
Jaehyun POV
Aku memasukkan beberapa barangku ke dalam koper. Hari ini aku akan berangkat ke Amerika dan melakukan rutinitas seperti biasanya di sana sebagai seorang dokter. Cuti selama lima hari mampu mengobati rinduku pada keluargaku. Dan juga Haewon. Jujur, aku masih merindukan gadis itu dan enggan kembali ke Amerika. Pertemuan kami berakhir dengan sebuah perpisahan.
"Jae, aku lihat rumahmu ini punya kolam berenang dan lapangan basket di halaman belakang." Taeyong sepertinya baru saja dari halaman belakang. Aku dan adikku memang senang berolahraga. Terutama basket dan berenang. Aku bisa membuat tubuhku kembali rileks setelah stres menjalani hari-hariku yang berat.
"Ngomong-ngomong, pria yang kemarin malam menemuimu itu, apa dia kakaknya Haewon?"
Entah mengapa Taeyong menanyakan hal seperti ini. Aku hanya mengangguk dan menanyakan ada apa padanya. Dan Taeyong bilang kalau dia pernah melihat pria itu. Tapi entah dimana. Mungkin hanya kebetulan atau orang yang mirip saja.
"Ya sudah jangan dipikirkan. Ayo cepat kemasi barang-barangmu, kita harus segera ke bandara."
Taeyong terlihat mengedikkan bahunya. Pria itu mengambil cuti lebih awal dariku untuk pergi ke kampung halamannya. Setelah itu, dia memilih menginap di rumahku. Lagi pula, rumahku selalu sepi karena kedua orang tuaku sibuk. Mereka sama-sama seorang dokter. Maka dari itu, aku sebagai anak pertama sangat diharapkan untuk meneruskan pekerjaan mereka sebagai dokter. Tidak apa-apa aku tidak keberatan. Hanya saja, sebenarnya aku ingin menjadi General Surgery saja ketimbang harus menjadi Cardiologist.
"Junwoo tidak pernah main bersama temannya yah?" Tanya Taeyong sambil melihat-lihat koleksi buku milikku.
"Hm, dia sibuk berlatih di rumah maupun di agency-nya." Ucapku.
Berbeda denganku, Junwoo memilih untuk menjadi Idol, dia bilang menjadi dokter itu membosankan. Tahun depan, Junwoo akan memulai debutnya diusianya yang 21 tahun. Mungkin 22 karena Junwoo sudah memasuki umur itu ditahun depan. Junwoo hanya menjadi trainee selama dua tahun. Itupun tidak sengaja dan usianya saat itu menginjak 19 tahun. Saat dirinya tengah pergi bersama temannya ke taman kota, seseorang dari sebuah agency besar menawarkan pada Junwoo untuk menjadi trainee di agency tersebut.
"Bagus, keluarga Jung akan memiliki darah artis. Tidak darah dokter lagi." Ya, sebagian besar keluargaku berprofesi sebagai dokter. Entah itu dokter umum, dokter gigi, spesialis kandungan dan lainnya.
"Dan bagaimana dengan Haewon? Dia akan menjadi apa? Dia masih kuliah kan?" Tanya Taeyong.
Mengingat Haewon. Gadis itu selalu sukses membuat dadaku tertekan saat mengingatnya ataupun saat aku merindukannya. Haewon pernah bilang kalau dirinya sangat ingin memiliki restoran dan toko roti yang terkenal. Ia belajar bisnis dari sejak remaja pada kakaknya, Chanyeol. Yang sudah sukses merintis karir di dunia kuliner. Haewon juga pandai memasak. Tapi anehnya dia memilih kuliah di jurusan berbau fashion bukannya kuliner atau bisnis.
Haewon bilang, jika dia selalu berada di zona nyaman maka dirinya tidak akan pernah berkembang.
"Dia di jurusan Design. Sepertinya akan menjadi seorang perancang terkemuka. Aku sudah beberapa kali melihat dia merancang sebuah baju saat sekolah dulu dan hasilnya bagus. Ada beberapa butik yang ingin merekrutnya, tapi Haewon menolak. Ia lebih memilih membantu Kakaknya di restoran. Padahal Kakaknya sendiri hanya bersantai di rumah."
"Kenapa bisa sesantai itu?"
"He's Boss with 10 famous restaurant. Dan juga mewah jangan lupakan itu." Balasku.
Taeyong nampaknya shock. Dia bilang kalau dia tidak menyangka Haewon berasal dari keluarga berada. Tapi dirinya yang begitu sederhana tidak mencirikan kalau Haewon orang berada dan juga berbakat.
