De Stroom

De Stroom
Episode 2 : Remember You


__ADS_3

Aku menuruni motor Mark dengan kaki yang gemetar. Sungguh, Mark benar-benar membawaku sampai ke rumah Kak Jaehyun selama lima menit. Ia gila, seharusnya ia menjadi pembalap saja. Tidak usah berkuliah di jurusan Arsitektur.


"Lima menit, sesuai permintaanmu." Ucapnya sambil nyengir. Ya ampun, wajah tidak berdosanya itu ingin sekali aku cabik-cabik saat ini juga  tapi ada hal yang lebih penting yang harus aku selesaikan.


"Apanya yang lima menit!" Aku menaruh helm Mark ke atas spion motornya dengan sedikit membantingnya. Mark hanya tertawa melihat aku dengan tubuh yabg gemetaran. Meskipun ini bukan pertama kalinya Mark mengajakku ngebut dengan motornya itu, tapi tetap saja aku ketakutan dan tubuhku gemetaran.


Manik mataku menangkap motor Kak Chanyeol yang sudah terparkir manis di halaman rumah Kak Jaehyun. Ya tuhan, sudah berapa lama aku tidak mampir kesini? Benar-benar berbeda jauh dari saat terakhir aku kesini. Warna cat temboknya berubah, yang asalnya hijau mint kini menjadi berwarna peach. Tanaman yang ada di depan rumah ini juga semakin banyak dan pohon pinus yang dulunya hanya sebatas pundakku kini sudah tumbuh menjulang tinggi melampauin tinggi tubuhku.


"Loh, ada Haewon. Mau ketemu Kak Jaehyun yah? Di dalam juga ada Kak Chanyeol juga." Itu Junwoo. Adik laki-laki Kak Jaehyun yang umurnya sama denganku. Juga Mark.


"Apa boleh masuk?" pria itu mengangguk dan menpersilahkan aku masuk ke dalam.


"Tentu, kita sudah tidak bertemu lama sekali. Kak Jaehyun juga, pasti merindukanmu."


Aku hanya tersenyum kikuk saat Junwoo mengatakan hal seperti itu. Aku sangat merindukannya, namun apa yang ia balas pada rinduku benar-benar membuat hatiku hancur. Aku bahkan tidak yakin Kak Jaehyun akan merasakan kerinduan juga.


Langkah kakiku mulai memasuki rumah keluarga Jung. Aku terpaku begitu masuk ke dalamnya. Kak Chanyeol dan Kak Jaehyun tengah menatap satu sama lain. Dan Kak Chanyeol terlihat begitu marah pada Kak Jaehyun. Ini memalukan, sungguh. Dan kini, pria itu menatapku. Dengan tatapan yang tidak dapat aku artikan sama sekali. Apakah Kak Jaehyun itu menyesal atau malah bahagia atas keputusannya. Yang jelas, sekarang aku hanya bisa berdiri sambil menatapnya. Dan ia menatapku, kami beradu pandang dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Haewon." Panggil pria itu. Entah mengapa rasanya begitu menyakitkan. Sebelumnya, aku paling senang jika pria itu memanggil namaku dengan lembut dan ia juga menyambutku dengan senyumannya yang hangat.


"Untuk apa kamu kemari?" Tanya Kak Chanyeol yang tiba-tiba berdiri di hadapanku dan membuat pandanganku pada pria tadi terputus. Moment yang tidak tepat, dasar perusak suasana.


Aku mendongak, menatap manik mata Kak Chanyeol yang terlihat emosi. "Aku yang harusnya bertanya padamu. Untuk apa Kak Chanyeol disini? Ya ampun memalukan saja."


Tanganku mencoba menarik tangan Kak Chanyeol agar ia pergi dari tempat ini dan tidak membuat onar. Namun tenaganya lebih kuat dariku. Ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Kak Chanyeol malah balik menarikku dan membuat aku terpaku di hadapannya. Ia mengunci tubuhku dengan tangannya dan menatap mataku intens.


