Daun Jatuh

Daun Jatuh
Konser Gila!


__ADS_3

Aku bercermin pada sebuah cermin panjang di kamar. Berputar-putar melihat penampilanku dari ujung kepala hingga kaki. Setelan baju berwarna merah polos dan celana jeans yang kulipat dibagian ujungnya membuat penampilanku tampak santai tapi keren.


Aku meniru gaya ini setelah berjam-jam mencari referensi di internet tentang pakaian yang cocok untuk pergi ke sebuah konser. Dan kini tinggal mengikat ranbut selesai. Mungkin akan panas dan sumpek di sana maka dari itu, menggunakan style kuncir kuda adalah keputusan yang tepat.


Pertandingan kampus tinggal final dan itu dilaksanakan sekitar tiga hari lagi sebagai penutupan kegiatan pengenalan kampus, rasanya tak sabar menanti bagaimana belajar di perguruan tinggi. Yang kulakukan saat ini adalah berteriak dalam hati sangking bahagianya, dan hak baik lainnya beberapa hari ini ia jarang berinteraksi dengan Rizho, karena ia menjadi sangat sibuk dengan Kak Dian, itu lebih baik dibandingkan harua berurusan dengannya.


Drtt.. Drtt...


Getaran ponsel kurasakan di dalam tasku. Mungkin itu Hani yang sudah sampai di depan kosku untuk menjemputku. Dan yang benar saja tebakanku ini jitu.


Kulangkahkan kaki keluar, Kak Bunga sudah sampai terlebih dulu di ambang pintu. Tampaknya orang itu sedang berbicara dengan temanku. Sebuah pikiran terbesit di otakku, bagaimana jika Kak Bunga akan berteriak dan memanggilku dengan nama Daun? Jangan sampai si nenek sihir menghancurkan jalur indahku. Aku segera berlari sebelum suara menggelegar Kak Bunga menghancurkan segalanya.


"Hai! Oh Savira kamu ikut?" Kejutku karena Savira juga ikut ke konser Kak Dimas. Savira mengangguk antusias. "Kalian mau ke konser Dimas?" Kata Kak Bunga yang mendengar sedikit percakapan kami.


"Iya, apa Anggi belum cerita pada kakak?" Kak Bunga menatapku tajam, seperti ada sebuah kalimat tersirat. Bisa-bisanya pergi ke konser, akan kuporong jatah mingguanmu hari ini.


"Sudah yuk, kita berangkat saja. Takut nggak dapat tempat depan. Dah Kak!" Aku menarik kedua sahabatku begitu saja. Tidak ingin berhubungan rumit dengan Kak Bunga yang sudah dalam mode hemat.


Dipikirkan juga konser ini tidak begitu mahal, hanya biasa saja, lagipula jika uang sakuku habis aku akan telpon Papa atau Mama tinggal kirim kan? Kenapa harus berhemat. Aku duduk dibangku belakang sendirian.


"Kamu nggak akrab sama kakak kamu ya?" Hani yang sedang menyetir mengajakku berbicara karena sedari tadi aku sama sekali tidak nimbrung dalam obrolannya dengan Savira.


"Iya, dia itu terlalu banyak aturan." Dengusku kesal. "Setuju, Kskak perempuanku juga gitu kok. Enak Savira yang punya Kaka laki-laki, pasti nggak banyak cincong." Tambah Hani yang juga kesal dengan kakak perempuannya.


"Siapa bilang? Kau nggak pernah ketemu kakakku." Aku dan Han melongo bersamaan, Savira tetap memainkan ponselnya dengan wajah kesal. "Kalau nggak percaya nanti mampir saja ke rumahku. Kutunjukkan bagaimana kakak laki-lakiku perlahan membunuhku."


Aku dan Hani menelan ludah kasar. Apa semua orang kakak selalu bersifat kejam seperti ini?


Perbincangan tentang seorang kakak membuat tiga gadis yang beranjak dewasa itu tidak sadar sudah sampai pada tujuan. Mereka bertiga keluar dan melihat antrean panjang berjejer.


Ketiganya mendengus, padahal mereka sudah datang lebih awal tapi tetap saja ada orang lain yang lebih niat dibandingkan mereka. "Bisa-bisa kakiku putus kalau kau mengantre di sini, nongki aja yuk daripada nonton konser." Keluh Savira yang tidak sanggup melihat barisan manusia.

__ADS_1


"Nggak, kita sudah janji sama Kak Dimas. Ayolah." Aku berusaha meyakinkan Savira dan menariknya untuk berbaris segera berbaris.


Akhir pekan yang panas ditambah dengan banyak orang berdesakan membuat suasana amat pengap. Kalian bisa bayangkan banyaknya keringat yang bercucuran belum lagi kaki yang pegal karena terlalu lama berdiri.


"Aduh, aku sudah nggak kuat. Balik aja yuk." Savira menarik lenganku dan Hani bersamaan, kami akhirnya memutuskan untuk benar-benar pergi karena sudah tak sanggup menahan pengap. "Kalian mau kemana?" Suara orang terdengar samar, sepertinya mulut orang itu tertutup oleh sesuatu.


"Siapa?" Kami bertiga seperti telah janjian mengungkapkannya, sangat kompak dan bersamaan. Orang itu menurunkan sedikit maskernya barulah kami bertiga melongo melihatnya. "Kak Dimas?"


"Ssttt." Kak Dimas memberi isyarat agar kita tidak berisik, antisipasi fans Kak Dimas yang akan mengerubung jika ia tahu keberadaannya. "Sekarang kalian masuk bareng aku saja. Ayo."


Deg!!


