De Stroom

De Stroom
Episode 1 : I'm Okay!


__ADS_3

Jaehyun POV


Setelah apa yang aku katakan tempo hari padanya, rasanya aku baru menyadari jika hari-hariku mulai terasa begitu, hampa. Aku tidak lagi merasakan semangat saat menunggu hari dimana aku akan pulang dan menemui kekasihku. Park Haewon. Wanita yang sudah menjaga hatinya untukku saat kami terpisah jarak dan waktu. Meskipun aku sama sekali tidak pernah menduakan cintanya, aku masih tetaplah pria yang brengsek dimata orang lain. Terutama dimata wanita itu. Dan aku tidak menyangkalnya.


Aku menatap layar ponselku. Layarnya masih sama tepat seperti empat tahun yang lalu, dengan latar foto diriku bersama dirinya tengah berdiri di hamparan pasir putih yang berhadapan dengan luasnya laut biru. Saat itu, hari dimana kami menghabiskan waktu bersama seharian. Dari pagi sampai malam. Sebelum akhirnya aku harus pergi ke luar negri dan melanjutkan study kedokteran disana.


Dan aku masih ingat dengan jelas. Bagaimana ia mati-matian menahan tangisnya saat mengantarkanku di bandara Internasional Incheon. Dia berdiri sambil melambaikan tangannya, dengan sebuah senyuman yang dapat aku lihat adalah senyuman yang ia torehkan secara terpaksa. Haewon tidak bisa berbohong terutama ada sangkut pautnya dengan perasaan.


Meskipun tidak dapat aku pungkiri kalau dia menangis setelah aku benar-benar pergi.


"Jaehyun-ah."


Manik mataku teralih dan melihat salah satu rekan kerjaku di sebuah rumah sakit di Amerika, Lee Taeyong. Yang kebetulan adalah orang Korea dan ia juga sedang cuti untuk pulang ke kampung halaman.


"Wae? Apa kamu merindukan Jeslyn?" Ucapku berniat menggodanya. Namun ia tidak terpengaruh sama sekali. Ia lebih memilih duduk di sampingku dengan wajah cemberutnya.


"Aku hanya sedang tidak enak hati, dan merasa kosong." Aku terus menatapnya sambil menunggu apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.


"Entahlah. Apa menurutmu hubungan jarak jauh itu menyulitkan?"


Entah mengapa, pertanyaan dari Taeyong itu sedikit membuat hatiku ngilu dan teriris. Mengingat, baru saja aku memutuskan hubunganku dengan Haewon tempo hari. Dan itu membuat aku secara tidak sengaja tersudutkan dengan pertanyaan dari Taeyong. Jika aku jawab, pasti diriku yang malah berakhir dengan curhatan panjang.


"Aku sudah melakukan hal itu selama empat tahun lebih." ucapku, membuat Taeyong tertarik dengan ucapanku selanjutnya.


"Dengan Haewon? Gadis yang ada di latar belakang ponselmu?"


Aku mengangguk, membenarkan ucapannya. "Dan aku baru saja putus dengannya tempo hari."


"Apa!? Bukannya kamu pulang adalah untuk menemuinya dan melepas rindu pada gadismu?" Taeyong nampak begitu terkejut.


Taeyong benar. Alasanku pulang ke Korea adalah untuk menemuinya dan melepas segala rindu yang selama ini terbenam dan tak dapat dilampiaskan. Aku sama sekali tidak sempat mengirimnya pesan singkat atau surat. Menjadi seorang dokter seperti sekarang adalah hal yang sulit. Jadwal praktek dan belajar yang sungguh padat membuatku hampir tidak makan selama tiga hari. Perbedaan waktu jelas membuat kami lebih sulit untuk melakukan komunikasi.


"Iya tapi, aku tidak mau menyakitinya lebih jauh. Aku masih harus bekerja di Amerika dan kembali berhubungan jarak jauh dengan Haewon. Dan jujur, aku tidak bisa. Bukannya aku sudah tidak mencintainya lagi, aku sangat mencintai Haewon. Tapi, aku juga tidak boleh egois dengan diri sendiri. Ia berhak bahagia dan ia berhak mendapatkan kebahagiaannya, meskipun bukan aku sebagai alasannya untuk bahagia."


Taeyong terlihat sedikit speechlees dengan apa yang aku ucapkan. Ia menjadi saksi bagaimana aku uring-uringan saat begitu merindukan sosok Haewon. Dan ia adalah tempat dimana aku meletakan kekesalanku karena lamanya study yang aku jalani.


"Keundae, aku tidak mengerti dengan dirimu. Kamu selalu memarahiku saat kamu merindukan Haewon. Tapi saat kamu bertemu dengannya, kalian malah putus? Lelucon macam apa ini?"