"Kamu." Ucapnya. Aku menunggu kata selanjutnya yang keluar dari mulut Kak Chanyeol. "Tidak usah menemui Jaehyun lagi."


Sungguh, aku tidak tau apa yang dibicarakan Kak Jaehyun pada Kak Chanyeol sampai-sampai Kak Chanyeol lebih memilih agar aku tidak dekat lagi dengan pria itu.


"Kami pamit." Ucap Kak Chanyeol sambil menarikku keluar dari rumah keluarga Jung. Dan Kak Jaehyun nampaknya kebingungan saat aku ditarik pulang oleh Kak Chanyeol.


"Eoh? Kak Chanyeol juga ada di sini?" Tanya Mark yang tengah duduk santai di atas motornya.


"Sedang apa kamu di sini?" Tanya Kak Chanyeol yang terlihat kebingungan.


"Mengantar Haewon. Kak Chanyeol sendiri?"


"Aku ada urusan." Ucap Kak Chanyeol kemudian menatapku. Tentu aku balas menatapnya dengan sedikit takut. Kak Chanyeol itu, kalau sudah emosi mengerikan.


"Dengan?"


"Mantan kekasih Haewon."


***


Aku menutup telingaku yang hampir meledak. Mark mengikutiku kemanapun semenjak aku bungkam tentang hubunganku dengan Jaehyun. Ah tidak, Kak Jaehyun. Aku sudah terbiasa memanggilnya tanpa embel-embel 'Kakak' jadi, tidak apa-apa kan? Oh ya, ngomong-ngomong soal Mark. Pria itu kini hampir mengikutiku ke dalam toilet. Hanya saja, Mark masih waras untuk melakukan itu.


"Kak Haewon?" Panggil seorang gadis. Yang sama sekali tidak pernah kutemui dan ku kenal.


"Iya? Maaf, apa aku mengenalmu?" Tanyaku. Gadis itu sangat cantik sekali.


Gadis itu mengambil tissu dan mengeringkan lengannya yang basah. Kemudian ia tersenyum ke arahku dan membungkukkan tubuhnya kemudian memperkenalkan namanya. Dan ku ketahui gadis itu bernama Seonhae. Adik tingkatku yang bersala dari jurusan Arsitek. Dan itu artinya adik tingkatnya Mark juga.


"Aku ingin meminta bantuan Kak Haewon." eh? Aku terdiam. Gadis itu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya dan menjulurkannya padaku. Apa itu hadiah untukku?

__ADS_1


"Apa ini?" tanyaku. Gadis itu terlihat gugup.


"Ini, hadiah." Iya tau ini adalah sebuah hadiah. Tapi aku tidak sedang berulang tahun saat ini.


"Untuk Kak Mark."


Hah? Apa?


Aku mengangkat sebelah alis mataku. Ia terlihat memohon padaku. Dan juga, aku diberikan sebuah coklat sebagai imbalan jika aku mau memberikan hadiah itu pada Mark. Ngomong-ngomong, aku sudah beberapa kali seperti ini. Dititipi hadiah untuk Mark dan sisanya, imbalan untukku. Sungguh baik sekali mereka.


"Baiklah. Tapi aku rasa kamu tidak usah memberikan ini lewat perantara."


Gadis itu terlihat bingung. "Maksudnya?"


"Mark ada di luar toilet." Gadis itu cukup terkejut dengan ucapanku. Namun sepertinya ia terus mencoba agar aku saja yang memberikan hadiah itu pada Mark.


"Aku takut." Ya, aku pernah merasakan hal serupa seperti yang ia rasakan saat ini.


Dulu, aku selalu memberikan masakanku pada Jaehyun untuk bekal makan siangnya. Dan itu lewat perantara Kak Chanyeol. Begitu Jaehyun berada di rumahku, aku gugup setengah mati. Namun aku harus berani, cinta tidak akan berhasil jika kamu hanya diam dab menunggu orang yang kamu cintai jadi milik orang lain.