Aku menatap selembar foto yang terjatuh dari dalam buku catatanku saat aku membereskan barang-barang. Aku tersenyum, melihat bagaimana Haewon terlihat begitu bahagia di dalam foto tersebut.
"Jae." Panggil Taeyong. Aku menoleh.
"Kalau kamu lebih sulit melepasnya ketimbang menjalani hubungan jarak jauh, kenapa tidak kalian bersama lagi?"
***
Author POV
__ADS_1
Haewon mulai merasa kalau hidupnya terasa hampa. Ia juga mulai bersedih begitu melihat barang atau kejadian yang ada hubungannya dengan Jaehyun. Pria itu, masih saja terus memenuhi pikirannya. Seperti tadi sore.
Haewon baru saja keluar dari kelasnya dan langsung di suguhi seorang pria yang tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya pada tembok. Pria itu Mark, dan Mark mengingatkannya pada Jaehyun. Saat mereka masih sekolah dulu. Haewon saat itu baru saja selesai dari tempat les. Gadis itu terlihat menundukkan kepalanya begitu ia melihat kehadiran Jaehyun disana. Pria itu tengah bersandar pada tembok sambil memainkan ponselnya.
Jaehyun tersenyum begitu ia menyadari Haewon berdiri dihadapannya dengan pandangan kikuk. Haewon tidak tau harus bersikap seperti apa karena saat itu mereka belum resmi berpacaran. Hanya sebatas mengagumi dan dekat.
"Hey, mau kemana?"
Mark segera menyusul Haewon yang berjalan dengan tergesa-gesa. Dan lihat, Haewon sekarang menutup wajahnya sambil sesekali mengusap kelopak matanya yang ternyata basah. Mark tentu khawatir dengan Haewon. Pria itu langsung menariknya dan Haewon berhenti tepat dihadapannya. Dengan wajah yang sudah basah dan mata yang sembab.
"Are you okay?" Tanya Mark. Haewon masih tertunduk dan perlahan terisak. Mark menarik gadis itu agar menjauhi dari orang banyak. Ia tidak mau menjadi tontonan dan orang-orang akan salah paham padanya.
Lantas, Mark membawa Haewon ke taman yang ada di belakang gedung kuliah mereka. Haewon disana langsung memeluk Mark dan menangis sejadi-jadinya. Mark bingung, seingatnya Haewon baik-baik saja sebelum ia memasuki kelas. Apa mungkin ada yang mengganggunya di sana?
"Hey, kamu kenapa?" Tanya Mark setelah pelukan Haewon melonggar dan gadis itu berhenti menangis.
Haewon mengusap pipinya yang basah dan menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Ia sudah kelewat batas dalam menangisi Jaehyun. Sudah tiga hari lebih semenjak Jaehyun memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
"Tell me." Namun Haewon menggeleng dan enggan menceritakan apa yang ia rasakan pada Mark.
Mark, pria itu bisa saja begitu menyebalkan dan bisa saja membuat Haewon tertegun. Seperti sekarang, Mark pergi untuk membelikan Haewon air minum ke cafetaria. Dan kini, Haewon sendiri di taman. Orang-orang sudah pulang mengingat ini sudah sangat sore.
"Kak Haewon?"
Haewon yang masih menyisakan bulir air matanya langsung ia singkirkan dan berusaha tersenyum.
"Oh maaf. Aku refleks saat memeluknya."
"Tidak-tidak aku tidak keberatan aku tau kalian sangat dekat dan itu bukan masalah besar untukku." Sanggah Seohae.
"Maaf menunggu lama." Mark kembali dengan dua botol susu pisang di tangannya. Ia melihat gadis yang ada di samping Haewon. "Eoh, Seohae?"
Seohae tersenyum pada Mark, tak lupa memberinya salam karena dirinya adalah hobae dari Mark. Ia tidak akan menyangka kalau Mark akan mengingatnya dengan mudah. Tidak seperti Haewon barusan.
"Ini." Haewon mengambil susu pisang yang diberikan Mark padanya.
"Ya ampun, aku hanya membeli dua. Aku tidak tau kalau kamu ada disini. Ini, untukmu saja." Ucap Mark sambil menjulurkan susu pisang itu pada Seohae.
Seohae terlihat tidak enak. Namun Mark mengangguk sambil tersenyum padanya, seolah memberitahu kalau ia tidak keberatan. Maka dari itu, Seohae mengambil susu pisang itu dengan senang hati tentunya. Bagaimana dengan jantungnya? Ya ampun, rasanya seperti hendak meledak.
