah, tim kita akan melawan tim Koko, mereka itu dari jurusan Farmasi sama Matematika jadi mereka pasti kurang jago olahraga. Tapi ingat jangan pernah meremehkan lawan walaupun mereka terlihat lemah." Kak Han menjelaskannya dengan penuh kewibawaan, kapan Aku bisa jadi se-percaya diri seperti Kak Han?
Tim Kami berseru dengan semangat. Semuanya sudah berada di posisi masing-masing. Aku yang notabenenya nggak jago olahraga cuma bisa menyumbangkan semangat dan suaraku. Aku, Sella, dan Key hanya berdiri di tepi garis bagian kanan. Kami dengan semangat yang membara berteriak sangat kencang berharap bahwa tim Kami menang dan melaju ke babak selanjutnya.
"Zhoteam, Zhoteam, Zhoteam..... Pasti menang." Begitulah seterusnya selama perlombaan berlangsung. Rasanya lapangan terbuka nan panas ini telah dihiraukan. Semangat dalam diri lebih panas dibandingkan panas surya, suasana ini adalah suasana yang baru bagiku.
Wajah semua orang berubah menjadi merah kehitaman, tinggal beberapa menit lagi perlombaan ini selesai, pertandingan kali ini adalah atletik bersusun yang memerlukan kecepatan dalam menyelesaikan berbagai misi. Mulai dari lari estafet, lompat kodok, guling depan, dsb. Pokoknya seru abis.
"Aduh panas banget ya. Tim Kita kurang satu misi tuh." Kata Sella sembari menyeka peluhnya yang sudah seperti air terjun. Itu karena tubuhnya yang memang sedikit gempal dibanding denganku ataupun Key.
"Iya, semoga Kita bisa menang karena jaraknya lumayan jauh." Jawabku dengan menularkan semangatku pada Sella dan Key yang mulai kelelahan.
__ADS_1
"Iya Kita pasti bisa. Kemenangan Kita ada ditangan Rizho, semoga dia bisa menangin lomba ini dengan telak." Tambah Key yang sudah bersemangat kembali. Aku pun dengan senyum yang ditanda kutip yaitu "dipaksakan" hanya mengangguk dengan mantap. Rizho, Rizho, Rizho, dia aja terus yang dapat pemeran utamanya, kenapa juga harus dia yang dapat tugas akhir? Tidak orang lain saja? Kalau sampai dia menang, sudah dipastikan dia akan semakin populer dan semakin sombong, huh!
Dan tentu saja, dia menang. Ini bidang Rizho (atletik), sudah tidak diragukan lagi untuk seorang atlet lari nasional tidak menang dalam lomba antar kampus.
Akhirnya tim Kami menang dan maju dalam babak selanjutnya. Semua timku senang, Aku? Tentu saja senang tapi ada secuil rasa tak suka, Aku tak tahu kenapa hatiku selalu saja merasa seperti ini setiap melihat Rizho dipuja-puja oleh banyak orang. Saat ini semua anggota tim sedang memuji aksi Rizho sejam yang lalu, terkecuali Aku dan Hani yang saat ini memilih duduk di kursi pojok ruangan.
"Cari minum yuk." Ajak Hani yang mendapat anggukan dariku. Baru beberapa langkah dari tempat Kami, berdirilah seseorang yang membuat mata Hani melotot keluar dari kelopaknya, sangking terkejut melihat penampakan yang ia rasa ini adalah mimpi.
"Hai, Anggi. Selamat ya tim Kamu menang." Kata orang itu yang tak lain adalah Kak Dimas. Aku menjabat tangannya yang sedang terulur, Hani hanya terus melongo melihat setiap adegan yang terjadi, kuucapkan terimakasih sebagai balasan akan ucapan selamat Kak Dimas.
"Oh ya Kak, kenalkan ini temanku. Namanya Hani." Kataku sembari menyikut Hani agar mengulurkan tangannya dan dijabatlah tangan Hani oleh Kak Dimas, akhirnya acara mencari minum berubah menjadi sebuah forum. Kami bertiga asyik membicarakan banyak hal, mulai dari urusan perkuliahan hingga tentang Band Kak Dimas.
"Kita akan datang ke penampilan Kak Dimas Minggu ini." Ucap Hani antusias yang mendapat jempol dari Kak Dimas. Kak Dimas memang orang yang super duper baik, dia nggak segan-segan berbincang dengan Kami yang notabenenya masih belum selevel dengannya.
Tidak seperti si Rizho itu, Rizho? Dimana dia sekarang? Apa perlu kutunjukkan padanya bahwa Daun telah berubah menjadi Anggi, Daun telah melakukan revolusinya.
"Anggi." Sebuah panggilan menyadarkan pikiranku, Kak Dimas memanggilku yang membuat Aku gelagapan bingung menjawab. "Melamun ya?" Tanya Kak Dimas. Ya ampun sumpah deh wajahnya imut banget. Bisa-bisa wajahku memerah jika ditatap lama oleh mata indah ini. Dengan cepat Aku menggoyangkan kedua tanganku.
"Tidak, hanya sedikit lelah saja." Jawabku seadanya, Aku tidak berbohong memang sekarang tubuhku rasanya lemas, walaupun memang ada setitik kebohongan di sana.
Beberapa menit kemudian ponsel Kak Dimas berdering, membuatnya terpaksa harus segera pergi. Kami melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Hani menatap kepergian Kak Dimas dengan mata kasmaran.
"Anggi, cubit pipiku sekarang." Kucubit pipi Han gemas, dia pun merintih kesakitan dan malah balik memukul bahuku. "Sakit tahu."
"Katanya tadi suruh cubit ya kucubit-lah." Kataku sembari ikut kesakitan karena bahuku yang dipukul. "Berarti kita berdua tidak sedang mimpi!" Han berteriak dan mengajakku berpelukan seperti teletubis yang kegirangan.
"Tidak sabarnya aku untuk pergi melihat penampilan Kak Dimas. Pasti dia bakal ganteng banget."
Aku mengangguk setuju akan pernyataan Hani. Konser pertamaku aku datang!
See you next chap.....
Tinggalkan like, vote, dan komentar untuk karya pertamaku ini. Mohon bimbingan dari para readers.
Terima kasih sudah membaca.
__ADS_1