Ah ya, Jaehyun. Entah mengapa aku merindukannya dan nyaris saja meloloskan air mata. Lagi.


"Ayo. Tidak usah khawatir. Mark tidak akan menggigitmu. Apa perlu aku surub Mark masuk ke dalam saja?" Tanyaku, dan gadis itu segera menggelengkan kepalanya.


Gadis itu terlihat menghirup nafas dalam-dalam dan mencoba rileks. Ia kemudian berjalan menuju luar, dan aku ikut mengekorinya. Mark yang tadinya tengah bersantai, menyandarkan punggungnya pada tembok langsung berdiri tegak.


Mark terlihat kebingungan saat gadis itu berdiri di hadapannya dan aku yang berdiri di belakangnya hanya bisa menjadi penonton.


"Annyeonghaseyo. Min Seonhae imnida." Gadis itu memperkenalkan dirinya terlebih dahulu. Aku ingin tertawa melihat ekspresi Mark yang kelihatannya kaget. Mark tidak pernah diperlakukan seperti ini dan ini adalah kali pertamanya. Ia sering mendapat hadiah, namun lewat perantaraku. Dan saat ini, ia menerinanya sendiri dari pengirimnya bahkan perkenalan.


"Aku adik tingkat Kak Mark. Dari jurusan Arsitektur. Dan ini, hadiah untukmu. Mohon diterima." Ucapnya.


Mark kikuk. Ia masih diam dalam posisinya sambil menatapku seolah meminta bantuan.


"It's not my birthday. Dalam rangka apa?" Tanya Mark.


"Hanya, ingin." Jawab Seonhae ragu-ragu. Mark itu bodoh, tidak mengerti jika seorang gadis melakukan hal ini padanya maka gadis itu menyukainya. Aku harus sering-sering mengajaknya menonton film dan drama romantis.


"What? Tunggu, aku tidak mengerti. Dan kenapa tiba-tiba?"


Mark kembali menatapku. Aku memberikannya kode untuk menerima hadiah itu dan mengucapkan terimakasih pada Seonhae.


"Baiklah, aku terima. Terimakasih, lain kali jangan seperti ini. Aku tidak mau merepotkanmu." Ucap Mark. Gadis itu nampaknya bahagia karena berhasil memberikan hadiahnya pada Mark secara langsung.


"Kamsahamnida. Kalau begitu, aku permisi."


Mark menatap gadis itu sampai akhirnya menghilang. Ia menatapku dengan tatapan meminta penjelasan dan aku hanya mengedikkan bahu kemudian berbalik meninggalkannya.


Namun, misi Mark belum selesai. Ia masih terus mengecoh menanyakan kenapa aku bisa berakhir dengan Jaehyun.


"Come on, aku tau jika Kak Jaehyun tidak akan mengambil keputusan seperti ini. Dan aku tau kalau kamu tidak mungkin menerima permintaan bodoh itu." Ucapnya. Aku tetap berjalan dan membawanya menuju sebuah cafetaria yang berada di dalam gedung kuliah.


"Kamu penasaran?"


"Sure!" Pria bodoh.

__ADS_1


Aku menatap buku menu yang ada di hadapanku. Makanan disini selalu menggugah selera meskipun hanya sekedar makanan cafetaria kampus. Mark masih setia menatapku, ia benar-benar gigih dengan usahanya untuk mencari tahu tentang hubunganku dan Jaehyun.


"We are can't together again. Dia yang meminta, tempo hari." Ucapku. Mark nampaknya masih belum paham.


Aku menghela nafasku panjang. Sebenarnya aku tidak siap menceritakan hal ini lagi pada siapapun termasuk Mark, meskipun ia adalah teman dekatku. Atau lebih tepatnya tetangga yang berpura-pura baik kalau ada maunya.


