Daun Jatuh

Daun Jatuh
Langkah awal


__ADS_3

"Lemari ini di bagi dua. Sebelah kanan milikku dan sebelah kiri milikmu."


Itu adalah satu kalimat yang Kak Bunga jelaskan. Ia menjelaskan setiap detail dalam Kostnya. Memberitahu Aku ini dan itu, melarangku ini dan itu, pokoknya serba-serbi peraturan telah ia jelaskan dari ujung pintu masuk sampai halaman belakang. Dan reaksiku hanya anggukan.


Ini baru sehari aku sampai di kost ini dan langsung mendapatkan banyak sekali ocehan dan aturan, lantas bagaimana hidupku 4 tahun mendatang?


"Tidur cepat besok Kamu perlu bangun awal."


"Baiklah, aku akan tidur dulu." Baru saja Aku duduk tiba-tiba saja bokongku sudah di dorong dan jatuh ke lantai, Aku merintih kesakitan, apa maksut Nenek Lampir ini?


"Kau tidak mendengarkanku ya. Di situ tempatku tidur, Kamu yang di sana." Tunjuknya pada sebuah kasur yang masih di gulung.


"Segitu teganya ya sama Aku."


"Iya" Jawab Kak Bunga tegas, sembari mendorongku untuk menggelar kasurnya. Benar-benar Kakak yang jahat. Menyesal aku pernah mengidolakannya, di luar memang baik tapi aslinya sungguh tak berperasaan.


***


Pagi telah tiba. Baru pukul 6 tepat sudah banyak para mahasiswa baru berjejer untuk absen. Aku Hari ini sangat bersemangat. Di sini aku telah bertekad bahwa Aku akan merubah hidupku. Kehidupan yang akan membuatku berbeda 180 derajat. Baiklah keberuntungan ayo datang padaku. Mari kita mulai Anggi.


...


"Panas sekali." Kukipaskan tanganku agar setidaknya angin tercipta. Sudah jam 12 siang tapi kenapa tetap saja aku belum menemukan teman? Apakah semua orang di sini tahu jika namaku Daun? Tapi itu tidak mungkin. Kenapa tidak ada seorang pun yang mendekat ke arahku. Aku hanya duduk sendiri sembari terus mengipasi diri.


Namun sebuah kesialan tiba-tiba terjadi, ada seseorang melempari aku kertas. Apakah harus langsung di hari pertama aku di-bully? Apa wajah ini sangat menyedihkan hingga ada orang yang ingin mem-bully-ku secepat ini?


Kuambil kertas itu, dan ku buka apa yang ada di dalamnya. Terdapat sebuah tulisan di sana secara otomatis otak dan mata ini membaca.


"Jika kamu tidak mendekat. Kamu akan terus saja tidak punya teman. Bodoh." Aku mengernyitkan dahi, celingukan mencari wajah-wajah yang sekiranya mencurigakan. Dia memberiku sebuah saran tapi berakhir dengan mengejekku. Tapi mungkin surat ini benar.

__ADS_1


Aku mulai berdiri dan berjalan mendekat ke sekumpulan gadis-gadis, dengan suara pelan aku menyapa. "Ha.... Hai." Kenapa harus gagap, batinku kesal.


"Hai, Maba ya? Jurusan apa?" Sahut seorang di sana. Rasanya hatiku melongo. Akhirnya-akhirnya aku bisa berbincang dengan orang lain.


"Iya, dari jurusan Kimia." Jawabku


"Wah sama. Ayo sini kumpul." Ajak salah satu dari mereka. Gadis ini sangat cantik dan ramah, seketika dia langsung menjadi idolaku. Aku dapat berbaur dengan mereka, banyak kesesuaian dalam hobi, lagu, dan pemikiran. Kupikir ini adalah awal yang baik. Sebelum kaki panjang melangkah membuat semuanya terpusat padanya yang berjalan tegak di tengah.


Perlahan wajahnya terlihat, rambut hitam legam yang tipis di bagian atas telinga, bulu mata yang hitam dan lentik, dan bibirnya yang merah alami. Pria itu berhenti di sampingku. Menoleh dan menunjukkan tatapan datar.


Aku hanya mengernyit, saat ini apa yang orang ini akan lakukan? Beberapa detik telah berlalu, ia melangkah pergi meninggalkan keryitanku yang tak berarti. Aku membuang napas kasar dan berbalik menuju kerumunan.


"Lihatkan dia tadi menatapku."


"Iya benar dia tadi menatapmu."


"Anggi, kenapa diam saja? Kamu nggak kenal sama cowok tadi ya?" Aku yang memang sedari tadi hanya diam terkejut mendapat colekan dari teman pertamaku "Savira" dengan cepat aku menggeleng, mengartikan bahwa aku tidak tahu siapa Rizho itu. Lebih baik pura-pura tidak tahu saja. Toh dia tidak satu jurusan jadi kemungkinan bertemunya mungkin akan sedikit. Mungkin.


