De Stroom

De Stroom
Episode 4 : Invitation


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Haewon POV


Sudah sebulan ternyata semenjak Jaehyun memutuskan untuk meninggalkanku. Dan sudah satu bulan juga aku mencoba melupakan pria itu. Tapi hasilnya tetap saja nol. Jaehyun masih saja berputar-putar dalam pikiranku tanpa mau pergi. Dan sudah sebulan juga aku dipusingkan oleh Kak Chanyeol yang akan menikah dengan kekasihnya yang sudah ia kencani selama dua tahun.


Dua tahun. Dan mereka menikah.


Sedangkan aku?


Apa gunanya bersama selama empat tahun namun ternyata aku dan Jaehyun tidak ditakdirkan di sebuah perhentian yang sama? Lagi pula, sepertinya hanya aku yang berjuang disini. Aku tidak pernah melihat Jaehyun memperjuangkanku barang sekecil apapun.


"Kak, ini undangannya." Ucapku sambil memberikan undangan yang sudah rampung di cetak. Kak Chanyeol nampak puas dengan hasil undangannya. Ya, aku juga tidak terlalu malu merekomendasikan temanku yang memiliki bisnis percetakan undangan.


Aku hendak pergi menuju kamarku, kuliah hari ini rasanya semakin membuat kepalaku sakit. Aku butuh istirahat. Namun Kak Chanyeol malah memanggilku dan menyuruhku duduk di sampingnya. Ia menuliskan beberapa nama di atas undangannya kemudian memberikannya padaku.


"Kasihin yah. Suruh mereka dateng." Ucap Kak Chanyeol, aku mengangguk saja sambil membawa undangan itu ke kamarku. Oh ya ampun, aku harus segera beristirahat.


Seohae. Oh ya, Kak Chanyeol sudah mengenal Seohae lama karena gadis itu sering makan di restorang milik Kak Chanyeol. Dan terkadang dia juga membantuku disana. Dia gadis yang baik.


Mark. Untuk apa bocah ini diberikan undangan padahal rumahnya bersisian? Membuang-buang uang saja. Mark kalau tidak diundangpun pasti akan datang, ia mengincar makanannya.


Suho. Chen. Kyungsoo. Sehun. Kai. Xiumin. Baekhyun. Lay. Irene. Seulgi. Joy. Yeri. Wendy. Ya ampun kenapa aku juga yang harus memberikan undangan ini pada squad-nya Kak Chanyeol? Ya ampun. Lagi pula, mereka sibuk dengan pekerjaan mereka. Belum lagi Kak Lay yang tengah di luar negri dan Kak Kyungsoo juga Kak Xiumin tengah menjalankan wajib militer mereka.


Jaehyun.


Tunggu.


Jaehyun.


Jaehyun.


Jaehyun.


Mataku baik-baik saja bukan? Aku tidak salah baca kan?


Undangan yang aku pegang dengan nama Jaehyun di atasnya terjatuh. Apa mungkin Jaehyun yang dimaksud Kak Chanyeol adalah Jaehyun mantan kekasihku? Jung Jaehyun yang sudah mematahkan hati adiknya sendiri?


"Wah, tidak usah seserius itu. Sini aku bantu rapihkan." Mark. Aku sudah biasa dengan tabiatnya yang tiba-tiba saja muncul dihadapanku dan tiba-tiba menghilang dari hadapanku.


Mark terlihat menyebutkan nama-nama yang tertera di atas undangannya sambil sesekali mengangguk. Mark kenal dengan squad-nya Kak Chanyeol karena ia sering diajak nonkrong bersama.


"Aku juga dapat undangan?" Tanyanya. Lihat kan, bahkan Mark saja malas untuk diberi undangan. Pria itu bilang kalau kertas undangannya pasti ia jadikan ganjalan mejanya di rumah.


"Jaehyun juga?" Pria itu bertanya lagi. Aku langsung mengambil semua undangan itu dari tangan Mark.


"Hey, are you okay?" Dan ingin sekali aku menjawab. I'm not okay.