Apa ini? Kak Dimas menarik tanganku. Rasanya sudah lama aku tak merasakan perasaan ini. Aku berjalan terlebih dahulu diikuti teman-temanku yang mengekor dari belakang. Kenapa harus aku? Saat ini entah bagaimana bentuk wajahku, mungkin rona merah telah memenuhinya.


Kami masuk lewat pintu vvip dengan ijin Kak Dimas. Tidak perlu mengantri kami masuk dengan mudahnya. Beginikah rasanya bahagia? Sangat menyenangkan.


"Aku harus mempersiapkan diri. Kalian masuk saja lewat pintu itu." Tunjuk Kak Dimas yang mendapat anggukan dari kami bertiga. Kak Dimaspun melayangkan senyum manisnya, astaga lubang dipipinya itu yang membuat siapa saja akan terpana. Sebelum berbalik ia masih sempat menepuk puncak kepalaku dan sekali lagi rona itu kembali mencuat.


"Imut banget kalau malu." Desis temanku yang tertawa kesetanan melihatku jadi bahan bully-an untuk saat ini. Tapi bully-an kali ini benar-benar menyenangkan.


***


Kak Dimas tampil dengan percaya diri, semua meneriaki namanya. Di konser ini kami menyanyi bersama, menari bersama, tertawa bersama, bahkan menangis bersama karena lagu yang menyentuh. Lagu terakhir yang dinyanyikan terdengar sangat halus dengan lirik yang menyayat hati. Tentang sebuah keyakinan yang dikhianati. Lagu itu ciptaan dari Kak Dimas, mungkin sebagian besar dari liriknya merupakan pengalaman hidupnya yang tertuang.


Aku menatapnya dengan ketulusan, meresapi segala kesedihan yang ia lantunkan dalam nyanyiannya. Setitik air menetes dari matanya, rasanya hati ini ikut sakit dikala melihatnya. Semua fans Kak Dimas juga ikut menangis, apalagi Hani sudah sesenggukan tiada henti.


"Mau naik ke atas?" Suara ini? Aku menolehkan kepalaku ketika pandanganku beralih sejenak pada Hani. Kini aku menatap matanya, mata yang berbinar di bawah sorotan lampu berwarna-warni.


"Ha?" Aku memiringkan kepalaku masih bingung akan uluran tangan yang diberikannya. "Mau menyanyi bersamaku?" Ajaknya lagi. Semua orang bersorak memintaku untuk maju.


Maju, maju, maju.

__ADS_1


Kata itu yang terus terdengar digendang telingaku. Aku pun meraih tangan itu dan naik ke atas panggung. Aku terlihat kikuk ketika melihat banyak orang yang melihat Kami, benar Kami, Aku dan Kak Dimas.


***


"Sumpah deh Anggi, kayaknya Kak Dimas suka sama kamu." Kata Hani sembari menyetir menuju rumahku. Hanya kita berdua karena Savira sudah hilang diculik pacarnya.


"Jangan mengada-ada." Tegasku pada Hani. Memang terasa aneh jika Kak Dimas langsung dekat denganku. Kami barusaja saling mengenal, hanya sebuah pertemuan yang tak disengaja. Pertemuan yang tak pernah diduga.


Saat aku menyanyi bersamanya tadi, matanya tak henti menghujam ke arahku. Aku tidak bisa mengartikan tatapan itu, bukan tatapan suka, bukan tatapan yang hanya sekadar mempermainkan, tapi tatapan yang hanya Kak Dimas tahu maksutnya.


Aku turun dari mobil Hani, kami saling melambaikan tangan. Acara untuk nongki juga gagal karena make-up Hani yang luntur selain itu Savira juga sudah menghilang. Aku masuk dan membuka pintu rumah, terlihat Kak Bunga yang asik dengan cemilannya di depan televisi.


"Seru konsernya?" Sahutnya ketika melihat aku melaluinya begitu saja. "Malas cerita aku capek mau tidur."


"Nggak akan ada uang jajan untukmu selama seminggu ini." Sudah dibilang malas bicara tapi orang ini terus saja menyulut sebuah pertengkaran. Kenapa dia selalu seenaknya saja? Aku berbalik dan membalas kata-katanya dengan penuh kekesalan.


"Kamu itu siapa? Nggak usah atur hidup aku. Itu uang mama dan papaku. Kalau habis aku juga bisa minta lagi, kamu pikir aku minta uangnya ke kamu!"


"Mikir sedikitlah, memangnya cari uang gampang? Mau hambur-hamburin buat sesuatu yang nggak berguna. Setidaknya kamu bantu ma...."


"Cukup ya Kak! Kakak itu bukan kakak kandung aku. Dan kutegaskan lagi jika mereka itu orang tuaku bukan orang tua kakak. Kakak itu cuma orang asing!" Aku berteriak menambahkan nada penekan dalam setiap kata yang kuucap.


Napas Kak Bunga naik turun memperlihatkan bahwa dirinya sedang marah. Kak Bunga berbalik dan berjalan menuju kamarnya mengunci pintu. Mataku mulai panas, aku kesal pada diriku yang selalu saja merasa bersalah ketika kulampiaskan segala amarahku.


Anggi, kamu nggak salah. Setidaknya hati lega jika kamu marah padanya.


Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri, entah aku ini baik atau jahat. Kata baik tak pantas untukku tapi kata jahat juga berlebihan untukku. Mungkin diantara baik dan jahat.


Bukan seorang tokoh utama yang selalu baik, bukan juga seorang antagonis. Dalam hidupku aku hanya akan menjadi seorang tokoh figuran yang sifatnya tak menentu setiap waktunya.


Benar, tokoh figuran memang cocok untuk hidupku.

__ADS_1


__ADS_2