Entah, akupun tidak tau lelucon apa yang aku buat saat ini. Yang pasti, aku merasa benar-benar menyesal telah memutuskan untuk pergi dari Haewon. Dari wanita yang begitu tulus dengan perasaannya yang aku hancurkan begitu saja.


"Jeslyn tidak akan mengalami hal yang serupa seperti Haewon bukan?"

__ADS_1


Taeyong mengangguk mantap. "Sure, Jeslyn dan aku harus sampai pada jenjang yang lebih lagi. Aku tidak boleh khawatir tentang hubungan jarak jauh. Lagipula, kami hanya terpisah selama beberapa hari saja. Lusa kita akan kembali ke Amerika dan aku akan bertemu dengannya. Ya ampun, aku jadi mengerti bagaimana perasaanmu dulu."


Aku tersenyum. Melihat bagaimana Taeyong dengan semangatnya mencoba menelpon Jeslyn dengan fitur Video Call di ponselnya.


Dan aku, kembali menatap foto demi foto saat bersama dengan Haewon dulu. Sakit rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak bisa terus menerus memaksa gadis itu untuk tetap bersama denganku dan harus tersiksa dengan hubungan jarak jauh ini.


Cklek..


Pintu kamarku terbuka dan wajah adik laki-lakiku menyembul dari balik sana.


"Kak Jae, ada Kak Chanyeol."


Oke, sekarang kita lihat bagaimana Chanyeol akan berkicau setelah tau kalau aku dan Haewon berakhir.


***


Haewon POV


"Apa!?"


Aku benar-benar salah bicara pada Kakakku, Park Chanyeol. Ia marah besar sekarang. Dan aku tidak bisa melakukan apa-apa selain memohon agar dirinya tidak pergi ke rumah Jaehyun. Ayolah, aku sudah dewasa dan Kak Chanyeol tidak perlu melakukan hal seperti itu.


"Kak, sungguh aku baik-baik saja. Tidak usah bilang apa-apa pada Kak Jaehyun."


"Kalau aku tanya pada mata sembabmu itu apa mereka akan bilang baik-baik saja?" ya ampun, sejelas itukan mata sembabku terlihat?


Kak Chanyeol itu sungguh keras kepala sekali. Aku tidak mau hubungan pertemanan mereka menjadi hancur gara-gara diriku yang tidak tau malu ini. Lagi pula, aku tidak mau image ku ini hancur. Seolah aku mengadu pada Kak Chanyeol untuk melabrak Kak Jaehyun. Dan bukan karena aku adik Kak Chanyeol maka aku berhak melakukan apapun terhadap Kak Jaehyun.


"Tidak, sungguh. Kak Jaehyun tidak menyakitiku. Ini atas dasar kesepakatan kami berdua." aku tau itu semua adalah bohong. Aku tidak pernah sepakat dengan akhir dari hubungan ini. Aku memang merasa terpaksa harus mengakhiri semua ini.


"Jangan berlaga kuat, Haewon."


Ya ampun, ada apa dengan Kak Chanyeol ini. Aku tidak punya ide lagi untuk menahannya pergi ke rumah Kak Jaehyun. Ngomong-ngomomg soal berlaga so kuat, aku memang berlaga so kuat dihadapannya dan mungkin hal itu gagal. Aktingku terlalu buruk sampai Kak Chanyeol mengetahuinya.


"Kamu mau ikut atau tetap di sini?" tanyanya, tentu saja di sini. Aku tidak mau melihat Kak Jaehyun lagi untuk beberapa waktu kedepan. Aku harus menata hati dan menguatkan pondasi sebelum bertemunya lagi.


"Bagus, tunggu di sini dan pantau terus ponselmu." Tunggu, kenapa aku harus memantau ponselku?


Apa? Aku bahkan tidak menjawab pertanyaannya sedikitpun dan ia mengatakan hal seperti itu? Ya ampun, sebenarnya siapa dia?


"Jangan seperti anak kecil, Kak. Kakak lebih baik pergi ke kamar. Memanjakan dirimu dengan merawat diri dengan produk skincare yang aku rekomendasikan kemarin. Bulan depan Kakak mau menikah dengan Kak Sojin."

__ADS_1


Namun sepertinya Kak Chanyeol tidak peduli dengan apa yang aku katakan. Pria itu memilih untuk mengambil jaket dan kunci motornya, setelah itu menghilang dari pandanganku begitu saja. Benar-benar keras kepala, dan aku tidak dapat melakukan apapun lagi saat ini. Aku hanya mendengar deru mesin motornya dari dalam rumah.


Sial, Kak Chanyeol benar-benar akan pergi ke rumah Kak Jaehyun.


Ya ampun, bagaimana jadinya jika hal ini akan membuat Kak Chanyeol dan Kak Jaehyun jadi bermusuhan atau bertengkar? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Lantas aku juga mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamarku dan segera menuruni anak tangga rumah.