"Yeah, aku harus menghubungi orang-orang ini agar undangannya sampai ke tangan mereka tepat waktu. Ya ampun, rasanya aku tidak memiliki nomor Kak Yeri dan Kak Kyungsoo oh apalagi pria bermarga Jung itu. Aduh, siapa yah namanya aku lupa." Ucapku sambil menscroll layar ponselku. Mencari nomor tersebut dan berpura-pura tidak memilikinya hanya untuk mengalihkan pembicaraan Mark yang mulai menjurus ke arah Jaehyun.


"Jung Jaehyun. Kalau kamu tidak bisa, biar aku saja." Ucapnya. Ingin sekali aku menolak dan membiarkan Mark yang memberikan undangan Kak Chanyeol pada Jaehyun. Namun rasanya susah, dan gengsi. Aku hanya ingin terlihat kalau aku baik-baik saja tanpa pria itu.

__ADS_1


"Sure. Aku akan ketemu Seohae nanti malam. Mau ikut?" Tawarku, aku memang mau bertemu dengannya malam ini dan sekalian saja aku berikan undangan ini. Mark mengangguk dan dia bilang akan ikut bersama kami.


"Tapi, boleh aku pinjam ponselmu sebentar?" Tanya Mark. Aku memberikannya secara cuma-cuma. Toh biasanya Mark selalu mengambil ponselku tanpa izin dan menghabiskan seluruh paket kuota yang aku punya.


Mark terlihat menahan senyumnya sambil memainkan ponselku. Aku curiga dan penasaran dengan apa yang ia lakukan dengan ponsel itu. Jangan-jangan Mark melakukan hal yang aneh.


"Sudah. Ini, aku pulang dulu yah. Nanti malam aku tunggu di depan gerbang." Ucapnya. Kemudian dia tertawa lebar sambil berlari keluar rumah. Dia memang aneh.


Tapi sekarang, aku mengetahui apa yang Mark tertawakan setelah ponselku berdering dan sebuah notifikasi pesan masuk.


Jaehyun


Malam ini ada waktu?


Aku rasa kita butuh bicara.


Malam ini, pukul 8 malam di cafe Tears.


Of course. I will come, see you.


Dan aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak berteriak pada Mark. Dasar, pria itu maunya apa sih?


Tapi, apa mungkin Jaehyun akan datang? Dia kan sedang berada di Amerika? Lagipula untuk apa dia datang menemui mantan kekasihnya?


Ah, masa bodo. Mungkin salah satu temannya yang membalas pesan itu. Eh, tapi apa orang Amerika mengerti bahasa Korea? Park Haewon bodoh, jaman sekarang banyak sekali aplikasi translate.


***


Author POV


"Bagaimana operasi hari ini?" Jaehyun segera memasukan ponselnya ke dalam jas dokter yang ia kenakan begitu seseorang menyapanya.


"Oh, dokter Chaeyeon. Tentu, apa UGD baik-baik saja?" Tanya balik Jaehyun pada dokter yang diketahui namanya adalah Chaeyeon.


"Ya, pasien tidak sebanyak kemarin-kemarin. Dan aku lega karena bisa pulang lebih awal." Ucap wanita itu. "Oh ya, kapan selesai bekerja?"


Jaehyun melihat jadwal yang tertera di salah satu buku kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. "Jam tujuh malam. Setelah pengecekan pasien. Kenapa?" tanyanya.


"Aku akan mentraktirmu. Bagaimana?"


Jaehyun teringat dengan pesan yang dikirim Haewon untuknya. Ia sudah berjanji akan datang pada pukul 8 malam. Tapi, menolak dokter Chaeyeon yang notabene adalah seniornya dan merupakan orang penting di rumah sakit ini merupakan hal yang tidak sopan.


"Baiklah." Ucap Jaehyun pada akhirnya.


"Jam 8 malam, aku akan menunggumu di cafe Tears."


Apakah ini kebetulan? Ya, Jaehyun jadi tidak usah bersusah payah pergi ke dua tempat sekaligus.


"Hey, aku dapat undangan makan malam dari dokter Chaeyeon." Ucap Taeyong yang baru saja mendekati Jaehyun.


"Me too."