"Jaehyun dulu suka sekali dengan susu pisang." Haewon meneliti susu pisang tersebut. Hampir setiap hari Haewon memberikan susu pisang untuk Jaehyun.
"Aku tidak tau, maaf. Apa perlu aku membelikan yang baru?" Tanya Mark, pria itu jadi merasa tidak enak pada Haewon.
"Aniya, gwenchana. Terimakasih karena sudah membantuku." Mark tersenyum mendengarnya. "Dan juga dirimu Seohae."
__ADS_1
Gadis bernama Seohae langsung menatap Haewon dan Mark bergantian sambil menunjuk dirinya. "Aku? Aku melakukan apa?"
Haewon bilang, perasaannya membaik begitu Mark dan Seohae berada di sampingnya. Maka, Haewon mengajak Mark dan Seohae untuk pergi makan malam di salah satu restoran milik Chanyeol.
Yang juga dulunya adalah tempat dimana Haewon dan Jaehyun biasa menghabiskan waktu bersama.
***
"Sorry? I have to go back to Korea? But, why?"
Jaehyun baru saja sampai di Amerika dan ia segera pergi ke rumah sakit untuk bertugas. Dan begitu dirinya sampai, Jaehyun dipanggil oleh kepala rumah sakit untuk menghadap. Jaehyun pikir dirinya memiliki kesalahan saat bertugas sampai-sampai ia harus dipindahkan ke Korea.
"Hallym University Medical Center needs you Dr.Jung. And you not must stay away from your family and your country." Ucap Dr.Hans. Jaehyun bingung sekarang.
"And why you didn't tell me about this when i was in Korea?" Jaehyun kesal.
Tidaklah sulit memberitahunya tentang ini saat Jaehyun masih berada di Korea. Ia sudah jauh-jauh kembali ke Amerika dan begitu sampainya di Amerika, ia harus kembali ke Korea dan bekerja disana. Lagi pula, Jaehyun dan Haewon sudah selesai. Apa yang harus Jaehyun katakab pada Haewon kalau gadis itu melihatnya berkeliaran di Korea sementara Jaehyun meminta mengakhiri hubungan mereka karena hubungan jarak jauh.
"We just listed who will be sent to Korea, and it was done yesterday. For doctors who want to live there, that's no problem. and for doctors who want to return here after their work is done, we will open the door as wide as possible." Ini bukan hal yang buruk. Jaehyun bisa saja menjalin hubungan kembali bersama dengan Haewon. Dan memperbaiki apa yang salah pada diri mereka masing-masing.
"Sure. I do not mind."
Dr. Hans nampaknya puas dengan kebersediaan Jaehyun dipekerjakan di Korea. "Taeyong and Jeslyn will be with you."
Jaehyun semakin lega kalau Taeyong ternyata akan dikirim ke Korea, juga dengan Jeslyn. Ya ampun, Jaehyun tidak akan terbayang bagaimana jika Taeyong akan mengeluh setiap malam bahkan setiap detik padanya tentang Jeslyn.
Jaehyun membungkukkan sedikit tubuhnya sebelum ia keluar dari ruangan Dr. Hans. Ini kesempatan yang bagus untuk bisa kembali pada Haewon.
Karena jujur, Jaehyun merasa kosong tanpa Haewon.
Jaehyun menatap Taeyong yang berjalan di depannya sambil memeriksa data seorang pasien.
"Tunggu." Jaehyun menahan lengan Taeyong. Pria itu langsung bertanya kenapa dan Jaehyun mengajaknya ke taman belakang rumah sakit.
"Jadi, kita bakalan dipindahin ke Korea? Serius?" Tanyanya setelah Jaehyun mengatakan apa yabg diucapkan Dr. Hans barusan. Taeyong tentu merasa senang apalagi ia dipindahkan bersama dengan kekasihnya, Jeslyn. "Ya ampun, aku senang akhirnya tidak usah berbicara menggunakan inggris."
Taeyong selalu kesulitan menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi dengan semua orang, terkecuali Jaehyun. Bahkan dengan Jeslyn pun ia sering mencari terjemah bahasa inggris dari kosa kata yang ia tidak tau dan jarang digunakan.
"Tapi, Jae."
Jaehyun mendongak setelah memeriksa catatan kesehatan salah satu pasiennya di ponsel miliknya.
"Kalau kita dipindahkan ke Korea, apa itu artinya kamu bisa kembali dengan Haewon?"
-TO BE CONTINUE-
__ADS_1
Gua hampir stuck di chap ini ya ampun.
Suka gak sih sama work ini?