"Hey, Park Haewon." Panggil Mark yang baru saja berpapasan denganku di ruang tamu. Untuk apa pria itu di sini malam-malam begini? Meminta cemilan? Menumpang ke kamar mandi? Atau bagaimana?


"Aku tidak punya waktu untuk meladenimu, Mark." ucapku sambil mengenakan sepatu dan jaket. Namun dia berjongkok di hadapanku. Mensejajarkan tubuhnya denganku yang tengah berjongkok juga sambil memakai sepatu.


"Mau kemana memangnya? Aku barusan lihat Kak Chanyeol keluar dari sini. Dan kamu juga mau mengikutinya? Kalian ini kenapa sih? Memangnya sedang ada acara apa?" Tanyanya. Sungguh, aku tidak punya waktu banyak untuk meladeni ocehan Mark yang kadang tidak berguna itu.


Oh ya, untuk kalian ketahui saja. Mark itu tetanggaku yang sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Dia seumuran denganku dan kami berada di Universitas yang sama. Hanya berbeda jurusan saja. Dan kami sangat dekat, sejak kecil. Makanya pria itu sering mondar-mandir di dalam rumah kami. Dan orang tua kami? Mereka malah memperlakukan Mark seolah ia adalah anak kesayangan mereka. Gila, aku pernah merengek saat kecil karena Mark diberi coklat oleh ibuku sedangkan aku tidak diberi sama sekali. Jadi sebenarnya siapa yang menjadi anak disini?


"Ayolah Mark, aku sungguh sudah kehabisan waktu." Begitu aku hendak berdiri dan meninggalkan Mark, pria itu menahan lenganku dan membuat aku kembali mendapat perhatiannya.


"Kamu mau kemana malam-malam begini? Tidak ada kendaraan sekarang. Ayo, aku antar." Ucapnya. Detik itu juga aku terdiam. Tidak biasanya, Mark tidak pernah memberikan tumpangan padaku secara cuma-cuma.


"Kenapa masih diam?"


Aku tersadar dari lamunanku dan dari rasa heran pada Mark. Pria itu berjalan di hadapanku dan aku mengekor di belakangnya. Aku menunggunya di depan gerbang rumah sementara ia mengambil jaket dan motornya. Ya ampun, aku heran dengan anak ini. Mengapa ia tiba-tiba baik seperti ini sih? Biasanya ia akan sulit untuk dimintai tumpangan dan memintaku untuk memasakkan sesuatu untuknya. Untuk kalian tau saja, aku sangat pandai memasak loh. Padahal, aku mengambil jurusan di dunia Fashion. Nampaknya tanganku ini sangat berfungsu dengan baik.


"Ini, pakai helmnya." Aku memakai helm yang ia sodorkan padaku. Dan menaiki jok motornya yang kosong dibagian belakang. Aku mencengkram erat jaketnya untuk pegangan. Sekaligus jaga-jaga jika nanti Mark tiba-tiba melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Mark itu, suka sekali ngebut. Dan aku suka sekali mencubitnya.


"Kamu belum bilang mau kemana." Oh ya aku lupa. Pantas saja motornya tidak melaju dari tadi dan hampir membuatku kesal.


"Rumah Kak Jaehyun. Kamu masih ingat?" Tanyaku. Mark sedikit menolehkan kepalanya kebelakang seperti orang terkejut pada umumnya.


"Memangnya Kak Jaehyun ada di Korea? Bukannya dia di Amerika? Untuk apa kamu kesana?" Tanyanya. Ya ampun, ingin sekali aku menyumpal mulutnya itu dengan tissu. Banyak sekali bertanya.


"Mark jalan saja! Aku kehabisan waktu." Protesku.


"Kamu mau lima menit sampai atau lima belas menit sampai?" Dia bertanya lagi. Dan aku benar-benar sudah kehabisan waktu.


"Lima menit."


Mark terlihat menutup kaca helm miliknya dan mulai menghidupkan mesin motornya.


"Tutup kaca helmnya, dan jangan lupa pegangan yang erat."


Apa?

__ADS_1


Belum sempat aku menutup kaca helmnya, Mark sudah melajukan motornya dengan kecepatan yang sungguh gila. Ya ampun sumpah aku mencengkram erat jaket yang ia kenakan sambil memejamkan mata. Mark benar-benar gila. Ia melajukan motornya sangat cepat dan menyalip beberapa mobil besar dan kecil dengan lihai. Meskipun aku tau Mark itu sangan profesional, namun tetap saja aku takut dan ingin sekali menjambak rambut Mark agar motor ini berhenti. Ya tuhan, tolong aku. Aku tidak mau mati muda.


-To Be Continue-


__ADS_2