__ADS_1


"Bagus, Jeslyn juga. Jadi kita bisa berangkat bersama." Tawar Taeyeong, lebih tepatnya Jaehyun harus benar-benar ikut dengan Taeyong dan Jeslyn.


"No, you must have quality time with your girlfriend after work. I can go to the cafe with my car."


Ucapan Jaehyun benar. Taeyong harus memiliki quality time yang bagus dengan Jeslyn. Mengingat, mereka sama-sama seorang dokter dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing menjadikan mereka tidak pernah menghabiskan waktu berdua yang berkualitas.


"Kalau begitu, sampai jumpa di cafe nanti malam."


***


Haewon POV


"Ampun! Sungguh aku tidak bermaksud— aww!"


Aku terus mencubit perut Mark dan memelintir telinganya. Aku benar-benar kesal dengan kelakuannya tadi siang. Seohae yang melihat kami bertengkar mencoba memisahkan. Namun ia nampak kewalahan dan bingung harus memisahkan aku dan Mark dengan cara apa. Dan aku tidak akan pernah melepaskan pria itu dengan mudah. Mark harus diberi pelajaran agar tidak bersikap seenaknya.


"Ya ampun. Aww! Haewon sudah!"


Aku menyudahi aksiku pada Mark. Mark nampaknya benar-benar kesakitan. Telinganya memerah dan kulitnya juga sama, memperlihatkan bekas keganasanku pada tubuhnya. Meskipun aku kasihan padanya, tapi rasa kesalku jauh lebih besar dari rasa sakitnya yang bisa hilang seiring waktu.


"Aduh, lagian Kak Mark ngapain sih bikin Kak Haewon kesel?" Tanya Seohae. Ya, gadis itu benar.


"Oh jadi kamu sekarang berpihak sama Haewon?" Dasar pria itu benar-benar tidak mau kalah.


"Enggak, bukan gitu kak!"


Aku menyudahi pertengkaran dua bocah itu. Malah sekarang Mark dan Seohae yang bertengkar. Ya ampun kepalaku pusing.


Dan menjadi semakin pusing.


Saat aku melihat Jaehyun masuk dengan seorang wanita. Yang sangat cantik. Menyadari hal itu, Mark dan Seohae juga ikut terdiam. Mark mungkin terdiam karena ia juga terkejut melihat kedatangan Jaehyun bersama dengan seorang wanita. Kalau Seohae, entahlah aku tidak yakin dia juga sama terkejutnya.


Jaehyun benar-benar datang. Dan kenapa dia ada di Korea? Bersama dengan seorang wanita. Apa wanita cantik itu adalah kekasih barunya? Untuk pamer padaku?


"Itu yang namanya Jaehyun? Cewek itu siapa? Pacarnya?" Tanya Seohae. Untuk saat ini, tidak ada gunanya menanyakan hal seperti itu. Aku langsung berdiri dan berjalan mendekati Jaehyun.


Pria itu seolah membeku begitu aku berada di hadapannya dan beberapa saat kemudian tersenyum. Ya, aku mencoba untuk bersikap kalau aku baik-baik saja tanpanya. Dan Jaehyun nampaknya terkejut dengan keadaanku. Mungkin dia merasa kalah?


"Hai." Ya ampun. Rasanya malas dekali untuk menyapanya.


"Sini duduk." Ucap Jaehyun, aku tidak mengerti. Biasanya orang-orang akan merasa hancur ketika mantan kekasihnya menyapa. Wanita yang ada di sampingnya itu nampaknya terlihat bingung dengan situasi sekarang.


"Enggak usah deh. Aku mau langsung bilang aja. Kamu dateng yah minggu depan." Ucapku.


Pria itu nampak kebingungan. "Kemana?"


"Ke acara pernikahanku."


Dan setelah itu, aku pergi meninggalkan tempat itu. Tanpa memberikan undangan pernikahan Kak Chanyeol.


Aku tidak tahu apa yang akan Jaehyun lakukan saat aku bilang kalau yang akan menikah adalah aku.

__ADS_1


Apa Jaehyun akan cemburu?


—TO BE CONTINUE—


__ADS_2