Tidak, aku bercanda. Mark memang baik.


"Kamu tau kan kalau aku kehilangan kontak dengan dia selama lebih dari empat tahun." Ku lihat pria itu mengangguk. Mark tau semuanya, karena selama Jaehyun jauh di sana Mark adalah orang yang mampu menampung segala curahan hatiku. "Tempo hari, kita bertemu. Dan aku masih ingat dia datang tanpa senyum. Aku sampai merasa kalau itu bukan Jaehyun. Sayangnya, hal itu tidak benar dan pria yang aku temui tanpa senyum di wajahnya adalah Jaehyun."


Ya, Jaehyun selalu memasang senyumnya setiap kali bertemu denganku. Namun tempo hari tidak, aku kehilangan senyumannya. Begitupun dengan raganya.


"Dia tiba-tiba saja mengatakan kalau kita tidak bisa bersama lagi. Dia khawatir kalau aku akan tersiksa karena hubungan jarak jauh ini, dan pada akhirnya Jaehyun dan aku berpisah." Ucapku.


"Dan kamu setuju tentang itu? Bagainana bisa?" Tanya Mark. Bocah ini selalu mengorek info sedalam-dalamnya.


"Tentu tidak. Tapi Jaehyun bersikeras dan dia pergi meninggalkanku di tempat itu." Balasku.


Mark manggut-manggut seolah ia mengerti. "Aku tau kenapa Kak Chanyeol ke rumah Kak Jaehyun dan kamu begitu panik disana."


"Ya, sampai kamu membawaku ngebut dan tiba setelah lima menit. Seharusnya cuman lima belas menit." aku benci kejadian itu.


"Itu permintaanmu Haewon." Sanggahnya. Baiklah, aku tidak memiliki senjata apapun untuk membuat Mark berhenti berkicau.


"Terserah. Ngomong-ngomong, adik tingkatmu memberikan apa?" Aku mulai kepo dengan hadiah itu. Lagi pula, aku harus mengubah pokok pembahasan agar aku tidak bercerita semakin jauh dan membuat lukaku kembali terasa perih.


"Aku tidak tau. Tapi aku punya satu pertanyaan untukmu. Apa setiap gadis akan melakukan hal itu? Dan atas dasar apa? Aku bahkan tidak mengenalinya sama sekali."


Mark bodoh.


"Aku tidak mau jawab. Cepat buka hadiahnya."


"Tidak sebelum kamu menjawab pertanyaanku, Haewon-ah."


Aku memutar bola mataku malas. Mark selalu saja memaksa. "Dia menyukaimu. Paham?"


Mark akhirnya manggut-manggut seolah mengerti. Aku tau, batinnya itu tengah bahagia dan menahan senyum. Ya ampun, aku tidak tau kalau primadona bisa tersipu seperti ini saat mendapat hadiah dari penggemarnya. Atau mungkin hanya Mark yang melakukan ini.


"Oh, ya." Aku kembali menatap Mark. "Apa kamu juga melakukan hal yang sama seperti gadis itu?"


Aku tidak paham apa maksud Mark.


"Apa kamu juga memberikan hadiah pada Jaehyun saat kamu menyukainya dulu?"


Sial. Kenapa Mark harus membahas soal pria itu. Lagi dan lagi.


Bagaimana bisa aku melupakan pria itu jika orang-orang selalu mengingatkanku padanya?


Jujur, aku sangat merindukan Jaehyun. Dan ingin sekali bertemu dengannya, menghabiskan waktu berdua sampai malam tiba. Tapi tidak bisa, itu semua hanya akan menjadi keinginan saja.


Karena kita sudah bukan siapa-siapa lagi.


—TO BE CONTINUE—


HAI HAI.

__ADS_1


Ada yang gagal move on juga gak nih sama kayak si Haewon? Ayo tunjukan ketek kalian.


__ADS_2