"Wah kamu itu nggak update, ya. Jelas-jelas dia itu terkenal banget dikalangan cewek." Jelas Savira semakin menggebu-gebu, kupikir jika kugelengkan kepalaku dia akan menghentikan pembicaraan ini dan akan mengatakan "Oh", justru pembicaraan ini semakin mengarah ke dalam dan semakin mengakar.


"Dia itu follower-nya ada banyak banget dan mayoritas itu cewek. Follow dia gih, biar kamu tahu siapa dia."


"Aku nggak tertarik sama cowok kayak gitu."


"Kamu suka cowok pendiam ya. Nggak asik." Jleb, rasanya kata-kata itu membuatku tertendang keluar dari kumpulan itu. Aku yang tidak punya pengalaman berteman merasa gelagapan, aku tidak ingin ditinggalkan hanya karena aku tidak setipe dengan mereka buru-buru aku menyeka pembicaraan-nya, dan menunjukkan isi ponselku.


"Tidak. Bukan begitu maksutku, Aku lebih suka yang seperti ini."


"Oh, Kak Dimas. Kalau gitu Kamu setipe sama Hani dong. Hani ada yang setipe sama kamu nih." Savira berteriak sembari melambaikan tangannya pada pemilik nama Hani. Yang merasa dipanggil pun mendekat dengan senyum lebarnya. Gadis berkacamata berambut pendek dengan kulit putih yang cantik.

__ADS_1


"Dia tipenya kayak Kamu Kak Dimas."


"Wah akhirnya Aku ada temannya. Salam kenal ya Hani." Uluran tangan diberikan kubalas dengan senyum yang tentunya sebagai penambah.


"Anggi." Dengan sekejap Kami menjadi teman. Ternyata seperti ini punya teman? Tertawa dan berbagi cerita. Mencari teman tidak sesulit yang kubayangkan, hanya tinggal setipe saja pasti langsung akrab.


"Kak Dimas akan ada konser Minggu ini mau datang bareng?" Suara Hani memecah pikiranku, Aku dengan semangat mengangguk. Kurasa tak buruk untuk mempererat pertemanan.


***


Acara pertemanan telah usai, kini semua berkumpul di Aula Kampus yang super besar. Hanya dalam sehari Aku sudah mendapat banyak teman karena bantuan Savira dan Hani. Rasanya kehidupan perkuliahanku akan jauh jauh jauh lebih baik dari kehidupan sekolah. Senyum terus terukir hingga sebuah kaki jenjang menaiki panggung.


Paras dan tubuh yang cantik. Kak Dian. Semua orang pasti tahu dia, sepertinya ia dilahirkan di dunia memang untuk terkenal. Dari kecil dia sudah dikenal dan dikejar-kejar karena kecantikannya. Perempuan cantik dan populer yang mencintai Rizho. Sungguh Couple Goals.


"Selamat Siang semuanya~" Teriak Kak Dian yang mendapat sambutan meriah dari para Mahasiswa Baru. Terutama dari Kaum Adam yang berteriak layaknya zombie kelaparan, sangat membabi buta. "Kali ini kita akan melakukan pengenalan kampus yang berbeda dari tahun lalu. Tahun ini kita akan melakukan yang namanya kolaborasi antar jurusan......."


Kalimat panjang lebar terus diucapkan, rasanya malas mendengarkan. Bukan benci Kak Dian karena ia berpacaran dengan Rizho saat ini, tapi hanya rasa tidak suka saja tanpa sebab. Kupasangkan headset pada telingaku, tidak peduli dengan penjelasan-penjelasan itu. Setelah dua lagu berputar semua orang bertepuk tangan dan aku pun hanya mengikuti. Hani cepat-cepat menggandeng tanganku dan menarikku ke tepi ruangan.


"Yah kita sekelompok sama jurusannya Rizho bukan Kak Dimas, malahan Savira yang sekelompok sama Kak Dimas." Hanya gerakan mulut yang terbaca. Aku tidak mendengar ucapan Hani karena sedang mendengarkan lagu dan Aku juga tidak ingin Hani tahu bahwa sedari tadi aku tidak mendengarkan itu. Akhirnya kujawab saja dengan asal-asalan. Terlihat dari gerakan mulutnya sepertinya Hani merasa kecewa dan jawaban dari kecewa adalah meyakinkan bahwa yang membuatnya kecewa itu belum tentu buruk.


"Sudahalah tidak apa-apa. Kita pasti bisa."


"Bisa apanya?" Kali ini gerakan mulut Hani terbaca oleh otakku, dan Aku pun dengan percaya diri memegang pundaknya dan berseru.


"Bisa menang dan membuktikan bahwa kita baik dimata orang-orang."


"Jadi maksutmu Kamu mau cari perhatian Kak Dimas dengan tim Kita menang dan ia akan mengaguminya?" Kalimat yang terlalu panjang untuk dimengerti tapi senyuman Hani sudah cukup jelas bahwa sekarang ia tidak kecewa. Aku pun mengangguk mantap dan mengacungkan dua jempolku padanya. Ia terlihat kegirangan dan memelukku, senangnya bisa membuat teman tertawa.


Semoga saja yang kulakukan ini adalah sesuatu yang benar dan bukan malapetaka bagi hidupku di Kampus.

__ADS_1


__ADS_2